**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Mencintaiku..
“Itu bukan urusan Kakak!” bentak Kevin dengan sorot mata yang menyala.
Reza tertawa pendek, tetapi tawanya sama sekali tidak mengandung kehangatan.
“Tentu saja ini urusanku!” balasnya tanpa kalah keras. “Kamu adikku satu-satunya, Kevin. Bagaimana mungkin Kakak diam saja melihat kamu memilih membujang seumur hidup hanya demi wanita seperti dia?”
Kalimat itu membuat rahang Kevin mengeras.
“Jangan bicara tentang dia seperti itu,” ucapnya dingin, setiap katanya terdengar penuh penekanan.
Reza menggeleng frustrasi.
“Dia sudah meninggalkanmu selama tiga tahun! Apa lagi yang kamu tunggu?”
Kevin melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa langkah.
“Dengar baik-baik, Kak,” katanya dengan suara rendah namun tegas. “Aku hanya akan menikah dengan Haselyn.”
Ruangan mendadak sunyi.
Tatapan Kevin tidak bergeser sedikit pun dari wajah kakaknya.
“Hanya dia yang akan menjadi istriku. Tidak ada wanita lain.”
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lantang.
“Selama aku masih hidup, satu-satunya wanita yang berhak menyandang status sebagai istri Kevin Artadinata adalah Haselyn.”
Ketegasan dalam ucapannya membuat seluruh tamu terdiam. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajah Kevin.
Bagi pria itu, penantian selama tiga tahun bukanlah kebodohan.
Melainkan bentuk kesetiaan pada wanita yang telah ia pilih sebagai rumahnya.
Wanita berkebaya merah muda yang sejak tadi berdiri di sisi Kevin akhirnya mengangkat suara. Selama perdebatan antara Kevin dan Reza berlangsung, ia memilih diam, tetapi kali ini ia tidak lagi sanggup hanya menjadi penonton.
“Kevin…” panggilnya pelan.
Semua mata beralih kepadanya.
“Mau sampai kapan kamu menunggunya?”
Tatapannya tertuju lurus pada Kevin, dipenuhi rasa iba sekaligus keputusasaan.
“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu. Tiga tahun, Kevin. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar.”
Ia menarik napas perlahan sebelum melanjutkan.
“Kamu harus sadar. Dia tidak akan datang. Dia tidak akan menikah denganmu. Kalau memang dia mencintaimu, dia tidak mungkin membiarkanmu menunggu selama ini.”
Setiap kata yang keluar dari bibir Sherlyn terdengar tenang, tetapi cukup tajam untuk mengiris hati siapa pun yang mendengarnya.
“Buktinya sudah jelas, kan? Selama tiga tahun ini dia menghilang dari hidupmu. Dia membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian.”
Sherlyn memang mengetahui bahwa hati Kevin telah dimiliki wanita lain. Ia juga tahu bahwa dirinya tidak pernah benar-benar memiliki tempat di hati pria itu.
Namun, menurutnya, cinta juga memiliki batas.
Dan penantian yang terlalu lama tanpa kepastian hanya akan menghancurkan seseorang sedikit demi sedikit.
“Untuk apa terus menunggu sesuatu yang belum tentu akan kembali?” lanjutnya lirih. “Hidupmu tidak bisa berhenti hanya karena seseorang memilih pergi.”
Ia menatap Kevin dengan penuh kesungguhan.
“Menikahlah denganku.”
Suasana ruangan kembali hening.
“Aku akan menemanimu. Aku akan membantumu mengurus bisnismu, mendampingimu dalam setiap langkahmu, dan menjadi pasangan yang bisa berjalan bersamamu sampai akhir hidup.”
Sherlyn Agatha, wanita yang dipilih Reza untuk menjadi pasangan Kevin, mengucapkan semua itu bukan dengan paksaan, melainkan dengan harapan bahwa suatu hari nanti Kevin mau membuka hatinya untuk seseorang yang memilih tetap tinggal.
Kevin menatap Sherlyn dengan sorot mata yang tenang, tetapi penuh keteguhan. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya.
“Aku tidak peduli kalau harus menunggu seumur hidup,” ucapnya pelan, namun setiap katanya terdengar begitu jelas di tengah keheningan ruangan.
Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tegas.
“Satu hal yang pasti, aku hanya akan mencintai Haselyn.”
Tatapannya mengeras, seolah sedang menegaskan sumpah yang telah lama ia pegang.
“Bagiku, cinta bukan tentang siapa yang datang lebih dulu atau siapa yang memilih tetap tinggal. Cinta adalah tentang siapa yang telah kupilih, dan aku sudah memilih Haselyn.”
Kevin menatap cincin yang tergeletak di lantai, lalu kembali mengangkat kepalanya.
“Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisinya. Tidak hari ini, tidak besok, bahkan tidak sampai akhir hidupku.”
Kalimat itu meluncur tanpa ragu. Bagi Kevin, penantian selama tiga tahun bukanlah beban.
Melainkan bukti bahwa hatinya tidak pernah berpindah dari wanita yang telah ia sebut sebagai istrinya.
*
*
*
Mendengar pengakuan itu, Haselyn spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat, seolah tidak percaya pada kata-kata yang baru saja didengarnya.
Tatapannya terpaku pada Kevin.
Pria yang kini menjadi pusat perhatian seluruh tamu undangan itu sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang berdiri di ambang pintu, mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.
Air mata Haselyn jatuh tanpa bisa ia bendung.
“Apa… kamu benar-benar mencintaiku, Kak?” bisiknya lirih.
Jemarinya yang gemetar mengusap pipinya yang telah basah oleh air mata.
Selama ini ia selalu berpikir bahwa semua yang Kevin lakukan hanyalah bentuk penebusan dosa. Ia mengira pria itu merasa bertanggung jawab karena masa muda Haselyn berubah setelah kehadiran Mario. Ia percaya Kevin bertahan karena rasa bersalah, bukan karena cinta.
Namun hari ini…
Di hadapan begitu banyak orang…
Kevin mengakui sendiri bahwa ia mencintainya.
Bukan karena kewajiban.
Bukan karena rasa bersalah.
Bukan karena Mario.
Melainkan karena Haselyn adalah wanita yang ia pilih untuk dicintai seumur hidupnya.
Kesadaran itu menghantam pertahanan hati Haselyn yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Sementara itu, Mario hanya bisa melongo menatap ayahnya. Mata anak itu berbinar-binar, dipenuhi kekaguman yang begitu tulus.
Di dalam hati kecilnya, ada kebahagiaan yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Ayah benar-benar mencintai Mama.
Bahkan setelah bertahun-tahun berpisah.
Bahkan ketika semua orang memintanya untuk menyerah.
Bahkan ketika tidak ada kepastian bahwa mereka akan kembali.
Mario tersenyum lebar.
“Ayahku memang yang terbaik,” gumamnya pelan dengan penuh kebanggaan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga memiliki seorang ayah yang tidak pernah berhenti memperjuangkan wanita yang dicintainya.
Dan tanpa disadari siapa pun, kehadiran Haselyn dan Mario di ambang pintu telah menjadi awal dari perubahan besar yang akan mengguncang seluruh ruangan itu.
*
*
Reza yang sudah tidak mampu lagi menahan amarahnya langsung menghampiri Kevin dengan langkah lebar.
Plak!
Suara tamparan itu menggema keras di seluruh ruangan.
Kepala Kevin terhempas ke samping. Tubuhnya sempat limbung beberapa langkah akibat tamparan keras yang mendarat telak di pipinya. Sudut bibirnya robek, dan darah tipis mulai mengalir di sana.
Semua tamu terdiam. Tidak ada yang menyangka Reza akan benar-benar menampar adiknya di depan begitu banyak orang.
Reza mengeratkan rahangnya. Dadanya naik turun menahan emosi yang sudah mencapai puncaknya.
“Kamu memang sudah gila, Kevin!” teriaknya sambil menunjuk wajah Kevin yang masih berdiri tegak meski baru saja menerima tamparan keras.
Kevin perlahan mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya. Ia menatap noda merah di jemarinya sejenak, lalu kembali mengangkat wajahnya.
Tatapannya tetap tenang. Tidak ada rasa takut. Tidak ada penyesalan.
“Memang,” ucap Kevin pelan. “Aku sudah gila.”
Senyum tipis yang pahit terukir di sudut bibirnya.
“Gila karena mencintai wanita yang sama sejak dulu, dan dia akan jadi satu-satunya wanita yang aku cintai.”
Kalimat itu membuat Reza membeku sesaat. Ia tak percaya adiknya akan mengatakan hal seyakin itu padanya.