“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenggelam : 18
“Mengapa diizinkan?!” Mima memekik yang langsung menghantarkan rasa panik sampai membuat dadanya nyeri.
“Kamu kenapa sih? Harusnya senang putra kita cepat dapat teman, jadi dia gak seperti anak aneh!” sentak Galih dengan mimik wajah marah.
“Sungai itu ngeri, berbahaya, Mas! Anaknya Rosna tenggelam dan meninggal di sana!” Hamima berusaha berdiri, tangannya bertumpu di lantai dengan kaki berlutut.
“Itu kisah lama! Namanya juga sudah takdir, mau di manapun, tempat paling aman sekalipun kalau sudah waktunya meninggal ya bakalan mati!” balas Galih, dia tak menampik.
Wanita yang tubuhnya gemetaran itu memandang tak percaya pada wajah berkulit sawo matang. “Kamu tau tragedi naas itu, tapi mengapa tidak memberitahuku, Mas?!”
“Gak penting, Mima!” suaranya meninggi. “Kamu dengar dari siapa kabar itu?”
“Gak penting!” ia kembalikan kalimat kejam suaminya. “Kamu jaga Pujiara, jangan ditinggal sendirian!”
Mima tergopoh-gopoh keluar dari rumah. Lupa memakai sandal, langsung berlari ke halaman belakang, menyusuri jalanan setapak, lalu menuruni bukit curam, licin.
“Guntur! Guntur!” suaranya serak dan gemetaran. Dia yang dulu semasa kecil hingga dewasa tinggal di wilayah tanah transmigrasi pembukaan lahan, tentu tak asing dengan medan sulit ini.
Akhh!
Hamima tergelincir, bokongnya menghantam tanah, dan dia merosot, terjun menimpa tumbuhan berduri halus.
Arghhh!
Jeritannya melengking, badannya sakit, bagian lengan tergores tumbuhan putri malu. Hamima mendarat di dasar bukit berumput ilalang, dia tertatih-tatih melangkah dengan luka perih.
“Guntur! Kamu dimana?!” teriakannya terdengar memantul.
Langkah terpincang-pincang itu tiba di tepian sungai berair sangat jernih bisa untuk bercermin.
“Kemana Guntur, apa masih di jalan?” monolognya. Mima menurunkan kaki ke dasar sungai, masuk ke dalam air sampai batas lutut.
Wanita yang penampilannya kusut, rambut terdapat potongan daun rumput, daster kotor — membasuh wajah terasa perih, lengan nyeri.
Luka masih baru langsung terasa seperti diberi air cuka ketika terendam.
Hamima meringis, lalu bersandar pada tepian sungai, menunggu putranya sambil berendam kaki.
Dasternya basah, meski tak kuyup. Ia memperhatikan air terjun yang jatuh pada kolam lebar, sedikit jauh dari jaraknya berdiri.
‘Apa benar di sana terdapat pusaran air kencang? Lantas kenapa gak dipagari saja, biar tidak ada yang jadi korban berikutnya?’ Mima tak berkedip, seperti terhipnotis oleh derasnya air terjatuh dari ketinggian sekitar enam meter.
Teriknya sinar matahari tak membuat Hamima naik ke tepian, sebaliknya dia berjalan maju mendekati batas cekungan yang airnya tampak kehijauan.
Tolong! Tolong!
“Siapa? Dimana kamu?” Mima berputar, dari mulai melihat dasar sungai, lalu pandangan matanya naik ke aliran air sampai tak tampak karena keterbatasan jarak pandang, kemudian berpindah pelan-pelan sampai badannya tersentak.
Pupil Mima membesar, kedua tangannya lemas di sisi badan. Jarak terbentang belasan meter itu seperti hanya beberapa langkah saja dari tempatnya berdiri.
Pada ventilasi belakang huniannya yang menyerupai jendela kayu bercat hijau — sesuatu mengalir lambat, terus menetes sampai mengenai tembok putih.
“Itu_ itu darah?” bisiknya masih dengan menatap lekat.
Cairan pekat terlihat kental itu lebih banyak lagi keluar dari celah bagian bawah ventilasi.
Jeritan meminta tolong kembali terdengar, kali ini tak selantang tadi, suaranya mengecil, lemah.
“Dia wanita, suaranya benar-benar mirip perempuan, tidak samar seperti yang pernah kudengar dulu.” Mima maju, berencana mencapai tepian, namun sesuatu entah apa itu, menarik pergelangan kakinya.
Hamima kehilangan keseimbangan tubuh, kaki kanan tak menginjak dasar sungai, melainkan menggantung dan sebelahnya lagi ikut menyusul.
Kepalanya tertarik ke dalam. Mima terbelalak, enggan memejamkan mata, berusaha berenang ke atas dengan kedua tangan mengayun dan kaki menendang-nendang.
‘Siapapun kamu, jangan ganggu aku!’ pipinya menggembung, mulai kehabisan oksigen dan perlu naik ke permukaan.
Meskipun pandai berenang, tetapi saat kaki ditahan sesuatu tak kasat mata, Mima mulai kehabisan tenaga, dan tidak sanggup menahan napas lebih lama lagi. Tangannya melemah, kaki juga lemas, sementara rambut melambai-lambai tertekan arus air.
Byurr!
Sebelum kesadarannya hilang, dia mendengar suara air, lalu sepasang tangan kecil menarik lengan lemas.
Guntur menyeret ibunya yang masih sadarkan diri, tetapi dalam keadaan tak berdaya.
Deru napas remaja masih mengenakan seragam sekolah itu tersengal-sengal, langkahnya memberat karena menarik kedua tangan ibunya, menyeret ke bagian lebih dangkal.
Uhuk!
Uhuk!
Hamima terbatuk-batuk, dia berbaring miring diatas batu kecil, dari pinggang sampai telapak kaki terendam air.
“Ayo aku bantu duduk, Bu!” ucap Guntur terengah-engah. Menjadikan punggungnya sebagai sandaran agar sang ibu bisa duduk.
Mima memukul-mukul dada terasa sesak, lalu menarik telinga yang kemasukan air.
“Terima kasih, Nak,” katanya lemah. Air matanya mengalir bercampur air sungai.
Hueg!
Jari telunjuk Mima masuk ke dalam mulut paling ujung, memaksakan diri agar muntah.
Hanya air dan liur yang keluar, sebab perutnya masih kosong, belum makan siang.
Guntur berbalik badan, berlutut di atas bebatuan, lalu memijat tengkuk ibunya yang menunduk masih dengan berselonjor kaki.
“Kamu kok tau Ibu disini?” tanyanya sudah sedikit lebih baik meski masih lemas, sesak napas.
“Tadi itu aku pulang rame-rame bareng temen. Kami jalan kaki, udah kompak mau mandi di sungai, tapi dilarang sama bude bawah rumah kita, Bu. Katanya gak boleh berenang saat tengah hari, ya udah kami gak jadi, terus pulang ke rumah masing-masing.” Ia memijat pelan pundak ibunya.
“Pas sampai rumah, ibu gak ada. Kata Ayah nyusul aku ke sungai, jadi tak susul. Tapi pas sampai sini, aku lihat tangan … Ibu,” suaranya hilang berganti isak tangis yang sedari ditahannya.
Hamima menarik kaki, pelan-pelan menyamping dan membawa putranya ke dalam pelukan erat.
“Tangan Ibu melambai-lambai. Aku takut sekali gak bisa menolong, takut Ibu kenapa-kenapa.” Guntur tergugu, bersimpuh dengan kepala berbantalkan paha ibunya.
“Maafkan Ibu yang sudah buat kamu ketakutan, Guntur.” Mima belai rambut basah putranya, lalu mengusap punggungnya.
Remaja masih menangis tersebut menarik diri, duduk di atas batu. “Ibu kan pinter berenang, kok bisa tenggelam?”
“Kaki Ibu terpeleset ke bagian terdalam sungai, terus tiba-tiba kram,” dia tidak menceritakan tentang sesuatu menarik kencang pergelangan kakinya.
“Ayo kita pulang, makan siang. Kamu pasti lapar, ‘kan?”
“Iya.” Angguknya jujur, bahkan perutnya berbunyi.
“Kenapa malah mandi di sungai? Pujiara nangis kejer nyariin kamu, Mima!” Galih berkacak pinggang berdiri ditepi sungai.
Ekspresinya garang dengan rahang mengetat, wajah memerah berkeringat.
“Terus dimana Ara? Kamu tinggal sendirian di rumah, Mas?” baru saja dirinya merasa lega, selamat dari bahaya, sekarang sudah menghadapi hal nyaris serupa.
“Gak mungkin aku bawa ke sini! Punya otak itu ya dibuat berpikir sesuai fungsinya!” balasnya tak senang.
Mima balas membentak, kesabarannya terkikis habis menghadapi sifat suaminya yang akhir-akhir ini seenaknya sendiri. “Ayah macam apa kamu, hah?! Ninggalin bayi sendirian di rumah berhantu itu!”
.
.
Bersambung.
Hai, hai ….
Kakak, mau ngasih informasi, kalau aku ganti Instragram. Yang sebelumnya wasalam 😁
IG. Yu_cublik.
Terima kasih, bagi yang bersedia mengikuti 🙏
👻👻👻👻👻
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
aku yakin Ara mau dijdikan tumbal tu
Krang ajar skli bapak nya
itu pasti tu kumpulan juragan sarkam yg mengamuk karna gagal
nth apa yg ada di otak Sigalih itu