⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 28: Pernikahan Agung
Satu minggu menjelang Hari Pernikahan Agung, Kediaman Jenderal Shen disibukkan oleh kedatangan para utusan istana yang mengusung puluhan kotak kayu cendana berisi gaun pengantin sutra merah bersulam benang emas, perhiasan giok murni, serta dokumen aset kekaisaran.
Jenderal Shen Longwei berdiri di aula utama, mengawasi prosesi penerimaan barang-barang tersebut dengan raut wajah bangga namun protektif.
"Perhatikan setiap detailnya!" perintah Jenderal Shen pada para pengawal. "Pastikan tidak ada bahan bersalut racun atau barang cacat yang masuk ke dalam daftar hantaran putriku!"
Di tengah kesibukan tersebut, seorang pengawal pribadi Shen Yue mendekat dan berbisik pelan. "Nona Muda, ada seorang tamu misterius yang menanti Anda di paviliun teh belakang."
Shen Yue mengangguk tipis lalu merapikan jubah birunya dan melangkah menuju paviliun teh belakang yang sepi dari hiruk-pikuk kediaman.
Di sana, berdiri sosok jangkung berjubahkan hitam dengan bordir naga emas gelap, dialah Pangeran Ketiga, Zhao Feng. Pria itu membelakangi pintu, dan menatap kolam ikan koi dengan aura misterius yang selalu menyelimutinya.
"Pangeran Ketiga," sela Shen Yue. "Bertandang ke kediaman calon Putri Mahkota secara rahasia seminggu sebelum pernikahan agung... bukankah ini tindakan yang sangat beresiko bagi reputasi Anda?"
Zhao Feng memutarkan tubuhnya. Senyuman tipis yang sulit ditebak terukir di bibirnya yang tegas.
"Resiko?" ujar Zhao Feng dengan suara beratnya yang khas. "Bagi seorang prajurit seperti kita, resiko adalah makanan sehari-hari, Nona Shen Yue. Lagipula... aku datang untuk membawakan hadiah pernikahan khusus untukmu."
Zhao Feng memberikan sebuah gulungan kulit hitam kecil ke arah Shen Yue. Dengan refleks kilat, Shen Yue menerima gulungan itu.
Shen Yue membuka gulungan kulit tersebut. Di dalamnya tertera daftar nama lengkap, stempel rahasia, serta lokasi jaringan mata-mata faksi Perdana Menteri Lin yang tertanam di dalam Istana Timur.
Mata Shen Yue berbinar tajam. "Daftar agen rahasia faksi Lin di dalam Istana Timur?"
"Anggap saja itu kontribusi pertamaku untuk aliansi kita," sahut Zhao Feng santai. "Lin Wanru akan masuk ke Istana Timur sebagai selir dengan membawa agen-agen ini untuk memata-matai gerakanmu. Dengan daftar ini di tanganmu, kau bisa membersihkan atau memanfaatkan mereka sesuka hatimu."
Shen Yue menggulung kembali kulit hitam itu dan menyembunyikannya di dalam lipatan bajunya. Ia lalu menatap Zhao Feng lekat-lekat.
"Terima kasih, Pangeran Ketiga," ucap Shen Yue penuh penghargaan. "Dukunganmu sangat berharga."
Zhao Feng kemudian melangkah mendekati Shen Yue, dan berhenti tepat satu langkah di hadapannya. Sorot mata Pangeran Ketiga itu mendadak menjadi sangat dalam dan intens.
"Nona Shen Yue," bisik Zhao Feng, suaranya mengandung sedikit penyesalan yang tersimpan rapi. "Jika saja saudara saudaraku tidak membutakan matanya sejak awal... mungkin hari ini aku yang akan menyambutmu di Istana Utama sebagai permaisuriku, bukan sebagai pendamping dari pria yang tidak bisa menghargai keberadaanmu sepenuhnya."
Teg!
Shen Yue tertegun sejenak oleh kejujuran ucapan Zhao Feng. Namun, sebagai jiwa yang mandiri dan kuat, ia hanya tersenyum tenang.
"Pangeran Ketiga," jawab Shen Yue, "takhta dan posisi bukanlah hal yang kuinginkan dari seorang pria. Aku masuk ke Istana Timur bukan untuk menjadi hiasan seorang Pangeran... melainkan untuk menjadi penguasa atas catur politik negeri ini."
Zhao Feng tertawa pelan, sebuah tawa yang penuh dengan rasa kagum. "Jawaban yang sangat luar biasa. Kalau begitu... mari kita saksikan bagaimana kau menundukkan Istana Timur di bawah telapak kakimu minggu depan."
Dengan kibasan jubah hitamnya, Zhao Feng melompat ringan menembus dinding taman, dan menghilang bagaikan bayangan malam.
___
Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh Kekaisaran akhirnya tiba.
Ibu kota bermandikan warna merah dan emas. Jalanan utama dihiasi oleh ribuan lentera sutra, sementara puluhan ribu rakyat berjejer di sepanjang jalan raya untuk menyaksikan Prosesi Pernikahan Agung Calon Penguasa Istana Timur.
Di Paviliun Barat, Shen Yue berdiri di depan cermin pualam besar. Ia mengenakan gaun pernikahan agung berwarna merah membara yang ditenun dengan benang emas membentuk motif Burung Phoenix yang sedang mengepakkan sayapnya.
Mahkota giok merah berhiaskan rumbai-rumbai mutiara yang terpasang anggun di atas sanggul rambutnya. Riasan wajahnya yang tegas memperkuat kecantikan alaminya yang memikat sekaligus memancarkan wibawa yang tak tertandingi.
Qingzhu menatap majikannya dengan mata berkaca-kaca karena terharu. "Nona... Anda benar-benar tampak bagaikan Dewi Keagungan yang turun dari langit."
Shen Yue menatap bayangannya di cermin. "Waktunya tiba," gumam Shen Yue pada dirinya sendiri.
Suara trompet kerang dan gong kekaisaran bergema menggelegar dari arah gerbang depan.
Shen Yue melangkah keluar dari kamarnya dengan gerakan yang sangat anggun dan berwibawa, disambut oleh Jenderal Shen Longwei yang sudah menunggunya dengan jubah kebesarannya.
Sang Jenderal menatap putrinya dengan rasa bangga yang tak terlukiskan, menyerahkan tangannya untuk membimbing Shen Yue menuju kereta kencana emas kekaisaran.
Sementara itu, di pintu samping Istana Timur, sebuah tandu merah yang jauh lebih sederhana dan tanpa pengawalan militer mengantarkan Lin Wanru masuk melalui gerbang belakang.
Kontras yang luar biasa jelas ini menunjukkan perbedaan jurang status yang tak tertembus antara sang Putri Mahkota Utama dan sang Selir Sekunder.
Kereta kencana Shen Yue tiba di Gerbang Utama Istana Timur di bawah kawalan penuh Pengawal Lencana Emas. Zhao Xiao yang mengenakan jubah pengantin emas berdiri menanti di atas tangga batu pualam.
Saat Shen Yue melangkah turun dari kereta kencana dan mengikis jarak menuju puncak tangga, Zhao Xiao terpana.
Aura keagungan, ketenangan, dan dominasi yang dipancarkan oleh Shen Yue membuat seluruh pangeran, menteri, dan tamu undangan yang hadir menundukkan kepala secara refleks demi memberi hormat.
Shen Yue menghentikan langkahnya di samping Zhao Xiao, dan menatap lurus ke arah Aula Utama Istana Timur di mana takhta masa depan berada.
Bersambung...