Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Romansa pedesaan / Cewek Gendut / Cerai / Tamat
Popularitas:125.8k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.

Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.

Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.

Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.

Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.

Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.

"Kita menikah!"

Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.

Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Bertahan Selagi Dibutuhkan

Orang tua Mireya hanya tinggal selama dua malam di rumah keluarga Zarreti.

Sebenarnya Arven sudah menawarkan agar mereka tinggal lebih lama. Namun, keduanya menolak. Mereka masih memiliki kebun yang harus diurus.

Pada pagi ketiga, Mireya mengantar kedua orang tuanya sampai ke halaman.

Sebelum masuk ke mobil, ibunya menggenggam kedua tangan Mireya. “Kali ini, kamu harus lebih hati-hati dengan pernikahanmu.”

Raut wajah Mireya sedikit berubah. Tak tega rasanya ia mengakui bahwa pernikahan ini hanya untuk sah sebagai ibu bagi Elden, bukan sah sebagai istri Arven.

Ibunya menatapnya lekat-lekat. “Jangan sampai bercerai lagi.”

Mireya tersenyum kecil. Namun, ia tak boleh membuat orang tuanya semakin khawatir. “Aku tahu, Buk.”

“Kamu bahagia di sini?”

Pertanyaan itu membuat Mireya berpikir sesaat. Kemudian ia melirik ke arah rumah besar di belakangnya. Tidak jauh dari sana, Elden sedang bermain dengan boneka gajahnya.

Mireya tersenyum. “Ibu jangan khawatir. Aku baik-baik saja.”

Ibunya menghela napas lega. “Kalau begitu, jaga rumah tanggamu dengan baik.”

Mireya hanya mengangguk.

Lalu, ia memeluk sang ibu. 'Maafkan aku, Bu,' isaknya dalam hati.

 Setelah mobil kedua orang tuanya menghilang di ujung jalan, Mireya berdiri beberapa saat.

Kemudian ia mengembuskan napas panjang. “Sebenarnya aku tak tahu bagaimana cara mempertahankan pernikahan yang sebenarnya tak ada ini. Namun, aku akan berusaha bertanan selama aku dibutuhkan oleh Elden.”

Ia menepuk kedua pipinya beberapa kali. Lalu mengembuskan napas berat. “Sekarang kembali bekerja.”

.

.

Sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka buat, Mireya tidak pernah mengusik urusan Arven.

Ia tidak pernah bertanya sama sekali tentang pekerjaan, bagaimana dia bekerja, bahkan ke mana pun pria itu pergi.

Tidak bertanya tentang siapa saja yang datang menemuinya di rumah itu. Dan semakin lama ia tinggal di sana, ia semakin sadar. Semua yang menghuni vila besar itu adalah pria.

Mulai dari tukang masak, tukang cuci pakaian, tukang membersihkan rumah, para supir, para pekerja kebun, semuanya berjenis kelamin laki-laki. Semua orang itu dikomandoi oleh Pak Can, sebagai kepala pengurus sekaligus asisten pribadi Arven.

Hanya dia lah perempuan di sana. Tak heran, Elden langsung dekat pada Mireya. Karena Mireya lah, satu-satunya yang memiliki naluri keibuan di rumah itu.

Tidak hanya menanyakan apa pun kegiatan pria berstatus suaminya, ketika Arven berada di rumah pun, Mireya tidak pernah dengan sengaja mencari keberadaannya.

Ia hanya sibuk dengan satu hal. Sebagai tugas utamanya menemani Elden. Dan melakukan hobi yang tak pernah lagi ia kerjakan semenjak tinggal di kota sebagai istri Syahzan, yakni berkebun.

Setiap pagi, setelah sarapan, Mireya akan mengajak Elden keluar.

Anak itu yang sebelumnya sangat sulit diajak meninggalkan rumah kini justru menjadi orang pertama yang berdiri di depan pintu.

“Ibu! Ayo kita ke kebun. Aku sudah tak sabar!”

“Iya, tunggu.”

“Hari ini sudah bisa ditanam, Bu?” tanya Elden dengan polos.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Tanahnya harus kita bersihkan dan olah dulu.”

Elden mengangguk dengan wajah serius. “Kalau begitu, Elden akan membantu Ibu.”

Mireya menatapnya. “Kamu membantu dengan cara apa?”

Elden berpikir sebentar. “Menemukan cacing.”

Mireya tertawa kecil. “Boleh, itu akan membuat kebun kita semakin subur.”

“Elden juga bisa menemukan batu.”

“Bagus, itu akan menjadi penyangga sayuran kita nanti.”

Elden semakin bersemangat. Tiba-tiba, raut wajahnya berubah. “Kalau main menemukan Bona yang hilang?”

“Boleh ... Tapi Bona kan selalu ada di tanganmu.”

Elden menunduk. Boneka gajah kecil itu memang sedang ia peluk. “Oh, iya.”

Mireya akhirnya tertawa. Sejak hari itu, hampir setiap pagi mereka berada di lahan belakang perkebunan.

Mireya mulai membersihkan bagian-bagian yang selama ini terbengkalai. Tanaman liar tumbuh di mana-mana.

Sebagian menutupi permukaan tanah. Sebagian lainnya menjalar ke tanaman yang masih bisa diselamatkan.

Mireya tidak langsung meminta bantuan para pekerja. Ia ingin mengerjakan bagian itu sendiri. Bukan karena tidak percaya kepada mereka.

Namun karena ia ingin memahami kondisi tanah tersebut dari awal. Hari pertama wajar terasa begitu berat. Karena ia sudah bertahun lamanya tak melakukan ini semua.

Hari kedua masih cukup berat. Keringat mengucur hebat di setiap mili tubuhnya.

Hari ketiga, tubuhnya mulai terasa pegal bahkan sebelum pekerjaan selesai.

Namun Mireya tetap datang keesokan paginya.

Ia menggunakan alat yang tersedia, memotong tanaman liar yang mengganggu, mengumpulkannya, kemudian membawanya dengan gerobak ke tempat pembuangan.

Satu kali. Dua kali. Lima kali. Sepuluh kali. Bolak-balik. Awalnya, langkah Mireya masih terasa berat. Namun semakin hari dan hari-hari yang tak terhitung, semuanya menjadi sesuatu yang biasa.

Ia mulai tahu bagian mana yang harus dibersihkan terlebih dahulu. Tanaman mana yang bisa dicabut. Tanaman mana yang sebaiknya dipotong agar tidak merusak bagian tanah di bawahnya.

Hitungan minggu berlalu hingga minggu-minggu yang tak lagi bisa ia sadari terus berganti.

Hari ini, Elden yang bermain tidak jauh darinya langsung berlari mendekat.

“Ibu!”

“Hm?”

“Lihat!”

Anak itu menunjukkan seekor ulat kecil di telapak tangannya.

Mireya langsung mundur. “Jangan dekat-dekat!”

Elden tertawa. “Ibu takut!”

“Bukan takut.” Mireya menunjuk ulat itu. “Ibu hanya menjaga jarak aman.”

Elden semakin tertawa.

Mireya menghela napas. “Sudah. Taruh lagi.”

Elden menurut. Kemudian ia kembali berlari. Mireya memperhatikannya sambil tersenyum.

Dulu, kata Pak Can, Elden bahkan sulit diajak keluar rumah.

Sekarang?

Anak itu bisa berlari ke sana kemari selama berjam-jam. Membawa pulang batu, daun, ranting, kadang-kadang serangga, dan hampir setiap lima menit ia akan berteriak,

“Ibu! Lihat!”

...........

Sembari menunggu update berikutnya, yuk mampir pada karya temen author. Menemani waktu luang kakak semua. 😇

1
Yulvita Darnel
waw... masa dari 50% turun bebas menjadi 35% ada-ada saja mireya.
Dewi Habibah
bagus ceritanya
SoVay: terima kasih kk 🍅🍅🙏
total 1 replies
Yulvita Darnel
gara-gara kelaparan akhirnya lolos jadi kandidat ibu tiri, bagus juga tuh taktik.
Yulvita Darnel
ada-ada aja Thor masa iya ada pekerjaan jadi ibu tiri, boleh daftar nggak 🤣🤣🤣🤣
SoVay: tapi lowongan sudah teriso 🤣
total 1 replies
Wati Anja
semoga mireya dan keluarga barunya bahagia
Yulya Muzwar
cerita yang menarik.
SoVay: makasih kak 🍅🍅
total 1 replies
Esther
Terima kasih untuk ceritanya thor👍👍.
Ditunggu cerita selanjutnya
SoVay: yuk kakakku, mampir cerita baru aku
total 1 replies
@Tie
kq arven diem aja gk belain mireya
Sri Widiyarti
terbaik buat author bagus ceritanya 🥰
SoVay: terima kasih kakakku 🍅🍅🍅
total 1 replies
Sri Widiyarti
akhirnya selesai juga banyak pelajaran yang kita petik dari novel ini makasih banyak author semangat trus berkarya...
Yumna Attaya
bagus, ringan , mudah di ikuti
SoVay: terima kasih kakakku 🍅🍅🍅
total 1 replies
mimief
wahhhh...
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
SoVay: udah mayan banyak nih kak episodenya 🤣
total 7 replies
mimief
wah...mang kita harus belajar Ama mireya ya ngadepin segala sesuatu nya pake kepala dingin
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
SoVay: biar kincep sendiri 🤣🤣
total 1 replies
Esther
Yang mandul Syahzan, yang dituduh Mireya.
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
SoVay: terima kasih kakakku udah menemani sampai ke cerita ini. 🍅🍅🍅🍅
total 1 replies
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya...
Aidil Kenzie Zie
ibunya bakalan syok kalo tau Mireya hamil dan ternyata yang mandul adalah anaknya sendiri 🤭🤭🤭
SoVay: ayuk kakakku, mampir cerita terbaru aku yuuukk
total 2 replies
Ummee
brarti syahzan tau dirinya mandul...
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
SoVay: terimakasih Ummmiii...🍅🍅🍅
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bukannya mereka membagikan tomat dekat rumah tor 🤔🤔🤔trus naik mobil mau pulang kemana 🤔🤔🤔
SoVay: di jalan raya kak, jadi kan ada jalan masuk juga. emang gak terlalu jauh, tapi memilih naik mobil. itu haluku 🤣
total 1 replies
Ummee
ternyata syahzan mandul, pantas 5 thn menikah dgn mireya, mireya gk hamil²
mimief
ya ampun
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!