Indonesia
NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terungkap

Keheningan yang manis menyelimuti kabin mobil sports sedan milik Jungkook begitu mesin dinyalakan. Aroma parfum khas Jungkook yang maskulin bercampur dengan harum bunga yang lembut dari tubuh Mira, menciptakan atmosfer intim yang sudah sangat lama tidak mereka rasakan.

Selama menyusuri jalanan Paris, pandangan Jungkook berulang kali teralih dari jalanan di depannya. Di setiap lampu merah atau celah kemacetan, netra gelap pria itu selalu mencuri pandang ke arah samping, menatap sosok Mira yang duduk manis di kursi penumpang.

Setiap sudut penampilannya hari ini, mulai dari rok selutut bermotif bunga cokelat yang mengekspos kulit mulusnya, jaket kulit krem yang pas, hingga helai rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, benar-benar menyedot seluruh perhatian Jungkook.

Mira yang sadar terus-menerus diperhatikan mendadak merasa canggung. Ia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, mencoba mengalihkan pandangan ke luar jendela untuk menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya.

"Kau... terlihat berbeda," cetus Jungkook tiba-tiba, memecah kecanggungan di antara mereka. Suaranya terdengar berat namun lembut.

Mira menoleh pelan, menatap Jungkook dengan sepasang mata bulatnya yang polos. "Apa maksud Oppa?"

Jungkook menelan ludahnya pelan. Genggaman tangannya di setir mengerat sejenak sebelum ia kembali menatap Mira sekilas.

"Kau terlihat... lebih cantik," aku Jungkook jujur, tanpa mampu menahan kalimat itu lebih lama lagi di dalam dadanya. Ia tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Mungkin karena selama ini aku terbiasa melihatmu memakai kaus oversized milikku saat di apartemen, atau berbalut coat tebal yang menutupi seluruh tubuhmu."

Kalimat itu meluncur begitu saja, sarat akan kerinduan yang teramat sangat pada momen-momen sederhana mereka di apartemen Jungkook.

Pipi Mira seketika makin merona hebat mendengar pujian lurus dan tulus dari Jungkook. Jantungnya berdesir kencang, menanggapi getaran manis yang sudah sangat lama tak dirasakannya.

Namun, di tengah luapan rasa hangat itu, bayangan wajah wanita cantik yang mendatangi apartemennya tempo hari mendadak melintas tajam di pikiran Mira. Kalimat-kalimat dingin dan terkesan 'memiliki' dari wanita itu kembali terngiang, menusuk hatinya dengan rasa sakit yang nyata.

Mira terdiam. Rona merah di pipinya perlahan memudar, berganti dengan raut wajah yang kembali muram dan tertutup. Ia berusaha menyadarkan dirinya sendiri, mengingatkan hati kecilnya agar tidak mudah goyah hanya karena satu pujian manis dari Jungkook. Pria ini mungkin saja hanya bersikap manis sementara, sedangkan di luar sana ada wanita lain yang jauh lebih layak bersanding dengannya.

Mira menarik tangannya perlahan dari jangkuan Jungkook, mengalihkan pandangannya sepenuhnya ke luar jendela mobil untuk menatap deretan pepohonan musim semi yang berlalu.

Jungkook yang menyadari perubahan sikap Mira yang mendadak dingin dan menarik diri langsung melirik lirih. Senyum tipis di bibirnya perlahan meluruh. Keheningan yang tercipta di antara mereka kini tak lagi terasa manis, melainkan sarat akan kesalahpahaman yang tebal dan belum terurai.

Mobil itu akhirnya berbelok menuju pelataran sebuah restoran fine dining yang tenang di sudut kota Paris. Setelah menempuh makan siang yang dipenuhi keheningan canggung, di mana Mira lebih banyak menunduk menatap piringnya dan Jungkook terus memperhatikannya dengan sejuta pertanyaan yang tertahan, mereka akhirnya kembali ke dalam mobil.

Jungkook mematikan mesin sejenak sebelum melaju, berbalik menatap Mira yang sedang merapikan tas kuliahnya.

"Aku akan mengantarmu pulang," ujar Jungkook dengan suara baritonnya yang tegas namun menyimpan kelembutan. "Pelajaranmu sudah selesai hari ini, kan? Aku tidak terima penolakan."

Seketika itu juga, kepanikan kecil melanda pikiran Mira. Jantungnya berdebar kencang. Pulang? Ke apartemennya?

Mira terpaku di tempatnya. Ia menyadari sebuah masalah besar: apartemen pribadinya sebenarnya masih dalam proses perbaikan dan belum bisa ditinggali sampai dua hari ke depan! Selama beberapa hari terakhir ini, ia menumpang tidur di apartemen Chloe. Jika ia memberitahu alamat Chloe, Jungkook pasti akan makin curiga dan tahu bahwa ia telah berbohong soal kepindahannya.

Namun melihat raut wajah Jungkook yang mengintimidasi dan tidak menerima bantahan sama sekali, Mira tahu ia tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, ia harus menyetujui tawaran itu dan terus berpura-pura.

"I-iya, Oppa... Terima kasih," cicit Mira pelan, berusaha mengontrol raut wajahnya agar tidak tampak panik.

Dalam hatinya, Mira cepat-cepat menyusun rencana. Ia akan membiarkan Jungkook mengantarnya sampai ke depan gedung apartemennya. Setelah mobil Jungkook benar-benar pergi dan melaju jauh, barulah ia akan memesan taksi atau sekadar berjalan kaki menuju apartemen Chloe yang untungnya hanya berjarak beberapa blok dari sana.

Mobil sports sedan hitam itu pun perlahan melaju menembus jalanan Paris, membawa mereka berdua menuju tempat tujuan dengan rahasia dan kebohongan baru yang kian menumpuk di antara mereka.

Mobil sports sedan milik Jungkook akhirnya berhenti tepat di depan gedung apartemen Mira. Suasana di dalam mobil kembali hening sejenak.

"Terima kasih sudah mengantarku, Oppa," ujar Mira pelan tanpa berani menatap langsung mata Jungkook.

Ia segera membuka pintu dan turun dari mobil. Dengan langkah yang sebisa mungkin dibuat tampak tenang, Mira berjalan masuk menembus pintu kaca utama gedung apartemennya. Setelah memastikan sosok Mira menghilang di dalam lobi, Jungkook memutar balik mobilnya dan melaju meninggalkan kawasan tersebut.

Sementara itu di dalam lobi, Mira bersembunyi di balik pilar. Matanya mengintip ke arah jalan raya, memperhatikan mobil Jungkook yang makin menjauh hingga akhirnya menghilang di belokan. Menghela napas lega, Mira bergegas keluar dari gedung dan berjalan cepat menyusuri trotoar menuju gedung apartemen Chloe yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari sana.

Di tempat lain, saat sedang berhenti di lampu merah, pandangan Jungkook tak sengaja tertuju pada kursi penumpang di sampingnya. Di sana, tergeletak sebuah tabung kecil berwarna merah muda lembut, merek lipstik favorit Mira yang sepertinya terjatuh dari tasnya saat ia terburu-buru turun tadi.

Jungkook meraih lipstik itu, menatapnya sejenak dengan senyum tipis, lalu memutuskan untuk berbalik arah. Ia ingin mengembalikan lipstik tersebut sekaligus mencari alasan untuk bisa menatap wajah gadis itu sedikit lebih lama.

Namun, saat mobilnya kembali mendekati area apartemen Mira, mata tajam Jungkook mendadak menangkap sosok yang sangat familiar. Dari jarak agak jauh, ia melihat Mira justru berjalan kaki keluar dari kawasan apartemennya, melangkah terburu-buru menyusuri jalanan kecil.

Dahi Jungkook berkerut penuh rasa heran. Mau ke mana dia? Kenapa dia keluar lagi?

Rasa penasaran menguasai Jungkook. Ia melambatkan laju mobilnya dan membuntuti Mira dari jarak aman tanpa sepengetahuan gadis itu. Pria itu memperhatikan Mira yang akhirnya berbelok dan masuk ke dalam sebuah kompleks apartemen lain yang tak kalah mewah.

Jungkook memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, tepat di tempat yang bisa memantau pintu keluar gedung tersebut. Ia menyandarkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada, dan menunggu.

Satu jam berlalu... dua jam berlalu... namun tidak ada tanda-tanda Mira akan keluar dari gedung itu.

Dengan dada yang mulai dihantam rasa gelisah dan kecurigaan yang membumbung tinggi, Jungkook meraih ponselnya dan menekan nomor Mira.

Hanya butuh beberapa nada dering sebelum panggilan itu diangkat.

"Halo, Oppa?" suara Mira terdengar di seberang telepon.

Jungkook menahan napasnya, mencoba menetralkan suaranya agar terdengar biasa saja. "Mira... kau sedang di mana?"

Di dalam sekat telepon, terdengar jeda sejenak sebelum Mira menjawab, "Aku? Aku sedang di apartemen, Oppa. Baru saja mau istirahat."

Jawaban itu memukul dada Jungkook bagai hantaman keras. Pria itu memejamkan mata erat-erat, meremas kuat ponsel di tangannya. Matanya yang terbuka kembali menatap lurus ke arah pintu gedung apartemen di depannya, gedung di mana Mira sebenarnya berada detik ini.

"Begitu..." bisik Jungkook dingin, menahan gejolak emosi yang membakar dadanya. "Baiklah, istirahatlah."

Tanpa menunggu balasan Mira, Jungkook langsung mematikan sambungan telepon. Pria itu menyalakan mesin mobilnya dan melaju kencang menuju gedung apartemen milik Mira yang sebenarnya.

Setibanya di sana, Jungkook tak membuang waktu. Ia melangkah lebar menuju lantai unit apartemen Mira, menggunakan access card cadangan yang masih tersimpan di dalam dompetnya.

Beep... Klik.

Pintu terbuka. Namun bukannya menemukan kehangatan sebuah hunian atau sosok Mira yang sedang beristirahat, Jungkook justru disambut oleh suara debu, aroma cat yang menyengat, dan potongan material kayu yang berserakan.

Seorang pria paruh baya berseragam kerja tampak kaget melihat kedatangan Jungkook. Pria itu adalah mandor renovasi.

"Ah, maaf... ada apa tuan?" tanya sang mandor menghentikan pekerjaannya.

Jungkook berdiri mematung di ambang pintu, menatap sekeliling ruangan yang masih berupa bahan konstruksi dan jauh dari kata layak huni.

"Dimana... pemilik apartemen ini?" suara Jungkook terdengar serak dan bergetar.

"Maksud Anda Nona Mira?" sang mandor mengusap keringat di dahi. "Nona Mira tidak tinggal di sini. Tempat ini sedang kami renovasi total setelah kebocoran pipa bulan lalu. Paling cepat baru bisa ditempati minggu depan. Selama ini Nona Mira menumpang di tempat temannya."

Deg.

Kata-kata mandor itu bergema berulang kali di dalam kepala Jungkook.

Tidak bisa ditempati... menumpang di tempat temannya...

Rasa syok dan terkejut luar biasa menghantam Jungkook hingga tubuhnya terasa kaku. Matanya menatap kosong pada ruangan kosong di depannya. Pikiran pria itu berkecamuk hebat, dihantui oleh sejuta pertanyaan yang menyiksa dadanya.

Kenapa Mira harus berbohong padanya? Ke mana sebenarnya Mira pergi selama ini? Dan... apartemen siapa yang baru saja ia datangi tadi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!