Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Bayangan yang bergerak

Siang beralih menjadi sore yang hangat. Di atas bukit, latihan dasar telah selesai. Kai duduk bersandar pada sebatang pohon tua yang baru saja hidup kembali, napasnya teratur meskipun seluruh tubuhnya terasa pegal karena kebiasaan baru yang ia pelajari hari ini. Di sampingnya, Arlen berdiri diam menatap ke arah jalan raya yang membelah hamparan ladang.

Meskipun usianya baru tiga belas tahun, sikapnya membuat siapa saja merasa seolah sedang berdiri di samping seorang pemimpin yang telah berpengalaman selama berpuluh puluh tahun.

"Kau sudah mengerti dasarnya hari ini," ucap Arlen tiba-tiba tanpa menoleh ke belakang. "Namun ingatlah, kekuatan yang kau rasakan di dalam dirimu saat ini akan hilang jika kau tidak terus melatihnya. Alam tidak memberi cuma-cuma, ia hanya meminjamkan kekuatannya kepada mereka yang siap menjaganya."

Kai mengangguk pelan sambil berdiri. Dia merapikan pakaiannya yang berdebu.

"Aku mengerti. Aku akan melakukannya setiap hari. Namun... apa yang akan terjadi jika mereka yang mengirimku ke sini menyadari aku tidak kembali?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Arlen perlahan berbalik menghadapnya, sorot matanya yang kelabu tenang namun serius.

"Mereka sudah pasti tahu. Dan itu berarti mereka akan bergerak sendiri, atau mengirim orang lain yang lebih kuat dan lebih berbahaya darimu."

Arlen berjalan mendekat ke arah batu besar tempat mereka sering duduk. ia meletakkan telapak tangannya sebentar di sana, seolah memeriksa detak jantung bukit itu.

"Kita tidak bisa hanya menunggu. Kau harus memberitahuku segala sesuatu yang kau ketahui tentang tempat persembunyian mereka, cara mereka berkomunikasi, dan siapa pemimpin yang sebenarnya menarik tali di balik layar itu."

Kai terdiam sejenak, tampak bergumul dengan ketakutan yang mendalam. Mengkhianati Lingkaran Kelam berarti menandai dirinya untuk diburu hingga ke ujung dunia. Namun saat ia menatap wajah Arlen, ia menyadari bahwa tetap diam dan membiarkan kekuatan itu merajalela jauh lebih berbahaya.

"Aku hanya tahu sebagian kecil saja," ujar Kai pelan memulai ceritanya. "Markas utama mereka berada jauh di dalam hutan tua yang lebat di sebelah barat daya wilayah ini, tempat yang dihindari penduduk karena dipercaya berhantu. Kami menyebutnya Tempat Teduh. Di sana ada seseorang yang kami sebut Hanya Bayangan. Dia adalah pemimpin tertinggi kami. Tidak ada yang pernah melihat wajah aslinya."

Kai berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Mereka mencari benda-benda peninggalan era kuno, sama seperti yang ada di bukit ini. Mereka mengumpulkan kekuatan itu untuk membuka sesuatu yang mereka sebut Gerbang Kuno. Mereka percaya begitu gerbang itu terbuka, mereka akan memiliki kekuatan untuk mengalahkan Kerajaan dan menguasai seluruh benua."

Arlen mendengarkan dengan saksama, setiap informasi itu menyusun gambaran besar bahaya yang sedang mengintai.

"Gerbang Kuno..." gumamnya pelan. "Itu adalah tempat penyimpanan kekuatan yang sangat besar, namun juga sangat berbahaya. Dulu gerbang itu dikunci agar tidak ada yang salah menggunakannya. Jika mereka berniat membukanya dengan cara serakah dan sembarangan, itu tidak akan memberi kekuatan, melainkan kehancuran bagi semua makhluk hidup di sini."

Arlen mengangkat wajahnya menatap tajam ke arah kejauhan.

"Mereka tidak memahami apa yang mereka kejar. Dan karena ketidaktahuan itulah mereka menjadi ancaman terbesar."

Sementara itu, di sebuah ruangan yang gelap dan dingin jauh di dalam hutan belantara itu, sosok bertubuh kurus yang dipanggil Hanya Bayangan berdiri diam di depan cermin gelap yang bergetar. Di hadapannya berdiri seorang sosok lain yang baru saja datang melapor.

"Kai tidak kembali," ujar sosok itu dengan suara bergetar. "Dan upaya pengamatan kami terhalang sepenuhnya oleh sesuatu yang tidak bisa kami tembus."

Hanya Bayangan tidak bergerak sedikit pun, namun hawa dingin seketika menyelimuti seluruh ruangan itu.

"Dia adalah alat yang kubentuk sendiri, namun ternyata alat itu bisa berkarat atau berubah arah," ucapnya pelan namun mengandung ancaman yang berat. "Anak di atas bukit itu... Dia memiliki kemampuan untuk mengubah orang lain, atau setidaknya membuat mereka meragukan jalan yang mereka tempuh."

Hanya bayangan berbalik perlahan, cahaya samar hanya menerangi separuh wajahnya.

"Kita tidak bisa lagi mengandalkan penyusupan halus. Jika anak itu sudah mulai mengumpulkan orang-orang di sekelilingnya, kita harus mematahkan dinding pertahanannya sebelum ia tumbuh terlalu kuat. Kirimkan tiga orang pemburu bayangan. Bukan untuk mengintai, tapi untuk menguji seberapa kuat penghalang itu, dan membawa pulang anak itu hidup-hidup."

"Apakah jika gagal kita boleh menghabisinya?" tanya pelapor itu ragu.

Hanya Bayangan menggeleng pelan.

"Jangan bunuh dia dulu. Kekuatan di dalam dirinya akan hilang jika ia mati. Kita butuh dia hidup sebagai kunci. Tapi kau boleh menghancurkan apa saja dan siapa saja yang ada di sekelilingnya untuk memaksanya menyerah."

Kembali ke bukit hijau itu, matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, meninggalkan langit gelap yang bertabur bintang. Arlen berdiri di depan rumahnya, sementara Kai berdiri beberapa langkah di belakangnya, siap menjaga.

Tiba-tiba, Arlen mengangkat kepalanya sedikit, matanya yang kelabu berkilau samar di dalam gelap. Ia menoleh ke arah sisi hutan yang gelap.

"Mereka datang," ucapnya singkat dan tegas. "Tiga orang, bergerak sangat cepat dan senyap. Mereka tidak menyembunyikan niat buruk mereka lagi."

Kai langsung meremas tangannya, menegang penuh kewaspadaan.

"Mereka adalah Pemburu Bayangan. Orang-orang yang jauh lebih kejam dan terlatih dariku."

Arlen tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. Dia melangkah maju selangkah berdiri tegak di depan Kai.

"Biarkan mereka datang. Bukit ini memiliki penjaga baru sekarang. Dan aku... sudah lama menunggu untuk melihat seberapa kuat perlindungan yang kubangun ini saat diuji."

Dari balik kegelapan hutan, tiga sosok hitam melompat keluar serentak, melayang rendah di atas tanah seolah tidak menyentuh apa pun. Mereka membawa senjata tajam yang berkilau samar terkena cahaya bulan, dan tatapan mata mereka dingin tanpa belas kasih.

Mereka berhenti tepat di batas tanah yang dikelilingi tanaman hijau subur, namun seketika itu juga mereka tampak terhentak seolah menabrak dinding tak kasat mata. Salah satu dari mereka mengangkat tangannya dan mengayunkan senjatanya ke udara kosong, membelah sesuatu yang tidak terlihat namun memancarkan percikan cahaya samar keemasan.

"Formasi pelindung," ujar salah satu dari mereka dengan suara serak. "Tapi formasi ini tidak akan bertahan lama."

Arlen melangkah maju hingga berdiri tepat di tengah halaman rumahnya, menghadap tiga sosok itu dari kejauhan.

"Kalian melangkah masuk ke tempat yang tidak dikenal dan membawa niat jahat," suaranya terdengar jelas hingga ke telinga mereka. "Berbaliklah dan pergilah selagi aku mengatakan nya dengan baik - baik"

Salah satu pemburu itu tertawa dingin, lalu memberi isyarat kepada rekannya.

"Kami tidak diperintahkan untuk berbicara. Tangkap dia!"

Dengan perintah itu, ketiganya melompat serentak maju, menyerang ke arah yang berbeda untuk memutus jalan keluar Arlen.

Namun saat kaki mereka hendak menginjak tanah hijau bukit itu, tiba-tiba akar-akar pohon menjalar cepat dari tanah, melilit pergelangan kaki mereka, sementara angin kencang berputar tiba-tiba mendorong mereka mundur.

Arlen tidak bergerak sedikit pun, ia hanya berdiri diam dengan kedua tangannya di belakang punggung, memusatkan pikirannya pada kelima titik penjaga yang telah dia aktifkan.

"Kalian mengira alam ini akan diam saja saat kalian membawa kejahatan ke sini?" ucap Arlen pelan. "Kalian bukan sedang menyerang seseorang, tapi... kalian sedang menantang keseimbangan hidup yang dijaga oleh tanah ini sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!