Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Ia menatap lorong kos yang masih sepi. Ada rasa marah, malu, dan kehilangan yang bercampur menjadi satu. Tetapi di antara semuanya, ada satu kenyataan yang mulai menghantamnya dengan keras, dua perempuan yang selama ini ia kira akan selalu ada ternyata mulai meninggalkannya satu per satu. Tira sudah memilih lelaki lain. Amanda baru saja mengusirnya. Dan untuk pertama kalinya, Dimas berdiri sendirian tanpa tempat untuk bersembunyi.
Sementara di dalam kamar, Amanda mengambil ponselnya. Ia membuka kontak Tira. Jarinya berhenti di atas nama sahabatnya itu. Ia sudah berjanji akan menemui Tira saat makan siang. Tetapi sekarang ia tidak tahu apakah ia cukup berani untuk mengatakan semuanya. Tentang Dimas. Tentang dirinya sendiri. Tentang pengkhianatan yang selama ini mereka sembunyikan. Amanda memejamkan mata. “Maaf, Tir,” bisiknya. Namun permintaan maaf yang terlambat tidak akan pernah menghapus kenyataan bahwa selama ini, ketika Tira menangis karena Dimas, Amanda tahu persis di mana lelaki itu berada. Dan rahasia sebesar itu tidak mungkin selamanya terkubur.
***
Jauh sebelum Amanda menjadi perempuan yang diam-diam ditemui Dimas, ia sebenarnya sudah lebih dulu menyukai lelaki itu. Perasaan itu tumbuh ketika mereka masih kuliah, jauh sebelum Tira dan Dimas menjalin hubungan. Amanda tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun. Ia hanya menyimpan perasaan itu sendiri, berharap suatu hari akan hilang dengan sendirinya. Namun harapan itu runtuh ketika suatu sore Tira datang kepadanya dengan wajah berseri-seri dan mengatakan bahwa Dimas menyatakan cinta.
Amanda tersenyum dan ikut bahagia, meskipun ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa patah. “Kamu terima?” tanyanya.
Tira mengangguk malu-malu. “Iya.”
Amanda memeluk sahabat barunya itu. “Selamat, Tir.” Hanya dua kata. Tidak ada yang tahu betapa berat mengucapkannya. Sejak saat itu Amanda memutuskan mengubur perasaannya. Dimas sudah memilih Tira. Tira adalah sahabatnya. Maka ia merasa tidak punya hak untuk menginginkan lelaki yang sama.
Amanda mencoba menjauh dari Dimas, tetapi hidup justru memiliki cara yang aneh untuk membuat seseorang semakin dekat dengan sesuatu yang ingin ia hindari. Ia dan Tira semakin akrab. Mereka mulai sering belajar bersama, makan bersama, menginap di kos satu sama lain, saling bercerita tentang keluarga, pekerjaan, dan tentu saja tentang pacar masing-masing.
Amanda akhirnya menjadi salah satu orang yang paling dipercaya Tira. Ia tahu kebiasaan Dimas dari cerita-cerita Tira. Ia tahu kapan Tira sedang bertengkar dengan Dimas. Ia tahu kapan Tira sedang bahagia karena mendapat perhatian dari lelaki itu. Ia tahu kapan Tira kecewa karena Dimas lupa sesuatu.
Ironisnya, semakin dekat Amanda dengan Tira, semakin sering pula ia bertemu Dimas. Awalnya semua terasa biasa. Dimas datang menjemput Tira. Amanda ikut makan bersama mereka. Dimas sesekali mampir ketika Tira sedang berada di kos Amanda. Mereka bertiga tertawa seperti teman biasa. Amanda selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa Dimas adalah pacar sahabatnya. Tidak lebih.
Sampai suatu malam, sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi akhirnya terjadi. Tira sedang tidak berada di kos. Dimas datang karena hendak memberikan sesuatu yang tertinggal. Amanda sebenarnya ingin menyuruhnya pergi setelah barang itu diberikan, tetapi percakapan mereka justru berlanjut.
Mereka berbicara tentang Tira. Tentang hubungan mereka. Tentang masalah yang sedang dihadapi Dimas. Amanda mendengarkan. Dimas mengeluh. Amanda menghibur. Semuanya bermula dari percakapan yang seharusnya tidak berbahaya. Namun malam itu mereka melewati batas yang selama ini Amanda jaga.
Setelahnya, Amanda duduk diam dengan perasaan hancur. Ia tahu apa yang mereka lakukan salah. Dimas juga tahu. Tidak ada alasan yang bisa membuat perbuatan itu menjadi benar. Amanda menangis malam itu. “Kita nggak boleh mengulanginya,” katanya.
Dimas mengangguk. “Iya.”
Mereka berjanji. Tetapi janji itu ternyata tidak cukup kuat untuk mengalahkan kelemahan mereka. Beberapa waktu kemudian, Dimas datang lagi. Amanda sempat menolak. Ia mengatakan bahwa mereka harus berhenti. Dimas meminta maaf. Mengatakan bahwa ia sedang kacau. Mengatakan bahwa hubungan dengan Tira sedang bermasalah. Mengatakan bahwa hanya Amanda yang bisa membuatnya tenang. Amanda tahu itu salah. Namun perasaan yang selama ini ia kubur ternyata belum benar-benar mati.
Dari sanalah kesalahan pertama berubah menjadi kesalahan berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Tidak pernah direncanakan sebagai sebuah hubungan. Tidak pernah diumumkan sebagai sesuatu yang serius. Tetapi justru karena tidak pernah diberi nama, hubungan itu semakin sulit dihentikan.
Hampir delapan tahun lamanya Amanda hidup dengan dua wajah. Di depan Tira, ia tetap menjadi sahabat. Ia mendengarkan cerita Tira tentang Dimas, memberikan nasihat ketika mereka bertengkar, bahkan ikut bahagia ketika Tira bercerita bahwa Dimas semakin serius. Di belakang Tira, Amanda menyimpan rahasia yang semakin berat setiap tahun. Ia berkali-kali berjanji pada dirinya sendiri bahwa malam itu adalah yang terakhir.
Tetapi Dimas selalu menemukan cara untuk kembali. Ketika Tira marah, Dimas datang kepada Amanda. Ketika Dimas merasa kesepian, Amanda menjadi tempatnya bercerita. Ketika mereka bertengkar, Amanda menjadi tempat pelarian. Setiap kali Amanda mencoba memutuskan semuanya, Dimas membuatnya merasa bersalah.
“Kamu tega meninggalkan aku sekarang?”
“Aku cuma butuh kamu.”
“Kalau kamu pergi, aku benar-benar sendirian.”
Kalimat-kalimat itu terdengar seperti ungkapan kebutuhan, tetapi perlahan Amanda menyadari bahwa semuanya membuat dirinya terikat. Ia bukan hanya bersalah karena terus menerima Dimas. Ia juga mulai sadar bahwa Dimas tidak pernah benar-benar membiarkannya pergi.
Kemudian Arga datang. Arga adalah kebalikan dari Dimas dalam banyak hal. Ia tenang, bertanggung jawab, memiliki pekerjaan yang jelas, dan tidak membuat Amanda terus menebak-nebak perasaannya. Ia seorang perwira polisi yang berbicara dengan sederhana tetapi memiliki ketegasan.
Ketika Arga mengatakan serius, Amanda tahu apa maksudnya. Ketika Arga mengatakan ingin menikah, ia datang kepada keluarga. Tidak ada kata nanti yang menggantung tanpa ujung. Amanda melihat Arga sebagai jalan keluar. Ia berpikir, mungkin inilah kesempatan untuk meninggalkan Dimas.
Mungkin dengan menerima cinta lelaki lain, ia bisa mengubur hubungan terlarang yang selama bertahun-tahun menghantuinya. Amanda akhirnya menerima Arga. Hubungan mereka berjalan semakin serius sampai akhirnya mereka bertunangan. Untuk pertama kalinya Amanda merasa mungkin ia benar-benar bisa bebas. Ia bahkan mulai membayangkan kehidupan baru. Menjadi istri Arga. Membangun rumah. Memulai hidup tanpa rahasia. Ia pikir pertunangannya akan membuat Dimas mengerti bahwa semuanya sudah berakhir.
Ternyata ia salah. Dimas justru semakin sulit melepaskannya. “Kamu serius mau menikah?” tanya Dimas ketika mengetahui Amanda bertunangan.
Amanda mengangguk. “Iya.”
“Sama dia?”
“Iya.”
“Kamu mencintainya?”
Amanda terdiam. “Aku sedang belajar mencintainya.”
Dimas tertawa getir. “Jadi kamu bisa menikah dengannya setelah semua yang kita lalui?”
Amanda menahan napas. “Kita memang tidak seharusnya pernah melakukan semua itu.”