Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Mahkota Sorov, Merissa
...----------------...
"Salam kepada Putra Mahkota Kekaisaran Reis yang agung."
Abellona berdecak pelan. "Hentikan itu, Merissa Sorov. Kita sedang tidak berada disituasi formal."
Angin pelan berhembus di taman pribadi milik putra mahkota Reis, menerpa helaian rambut biru muda panjang yang bergelombang milik putri mahkota dari Sorov.
Merissa terkikik melihat raut kesal temannya itu. "Baiklah, baiklah ... " Ia merapihkan sedikit helaian rambut depannya yang menutupi pandangan. "Lama tidak bertemu, Abel. Bagaimana kabarmu selama ini? Aku dengar dari suratmu, putri kecil sudah kembali? Aku turut senang."
Abellona mempersilahkan tamunya yang mulai cerewet itu untuk duduk di bangku taman yang sudah dipersiapkan, jika tidak, mungkin saja gadis itu bisa mengobrol sepanjang hari dengan posisi berdiri.
"Baik. Setelah Arcangella kembali, suasana di kastil jauh semakin membaik setiap harinya."
Merissa tersenyum kala mendapati wajah Abellona yang duduk di hadapannya sangat tenang dan damai. Biasanya laki-laki itu selalu saja menampakkan raut tidak senang kapanpun dan dimanapun.
"Aku sungguh menantikan pertemuan dengan putri bungsu. Sayangnya selama dua harian ini kita harus menunggu rombongan dari seluruh bangsawan Astra sampai, baru mengadakan pertemuan penyambutan," lirihnya kecewa.
Abellona menyesap tehnya pelan, alisnya sedikit terangkat heran melihat tampang sedih penuh kekecewaan teman cerewetnya. "Kau bisa menemuinya kapanpun," ucapnya.
Merissa menghela napas kasar dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Kau seperti tidak tahu ibuku saja. Dia sudah mengatur jadwalku untuk latihan dansa, latihan berjalan yang anggun seperti wanita lah, berbicara lembut dan pelan seperti gadis lugu lah, ini lah, itu lah .... "
Abellona menutup bibirnya yang hendak tertawa saat tatapan tajam Merissa melayang ke arahnya. "Haha, maaf ... maaf."
"Tapi kurasa yang dilakukan permaisuri Sorov benar. Perayaan besar Astra yang satu tahun sekali diadakan sebentar lagi, dan ... lihat saja penampilanmu yang merupakan putri mahkota ini," celetuk Abellona.
Merissa mengernyit tidak terima. "Apa maksudmu hah?! Ini sangat nyaman tahu. Lihat ini ... " Gadis itu memperagakan jurus tinju yang baru saja ia pelajari dari pamannya saat di Sorov. "Aku bisa bebas bergerak."
Ya, gaun yang hanya sebatas lutut karena dipotong oleh gadis itu dengan alasan tidak leluasa bergerak saat bertarung, alhasil gaun cantik yang seharusnya menjuntai indah kini bawahnya menampilkan celana jeans ketat yang dimana tersimpan belati di dua sisi betis gadis itu.
Abellona mendengus geli. "Perpaduan bela diri dengan sihir yang sempurna." Ia kembali menyeruput tehnya. "Dimana Kendrick?"
Abellona menatap ke arah belakang gadis itu saat dirinya baru menyadari Merissa datang seorang diri menemuinya.
Putri mahkota Sorov itu mengendikkan bahunya acuh. "Mungkin dia bersatu dengan adik dinginmu itu di menara belakang, mereka kan satu spesies."
Abellona sontak menggelengkan kepalanya heran. "Mereka memang penggila sihir."
"Padahal seharusnya dia beristirahat, sihir penyembuhannya sudah terkuras saat kami masih di perjalanan tadi," keluhnya.
Merissa memandang camilan di atas meja depannya dengan sendu. "Adik kecilku saja sekarang tengah tertidur sangat pulas. Maafkan aku tidak bisa segera menepati janjiku untuk mempertemukan Kaira dengan Arcangella secepatnya."
Abellona merasa sedikit khawatir akan perasaan temannya yang sedih. "Tidak apa-apa, Merissa. Kesehatan Kaira saat ini harus jauh lebih diutamakan."
Merissa tersenyum kecil, ia memainkan cangkir teh di depannya. "Kaira tidak seperti Kendrick yang sudah cukup besar dan memiliki pemahaman lebih banyak tentang sihir penyembuhan dari ayah kami. Entah berapa lama kali ini ia akan tertidur ... "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hindari dia sebisamu. Ini adalah kesempatan terakhir bagimu dan juga bantuan terakhir yang bisa aku kulakukan untukmu. Kekuatanku sudah tidak bisa lagi melakukan hal itu."
Suhu diruangan itu semakin menurun seperkian detik. Seolah menunjukkan perasaan sosok yang tengah terbaring di atas ranjang besar dan empuk di tengah ruangan.