Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: DETIK-DETIK DI BALIK PINTU

Klek... klek...

Gagang pintu kayu kamar mandi bergoyang sekali lagi dari luar. Suara benturan halus antara kait kunci dan kusen pintu terdengar begitu nyaring di telinga Aluna, bagaikan suara petir yang meledak tepat di atas kepalanya.

Seluruh darah di tubuh Aluna mendesir dingin seketika. Jantungnya berdetak liar hingga dadanya terasa amat sesak dan menyakitkan. Aluna membeku total dalam kungkungan Devan, matanya membelalak penuh horor menatap ke arah pintu. Air mata ketakutan yang menumpuk di pelupuk matanya luruh membasahi pipi.

Jika Ibu yang berada di luar pintu saat ini dan mendapati pintu kamar mandi terkunci dari dalam bersama Devan dan Aluna di dalamnya... semuanya tamat. Tidak ada lagi kebohongan salep alergi atau alasan apa pun yang sanggup menyelamatkan mereka.

"Aluna? Kamu di dalam, Nak?" suara Ibu terdengar panggilan dari luar pintu kamar mandi, disusul ketukan pelan pada permukaan kayu. "Kenapa pintunya dikunci?"

Tubuh Aluna gemetar hebat di dalam pelukan Devan. Ia meremas kain kaus Devan kuat-kuat, tak mampu menahan getaran kepanikan yang melumpuhkan seluruh lidah dan badannya.

Namun, Devan menunjukkan tingkat ketenangan dan respon reflektif yang luar biasa.

Tanpa riak panik sedikit pun pada paras tampannya, Devan menyeka air mata di pipi Aluna dengan ibu jarinya dalam satu gerakan lembut namun tegas. Ia menatap iris mata Aluna yang panik, memberikan isyarat tak bersuara lewat tatapan cokelat gelapnya yang begitu tenang dan mengontrol: serahkan padaku, ikuti permainannya.

Dengan gerakan cepat dan tanpa menimbulkan gelombang suara berarti, Devan menjangkau keran wastafel dan memutarnya hingga penuh.

Wussss!

Suara gemericik dan derasnya air yang mengalir menghantam bak wastafel seketika memenuhi ruangan, menciptakan kamuflase suara yang sempurna untuk menutupi jejak desah napas dan getaran tubuh mereka.

Devan lalu menyalakan kipas angin kamar mandi (exhaust fan) demi menambah bising latar belakang, sebelum akhirnya melangkah maju memposisikan dirinya persis di belakang pintu. Pria itu menarik napas panjang, mengatur nada suaranya agar terdengar benar-benar alami dan santai tanpa sedikit pun getaran gugup.

"Iya, Bu. Ini Devan," sahut Devan dengan nada suara yang tenang, mantap, dan sedikit bernada santun khas dirinya dari dalam kamar mandi.

Langkah kaki Ibu di luar pintu mendadak terhenti sejenak. "Lho, Devan? Kamu di dalam? Ibu pikir Aluna... soalnya tadi Ibu dengar keran air menyala."

"Iya, Bu. Devan tadi habis dari kamar mandi bawah tapi sabun cuci mukanya habis, jadi Devan pakai kamar mandi atas," jawab Devan lancar tanpa ada jeda atau nada ragu sedikit pun. Suaranya yang mantap sanggup menyulap kebohongan nekad menjadi sebuah kenyataan yang tak terbantahkan. "Ini Devan baru selesai cuci muka dan mau keluar."

Aluna yang berdiri menempel kaku di sisi shower memegang dadanya yang naik-turun memburu, menatap Devan dengan rasa tidak percaya sekaligus takjub pada kerapian sandiwara kakak tirinya.

"Oh... begitu," suara Ibu dari luar mendadak mereda, nada curiganya perlahan melumer tertimpa intonasi tenang Devan. "Ya sudah kalau begitu. Kalau sudah selesai, tolong panggilkan Aluna ya, Van. Minta dia turun ke bawah bantu Ibu menyiapkan bahan makan malam."

"Siap, Bu. Nanti Devan panggilkan Aluna di kamarnya," balas Devan sopan.

Derap langkah kaki Ibu perlahan terdengar memutar dan menjauh menyusuri lorong berlantai kayu lantai atas, lalu berangsur-angsur menghilang saat melangkahi anak tangga menuju lantai bawah.

Kondisi benar-benar kembali aman secara ajaib.

Cetek.

Devan mematikan keran air wastafel. Keheningan pekat kembali menyergap ruangan mandi beraroma cendana tersebut.

Aluna menghembuskan napas lega yang teramat panjang hingga seluruh persendian kakinya lemas bagaikan tanpa tulang. Ia hampir saja meluruh jatuh ke lantai keramik dingin jika Devan tidak secara sigap merengkuh pinggang mungilnya.

Devan meresapi tubuh bergetar Aluna ke dalam dekapannya yang hangat dan tegap. Pria itu menundukkan kepalanya, mengecup kening dan pelipis Aluna dengan lembut dan penuh proteksi yang mendalam.

"Kan sudah kubilang..." bisik Devan serak tepat di telinga Aluna, menyalurkan kehangatan yang mengembalikan kesadaran adiknya. "Selama ada aku, tidak ada satu hal pun yang perlu kamu takutkan."

Aluna menyandarkan kepalanya di dada tegap Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang tetap berdetak stabil dan tenang—sebuah benteng kokoh yang terbukti sanggup melindunginya dari marabahaya terhebat sekali pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!