Olivia Kania Smith mati dengan tragis ditangan adik angkatnya.
Olivia tidak tahu selama ini, kenapa keluarga kandungnya begitu sangat membencinya, dan bahkan juga teman-temannya sangat membencinya.
Mereka lebih percaya, dan perhatian kepada adik angkat Olivia.
Hingga pada detik terakhir Olivia akan mati, barulah ia tahu kenapa semua orang sangat membencinya.
Suara hati adik angkatnya dapat didengar semua orang, kecuali dia!
Siapa sangka, setelah kematian tragisnya, ia dapat mengulang kembali kehidupannya, dan dapat mendengar suara hati adik angkatnya.
Bagaimana sikap Olivia menghadapi keluarga kandungnya, setelah kehidupan ke duanya untuk membalas sakit hatinya pada kehidupan sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5.
"Dasar anak kurang ajar! ku pukul sampai mampus kamu!!!" teriak Mariana.
Tangan Olivia reflek menangkap pergelangan tangan Mariana.
Sorot matanya tajam, dan terlihat marah juga karena Mariana ingin kembali menamparnya.
Ia mencengkram pergelangan tangan Mariana dengan kuat.
Lalu tangannya yang satu lagi terayun dengan kencang menampar wajah Mariana.
Plak!!!
Tamparan yang cukup kuat, membuat suara tamparan itu terdengar begitu nyaring.
"Akh! aduh.. aduh!!!" Mariana terhuyung ke belakang, dan Lydia dengan cepat menahan tubuh Mariana yang akan terjatuh.
Wajah Olivia terlihat dingin memandang Mariana.
Nafasnya tersengal oleh karena emosi, berdiri dengan aura yang terlihat tidak merasa takut menghadapi perlakuan orang tuanya.
Ia sudah mati sekali.
Kali ini ia akan mengubah takdirnya sendiri untuk tetap bertahan hidup, dan akan memegang kendali untuk dirinya sendiri.
Mata Albert kembali membulat dengan lebar, melihat Olivia yang begitu berani menampar Mariana.
"Ka.. kau!!!" wajah Albert merah padam menunjuk Olivia, sampai tidak dapat berkata-kata.
Tamu yang hadir di pesta itu menjadi penonton, dan saling berbisik membicarakan putri keluarga Smith, yang begitu berani melawan keluarga kandungnya.
( Kak Olivia apa sudah gila? kenapa dia begitu tega memukul Mama? )
Lydia menggunakan suara hatinya, dengan raut wajah yang terlihat begitu sedih memegang tangan Mariana.
Suara hatinya terdengar begitu sedih nyaris ingin menangis, menunjukkan rasa prihatinnya dengan sikap Olivia.
( Katanya Mama membesarkan anaknya sampai besar sangat susah, tidak perduli mau salah seperti apa, anak seharusnya tidak boleh marah pada Mama! )
Olivia menoleh memandang Lydia.
Ia benar-benar mendengar suara hati Lydia, yang terdengar di telinganya suara hati Lydia penuh provokasi, agar orang tua dan kakaknya semakin membencinya.
( Kalau aku, bersyukur sekali punya Mama seperti Mama, aku tidak akan berani memukul Mama! )
Mendengar suara hati Lydia, Mariana begitu tersentuh mendengar apa yang dipikirkan Lydia.
Ia sampai ingin menangis mengetahui apa yang dipikirkan Lydia tentangnya.
Albert menganggukkan kepalanya diam-diam mendengar suara hati Lydia.
Olivia lekat memandang Lydia, Ternyata memang benar suara hatinya! bisik hati Olivia setelah mendengarkan lebih jelas lagi suara hati, yang sengaja dibuat Lydia untuk di dengar semua orang.
"Benar! kenapa begitu tega sampai memukul Ibu kandung sendiri!!"
Terdengar salah satu tamu buka suara menyalahkan Olivia, setelah mendengar suara hati Lydia.
"Iya, benar! kok bisa begitu sama orang tuanya sendiri!"
Ini pasti karena kekuatan liontin yang dikatakan Lydia! bisik hati Olivia mengingat apa yang dikatakan Lydia padanya sebelum ia mati.
Olivia mengedarkan pandangan matanya memandang semua orang yang ada di sana.
Sepertinya semua orang yang ada di sini bisa mendengar suara hati Lydia! hanya saja setelah kehidupan ku kali ini berbeda dari kehidupan sebelumnya! aku bisa mendengar suara dalam hati Lydia!
Olivia mengepalkan tangannya, ia pun mengerti kenapa semua orang sangat membencinya.
"Pa, Ma! jangan salahin kak Olivia, dia pasti tidak sengaja!" dengan suara lembut Lydia pura-pura membela Olivia.
Mariana terlihat semakin terharu mendengar perhatian Lydia kepada Olivia, walau menurutnya Olivia yang sebenarnya bersalah.
Lydia menyentuh keningnya, "Aku sakit juga tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkannya lagi, Ma!"
Lydia kemudian bergegas mendekati Olivia.
"Kak, cepat minta maaf sama Papa dan Mama, ya?" Lydia memegang tangan Olivia dengan suara lembut, dan wajah yang terlihat perhatian kepada Olivia.
Olivia menyentak tangannya melepaskan tangan Lydia memegang tangannya.
Sorot matanya tajam penuh dendam memandang Lydia.
Lydia, di hidupku kali ini, aku akan membalasnya satu persatu, perlakuanmu padaku di kehidupan sebelumnya! bisik hati Olivia memandang wajah munafik Lydia.
Melihat Olivia menepis kasar tangan Lydia, David seketika kembali tersulut emosi, dan menghambur ke arah Olivia.
Bersambung.......
..