Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. Saluran Bambu dan Air yang Dipaksa Naik
..."Ketika sumur mati, kami tidak menggali lebih dalam, kami membuat air naik sendiri, karena kadang solusi bukan di bawah, tapi di cara kita mengalirkan."...
Hari ke 40 di Desa Majia dimulai dengan keheningan yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, bukan keheningan setelah banjir atau keheningan karena semua orang bekerja, melainkan keheningan yang berat dan kering, keheningan yang datang ketika sumur terakhir di tengah desa mengeluarkan suara "gluk gluk" terakhir dan kemudian mati, meninggalkan ember yang digantung setengah jalan dan tali yang basah hanya di ujungnya, dan ketika Paman Chen menurunkan ember itu dan tidak mendapatkan apa-apa kecuali lumpur hitam dan bau tanah, seluruh desa tahu bahwa masalah baru telah datang, masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan perahu, tidak bisa diselesaikan dengan rak, dan tidak bisa diselesaikan dengan berdoa.
Selama dua minggu terakhir matahari memang bersikap seperti majikan yang kejam, membakar atap bambu sampai retak, membuat tanah di bawah rumah panggung mengeras seperti batu, dan menghisap air dari sungai kecil sampai menyisakan batu-batu yang putih dan retak, sehingga sekarang tidak hanya sawah yang mati, tapi juga tempayan di setiap rumah yang semakin hari semakin kosong, dan anak-anak yang biasanya berlomba mengangkut air kini harus berjalan setengah jam ke Sungai Min hanya untuk mendapatkan satu gayung air keruh.
Jing yue berdiri di depan sumur kering itu sejak fajar, dengan punggung menghadap matahari dan bayangan yang panjang jatuh di tanah, dan dia tidak berkata apa-apa selama hampir satu jam, hanya menatap ke dalam lubang gelap itu seakan berharap air akan muncul lagi kalau dia menatap cukup lama, tapi yang keluar hanyalah angin panas yang membawa debu.
Tetua Pertama datang dengan wajah yang lebih tua sepuluh tahun dalam seminggu, dan dia berkata bahwa ini bukan pertama kalinya kemarau datang, tapi ini pertama kalinya kemarau datang setelah banjir, dan tanah yang jenuh air lalu tiba-tiba kering membuat sumur runtuh dari dalam.
Bai Ling melaporkan bahwa di Qinghe situasinya sama, di Lijia orang sudah mulai menggali lubang baru tapi hanya menemukan pasir, dan di Hekou ada dua anak yang pingsan kemarin karena dehidrasi.
Lei Feng menendang batu dan berkata bahwa mereka harus memohon ke kabupaten untuk mengirim air dengan gerobak, tapi Jing yue menggeleng pelan dan berkata bahwa gerobak tidak akan cukup untuk seribu orang, dan kalau mereka menunggu maka orang akan mati duluan.
Masalahnya sederhana dan kejam, yaitu air ada di bawah, di Sungai Min, tapi rumah mereka ada di atas, di atas tiang setinggi tiga tombak, dan mengangkut air dengan ember setiap hari berarti membunuh tenaga orang sebelum musim tanam berikutnya tiba.
Jing yue lalu berjalan ke tepi balai, menatap ke arah sungai yang masih mengalir meskipun kecil, menatap ke arah deretan rumah panggung yang seperti burung bertengger, dan di kepalanya muncul gambar yang sudah lama dia lihat di buku tua di Gunung Emei, gambar tentang orang yang tidak membawa air ke atas, tapi membawa air melalui bambu.
"Kita tidak akan mengangkat air," katanya akhirnya dengan suara yang pelan tapi membuat semua orang mendekat, "kita akan membuat air naik sendiri, kita akan membuat saluran dari sungai ke desa, menggunakan bambu, menggunakan gravitasi, menggunakan kemiringan."
Awalnya semua orang terdiam, karena kedengarannya seperti mimpi, bagaimana mungkin air bisa naik ke rumah panggung tanpa pompa, bagaimana mungkin bambu bisa menahan air sejauh itu, tapi Jing yue mengambil ranting dan menggambar di tanah, menunjukkan bahwa kalau mereka menemukan titik di sungai yang lebih tinggi dari lantai balai, lalu membuat saluran bambu yang turun sedikit demi sedikit, maka air akan mengalir sendiri dan sampai ke atas.
Pekerjaan dimulai hari itu juga, tanpa rapat panjang, tanpa menunggu persetujuan, karena semua orang tahu bahwa kalau tidak mulai sekarang maka besok akan terlambat.
Kelompok pertama dipimpin oleh Lei Feng untuk menyusuri sungai ke hulu sejauh dua li untuk mencari tempat di mana dasar sungai masih lebih tinggi dari lantai balai Majia, dan mereka berjalan dengan tongkat dan tali, mengukur dengan mata dan dengan batu, sampai akhirnya di sore hari mereka menemukan sebuah tikungan di mana air masih cukup deras dan tanahnya cukup tinggi.
Kelompok kedua dipimpin oleh Paman Chen untuk menebang bambu tua yang besar dan lurus, bambu yang diameternya sebesar lengan orang dewasa, dan setiap batang harus dipotong dengan hati-hati agar tidak pecah, lalu dilubangi ruas-ruasnya agar menjadi pipa panjang.
Kelompok ketiga dipimpin oleh Bai Ling dan para ibu untuk membuat penyangga dari kayu dan tali, karena saluran itu harus digantung di atas tanah, melewati jurang kecil, melewati jalan, dan naik sampai ke balai desa.
Hari pertama sampai ketiga adalah neraka, karena bambu berat, karena tanah panas, karena banyak sambungan yang bocor dan air menetes ke mana-mana sebelum sampai ke tujuan, dan di malam hari ketiga, ketika mereka menguji aliran pertama, air hanya sampai setengah jalan lalu berhenti karena ada satu bambu yang retak.
Beberapa orang mulai putus asa dan berkata bahwa ini buang-buang tenaga, lebih baik mengangkut dengan ember, tapi Jing yue tidak berkata apa-apa, dia hanya turun ke sungai, berdiri di air sampai ke lutut, dan memperbaiki sambungan itu sendiri dengan lumpur dan kain basah sebagai penutup sementara.
Di hari keempat, mereka mencoba lagi, dan kali ini air mengalir lebih jauh, sampai ke tiang pertama rumah panggung, dan ketika air itu menetes dari ujung bambu terakhir ke dalam tempayan besar di bawah balai, seluruh desa bersorak seperti baru saja memenangkan perang.
Masalah baru muncul di hari kelima, yaitu daun dan lumpur menyumbat saluran, sehingga air menjadi kecil dan akhirnya berhenti, sehingga Jing yue memerintahkan agar di ujung dekat sungai dibuat saringan dari anyaman bambu dan kain, dan setiap pagi dua orang ditugaskan untuk membersihkannya.
Di hari keenam, saluran diperpanjang ke rumah-rumah lain, tidak semua sekaligus, tapi satu per satu, dan setiap rumah yang sudah terpasang harus menjaga agar tidak ada yang mencuri air atau merusak.
Anak-anak diberi tugas paling penting, yaitu menjadi "penjaga air", mereka berjalan di sepanjang saluran dengan tongkat kecil, mengetuk setiap sambungan untuk memastikan tidak bocor, dan kalau ada tetesan mereka langsung berlari melapor.
Di hari ketujuh, tempayan di balai sudah penuh, dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu orang bisa mandi, bisa mencuci, dan bisa menyiram rak sayur tanpa harus turun ke sungai.
Nenek Sun menangis ketika air pertama mengalir dari bambu ke dalam tempayannya, dan dia berkata bahwa ini adalah keajaiban, tapi Jing yue hanya berkata bahwa ini bukan keajaiban, ini adalah matematika dan kerja keras.
Kabar itu menyebar ke empat desa lain, dan dalam waktu tiga hari utusan dari Qinghe, Lijia, Shuanghe, dan Hekou datang dengan membawa bambu dan meminta diajari, sehingga Jing yue harus membagi waktu antara membangun di Majia dan mengajari di tempat lain.
Di hari kesepuluh, saluran di Majia sudah bercabang ke dua puluh rumah, dan di setiap ujung ada keran sederhana dari kayu yang bisa dibuka tutup, dan anak-anak berlomba siapa yang paling cepat menutup keran setelah mengambil air agar tidak boros.
Lei Feng yang awalnya paling keras menentang kini menjadi kepala tukang saluran, dan dia berkata bahwa dia tidak pernah menyangka bahwa bambu yang dulu dipakai untuk membuat perahu kini bisa dipakai untuk membuat sungai buatan.
Di hari kelima belas, datang hujan kecil, dan semua orang takut saluran akan rusak, tapi ternyata saluran itu justru membantu, karena air hujan dari atap ditampung dan dialirkan ke tempayan melalui bambu yang sama, sehingga persediaan air semakin banyak.
Jing yue menulis di buku besar itu halaman baru dengan judul "Cara Membuat Saluran Bambu", lengkap dengan gambar kemiringan, cara menyambung, dan cara membersihkan, agar seratus tahun dari sekarang orang masih bisa membaca.
Di hari kedua puluh, masalah lain muncul, yaitu beberapa bambu mulai berlumut di dalam dan air menjadi sedikit berbau, sehingga Jing yue memerintahkan agar setiap bulan saluran dibongkar, dibersihkan dengan pasir dan air, lalu dipasang lagi.
Di hari kedua puluh lima, kabupaten mengirim surat yang memuji cara ini dan meminta contoh, dan Jing yue mengirim dua tukang terbaik bersama dengan seikat bambu sebagai hadiah.
Di hari ketiga puluh, seluruh lima desa sudah memiliki saluran, dan di Majia tidak ada lagi orang yang mengantre di sungai, tidak ada lagi anak yang pingsan karena haus, dan rak sayur bisa disiram dua kali sehari tanpa takut kehabisan.
Malam di hari ke 40, Jing yue duduk di tepi balai, mendengarkan suara air yang mengalir pelan di dalam bambu, suara yang seperti bisikan, seperti lagu, dan dia menulis di bukunya bahwa hari ini mereka tidak mengalahkan kemarau, mereka menipunya.
Dia menulis bahwa mereka belajar bahwa kalau tidak bisa membawa ember ke atas, maka buatlah agar air yang berjalan sendiri, dan bahwa solusi paling sederhana sering kali adalah yang paling sulit ditemukan karena kita terlalu sibuk mencari yang rumit.
Dia juga menulis bahwa dia lelah, tangannya sakit karena memotong bambu, punggungnya sakit karena mengangkat, tapi dia tidur dengan tenang karena tahu bahwa besok pagi ketika dia bangun, akan ada air di tempayan.
Sebelum tidur, dia berjalan ke ujung desa, ke tempat saluran pertama kali masuk, dan dia menyentuh bambu itu, merasakannya dingin, dan dia berbisik terima kasih kepada sungai karena masih mau berbagi.
Lalu dia kembali, menutup pintu balai, dan memejamkan mata, sementara di luar, di bawah bulan, air terus mengalir melalui seratus batang bambu, naik ke atas rumah panggung, dan memberi hidup kepada orang-orang yang pernah hampir mati karena tidak punya air.
Dan di kejauhan, di atas bukit, bintang-bintang memantul di permukaan tempayan yang penuh, seperti langit kedua yang sengaja diturunkan ke desa agar orang tidak lupa bahwa air adalah langit yang bisa disentuh.