Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

​Helga mematikan panggilan itu. 

Jarinya tidak gemetar, tetapi tombol daya ponsel ditutupnya dengan sekali tekan yang terlampau keras hingga casing plastiknya memicu bunyi klik pendek.

​Regina belum melangkah ke motor ojek online. 

Sepatunya tertahan di anak tangga semen Kafe Semak. 

Ia memutar tubuhnya setengah putaran, memperhatikan jari Helga yang meremas bungkus rokok pipih di dalam saku jaket jinsnya.

​"Siapa?" tanya Regina. Suaranya datar, tanpa intonasi tinggi, tetapi matanya menatap lurus ke lipatan alis Helga yang tidak kunjung melonggar.

​Helga berkedip sekali. 

​"Varen," jawab Helga pendek. 

Ia memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu mengetukkan ujung sepatu ketsnya ke semen tiga kali. 

Tuk. Tuk. Tuk. 

"Bukan urusan lu. Naik gih, abang ojeknya udah nungguin."

​Pengemudi ojek online di tepi jalan raya melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu memutar gas motor maticnya pelan, membiarkan mesinnya meraung halus. 

Ngengg...

​"Lu mau ke mana?" Regina tidak bergerak dari anak tangga. 

Ia menarik tali tasnya lebih erat ke bahu kanan.

​"Balik," balas Helga. Ia tidak menatap mata Regina. 

Matanya tertuju pada papan nama Kafe Semak yang bergoyang pelan ditiup angin sore. 

"Mau ngopi lagi di tempat lain."

​"Bohong," potong Regina cepat.

​Helga tertawa tipis tanpa bersuara. 

Ia melangkah dua pijakan menuruni tangga, melewati Regina tanpa menyentuh bahunya sedikit pun. 

Bau rokok kretek dingin dan hawa angin sore menguar saat Helga berpapasan dengannya.

​"Neng, jadi kagak?" seru abang ojek dari tepi jalan, helm hijaunya terangkat sedikit. "Udah jalan nih argo aplikasi."

​Regina menoleh ke arah jalan raya, lalu kembali menatap punggung Helga yang berjalan menuju motor matic hitamnya yang terparkir di bawah pohon kamboja di samping kafe. 

Langkah Helga terburu-buru, tetapi ia sengaja menyeret tumit sepatunya di atas kerikil—Sreek, sreek—seolah tidak ada hal darurat yang sedang terjadi.

​"Pak," kata Regina sambil berjalan menghampiri abang ojek. Ia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. 

"Gue cancel dari aplikasi, tapi uangnya tetap gue bayar penuh. Ini dua puluh ribu."

​"Lah, kagak jadi naik, Neng?"

​"Gak jadi. Maaf ya, Pak." Regina menyerahkan lembaran uang kertas itu tanpa menunggu kembalian, lalu berbalik arah sebelum pengemudi ojek sempat membalas.

​Di bawah pohon kamboja, Helga baru saja memasukkan kunci ke lubang kontak motornya. 

Bunyi bip halus terdengar saat kelistrikan motor menyala. 

Bip-bip.

​Regina berjalan cepat menyeberangi area parkir berlapis batu koral. 

Sepatu pantofel hitamnya memicu bunyi berisik di atas kerikil.

​"Gue ikut," kata Regina begitu ia sampai di samping setang motor Helga.

​Helga yang sedang bersiap menyela pijakan gas terhenti. 

Tangannya tetap berada di kemudi, tetapi dadanya naik turun dalam tarikan napas pendek. 

Ia memiringkan kepala, menatap Regina dari atas ke bawah.

​"Lu sangean banget mau ikutan urusan cowok?" cetus Helga. Suaranya ketus, tidak ada lagi nada santai yang tadi hadir di dalam kafe.

​"Gue gak ada urusan sama Tunas Bangsa," balas Regina dingin. "Gue cuma mau pastiin lu gak bikin malu nama sekolah sebelum besok rapat evaluasi OSIS."

​"Nonsens," cibir Helga. 

Ia memutar kunci kontak ke posisi off. Mesin motor yang belum sempat menyala mati kembali. Klek. 

"Lu tinggal naik ojek, pulang ke rumah, minum teh hangat, terus belajar buat tes besok. Gampang kan?"

​"Gue bilang gue ikut." Regina melipat kedua tangannya di depan dada, berdiri persis di dekat knalpot motor sehingga Helga tidak bisa memundurkan kendaraannya tanpa menabrak kakinya.

​Helga memejamkan mata sejenak. 

Ibu jarinya memoles bagian ujung setang motor yang terbuat dari karet hitam. 

Di seberang jalan lingkar luar, klakson truk kontainer berbunyi nyaring.

Pooommm!

​"Di sana bukan tempat anak IPA 2," kata Helga pelan. 

Keringat tipis muncul di pelipisnya, meski angin sore berhembus makin dingin. 

"Anak-anak Tunas Bangsa kalau mikir gak pales. Mau lu kena lempar batu?"

​"Gue bisa berdiri di balik rel," sahut Regina. Matanya menatap lurus ke arah luka gores tipis di buku jari Helga. "Varen di mana?"

​"Gua kagak tahu persisnya. Dia cuma bilang lapangan dekat rel." Helga mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanan. 

Bungkus rokok di sakunya berkerut akibat tekanan lengannya. 

"Kalau lu ikut, lu diem aja di motor. Jangan ngoceh, jangan panggil nama guru, jangan sok pahlawan."

​"Gue gak pernah sok pahlawan," sergah Regina. "Gue cuma gak suka liat orang tolol yang mau aja ditumbalkan buat masalah orang lain."

​Helga menyunggingkan senyum miring, lalu melepas helm bogo hitam yang menggantung di spion kiri. 

Ia mengulurkannya ke arah Regina tanpa melihat wajah gadis itu.

​"Pakai," kata Helga pendek. "Gua gak mau ditilang polisi gara-gara bonceng anak pinter gak pake helm."

​Regina menerima helm itu. Ia memutarnya sebentar, lalu memakainya tanpa memprotes kondisi busa yang sedikit longgar di kepalanya. 

Klik tali helm terpasang di bawah dagunya. Klik.

​Regina naik ke jok belakang motor matic Helga. 

Ia menyisakan jarak empat jari di antara badannya dan punggung jaket jeans Helga, meletakkan kedua tangannya di atas lututnya sendiri.

​Helga menyiagakan starter. 

Mesin motor meraung halus—Vrrrnnn—sebelum kendaraan itu melaju membelah kerikil parkiran dan bergabung dengan arus kendaraan di jalan lingkar luar.

​Pukul 15.55 WIB. Angin sore menampar wajah Regina di balik kaca helm bogo yang agak tergores. 

Jalur pinggir rel kereta api di wilayah perbatasan distrik sekolah hanya berjarak satu setengah kilometer dari Kafe Semak, melewati gang pemukiman padat dan lereng tanah bersemak belukar.

​Di sepanjang jalan, Helga tidak mengucapkan sepatah kata pun. 

Bahunya tegang, bergerak naik turun mengikuti irama napas yang tertahan. 

Regina dapat merasakan getaran mesin motor yang menyalur dari pijakan kaki ke sendi-sendi lututnya.

​Saat motor membelok ke arah jalan berbatu di samping lintasan kereta api, bunyi klakson lokomotif terdengar melengking dari kejauhan. 

Tutttt... Tutttt...

​Helga mematikan mesin motor lima puluh meter sebelum area lapangan rumput liar. 

Lapangan itu hanyalah sebidang tanah kosong yang terhimpit dinding seng pabrik tekstil dan rel kereta api berkarat.

​Di sudut lapangan, di bawah pohon sengon yang meranggas, tiga sepeda motor terparkir acak. 

Varen berdiri di dekat tumpukan kayu bekas, jaket IPS-nya sudah dilepas dan dililitkan di pinggang. 

Di depannya, empat orang remaja pria berseragam celana abu-abu dengan kaos bebas berwarna gelap berdiri menanti.

​"Nah, dateng juga pahlawannya," celetuk salah satu remaja dari Tunas Bangsa yang memegang seruling bambu kecil di tangannya.

​Helga menurunkan standar samping motor. Tangannya langsung mencabut kunci kontak.

​"Lu stay di sini," bisik Helga ke arah Regina tanpa menoleh. "Jangan turun dari jok."

​Regina tidak menjawab. Jarinya meremas pinggiran jok kulit sintetis yang agak robek di bagian samping.

​Helga melangkah ke depan, menuruni tanggul tanah menuju lapangan. 

Sepatunya menginjak rumput kering—Kres, kres.

​"Ren," panggil Helga datar.

​Varen menoleh. 

Wajahnya agak lebam di bagian pipi kiri, dan kemeja putihnya tercabut keluar dari pinggang celana. 

"Ga! Gua bilang kan tadi jangan sendirian! Lu bawa siapa—" Varen menghentikan ucapannya begitu matanya menangkap sosok Regina yang duduk di atas motor Helga di atas tanggul. 

"Anjir... kenapa ada Regina, Cok?!"

​"Bukan urusan lu," potong Helga dingin. 

Ia berdiri dua langkah di samping Varen, menghadap empat anak Tunas Bangsa.

 "Mana yang pegang kunci dompet kemarin?"

​Anak Tunas Bangsa yang membawa seruling bambu—rambutnya dicukur cepak dengan bekas luka memanjang di alis—maju satu langkah. 

"Gua gak ada urusan sama dompet, Helga. Temen lu ini udah main kotor di tempat rental kemarin malam. Katanya kalah taruhan balap stik, tapi pas ditagih ganti rugi malah kabur bawa kaset orang."

​Varen mendengus keras. "Kaset gua sendiri yang dimainin! Lu pada yang numpuk utang billing terus mau tumbalin gua!"

​Helga mengangkat tangan kanannya, menghentikan teriakan Varen. 

Jarinya yang memiliki bekas luka gores menunjuk ke tanah di depan kakinya.

​"Berapa?" tanya Helga.

​"Dua ratus ribu," sahut anak rambut cepak itu cepat. "Atau lu gantian maen sama gua sekarang. Kalau lu kalah, jaket lu buat gua."

​Helga merogoh saku jaket jeansnya. 

Ia meraba bungkus rokok dan sisa uang kertas yang ada di dalamnya. Jarinya berhenti bergerak selama beberapa detik.

​Dari atas tanggul, Regina mengamati gestur Helga. 

Ia melihat Helga memiringkan kepala, lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah—uang yang tadi ditaruh Regina di meja kafe untuk membayar teh.

​"Gua cuma ada lima puluh," kata Helga datar. "Sisanya minta sama anak yang bikin masalah."

​"Wah, ngelawak lu?" Anak Tunas Bangsa di sebelah kiri melangkah maju, mengepalkan tangannya.

​Pada saat yang sama, gelombang getaran terasa di tanah di bawah kaki mereka. 

Sirine perlintasan kereta api di ujung jalan mulai berbunyi nyaring. 

Nging-nging-nging-nging!

​Suara gemuruh roda besi kereta barang yang mendekat dari arah timur mulai menggetarkan udara sore.

​Tak-tuk, tak-tuk, tak-tuk...

​Helga tidak bergeming. Ia tetap menyodorkan selembar uang lima puluh ribu rupiah itu di udara, di antara kebisingan roda kereta yang kian mendekat.

​Regina melepas pengait helm bogonya. Suara klik helm beradu dengan dentuman lokomotif yang lewat di atas rel.

​"Helga!" teriak Regina dari atas tanggul, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin kereta barang.

​Helga tidak menoleh ke belakang. Namun, bahunya tampak mengencang. 

Jarinya yang memegang uang kertas bergetar sangat tipis—hanya selebar milimeter—sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali dan memasukkan uang itu ke saku celananya.

​Kereta barang sepanjang dua belas gerbong melintas deras, membatasi pandangan dan menciptakan dinding angin dingin yang memotong area lapangan menjadi dua bagian.

​Di antara sela-sela gerbong besi yang bergerak cepat, mata Helga berselisih pandang dengan anak berambut cepak dari Tunas Bangsa. 

Tidak ada pukulan yang melayang. Tidak ada teriakan berlanjut. Hanya gesekan besi rel yang memekakkan telinga dan debu jalanan yang berhamburan ke udara sore.

​Gerbong terakhir melintas. Suara besi beradu berangsur mengendur. Clang... clang... clang...

​Helga membalikkan badannya, meninggalkan Varen dan anak-anak Tunas Bangsa yang masih berdiri terpaku di rumput liar. 

Ia berjalan menaiki tanggul tanah, melangkah mendekati motornya tempat Regina masih terduduk diam.

​"Turun," kata Helga pendek, suaranya parau terkena debu kereta.

​"Kenapa?" tanya Regina.

​Helga tidak menjawab. Ia merogoh ponsel di sakunya yang kembali bergetar keras.

​Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!

​Layar ponsel Helga menyala terang di tengah remang sore pukul empat lewat sepuluh menit. 

Kali ini, nama yang tertera di layar panggilan bukan lagi Varen.

​Layar itu menampilkan nama: Mama Ratna.

​Helga menatap layar itu lama, lalu mendongak menatap wajah Regina yang masih berada di atas motornya.

​"Mama lu menelpon gua," kata Helga dengan nada suara yang benar-benar asing.

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!