Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Detik-Detik Menuju Badai Terakhir

Keheningan malam yang menyelimuti kawasan industri tua mendadak pecah berkeping-keping tepat saat jarum jam dinding di kamar atas markas menunjuk ke angka sebelas malam. Nasya yang sedari tadi duduk bersandar di tepi tempat tidur sambil memperhatikan Eksan yang sedang membersihkan pisau lipat taktisnya langsung kaget. Dari lantai bawah gudang kontainer, suara raungan sirene darurat internal markas berbunyi nyaring sebanyak tiga kali—sebuah sinyal bahaya tingkat tertinggi yang menandakan bahwa sarang faksi Black Cobra telah resmi ditembus oleh musuh.

*BRAK!*

Pintu kayu kamar atas dihantam terbuka dengan sangat kasar dari luar. Raka melangkah masuk dengan napas yang memburu hebat, wajah gondrongnya tampak sangat pucat di bawah siraman lampu neon kamar yang temaram. Tangannya yang memegang sebatang pipa besi bergetar samar akibat luapan adrenalin yang meledak-ledak.

"Bos Eksan! Mereka datang! Seluruh aliansi inti faksi White Tiger dari wilayah utara sudah bergerak masuk menembus gerbang depan kawasan industri kita!" seru Raka dengan nada suara yang tertahan panik namun sarat akan kesiapan perang. "Mereka tidak datang dengan rombongan motor biasa, Bos. Sang Macan Putih, ketua tertinggi mereka, turun langsung memimpin pertempuran malam ini bersama lebih dari lima puluh orang bersenjata lengkap! Mereka sudah memblokade total seluruh jalur pelarian di luar gudang kontainer!"

Mendengar laporan darurat yang sangat mencekam tersebut, Eksan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan di wajah tegasnya. Gerakan tangannya yang sedang mengelap bilah pisau lipat taktis hitam kesayangannya terhenti secara perlahan. Sepasang mata elangnya yang pekat menyipit tajam, memancarkan kilatan haus darah murni yang amat sangat mengerikan di bawah kegelapan malam. Eksan bangkit berdiri tegak dari kursi kerjanya, mengabaikan denyut perih yang kian membakar perut kirinya akibat balutan perban jahitannya yang belum pulih total.

"Akhirnya kucing-kucing sialan dari utara itu berani melangkahkan kaki kotor mereka ke dalam sayangku," ucap Eksan dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan sedingin es, namun memiliki gaung intimidasi mutlak yang sanggup menciutkan nyali siapa saja yang mendengarnya.

Eksan merogoh saku kursi kayu tua, lalu mengenakan jaket kulit hitam kebanggaannya yang bertuliskan lambang mawar berdarah faksi Black Cobra di bagian lengan kanannya. Ia menyarungkan pisau lipatnya ke balik pinggang celananya dengan gerakan yang sangat lihai dan mantap, bersiap untuk memimpin pertempuran penentuan yang akan mencatat siapa sesungguhnya penguasa tunggal di atas aspal jalanan kota ini.

Nasya yang melihat persiapan perang tersebut langsung berlari mendekat dari tepi kasur, air mata ketakutan yang teramat sangat kembali tumpah membanjiri pipi polosnya yang pucat pasi. Jemari mungilnya mencengkeram erat tepi kaos hitam yang dikenakan Eksan dengan tubuh yang gemetar hebat bagai jeli. "Eksan... jangan turun ke bawah, aku mohon... Jumlah mereka terlalu banyak dan tubuhmu... perutmu masih terluka parah! Jika kau memaksakan diri bertarung malam ini, kau bisa mati!" tangis Nasya histeris penuh keputusasaan.

Eksan menghentikan langkah kakinya sejenak, lalu membalikkan tubuh tegapnya menatap lurus masuk ke dalam sepasang mata jernih Nasya yang berkaca-kaca menahan luka batin. Bukannya bersikap ketus atau melepaskan cengkeraman tangan gadis itu secara kasar, Eksan justru mengulurkan tangan kanannya yang besar dan kasar, lalu jemari besarnya dengan sangat lembut mencengkeram erat pergelangan tangan mungil Nasya, menarik tubuh ringkih gadis itu masuk ke dalam dekapan hangat dada bidangnya selama beberapa detik.

Aroma maskulin yang pekat bercampur hawa dingin dari tubuh Eksan merayap masuk ke indra penciuman Nasya, memberikan secercah rasa aman yang aneh di tengah kepungan bahaya maut yang mengintai di balik dinding kamar. Eksan melepaskan dekapannya secara perlahan, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Nasya dengan sorot mata pekat yang memancarkan kepemilikan yang absolut dan mutlak mengikat jiwa.

"Dengar baik-baik kalimatku ini, Nasya," bisik Eksan dengan suara rendah yang serak namun dipenuhi oleh getaran penekanan posesif yang sangat kuat membelenggu batin. "Aku tidak pernah kalah di atas aspal jalanan ini, dan aku bersumpah demi sisa nafasku tidak akan pernah membiarkan ada satu orang pun dari dunia luar yang bisa merebut dari tanganku. Tetaplah berada di dalam kamar terisolasi ini, kunci pintu kayu ini ganda dari dalam, dan jangan pernah membukanya untuk siapa pun sampai aku sendiri yang mengetuknya kembali."

Eksan melepaskan tangan Nasya, lalu berbalik menatap Raka yang sedari tadi berdiri siaga di dekat pintu koridor besi. "Raka... kunci kamar ini setelah aku keluar, dan tempatkan dua anggota inti kita yang paling lihai untuk menjaga pintu luar tangga besi ini dengan nyawa mereka sebagai taruhannya. Jika ada satu musuh pun yang berhasil menginjakkan kaki di lantai dua ini... pastikan kau sudah memotong leher mereka sebelum aku kembali," perintah Eksan dengan otoritas mutlak seorang pemimpin tertinggi yang tak bisa diganggu gugat.

"Siap, Bos Eksan! Perintah dilaksanakan!" jawab Raka dengan tegas sembari mengepalkan tangan kanannya ke udara memberi hormat sejati ksatria jalanan.

Eksan melangkah tegas keluar dari kamar atas tanpa ada rasa gentar atau ragu sedikit pun di dalam hatinya, menuruni satu per satu anak tangga besi menuju lantai bawah gudang kontainer utama. Begitu kakinya menapak di lantai semen bawah, suasana ternyata sudah berubah menjadi sangat riuh dan panas membara. Tiga puluh anggota inti faksi Black Cobra sudah berdiri berbaris rapi dengan jaket mawar berdarah mereka, memegang erat rantai motor tebal, balok kayu besar, dan pipa besi yang berkilau tajam di bawah siraman lampu neon yang remang-remang.

Eksan berjalan mantap mengambil posisi paling depan di barisan pasukannya, mengayunkan sebatang pipa besi tebal di tangan kanannya dengan gerakan yang sangat lihai untuk memicu semangat tempur anak buahnya. Di luar gerbang utama gudang kontainer, suara gemuruh tawa beringas yang melengking tinggi dan deru mesin puluhan motor sport putih milik faksi White Tiger sudah mulai terdengar merayap masuk mengguncang udara malam yang pekat.

Pagar besi luar markas besar Black Cobra tampak mulai digedor-gedor secara brutal menggunakan hantaman balok kayu dari luar oleh pasukan musuh yang haus akan darah dan kemenangan. Eksan menyunggingkan sebuah seringai dingin yang luar biasa mengerikan di wajah tampannya, menatap lurus ke arah pintu gerbang depan yang sebentar lagi akan hancur lebur diterjang badai perang terakhir.

Sang raja berandal tertinggi telah siap sepenuhnya untuk menumpahkan seluruh silsilah darah musuh-musuhnya di atas lantai semen markasnya demi membuktikan pada seluruh kota bahwa siapa pun yang berani mengincar keselamatan Nasya, mereka semua hanya memiliki satu jalur tunggal untuk pulang malam ini, yaitu di dalam peti mati.

1
ARDICK
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
ARDICK: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!