Indonesia
NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Tukang Ojek Online, Katanya

"Ancaman atau pelindung baru terlihat setelah langkah kedua."

Arya memilih langkahnya di sebuah warung kaki lima seberang Restoran Cendana.

Kijang tua diparkir di bahu jalan, tepat di bawah lampu yang berkedip. Dari kursi plastik, Arya bisa melihat pintu utama restoran, pintu servis di sisi bangunan, serta pantulan parkir belakang pada kaca toko yang sudah tutup.

Bara duduk di depannya dengan helm diletakkan di bawah meja.

"Dua orang Yanto masuk lima belas menit lalu," lapornya. "Satu mobil dari Halim berhenti di gang belakang. Ada fotografer pakai tas kurir dekat pintu servis."

"Sudah difoto?"

"Pelat dan wajah. Belum ada ancaman fisik."

Arya mengaduk kopi. "Kita tunggu."

"Lo bisa makan tenang saat istri lo masuk jebakan?"

"Kalau saya masuk sekarang, Anindya akan marah dan lawan tidak menunjukkan syarat mereka."

"Kalau lima menit lagi?"

"Dia tetap marah. Bedanya, kita punya bukti."

Penjual meletakkan dua piring nasi goreng. Bara baru mengambil sendok ketika suara perempuan terdengar dari trotoar.

"Arya?"

Bella berdiri bersama Rina dan empat orang yang pernah satu sekolah dengan mereka. Kegiatan pemasaran di pasar telah selesai, tetapi tim Bella mengajak makan malam untuk mengambil konten tambahan. Pakaian kasual dan topi yang dikenakannya tidak cukup menyembunyikan wajah terkenal.

Seorang teman lama bernama Dedi memandang Kijang, helm Bara, lalu pakaian Arya.

"Wah, benar Arya! Lama enggak ketemu. Sekarang kerja apa?"

Arya mengangkat sendok. "Sedang makan."

Mereka tertawa.

Rina tidak mengetahui perubahan di PE. Ia hanya pernah mendengar cerita Bella tentang suami yang tidak punya pekerjaan tetap.

"Mas Arya bawa mobil terus, ya?" tanyanya sambil menunjuk Kijang. "Sekarang jadi pengemudi online? Cocok, sih. Jadwalnya fleksibel."

Bara meletakkan sendok.

Arya menatapnya satu kali.

Gerakan Bara berhenti. Ia menarik napas melalui hidung dan kembali mengambil nasi, meski gagang sendok hampir bengkok dalam genggamannya.

"Bukan," jawab Arya. "Mobil ini tidak memenuhi beberapa syarat platform."

Dedi tertawa lebih keras. "Jadi bahkan ojol enggak bisa?"

Bella tampak tidak nyaman. "Sudah. Jangan ganggu dia."

"Kami cuma bercanda," kata Rina. "Mas Arya santai, kan?"

"Sangat santai."

Arya memandang pintu restoran. Mobil Anindya baru masuk dari ujung jalan. Ia menepi di area valet, lalu Anindya turun membawa satu map tipis.

Tatapan mereka bertemu melintasi arus kendaraan.

Anindya melihat meja kaki lima, Bella, kerumunan teman lama, dan Bara yang berpura-pura menjadi teman makan. Wajahnya tidak berubah. Ia tidak menyapa, sesuai keputusan datang sendiri.

Arya juga hanya mengangkat cangkir sepersekian detik, gerakan kecil yang bisa dianggap kebetulan.

Anindya masuk ke Restoran Cendana.

Bella mengikuti arah pandang Arya. "Kamu menunggunya?"

"Saya makan."

"Di seberang restoran tempat istrimu punya pertemuan?"

"Kota ini penuh kebetulan."

Rina tersenyum mengejek. "Atau Mas Arya jadi sopir Bu Anindya?"

Bara menunduk agar wajahnya tidak terlihat. Bahunya bergerak sekali. Kali ini bukan marah, melainkan menahan tawa melihat betapa jauh tebakan itu dari kebenaran.

"Bisa jadi," kata Arya. "Bayarannya lumayan."

Dedi menarik kursi tanpa diundang. "Jangan tersinggung, Ya. Dulu lo pintar, tapi setelah nikah sama Bella semua orang bilang lo cuma di rumah. Sekarang sudah cerai, mulai lagi dari bawah itu bagus."

"Terima kasih atas nasihatnya."

"Kalau butuh, kantor sepupu gue cari pengemudi logistik. Mobil disediakan. Kijang ini dijual saja sebelum biaya servisnya lebih mahal."

Bara menatap Arya. "Cak, mau gue jawab?"

"Tidak perlu."

"Dia manggil lo Cak?" Rina terkekeh. "Wah, sudah punya bawahan sesama pengemudi."

Bara meraih gelas es teh. Jemarinya meninggalkan lekuk pada gelas plastik. "Saya cuma menghormati orang yang layak dihormati, Mbak. Pekerjaannya bukan urusan saya."

Nada suaranya membuat tawa mereda sesaat.

Bella melihat bekas tekanan pada gelas, lalu cara lelaki besar itu duduk menghadap jalan, bukan meja. Ia teringat sosok yang berdiri di dekat mobil hitam saat Arya meninggalkan apartemen.

"Kalian sudah lama kenal?" tanyanya.

"Cukup lama," jawab Bara.

"Dari mana?"

Arya menyela, "Bukankah kalian mau makan? Restorannya di seberang."

Dedi berdiri lagi. "Santai. Kami hanya khawatir. Jangan sampai habis ditinggal Bella, lo ikut istri baru ke mana-mana karena takut kehilangan sumber uang."

Arya menatapnya tenang. "Orang yang terlalu sibuk menghitung uang di saku orang lain biasanya lupa menjaga dompet sendiri."

Dedi hendak membalas, tetapi Rina menariknya. "Sudah, nanti konten kami terlambat."

Mereka bergerak menuju zebra cross. Bella tetap beberapa langkah di belakang. Ia ingin mengatakan kepada mereka bahwa Arya bukan pengemudi, bahwa para kepala departemen PE memanggilnya Pak. Namun mengakui itu berarti menjelaskan betapa salah dirinya selama tujuh tahun.

Maka ia diam.

Dan diamnya membuat ejekan terus berdiri sebagai kebenaran.

Di dalam restoran, Anindya duduk di meja pojok bersama Yanto dan seorang pengacara yang tidak diperkenalkan dalam pesan. Yanto menyodorkan draf perdamaian.

"Sederhana, Bu. PE menarik teguran hukumnya, meminta Pak Arya meminta maaf kepada keluarga Halim, dan memberi Grup Halim hak distribusi utama selama lima tahun. Setelah itu semua proyek yang tertunda kembali berjalan."

Anindya membalik halaman. "Hak utama berarti kalian boleh menolak distributor lain tanpa kewajiban menjamin jumlah layar."

"Itu bentuk kepercayaan."

"Itu penyerahan perusahaan."

Di luar, ponsel Bara menerima pesan dari orangnya di pintu servis.

Kamera kurir aktif. Mengarah ke meja Bu Anindya.

Bara menunjukkan layar kepada Arya.

"Biarkan merekam," ujar Arya. "Pastikan kita punya salinan dari sudut lain."

"Siap."

Rina masih berbicara tentang konten pasar ketika sebuah Range Rover gelap memasuki jalan. Bella langsung mengenali mobil Reno.

"Dia bilang mau menjemputku," katanya.

Mobil itu melambat di depan restoran. Reno melihat Bella, lalu melihat Arya duduk di warung. Senyum di wajahnya berubah.

Ia memarkir sembarangan dan turun.

"Ternyata lo benar jadi sopir," katanya kepada Arya. "Nunggu istri selesai rapat sambil makan di pinggir jalan?"

"Saya suka makanannya."

Reno melihat Bara. "Dan ini siapa? Rekan ojol?"

Bara menjawab datar, "Teman makan."

"Bagus. Temani dia terus. Sebentar lagi PE enggak sanggup bayar parkir."

Arya tidak terpancing. Fokusnya tetap pada titik lokasi Anindya dan pesan Kevin mengenai kamera yang baru terdeteksi.

Reno membenci ketenangan itu. Ia masuk kembali ke Range Rover dan menyalakan mesin dengan hentakan keras.

Bella mengetuk jendela. "Reno, mau apa?"

Ia tidak menjawab.

Range Rover mundur, lalu berbelok tajam ke arah bahu jalan. Lampu depannya menyapu meja warung. Penjual dan pelanggan serentak berdiri.

Arya melihat sudut ban, jarak, dan arah bumper.

"Bara," katanya pelan, "mundur."

Detik berikutnya, suara benturan keras mengguncang depan Restoran Cendana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!