"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Pertemuan kembali
Keesokan harinya, Adam pagi-pagi sekali berangkat ke rumah sakit bukan untuk berobat tapi untuk bertemu dengan Fitri.
Suara langkah kaki Adam bergema pelan di atas lantai marmer putih koridor utama Rumah Sakit Medika Utama Bandung. Pagi itu, aroma khas antiseptik dan kesibukan para petugas medis menyambut kehadirannya. Namun, tidak seperti pengunjung lain yang datang untuk berobat, Adam melangkah dengan kegelisahan hebat yang membakar dada. Sejak kejadian sore kemarin di kedai kopi, bayangan wanita anggun dan balita mungil itu tak berhenti menari-nari di pikirannya, merenggut seluruh jam tidurnya.
Adam merapikan kemeja kerjanya yang agak kusam, lalu berjalan mendekati meja informasi di area lobi. Seorang staf wanita berseragam rapi menyambutnya dengan senyuman ramah.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa staf tersebut sopan.
Adam menelan ludah, meremas kedua telapak tangannya sendiri untuk menyembunyikan getaran di jemari. "Selamat pagi, Mbak. Saya ingin menanyakan jadwal praktik seorang dokter... namanya Dokter Fitri Rahmadani."
Staf itu mengangguk paham, lalu jemarinya bergerak lincah menekan papan ketik komputer di hadapannya. "Baik, Pak. Dokter Fitri Sp.A, spesialis anak ya? Beliau ada jadwal praktik pagi ini di lantai dua poli anak, mulai pukul sembilan nanti."
Mendengar gelar spesialis dan konfirmasi nama itu, jantung Adam serasa dihantam gumpalan es besar. Napasnya tercekat di tenggorokan. Wanita yang ia lihat kemarin sore memang benar-benar Fitri. Mantan istrinya yang dulu sering ia abaikan kini telah berhasil meraih cita-citanya menjadi seorang dokter spesialis anak yang dihormati di rumah sakit megah ini.
"Dokter spesialis? Sekarang Fitri jadi dokter spesialis?" Gumam Adam tak percaya.
"Pak? Mau dibuatkan janji temu atau nomor antrean?" tanya staf informasi itu, memecah kelamunan Adam.
"Ah... tidak, Mbak. Terima kasih banyak informasinya," jawab Adam terbata-bata sebelum berbalik melangkah pergi dengan pikiran yang makin kacau.
Adam berjalan gontai menuju tangga darurat dekat poli anak lantai dua. Ia mendaratkan tubuhnya di bangku tunggu yang agak jauh dari pintu ruang praktik, tersembunyi di balik pilar besar agar tak langsung terlihat. Waktu menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit. Setiap detik yang berlalu terasa bagaikan siksaan panjang yang menguji ketahanan batinnya.
Tak lama kemudian, suara denting lift terdengar halus. Seorang wanita melangkah keluar dari dalam lift, dikawal oleh dua perawat yang menyapa hormat.
Adam memajukan tubuhnya, menahan napas dari balik pilar. DIa melihat dari dekat, dan Itu benar-benar Fitri. Wanita itu mengenakan jas putih dokter yang bersih, melapisi setelan busana muslimah berwarna krem yang sangat anggun. Hijabnya tertata rapi, dan wajahnya memancarkan aura kecantikan yang dewasa, tenang, serta berkelas.
Namun, yang membuat dada Adam serasa dihantam palu godam bukanlah perubahan penampilan Fitri, melainkan sosok balita laki-laki yang dituntun halus oleh seorang pengasuh di belakangnya. Anak itu memakai kemeja kotak-kotak kecil, berjalan agak gontai sembari memegang mainan mobil-mobilan.
Fitri berlutut sebentar di depan balita itu, mengusap pipinya yang menggemaskan dengan tatapan yang sangat teduh. "Aiden tunggu di ruang dokter sama Mbak sebentar ya, Ibu mau periksa pasien dulu."
"Iya, Ibu!" jawab balita itu dengan suara pelat yang renyah.
Mendengar nama 'Aiden' dan melihat dari dekat raut wajah anak itu, seluruh persendian Adam terasa melumpuh. Dari balik pilar, Adam menatap lekat-lekat garis alis, bentuk mata, hingga lekukan dagu bocah mungil tersebut. Kemiripan anak itu dengannya sewaktu kecil sungguh luar biasa, bagaikan cermin dari masa lalu.
Pikiran Adam berputar liar. Tiga tahun lalu, saat proses perceraian mereka berlangsung, Fitri keluar dari rumah tanpa pernah meminta harta gono-gini. Mungkinkah... mungkinkah malam terakhir sebelum mereka berpisah telah membuahkan benih yang selama ini disembunyikan Fitri darinya?
Adam meremas dadanya yang mendadak sesak luar biasa. Rasa bersalah, penasaran, dan penyesalan yang membakar jiwa berbaur menjadi satu gumpalan emosi yang siap meledak di dalam dada.
"Anak? Anak siapa itu? Kenapa mirip sekali dengan aku yaa?"
Langkah Fitri terhenti tepat di ambang pintu ruang praktiknya. Koridor lantai dua yang tadinya tenang mendadak terasa menghimpit saat sosok pria tinggi berpakaian kusam melangkah keluar dari balik pilar. Tiga tahun tak bertatap muka tak membuat Fitri lupa pada garis wajah itu. Pria di hadapannya adalah Adam, mantan suaminya yang dulu pernah menghancurkan seluruh harga dirinya tanpa sisa.
Namun, tidak ada rasa panik atau ketakutan di mata Fitri. Ia berdiri tegak dengan jas putih dokternya, menatap Adam dengan raut wajah yang dingin, tenang, dan teramat asing.
"Fitri..." panggil Adam, suaranya gemetar hebat, sarat akan beban kerinduan dan rasa bersalah yang lama mengendap. Langkahnya ragu-ragu mendekat, matanya berkaca-kaca menatap wanita yang kini tampak begitu anggun di hadapannya. "Ini benar-benar kamu...?"
Fitri membetulkan letak stetoskop di lehernya, menyilangkan kedua tangan di dada dengan sikap yang sangat profesional. "Ada perlu apa Anda datang ke sini, Pak Adam? Kalau ingin berobat atau berkonsultasi soal pasien, silakan ambil nomor antrean di depan."
Panggilan 'Pak Adam' yang begitu formal dan berjarak menghantam dada Adam bagai lemparan batu besar. Napasnya tercekat di tenggorokan. "Fitri, tolong... jangan panggil aku begitu. Aku tahu aku salah. Aku sudah menanggung semua akibat kebodohanku dulu. Aku cuma... aku cuma ingin bicara sebentar sama kamu."
Fitri mengukir senyum tipis, sebuah senyuman tanpa kehangatan yang membuat Adam makin merasa kerdil. "Saya ada jadwal pemeriksaan pasien sepuluh menit lagi. Saya tidak punya waktu untuk membicarakan hal-hal di luar urusan medis."
Saat Fitri hendak memutar badan untuk masuk ke ruangannya, Adam melangkah nekat memotong jalan. Matanya beralih cepat ke arah pintu ruang tunggu di mana suara tawa renyah Aiden terdengar samar-samar dari dalam.
"Siapa anak itu, Fitri?" tembak Adam dengan suara tertahan, matanya memerah menahan badai emosi. "Aku melihatnya tadi. Namanya Aiden, kan? Wajahnya, matanya, bentuk bibirnya... dia mirip sekali denganku sewaktu kecil. Tiga tahun lalu, sebelum kita resmi berpisah... malam itu... apakah dia anakku?!"
Pertanyaan meledak-ledak dari Adam tak membuat Fitri gentar sedikit pun. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Adam yang panik, tanpa ada kejutan atau getaran ragu di wajahnya.
"Anak? Dia? DIa itu anak saya, Pak Adam," pangkas Fitri tegas, suaranya mengalun dingin namun penuh penekanan yang tak bisa dibantah. "Aiden adalah putra saya sepenuhnya. Dia tidak punya hubungan apa pun dengan Anda atau masa lalu yang sudah saya kubur dalam-dalam."
"Tapi perhitungannya pas, Fitri!" cercah Adam nekat, mencoba meraih tangan Fitri walau wanita itu dengan cepat melangkah mundur menghindar. "Malam itu kamu belum resmi bercerai dariku! Kalau dia memang darah dagingku, aku punya hak untuk mengakui dia sebagai anakku! Kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar ini dariku?! Fitri aku mohon, jujur.."
"Apa pak Adam pikir saya ini enggak jujur kah?" Jawab Fitri tenang.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.