Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
****
Sinar matahari pagi yang lembut merayap di antara ranting-ranting pohon rindang di taman VIP Rumah Sakit Utama Elard. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan kelopak bunga yang berguguran, menghadirkan suasana tenang yang kontras dengan kekeruhan batin Alana.
Alana duduk diam di atas kursi roda bertatahkan selimut tipis yang melilit kakinya. Wajahnya yang seputih porselen pecah tampak begitu tirus, dengan lingkaran hitam samar membingkai sepasang matanya yang redup. Gaun perawatan VIP berwarna pastel longgar menutupi tubuh kurusnya yang baru saja melewati masa kritis akibat pendarahan parah beberapa hari lalu.
Di gedung utama, Kenzo sedang mengurus seluruh prosedur administrasi kepulangan Alana secara pribadi. Pria itu menolak membiarkan asisten atau pengawal mengurus kebutuhan Alana, memilih memastikan setiap detail kebersihan dan kenyamanan tempat tinggal sementara istrinya aman dari jangkauan Nyonya Helena maupun Dr. Maya.
Alana menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi roda, menatap dedaunan yang berguguran tanpa emosi. Dunia di sekitarnya bergerak, namun jiwanya tetap membeku di dasar ruang hampa.
Klek.
Suara gesekan langkah kaki dari arah selasar apotek VIP memecah keheningan. Seorang gadis berseragam SMA dengan kantong plastik putih berisi botol-botol obat berjalan terburu-buru. Langkahnya mendadak terhenti saat matanya menangkap sosok wanita yang duduk sendirian di atas kursi roda di tengah taman.
Mutiara mengepalkan tangannya rapat-rapat, meremas kantong obat di genggamannya hingga plastik itu berkerut kasar.
"Wah... luar biasa," cetus Mutiara dengan nada suara tajam yang sarat akan racun dan dendam. Ia melangkah mendekati Alana, memotong jarak tanpa ragu.
Alana perlahan memalingkan kepalanya. Pandangan matanya bertubrukan dengan iris mata Mutiara—adiknya yang kini menatapnya dengan benci yang makin mengakar.
"Mutiara...?" bisik Alana pelan. Suaranya hampir tak terdengar, parau bercampur lemasnya sisa pemulihan fisik.
Mutiara berdiri tepat di hadapan kursi roda Alana, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatap kakaknya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukannya muncul rasa iba atau cemas melihat kondisi Alana yang begitu rapuh dan dipasangi selang infus sementara, Mutiara justru tersenyum sinis dengan kekehan pait.
"Hebat banget ya akting Mbak Alana," ujar Mutiara dengan nada menuduh yang teramat kejam. "Duduk manis di kursi roda, didorong pengawal, pakai baju rumah sakit paling mahal... Mbak nggak cape apa pura-pura jadi korban terus?"
Alana tidak menjawab. Matanya tetap datar, membiarkan adiknya meluapkan amarah yang terbentuk dari kebohongan kedua orang tua mereka.
"Kamu tahu aku ke sini buat apa, Mbak?!" teriak Mutiara, emosinya meluap mengingat pertemuannya di mal dulu dan cerita bohong dari Ayah serta Ibunya. "Aku ke sini buat nebus obat Ayah pakai sisa uang belas kasihan yang Mbak lemparkan ke rumah! Ayah di rumah batuk darah tiap malam, meratapi nasib karena Mbak tega menjual diri dan mengajukan perjanjian pernikahan itu cuma demi hidup mewah di Mansion Elard!"
Mutiara menunjuk wajah pucat Alana dengan jari bergetar. "Aku udah tahu semuanya dari Ibu! Dulu waktu keluarga kita mau bangkrut, Mbak kan yang datang sendiri ke Keluarga Elard?! Mbak tergiur sama harta CEO kaya itu, kan?! Sekarang waktu Mbak tahu kalau Mbak mau diceraikan atau nggak dianggap di rumah ini, Mbak sengaja berakting sakit begini kan buat narik simpati mereka?!"
Kata-kata pedas Mutiara berhamburan di udara, menusuk atmosfer taman VIP yang semula tenang.
"Kamu tahu nggak betapa menjijikkannya Mbak di mataku?!" seru Mutiara lagi, air mata kemarahan menetes di pipinya. "Mbak Alana yang dulu aku banggakan ternyata cuma cewek materialistis yang rela menukarkan martabatnya demi gaun mahal dan rumah megah! Nggak usah sok lemah di depanku, Mbak! Aku nggak bakal kasihan sama cewek yang udah ngerusak nama baik keluarga kita!"
Alana menatap adiknya yang sedang histeris. Tidak ada air mata yang menetes di pipi Alana. Tidak ada raungan penyesalan atau upaya membela diri seperti saat di mal. Rasa sakit, kekecewaan, dan pengorbanan yang dilakukannya selama ini sudah menguap sepenuhnya saat ia melihat berkas transaksi puluhan miliar dan menyadari bahwa orang tuanya sendiri yang menjadikan dirinya tumbal.
"Sudah selesai bicaramu, Mutiara?" tanya Alana dengan suara datar, sangat tenang, dan tanpa intonasi sedikit pun.
Mutiara membelalakkan matanya, kaget dan kian murka melihat respons Alana yang begitu dingin. "Mbak... Mbak nggak merasa salah sedikit pun?!"
"Jaga mulutmu!"
Sebuah suara berat yang sarat akan amarah menggema keras dari arah selasar taman. Langkah kaki tegap dan kaku menghantam lantai marmer dengan kecepatan penuh.
Kenzo melangkah lebar keluar dari pintu koridor utama. Wajahnya yang tampan berkilat penuh kemurkaan yang mengerikan. Pria itu baru saja selesai mengurus dokumen kepulangan ketika melihat adegan di taman dari balik dinding kaca.
Kenzo mengikis jarak, berdiri tegap membentengi kursi roda Alana dari Mutiara. Aura intimidasi dan kegelapan yang memancar dari tubuh sang CEO seketika menekan udara di sekitar mereka, membuat Mutiara refleks melangkah mundur dengan wajah yang mendadak pucat.
"Siapa kamu berani membentak dan menghina istri saya di rumah sakit ini?!" desis Kenzo dengan nada suara rendah yang sangat berbahaya, matanya menyipit tajam bak elang yang siap menerkam.
Mutiara menelan ludah secara kasar, dadanya berdebar kencang menahan rasa takut menghadapi sosok Kenzo yang begitu dominan. Namun, dibakar oleh rasa benci dan dorongan gengsi, Mutiara memaksakan diri bersuara. "S-saya adiknya! Dan saya cuma bicara kenyataan! Mbak Alana itu cewek yang—"
"Tutup mulutmu!" bentak Kenzo dengan suara menggelegar yang membuat Mutiara tersentak kaku.
Kenzo menyunggingkan senyum sinis yang amat kejam dan meremehkan. "Wanita materialistis? Berakting sakit? Kamu bicara seolah-olah kamu dan keluargamu itu suci, anak kecil."
Kenzo merogoh saku jasnya, mengambil ponsel pintarnya lalu menatap Mutiara dengan pandangan penuh rasa jijik. "Kamu mau tahu kenyataan yang sebenarnya?! Kamu tahu dari mana uang sekolah mewahmu, baju-baju mahalmu, dan obat-obatan yang kamu pegang di tanganmu itu berasal?!"
"A-apa maksud Tuan...?" cicit Mutiara dengan bibir bergetar.
"Mas Kenzo... cukup."
Suara halus, tipis, namun amat dingin menyela ucapan Kenzo.
Kenzo menghentikan kalimatnya seketika. Pria itu menoleh, menatap Alana yang masih duduk kaku di atas kursi roda.
Alana tidak memandang Kenzo, tidak pula memandang Mutiara. Pandangannya lurus menatap kosong ke arah deretan bunga di depannya.
"Alana, dia harus tahu betapa murahannya kebohongan orang tuamu—" ujar Kenzo menahan gejolak emosinya.
"Tidak perlu, Mas Kenzo," potong Alana tenang, suaranya bagaikan angin malam yang membekukan. "Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi."
Alana menyandarkan punggungnya perlahan, memejamkan matanya rapat-rapat.
"Mutiara... pergilah," bisik Alana tanpa membuka matanya, tanpa ekspresi kasihan atau benci. "Bawa obat untuk Ayah. Dan jangan pernah temui Mbak lagi."
Mutiara mematung di tempatnya berdiri. Tatapan dingin, kebisuan mutlak, dan penolakan tanpa emosi dari Alana justru menghantam dadanya dengan rasa asing yang teramat aneh. Kakaknya yang dulu selalu menyayanginya, menangis untuknya, dan membela keluarganya... kini menatapnya seperti menatap sesosok asing yang tak bernilai.
"Pergi dari sini sebelum saya menyuruh pengawal melemparmu keluar," ancam Kenzo dingin, tatapannya memancar intimidasi mutlak yang tak bisa dibantah.
Taman kembali hening.
Kenzo membalikkan badannya, berlutut di samping kursi roda Alana. Pria itu mengulurkan tangannya ragu, hendak menyentuh jemari dingin Alana. "Alana... kenapa kamu menahan saya? Kenapa kamu tidak biarkan adikmu tahu kebenarannya?"
Alana perlahan membuka matanya, menatap lurus ke dalam iris mata hitam Kenzo. Pandangan mata Alana begitu jernih, namun benar-benar hampa—tak ada lagi rasa sakit, tak ada dendam, dan tak ada lagi ruang untuk siapa pun.
"Untuk apa, Mas?" ujar Alana pelan. "Apakah dengan dia tahu kebenarannya, hidup saya akan kembali? Apakah jiwa saya yang sudah mati ini bisa hidup lagi?"
Alana memalingkan wajahnya kembali. "Tolong dorong kursi rodanya, Mas. Saya ingin kembali ke kamar."
Kenzo mematung, meremas jemarinya sendiri yang mengambang di udara. Kebisuan Alana yang tak tersentuh oleh kebenaran maupun pembelaan menjadi benteng terkuat yang kini mengurung dan menyiksa batin sang CEO dingin tanpa batas.
Bersambung..