Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:202.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Firasat Seorang Ibu

Rumah Ratih jauh lebih sederhana dibandingkan rumah keluarga Gultom yang megah. Meski begitu, bangunan itu terawat dan nyaman di tempati.

Arvandra Jayasena sedang membongkar kamar yang selama ini ditempati Levia. Laci nakas dibukanya satu per satu. Lemari pakaian. Kotak penyimpanan. Bahkan kasur pun ia angkat, berharap menemukan buku nikah mereka.

"Di mana dia nyembunyiinnya?" gerutunya frustrasi.

Selama ini, setiap kali ia meminta buku nikah untuk mengurus perceraian, Levia selalu melakukan tindakan nekat.

Mulai dari menodongkan pisau ke lehernya sendiri. Mengiris pergelangan tangan. Membenturkan kepala ke dinding. Hingga yang terakhir... melompat ke sungai.

"Sial!"

Brak!

Kakinya menghantam pintu lemari hingga mengeluarkan bunyi keras. Vandra mengusap wajahnya kasar. Rahangnya mengeras menahan emosi.

"Buku itu pasti masih ada."

Dengan langkah panjang, ia keluar dari kamar dan menuju ruang tengah.

Ratih yang sedang melipat pakaian mengangkat wajah. "Kenapa mukamu kusut kayak gitu?"

Bukannya menjawab pertanyaan ibunya, Vandra malah balik bertanya. "Bu, Ibu tahu gak Levia nyimpan buku nikah di mana?"

Ratih meletakkan pakaian di pangkuannya. "Ibu gak tahu."

Vandra mendesah panjang. "Kalau gak ada buku nikahnya, proses cerainya bakal makin lama."

Ratih menatap putranya beberapa saat. "Memangnya kamu bener-bener sudah gak mau ngasih Levia kesempatan?"

Vandra menatap ibunya. "Kesempatan apa lagi, Bu?"

Ratih menarik napas pelan. "Semua ini gak bakal sejauh ini kalau sejak awal kamu bener-bener jalanin pernikahan kalian."

Vandra langsung menggeleng. "Bu... aku nikahin dia karena dijebak. Ibu tahu itu."

"Benar." Ratih tidak menyangkal. "Levia memang salah. Tapi setelah akad selesai, dia sudah menjadi istrimu, Van."

Vandra terdiam.

Ratih melanjutkan, "Kalau memang dari awal kamu gak berniat nerima dia sebagai istri, seharusnya dulu kamu nolak nikahin dia dan nanggung segala konsekuensinya."

Vandra mengembuskan napas keras. "Bu, yang anak Ibu itu aku atau Levia sih? Ibu selalu aja belain dia."

Ratih kembali bicara pada putranya dengan nada tenang. "Ibu gak sedang membela siapa pun. Ibu hanya mengatakan apa yang Ibu lihat. Levia memang salah karena maksa kamu nikah. Tapi kamu juga salah karena setelah nikah, kamu tetep menutup pintu hatimu rapat-rapat."

Vandra terkekeh pahit. "Gimana aku bisa nganggep dia istri kalau aku sama sekali gak cinta sama dia? Tiap ketemu, dia selalu maksa aku. Nuntut perhatian. Ngancem bunuh diri. Bikin keributan di depan orang banyak. Bahkan di depan anak buahku. Ibu tahu gimana malunya aku?"

Ratih terdiam.

"Apa Ibu pernah mikirin perasaan aku?"

Beberapa saat tak ada yang bicara, hingga akhirnya Ratih mengembuskan napas pelan. "Ibu cuma mikirin kalian berdua. Makanya ibu sedih. Kalian sama-sama terluka dalam pernikahan ini."

Vandra menggeleng. "Bedanya, aku gak pernah milih pernikahan ini, Bu."

Ratih menatap putranya lama. Tatapan itu dipenuhi rasa iba. "Ibu gak tahu kenapa...."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Tapi setelah Levia hampir tenggelam hari ini, Ibu punya firasat... mungkin kali ini dia bener-bener bakal lepasin kamu."

Ratih mengalihkan pandangan ke jendela yang masih terbuka. Cahaya sore mulai meredup.

"Kalau nanti dia bener-bener tanda tangan surat cerai tanpa ngancem bunuh diri lagi..." Ratih kembali menatap putranya. "...apa kamu bakal nyesel pernah kenal sama dia?"

Vandra terdiam.

Entah kenapa, bayangan Levia di tepi sungai kembali muncul di kepalanya. Cara wanita itu menatapnya terasa asing. Bahkan saat membalas ucapannya, tidak ada lagi tatapan memohon yang selama ini selalu ia lihat. Namun hanya sesaat. Ia segera menepis pikiran itu.

"Dia cuma pura-pura amnesia, Bu."

Ratih mengernyit.

"Pasti cuma buat bikin aku batalin cerai." Vandra mengembuskan napas kasar. "Dia pikir main tarik ulur begini bakal bikin aku ngurungin niat buat ceraiin dia? Dia salah."

Ratih menggeleng pelan. "Ibu udah kenal Levia sejak dia masih kecil. Kalau memang dia akting, Ibu pasti bisa lihat. Tapi tadi..." Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lirih. "Sorot matanya beda."

Vandra terkekeh hambar. "Orang putus asa bisa ngelakuin apa aja, Bu. Termasuk akting."

Ratih tidak membantah. Hanya saja, firasatnya sejak tadi tidak berubah sedikit pun.

Di dalam hati, ia justru berkata, "Semoga kamu gak baru sadar saat bener-bener kehilangan dia."

***

Dari jendela kamarnya, Levia memandangi langit pagi yang baru saja menyingsing. Senyumnya tersungging kala matanya dimanjakan oleh pemandangan langit yang masih dihiasi semburat jingga.

"Selamat pagi!" ucapnya pada dirinya sendiri. "Hari pertama misi nasional, DIMULAI!"

Dengan penuh semangat ia keluar dari kamarnya, lalu berhenti di depan kamar Bram Gultom. Tangannya terangkat mengetuk pintu.

Tok. Tok. Tok.

Bram menggeliat. Dengan mata masih setengah terpejam, ia melirik jam di nakas. Pukul lima lewat sepuluh.

"Siapa pagi-pagi begini?" gumamnya.

Tok. Tok.

"Yah... bangun."

Suara itu membuat Bram langsung terduduk.

"Via?"

Ia segera turun dari ranjang dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Levia sudah berdiri rapi mengenakan setelan olahraga berwarna hitam dengan jaket tipis. Rambutnya dikuncir sederhana, wajahnya masih tanpa riasan.

Bram berkedip beberapa kali. "Via...?"

"Pagi, Yah." Levia tersenyum. "Ayo olahraga."

"...Apa?"

"Ayo jalan pagi."

Bram masih menatap putrinya tanpa berkedip. "Olahraga?"

"Iya."

Bram spontan menoleh ke belakang, memastikan dirinya tidak salah kamar. "Lho... ini kamar Ayah, 'kan?"

Levia mengangguk polos. "Iya."

"Berarti... Ayah belum bangun di dunia lain?"

Levia sampai terkekeh. "Ya enggaklah."

Bram mengusap wajahnya pelan. "Via... kamu lagi demam?"

Levia langsung menyentuh dahinya sendiri. "Enggak."

Bram ikut menempelkan telapak tangannya ke dahi putrinya. "Normal...."

Kini Levia yang menghela napas. "Yah, aku serius."

"Ayah juga serius." Bram masih terlihat bingung. "Selama dua puluh lima tahun, kamu paling anti disuruh bangun pagi, apalagi jalan pagi."

"Soalnya sekarang aku pengin sehat," jawab Levia penuh senyuman dan antusiasme.

Kalimat sederhana dan ekspresi wajah itu membuat Bram terdiam.

"Dokter bilang berat badanku harus diturunin pelan-pelan. Katanya mulai aja dari jalan kaki."

Sorot mata Bram perlahan melembut. "Jadi... kamu benar-benar mau olahraga?"

"Iya."

"Bukan mimpi?"

Levia tertawa kecil. "Kalau Ayah masih ragu, cubit aja pipinya."

Bram benar-benar mencubit pipinya sendiri. "Aduh!"

Levia langsung menutup mulut menahan tawa.

"Lho... sakit."

"Nah, berarti bukan mimpi."

Untuk pertama kalinya sejak kejadian di sungai, tawa kecil terdengar dari bibir Bram. "Dasar."

Ia menggeleng sambil tersenyum. "Tunggu lima menit. Ayah ganti baju dulu."

"Oke."

Saat Levia menunggu di depan kamar, Bram buru-buru masuk kembali. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan tubuh ke daun pintu. Matanya mulai memanas.

"Istriku..." gumamnya lirih sambil menatap foto mendiang sang istri di atas meja kecil. "Anak kita ngajak aku olahraga...."

Sudut bibirnya terangkat. "Kalau kamu masih ada, pasti kamu juga bakal senang lihat dia begini."

Bram mengusap cepat sudut matanya, lalu mengambil pakaian olahraga dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan daripada biasanya.

 

Ninis memandangi punggung Levia yang semakin menjauh. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Kalau memang Levia yang dulu sudah hilang, berarti aku harus mencari cara baru."

Matanya menyipit. "Dan kali ini, aku gak akan gagal."

 

...✨"Kadang seseorang baru menyadari arti kehadiran, saat orang yang selalu mengejar akhirnya memilih berhenti."✨...

.

To be continued

1
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
Anitha
Vandra modus tidur minta peluk-pelukan biar Levia fesh besok padahal itu akal-akalannya Vandra biar bisa meluk Via🤣
Kadek Sri
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!