ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Ia tidak memuja ketampanannya seperti mahasiswi lain. Sebaliknya, ia merasa ada sesuatu yang sangat familiar dari pria itu.
*Wajah itu... anting-anting itu...*
Luna mencoba memutar kembali ingatannya. Gang gelap... pos terbengkalai... pria yang menarik kerahnya...
Mata Luna membelalak sempurna. Ingatannya pulih seketika. Pria di depan sana, yang sedang berjalan dengan gaya angkuh dan sedikit—hanya sedikit—pincang, adalah pria yang sama yang ia tendang tulang keringnya semalam!
"Hah!" Luna tersentak, mulutnya terbuka lebar karena syok.
Tanpa sadar, tangannya bergerak cepat menutup mulutnya sendiri, seolah takut ada suara yang keluar dan memancing perhatian.
Jantungnya kini berdegup jauh lebih kencang daripada saat bertemu Adrian tadi pagi, tapi kali ini bukan karena terpesona, melainkan karena rasa ngeri yang luar biasa.
Saat itu juga, seolah memiliki radar, Moreno mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin hingga akhirnya matanya berhenti tepat pada satu titik.
Tepat pada mata Luna yang sedang menatapnya dengan horor.
Moreno terdiam sejenak. Tatapannya yang tadi dingin berubah menjadi tajam dan gelap.
Sudut bibirnya terangkat sedikit—bukan senyum ramah seperti Adrian, melainkan seringai predator yang baru saja menemukan mangsanya.
"Mati aku..." bisik Luna di balik telapak tangannya.
Refleks, Luna memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Ia kini menghadap tepat ke arah pot bunga besar yang tadi ia puji, menjadikan dedaunan rimbun itu sebagai tameng darurat untuk menyembunyikan wajahnya.
Dita mengernyitkan dahi, bingung melihat sahabatnya yang tiba-tiba berperilaku ajaib. "
Lun? loe ngapain sih? Kok malah ngajak ngobrol pot bunga?"
"Ssst! Diem, Dit. gue... gue cuma lagi mengagumi keindahan bunga ini. Lihat deh, tekstur daunnya... estetik banget," sahut Luna asal, suaranya agak teredam karena ia merapat ke dedaunan.
Dita melirik tanaman di depan mereka dengan tatapan skeptis. "Estetik apanya? Itu kan cuma tanaman perdu yang hampir menyerupai rumput liar, Lun. Mata loe rabun ya gara-gara kurang tidur?"
Luna tidak memedulikan ejekan Dita. Ia tetap bergeming, bahkan seolah ingin menyatu dengan pot bunga itu jika saja tubuhnya cukup kecil untuk bersembunyi di sana.
Di sudut lain kantin, Moreno dan rombongannya sudah menempati sebuah meja besar.
Namun, perhatian Moreno sama sekali tidak tertuju pada menu makanan atau obrolan teman-temannya yang berisik.
Mata tajamnya terpaku pada satu punggung yang tampak tegang di kejauhan—punggung seorang gadis yang sedang berpura-pura sibuk dengan tanaman di depannya.
Moreno menyandarkan punggungnya ke kursi, tangannya bersedekap, sementara salah satu kakinya sesekali berdenyut, mengingatkannya pada tendangan telak semalam.
Sebuah seringai tipis yang berbahaya muncul di wajah tampannya.
*"Jadi, si cewek gila itu kuliah di sini juga?"* batin Moreno. *"Dunia ternyata sempit sekali, ya."*
Ia merasa keberuntungan sedang berpihak padanya. Ia tidak perlu lagi menyisir gang-gang gelap atau mencari informasi ke sana kemari.
Mangsanya sudah ada di depan mata, dalam jangkauan kekuasaannya sebagai salah satu penguasa kampus.
"Moreno? loe lihat apaan sih?" tanya salah satu temannya heran melihat Moreno yang melamun sambil tersenyum miring.
Moreno tidak menjawab. Ia hanya terus menatap punggung Luna, seolah sedang menyusun rencana bagaimana cara terbaik untuk membalas perbuatan gadis itu.
Baginya, permainan ini baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan Luna lolos begitu saja.
Luna melirik gelisah ke arah mangkuk bakso Dita yang isinya masih tersisa setengah.
Baginya, setiap detik yang ia habiskan di kantin ini terasa seperti sedang duduk di atas bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Dit, ayo buruan makannya. Nggak usah peduliin gue, pokoknya habisin sekarang juga," desak Luna, suaranya naik satu oktaf karena panik.
Dita berhenti mengunyah, menatap Luna dengan wajah heran. "Duh, Lun, santai kali. Kita kan baru duduk sepuluh menit. Kuah baksonya aja masih panas membara gini, masa mau gue telan bulat-bulat?"
Luna memutar otak. Ia tahu Dita adalah tipe sahabat yang akan terus menginterogasi kalau tidak diberi alasan yang kuat.
Maka, dengan kemampuan akting yang ia asah selama bertahun-tahun untuk mengelabui ayahnya, Luna mendadak membungkuk sedikit sambil memegangi perutnya.
"Aduh... duh, Dit... perut gue," rintih Luna, wajahnya sengaja dibuat memelas mungkin.
"Eh, loe kenapa?" Dita langsung panik.
"Mulas banget! Kayaknya tadi gue salah makan deh. Pokoknya gue harus ke toilet sekarang juga! Buruan habisin, gue nggak mau ke toilet sendirian!" Luna memasang wajah memelas yang sangat meyakinkan.
Dita merengut, merasa iba sekaligus kesal karena makan siangnya harus terganggu.
"Ya ampun, loe tuh ya! Makanya kalau makan jangan aneh-aneh."
Melihat wajah Luna yang nampak tersiksa, Dita akhirnya menyerah. Dengan kecepatan cahaya, ia menyendok sisa baksonya, mengabaikan lidahnya yang mungkin melepuh demi solidaritas sahabat yang sedang "panggilan alam".
"Ya udah, ya udah. Ini terakhir... *nyamm*... ayo jalan!" ujar Dita sambil menyeka mulutnya dengan tisu.
Luna bernapas lega, meski matanya tetap melirik waspada ke arah meja Moreno. Ia tidak tahu, bahwa dari kejauhan, Moreno sedang memperhatikan gerak-geriknya dengan satu alis terangkat—jelas menyadari bahwa gadis itu sedang berusaha melarikan diri darinya.
Demi menyempurnakan akting "mulas"-nya dan memastikan Dita tidak menaruh curiga, Luna benar-benar melangkah masuk ke dalam toilet wanita. Dita memilih menunggu di bangku panjang di lorong luar, tidak mau ikut mencium aroma toilet.
Di dalam, Luna bersandar pada wastafel, mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti helaan napas lega seorang buronan.
Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba mendinginkan saraf-sarafnya yang tegang. Setelah merasa lebih tenang, ia merapikan riasan wajahnya, mengoleskan *lip tint* tipis dan menepuk-nepuk bedak agar terlihat *fresh* dan natural, tidak seperti orang yang baru saja melihat hantu.
*“Oke, Moreno nggak mungkin kan mengenali aku?,”* batinnya, mencoba menyemangati diri sendiri.
Dengan percaya diri yang kembali pulih, Luna membuka pintu toilet dan melangkah keluar.
*Deg.*
Senyum di wajah Luna runtuh seketika. Sosok yang menunggunya di luar bukanlah Dita dengan wajah bosannya.
Melainkan Moreno.
Pria itu sedang bersandar santai di dinding lorong yang sepi, kedua tangannya bersedekap di dada, menampilkan otot lengan yang kencang di balik jaket kulitnya.
Pose-nya terlihat malas, namun matanya yang tajam bak elang sedang mengunci pergerakan Luna. Tidak ada Dita di sana; lorong itu mendadak terasa sangat sunyi dan mencekam.
Jantung Luna serasa berhenti berdetak, namun egonya sebagai seorang Damaris menolak untuk memperlihatkan rasa takut.
Ia memaksa dirinya untuk tetap tenang, menegakkan punggung, dan memasang ekspresi datar sedingin es.
*“Pura-pura nggak kenal. Pura-pura nggak lihat,”* mantranya dalam hati.
Luna melangkah maju, berniat melewati Moreno begitu saja seolah-olah pria itu hanyalah pajangan dinding yang tidak penting.
Ia menatap lurus ke depan, mengabaikan eksistensi Moreno yang mendominasi lorong tersebut.
Satu langkah... dua langkah... Luna sudah hampir berhasil melewati bahu Moreno.
Namun, hanya dalam sepersekian detik, sebuah gerakan cepat dan tak terduga terjadi. Tangan Moreno melesat, mencengkeram kerah kemeja bagian belakang Luna dengan kasar.
"Akh!" Luna terpekik kaget saat tubuhnya tersentak mundur dengan keras. Tenaga Moreno tidak main-main.
Tubuh mungil Luna tertarik ke belakang hingga punggungnya menempel sempurna pada dada bidang Moreno.
Hawa panas dari tubuh pria itu mengepungnya, aroma parfum maskulin yang bercampur bau samar tembakau—kembali menyerbu indra penciumannya.
Moreno merunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Luna. Embusan napasnya yang hangat terasa di kulit leher Luna, membuat bulu kuduknya berdiri seketika.
"Mau lari ke mana lagi, hmm?" bisik Moreno, suaranya berat, rendah, dan penuh ancaman yang mematikan.
"Jangan pura-pura amnesia, Cewek Gila. Kita punya urusan yang belum selesai dari semalam."
Luna menelan ludah dengan susah payah. Bisikan Moreno yang begitu dekat dan intim terasa seperti lilitan ular yang siap mencekiknya.
Rasa takut yang nyata mulai merayap, melumpuhkan keberanian yang tadi sempat ia bangun.
"A-apa sih? Lepasin! gue nggak ngerti loe ngomong apa. loe pasti salah orang! gue mahasiswa baru di sini, nggak mungkin pernah ketemu sama loe!" Luna mencoba mengeluarkan jurus terakhirnya.
Suaranya sedikit gagap, namun ia berusaha memberikan tatapan seolah Moreno adalah orang asing yang aneh.
Namun, Moreno bukan pria yang mudah dikelabui. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
Tanpa peringatan, Moreno memutar tubuh Luna dengan satu gerakan sentakan yang kuat.
Luna memekik kaget saat punggungnya kembali membentur dinding beton lorong yang dingin.
Sebelum ia sempat bernapas, Moreno sudah mengunci posisinya dengan kedua tangan yang bertumpu kuat di sisi kepala Luna, mengurung gadis.
Mata Luna membulat sempurna. Wajah Moreno kini begitu dekat, hanya menyisakan jarak beberapa senti saja. Luna bisa melihat kilatan amarah di mata gelap pria itu.
"Jangan pura-pura lupa ingatan di depan gue, Cewek Gila," desis Moreno.
Suaranya berat dan rendah, bergema di lorong yang sunyi itu. "mata gue bisa mengingat muka loe dengan jelas, dan kaki gue... masih ingat betul seberapa keras tendangan loe."
Luna mengerjapkan mata berkali-kali, napasnya memburu. Berada sedekat ini dengan Moreno membuatnya merasa terintimidasi sekaligus... entahlah, ada debar aneh yang tidak ia mengerti.
"Oke! Oke! gue ngaku!" seru Luna akhirnya, menyerah karena merasa tidak ada gunanya berbohong.
"Gue minta maaf, ya? gue refleks semalam karena loe kelihatan kayak mau ngerampok gue. Sekarang, tolong... bisa minggir sedikit? gue mau lewat."
Luna mencoba mendorong dada Moreno, namun pria itu tak bergeser sedikitpun. Alih-alih menjauh, Moreno justru semakin merunduk, menyeringai hingga deretan giginya yang rapi terlihat.
"Minta maaf?" Moreno terkekeh pendek, suara tawanya terdengar seperti sebuah ancaman manis.
"Sayangnya, permintaan maaf elo sudah terlambat, Luna Damaris."
Luna tersentak. Bagaimana pria ini tahu nama lengkapnya?
"Gue sudah menandai loe sejak loe julurin lidah semalam," bisik Moreno tepat di depan bibir Luna, membuat gadis itu menahan napas.
"Jangan harap loe bisa lari lagi. Mulai hari ini, hidup loe di kampus ini... ada dalam pengawasan gue."
Moreno berada di posisinya, membiarkan Luna terjebak dalam tatapan intimidasi yang membuat seluruh tubuh gadis itu meremang.