Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Brak!

Anehnya, balok kayu itu tertahan keras seolah menabrak dinding baja yang tak terlihat saat menyentuh baju Riko.

Tangan Bayu sampai kesemutan karena efek pantulan dari pukulan tersebut.

"Sial, kenapa keras sekali? Bukankah dia cuma manusia biasa?" gerutu Bayu kebingungan.

Layar biru sistem langsung muncul di depannya memberikan penjelasan seketika.

[Peringatan: Selama Jeda Waktu, semua objek eksternal berada dalam kondisi inersia terhenti mutlak.]

[Hukum fisika dasar tertahan. Semua dampak fisik, gaya, dan momentum yang diberikan akan ditumpuk.]

[Dampak tersebut akan tereksekusi secara serentak sesaat setelah aliran waktu kembali berjalan.]

Bayu membaca penjelasan itu dan matanya berbinar penuh pemahaman.

"Oh, jadi begitu cara kerjanya," gumam Bayu sambil menyeringai licik.

"Berarti Riko belum merasakan sakitnya sekarang, tapi nanti." Bayu kembali mengambil ancang-ancang dan memukul perut Riko tiga kali berturut-turut.

Bugh! Bugh! Bugh!

Ia tidak berhenti di situ, Bayu beralih menatap wajah Bagas yang sedang tersenyum meremehkan.

"Senyummu jelek sekali, Mas Bagas," ejek Bayu sambil menampar pipi rentenir itu berkali-kali.

Plak! Plak! Plak!

Tentu saja wajah Bagas tidak bergeser sedikit pun, namun Bayu tahu rasa sakitnya sedang menumpuk.

Bayu kemudian merogoh saku celana jins Bagas dan menarik keluar dompet kulit yang tebal.

Ia membuka dompet itu dan matanya membelalak melihat tumpukan uang seratus ribuan di dalamnya.

"Wow, hasil memeras orang miskin memang lumayan banyak ya," ucap Bayu sambil mengambil semua uang itu.

Ia memasukkan uang tersebut ke saku celananya sendiri lalu membuang dompet kosong itu ke tanah.

Pandangan Bayu kemudian beralih ke preman jangkung yang masih tertawa kaku.

Bayu berjongkok dan melepas tali sepatu kets yang dipakai preman jangkung itu.

Ia mengikat kedua tali sepatu kiri dan kanan preman itu menjadi satu simpul mati yang sangat kuat.

"Coba kita lihat bagaimana caramu berjalan nanti, kawan," kekeh Bayu pelan.

Setelah merasa cukup puas dengan persiapan jebakannya, Bayu berjalan mundur sejauh tiga meter dari mereka.

Ia menyandarkan balok kayunya di dinding dan melipat kedua tangan di dada.

Bayu menarik napas panjang, bersiap melihat pertunjukan komedi yang akan segera terjadi.

"Lanjutkan waktu," perintah Bayu dengan tegas di dalam benaknya.

Wusss!

Seketika itu juga, suara bising dunia kembali terdengar menghantam telinga.

Brak! Bugh! Bugh! Plak!

Semua efek pukulan dan tamparan Bayu tereksekusi dalam waktu yang bersamaan.

Riko yang tadinya sedang mengayunkan tinju tiba-tiba terlempar ke belakang dengan sangat keras.

"Akhhhh!" jerit Riko sambil memuntahkan cairan dari mulutnya dan memegangi perutnya yang serasa hancur.

Riko terjatuh bergulingan di tanah berdebu, menabrak pot bunga tua milik kakek Bayu.

Prang!

Pot itu pecah berantakan sementara Riko mengerang kesakitan tak bisa bangun.

Di saat yang sama, kepala Bagas tiba-tiba tersentak keras ke kanan dan ke kiri seolah ditampar badai.

"Aduuuh! Ampuuun!" teriak Bagas sambil menutupi wajahnya yang mendadak merah padam dan membengkak.

Preman jangkung yang kaget melihat kedua bosnya tiba-tiba tersiksa langsung panik.

"Bos! Bang Riko! Kalian kenapa?!" teriak si jangkung berniat lari menghampiri mereka.

Namun saat ia melangkahkan kakinya, kedua sepatunya yang terikat membuatnya kehilangan keseimbangan.

Gubrak!

Wajah preman jangkung itu mencium tanah berkerikil dengan sangat keras hingga hidungnya berdarah.

"Aargh! Hidungku patah!" ratap preman jangkung itu sambil berguling-guling memegangi hidungnya.

Ketiga preman garang itu kini terkapar di halaman rumah Bayu dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

Bagas mengusap darah di sudut bibirnya dan menatap Bayu dengan mata membelalak penuh teror.

Bayu masih berdiri santai di tempatnya, tidak bergeser satu sentimeter pun sejak tadi.

"Apa yang terjadi?! Siapa yang memukulku?!" teriak Bagas panik sambil melihat ke sekeliling yang sepi.

Riko yang masih memegangi perutnya menatap Bayu dengan tubuh gemetar hebat.

"Bos... anak ini... anak ini pakai ilmu hitam!" seru Riko dengan suara serak menahan sakit.

"Tadi dia di depan saya, tapi pukulannya datang dari segala arah, ini pasti kerjaan jin iprit!" Preman jangkung yang hidungnya berdarah langsung menangis histeris mendengar kata jin.

"Setan! Rumah ini angker Bos! Ayo lari!" teriak si jangkung sambil berusaha merangkak menjauh.

Bagas yang pada dasarnya penakut terhadap hal gaib langsung merasa bulu kuduknya berdiri.

Ia mencoba merogoh sakunya untuk mengambil jimat, tapi ia malah menyadari hal lain.

"Sialan! Dompetku hilang! Uangku hilang semua!" jerit Bagas semakin histeris.

Bayu melangkah maju satu langkah perlahan, sengaja membuat suara sepatunya terdengar berat.

Tap.

Mendengar langkah kaki itu, ketiga preman tersebut langsung berteriak ketakutan.

"Ampun Bayu! Ampun! Kami tidak akan menagih hutangmu lagi hari ini!" teriak Bagas sambil merangkak mundur.

"Tolong suruh jin peliharaanmu berhenti memukul kami!" timpal Riko yang sudah menangis.

Mereka bertiga akhirnya berhasil berdiri sempoyongan dan berlari sekencang mungkin meninggalkan pekarangan rumah itu.

Preman jangkung bahkan berlari sambil melompat-lompat aneh karena tali sepatunya masih terikat.

"Huuwaaa! Tolong ada setan!" teriak mereka bersahut-sahutan hingga suara mereka menghilang di ujung jalan.

Bayu tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar melihat kekonyolan pemandangan barusan.

"Hahaha! Preman kampung ternyata takut sama jin," ucap Bayu di sela-sela tawanya.

Ia mengambil dompet Bagas yang dibuangnya tadi dan membuangnya ke tempat sampah.

Bayu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan tumpukan uang kertas yang cukup tebal.

"Ada sekitar sepuluh juta di sini, lumayan untuk modal awal hidup baru," gumam Bayu tersenyum puas.

Tiba-tiba, pandangannya mendadak kabur dan kepalanya terasa berdenyut sangat keras.

Bayu terhuyung ke belakang dan terpaksa duduk di kursi kayu di teras agar tidak jatuh pingsan.

Napasnya kembali memburu dan keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya.

[Peringatan: Penggunaan Energi Waktu untuk manipulasi fisik menuntut stamina besar.]

[Energi Waktu tersisa: 3/10.]

"Ternyata memukul orang saat waktu berhenti menyedot energiku jauh lebih cepat," keluh Bayu sambil memijat pelipisnya.

"Aku baru menghentikan waktu kurang dari dua menit, tapi rasanya seperti baru selesai mencangkul sawah seharian."

Bayu menyadari bahwa kekuatan dewa yang dimilikinya ini memiliki bayaran yang sangat mahal bagi tubuh manusianya.

Jika ia terlalu ceroboh dan menguras energinya sampai nol, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada tubuh atau bahkan nyawanya.

"Aku harus belajar menggunakan kekuatan ini dengan lebih efisien dan cerdas," batin Bayu bertekad.

Ia tidak bisa hanya mengandalkan kekerasan fisik setiap kali menghentikan waktu.

Setelah rasa pusingnya sedikit mereda, Bayu masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.

Ia perlu mandi air dingin untuk menyegarkan pikiran dan tubuhnya yang remuk.

Hari ini ia berencana pergi ke pusat kota untuk berbelanja makanan dan pakaian baru yang layak.

Sudah saatnya Bayu Rahaja membuang citra pemuda miskin pembawa sial yang selama ini melekat padanya.

Batu Waktu di dalam sakunya berdenyut pelan, seolah menyetujui rencana tuan barunya tersebut.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!