Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9.ketakutan

Ruang kerja Arka seketika hening bagaikan kedap udara. Udara di ruangan itu terasa menghimpit dada Aira hingga ia hampir lupa cara bernapas dengan benar. Tatapan mata Arka yang pekat dan menusuk seolah sanggup menelanjangi seluruh ketakutan serta rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Genggaman jemari Aira di balik punggungnya makin mengerat, sampai buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

Apakah Mas Arka tahu? batin Aira berkecamuk hebat.

Tapi... kalau aku jujur bahwa Tante Lina dan Papa minta uang tiga ratus juta lagi, Mas Arka akan berpikir apa tentangku? Beliau sudah mengeluarkan uang dua miliar rupiah untuk melunasi utang dan biaya rumah sakit Mama. Kalau aku mengadu lagi, beliau pasti menganggapku dan keluargaku sebagai benalu yang tidak tahu diri...

Rasa takut dipandang sebagai wanita serakah yang memanfaatkan status pernikahan kontrak ini jauh lebih menakutkan bagi Aira daripada ancaman Lina.

Bagi Aira, harga diri dan kepasrahannya yang bermartabat adalah satu-satunya hal yang tersisa yang membuatnya bisa berdiri tegak di rumah megah ini.

Aira menelan ludah dengan susah payah, memaksakan diri untuk menatap kembali mata Arka dan mengukir senyum tipis yang tampak sangat dipaksakan.

"T-tidak ada, Mas Arka," bisik Aira, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha keras menahannya.

"Kemarin... kemarin hanya kunjungan biasa. Dokter bilang kondisi Mama makin stabil, bahkan jemari tangan kanan Mama sudah bisa bergerak sedikit."

Arka tidak mengedipkan matanya sedikit pun. Pria berusia 39 tahun itu memperhatikan setiap pergerakan mikro di wajah Aira:

kedipan matanya yang terlalu cepat, senyumannya yang kaku, serta bahunya yang tegang menahan beban.

Sebagai seorang pengusaha yang terbiasa bernegosiasi dengan pebisnis ulung, Arka tahu persis bahwa gadis di hadapannya ini sedang berbohong secara terang-terangan.

Alis tebal Arka bertaut tipis. Ada rasa kecewa bercampur kejengkelan yang mendalam menyelusup ke dalam hatinya.

Kenapa gadis ini begitu keras kepala? Kenapa ia memilih untuk menanggung teror sendirian ketimbang meminta perlindungan pada pria yang secara hukum telah menjadi suaminya?

"Aira," panggil Arka lagi. Kali ini suaranya lebih dalam, menuntut kejujuran tanpa celah.

"Saya tidak suka dibohongi. Saya bertanya sekali lagi... Apakah benar tidak ada kejadian apa pun di rumah sakit kemarin?"

Aira mengetatkan rahangnya. Air mata menumpuk di sudut matanya, membakar kelopaknya, namun ia menahannya sekuat tenaga agar tidak menetes.

"Benar, Mas. Tidak ada apa-apa," jawab Aira dengan nada yang dibuat semantap mungkin, meski dadanya bergemuruh hebat.

"Mas Arka sudah memberikan bantuan yang sangat besar buat Aira dan Mama. Mas Arka sudah bayar dua miliar rupiah, menyewakan kamar VIP terbagus, dan menjamin pengobatan Mama... Aira tahu diri, Mas. Aira tidak akan pernah merepotkan Mas Arka lagi dengan masalah lain. Tugas Aira di sini cuma mengurus Elano."

Kata-kata 'Aira tahu diri' dan 'Aira tidak akan pernah merepotkan Mas Arka lagi' keluar dari bibir gadis itu dengan ketulusan yang polos namun menyayat.

Arka tertegun sejenak. Kejengkelan di dalam dirinya perlahan luruh, berganti dengan pemahaman yang menghantam kesadarannya. Pria itu kini mengerti alasan di balik kebisaan Aira membisu. Aira bukan sedang meremehkannya, melainkan merasa sangat rendah diri dan takut dianggap sebagai pemeras yang memanfaatkan kekayaan keluarga Danuartha.

Gadis sembilan belas tahun ini sedang berusaha menjaga harga dirinya di balik status ikatan kontrak mereka.

Arka melepaskan pandangannya dari Aira, bersandar kembali ke kursi kulitnya sambil menghembuskan napas panjang.

Keheningan kembali melingkupi mereka selama beberapa saat.

"Begitu..." tanggap Arka datar, menyembunyikan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia memajukan tubuhnya dan meraih sebuah map dokumen di atas meja.

"Kalau begitu, kamu boleh keluar. Elano pasti menunggumu di taman."

Aira merasa kebingungan dengan perubahan sikap Arka yang begitu mendadak, namun rasa lega melingkupi hatinya karena tidak ditekan lebih jauh.

"B-baik, Mas Arka. Permisi."

Aira membungkukkan badannya sedikit lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja dengan cepat. Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat di belakangnya, Aira bersandar pada dinding koridor, menghembuskan napas lega yang panjang seraya mengusap dadanya yang berdebar kencang. Ia berhasil menyembunyikannya. Untuk saat ini.

Di dalam ruang kerja, Arka menatap pintu yang baru saja tertutup rapat. Tangannya mencengkeram pulpen berkualitas tinggi di jemarinya hingga terdengar derit halus dari bahan logamnya.

Tanpa membuang waktu, Arka meraih telepon genggamnya dan menekan satu tombol panggilan cepat.

"Raymond," panggil Arka begitu sambungan terhubung. Suaranya tidak lagi dingin, melainkan sarat akan ketegasan tanpa ampun.

"Iya, Pak Arka?" sahut Raymond dari seberang telepon.

"Jalankan rencana pertamamu. Saya tidak mau menunggu sampai hari Minggu," perintah Arka dengan nada tajam.

"Cari tahu keberadaan Hendra dan Lina detik ini juga. Seret mereka ke kantor saya, atau bawa ke tempat yang cukup sepi untuk kamu 'berbicara' dengan mereka."

Di seberang sana, Raymond tersenyum tipis, memahami betul maksud sang atasan. "Baik, Pak. Apakah ada batasan tindakan untuk Tuan Hendra dan Nyonya Lina?"

"Pastikan mereka paham bahwa menyentuh Aira atau mengancam Ny. Wahyuni sama saja dengan menggali liang kubur mereka sendiri di kota ini," tegas Arka, matanya memancarkan kilat kegelapan yang menakutkan.

"Buat mereka mengembalikan lima puluh juta yang sudah kamu berikan, dan pastikan mereka tidak punya celah lagi untuk menampakkan diri di depan Aira."

"Siap, Pak Arka. Laporan lengkap akan saya serahkan sore ini."

"Satu lagi, Raymond."

"Iya, Pak?"

"Pastikan Aira tidak tahu mengenai hal ini," pesan Arka pelan namun penuh penekanan.

"Dia... terlalu rapuh untuk tahu bagaimana cara saya menyelesaikan masalah."

"Baik, Pak Arka. Saya mengerti."

Arka mematikan telepon dan meletakkannya kembali di atas meja. Pria 39 tahun itu berdiri dari kursinya, melangkah menuju jendela kaca besar ruang kerjanya yang menghadap langsung ke taman belakang.

Di luar sana, di atas rumput hijau yang terhampar luas, Aira tampak sedang duduk bersimpuh kembali di samping Elano. Gadis itu sedang tertawa kecil sambil mengusap cat air yang menempel di pipi anak laki-lakinya.

Wajahnya yang pucat kini dihiasi senyuman tulus yang sangat manis, seolah-olah tidak ada beban berat yang sedang mengimpit dadanya.

Arka berdiri mematung di balik kaca, memperhatikan pemandangan itu dalam diam selama beberapa menit. Ada perasaan asing yang pelan-pelan merambat di dinding hatinya yang selama ini membeku.

Aira begitu polos, begitu kuat, namun di saat yang sama sangat rentan. Gadis muda itu rela mengorbankan masa mudanya dan mengunci rapat penderitaannya demi melindungi ibunya dan menjaga kesepakatan dengannya.

Kamu memang gadis yang terlalu jujur dan polos, Aira, batin Arka, matanya tak lepas dari sosok Aira yang kini sedang memangku Elano. Tapi kamu lupa... kamu sekarang tinggal di bawah naunganku. Dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh apa yang sudah menjadi milik Danuartha.

Arka mengembuskan napas pelan, merapikan lengan kemejanya.

Jarak di antara mereka mungkin masih terpisahkan oleh benteng perbedaan usia, status hukum, dan batas perjanjian. Arka tidak jatuh cinta—belum, dan ia tidak berniat membiarkan perasaannya berkembang terlalu cepat.

Namun, rasa tanggung jawab dan perlindungan posesif yang mulai tumbuh di dadanya adalah awal dari retaknya tembok es yang selama ini ia bangun.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!