Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUNCAK KEGELAPAN DAN BADAI DARI JAKARTA

Desiran angin malam Seminyak yang berembus masuk melalui celah pintu balkon yang agak terbuka membawa aroma khas garam laut dan bunga kamboja basah, beradu dengan kehangatan udara di dalam master suite.

Di bawah pendar temaram lampu tidur yang redup keemasan, batas-batas antara kebenaran, dendam, dan hasrat telah sepenuhnya lebur, menyisakan dua jiwa yang saling mengunci dalam jalinan obsesi terlarang.

Sentuhan jemari Raymond yang kasar dan penuh dominasi di kulit punggungku terasa seperti jejak api yang membakar setiap sentimeter kesadaranku.

Gaun tidur sutra hitam milikku telah sepenuhnya meluncur jatuh ke lantai marmer, menyisakan tubuhku yang gemetar pasrah di dalam cengkeraman lengan kokoh sang taipan.

Pria 35 tahun itu tidak lagi menahan kebuasan yang selama ini ia sembunyikan di balik setelan jas mewahnya.

Ciumannya yang intens, dalam, dan sarat akan tuntutan kepemilikan merenggut setiap helai napasku, memaksa seluruh pertahananku runtuh tanpa syarat.

"Raymond..." bisikku parau, menengadahkan kepala di atas bantal empuk saat helai-helai rambut basahku tersebar mengelilingi wajahku.

Tanganku meremas erat otot-otot bahunya yang tegap dan hangat, berusaha mencari pegangan di tengah gelombang nikmat terlarang yang menghantam tubuhku.

Raymond menatapku dari atas, manik mata hazel-nya berkilat gelap di bawah pendar remang ruangan menampilkan sosok pria yang telah menyerahkan seluruh akal sehatnya demi memilikiku.

"Katakan padaku, Clarissa..." bisik Raymond dengan suara bass-nya yang sangat rendah, berat, dan bergetar di depan bibirku, "siapa pria yang memegang kendali atas hidupmu malam ini?"

Aku menatap lurus ke dalam iris matanya yang memukau, menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan sekaligus kemenangan terselubung.

"Kamu... Raymond.

Hanya kamu."

Pernyataan itu bagaikan pemantik api yang membakar sisa-sisa kendali diri Raymond.

Pria itu menundukkan kepalanya, menyatukan bibir kami kembali dalam sebuah penyatuan yang intens, membawaku melintasi batas dosa paling pekat di tengah sunyinya malam Seminyak.

Gemuruh ombak di pantai luar seolah tenggelam oleh detak jantung kami yang berpacu liar, menyegel takdir terlarang ini di dalam kegelapan pulau dewata.

Beberapa jam berlalu.

Cahaya fajar berwarna merah jambu dan keemasan perlahan merayap naik dari garis horizon Samudra Hindia, menembus dinding kaca master suite dan membiaskan pendar lembut di atas ranjang king size.

Aku terbangun dengan rasa hangat yang melingkupi seluruh tubuhku.

Lengan tegap Raymond yang berotot melingkar ketat di pinggangku dari belakang, menahan tubuh polosku tetap menempel rapat pada dada bidangnya yang naik turun secara teratur.

Pria itu masih tertidur lelap, garis-garis tegas di wajahnya tampak jauh lebih rileks daripada biasanya, menyisakan ketampanan maskulin yang tak tersentuh.

Aku memutar tubuhku perlahan dengan hati-hati, memandangi wajah pria yang kini resmi menjadi poros dari lingkaran perapian terlarangku.

Di satu sisi, rasa puas yang luar biasa membakar dadaku aku berhasil menaklukkan pria paling berkuasa yang dipuja-puja oleh Ibu, merebut perhatian dan obsesi terbesarnya hingga tak menyisa sedikit pun untuk istrinya.

Namun di sisi lain, denyut getaran di dalam dadaku memperingatkan sebuah kenyataan yang makin berbahaya: aku mulai terjerat oleh pesona dan dominasi pria ini.

Perlahan, aku melepaskan cengkeraman tangan Raymond dari pinggangku, melangkah turun dari ranjang, dan mengenakan kembali jubah mandi sutra berwarna krem.

Aku melangkah menuju balkon luar, membiarkan embusan angin pagi yang dingin menyapu kulit wajah dan leherku yang kini berhias jejak-jejak kemerahan dari malam tadi.

Tepat saat aku sedang menyesap udara pagi yang segar, suara getaran keras dari ponsel milik Raymond yang tergeletak di atas meja nakas di dalam kamar memecah keheningan.

Bzzzz... Bzzzz... Bzzzz...

Getaran itu terus berulang tanpa henti, menandakan sebuah panggilan darurat yang sangat mendesak.

Aku memutar tubuhku dan melangkah mendekati meja nakas.

Layar ponsel mewah itu berkedip-kedip, menampilkan nama kontak yang membuat sudut bibirku terangkat dingin:

*SISKA (ISTRI)*

Aku menatap layar yang terus berkedip itu selama beberapa detik.

Ibu telah mencoba menghubungi suaminya berkali-kali sejak fajar menyingsing.

Tanpa ragu sedikit pun, aku mengulurkan tanganku, menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponsel tersebut di telingaku tanpa mengeluarkannya suara satu kata pun.

"Raymond?!

Raymond, akhirnya kamu mengangkat teleponku!" suara jeritan histeris Ibu langsung meledak dari seberang saluran, penuh rasa panik, cemas, dan air mata yang pecah.

"Raymond, tolong aku!

Rumah kita... mansion kita didatangi oleh puluhan wartawan dan polisi pagi ini!"

Dahiku berkerut tipis.

Polisi?

"Raymond, kenapa kamu diam saja?!" jerit Ibu lagi dengan nada suara yang kian tidak terkontrol.

"Seseorang telah membocorkan dokumen transaksi rahasia lelang kalung The Tear of Serpent dan aliran dana pribadi dari rekening perusahaan Perkasa Group ke media massa!

Media sekarang menuduhmu melakukan penggelapan dana aset dan skandal investasi!

Dan... dan foto Clarissa yang mengenakan kalung tiga puluh miliar itu tersebar di semua portal berita utama pagi ini!"

Suara Ibu bagaikan dentuman meriam yang bergema keras di dalam kamar yang sunyi.

Sebelum aku sempat memutus panggilan tersebut, sebuah tangan besar yang hangat dan kokoh mendadak meraih ponsel itu dari genggamanku dari belakang.

Raymond telah berdiri tegak di belakangku.

Pria itu telah terbangun, hanya mengenakan celana panjang santainya tanpa atasan.

Manik mata hazel-nya yang dingin dan tajam menatapku dengan intensitas yang teramat pekat saat ia menempelkan ponsel itu di telinganya sendiri.

"Ada apa, Siska?" suara bass Raymond meluncur begitu tenang, datar, dan sangat berwibawa—sama sekali tak memperlihatkan raut panik meskipun diterpa kabar skandal besar.

"Raymond!

Ya Tuhan, Raymond!" tangis Ibu makin pecah dari seberang telepon.

"Kamu ada di mana?!

Kenapa ada foto Clarissa memakai kalung itu di berita?!

Media bilang kamu membelikan perhiasan itu untuk wanita simpanan menggunakan uang perusahaan!

Apa yang sebenarnya terjadi di Bali?!

Kenapa Clarissa tidak bisa dihubungi?!"

Raymond tidak langsung menjawab hysteria istrinya.

Pandangannya yang tajam justru menetap lama pada leher jenjangku yang dipenuhi jejak-jejak kepemilikannya, lalu bergerak turun menatap mataku yang memancarkan pendar kemenangan terselubung.

"Kendalikan dirimu, Siska.

Aku akan mengurus pengacara dan tim Public Relations Perkasa Group untuk mengatasi pers," jawab Raymond dingin tanpa nada rasa bersalah sedikit pun.

"Jangan bicara sepatah kata pun pada media atau polisi sebelum pengacaraku tiba di mansion."

"Tapi Raymond—"

Bip.

Raymond memutus panggilan telepon itu secara sepihak, mematikan daya ponselnya, lalu meletakkannya kembali secara kasar ke atas meja nakas.

Kini, keheningan di dalam master suite terasa begitu mencekam.

Badai besar dari Jakarta telah resmi menerjang, menyeret nama Perkasa Group, pernikahan Ibu, dan keberadaanku ke dalam sebuah skandal publik yang sangat besar.

"Kamu yang membocorkan foto dan dokumen transaksi itu ke media, Clarissa?" tanya Raymond rendah, melangkah satu senti mendekatiku hingga bayangan tubuh tegapnya sepenuhnya mengurung sosokku.

Suara pria itu begitu tenang, namun mengandung tekanan bahaya yang sangat nyata.

Ia bukan pria bodoh; ia tahu betul siapa satu-satunya orang yang memiliki akses ke dokumen lelang dan foto kalung tersebut selain dirinya dan Pak Herman.

Aku menatap lurus ke dalam manik mata hazel-nya, menolak untuk gentar sedikit pun.

Aku menegakkan posisiku, mengusap jubah mandi sutraku, lalu menyunggingkan senyuman paling manis yang paling berani.

"Bukankah aku sudah memperingatkanmu kemarin di atas tebing Uluwatu, Raymond?" suaraku keluar begitu halus dan jernih di udara pagi.

"Aku datang untuk menghancurkan segalanya.

Aku ingin seluruh Jakarta tahu bahwa nyonya Siska Perkasa hanyalah wanita malang yang dicampakkan, sementara suaminya yang hebat bertekuk lutut di bawah kakiku."

Aku melangkah mendekati dada bidangnya yang telanjang, menempelkan telapak tanganku di atas jantungnya yang berdetak kuat.

"Sekarang... permainannya sudah berada di tahap akhir.

Apa yang akan kamu lakukan, Raymond?

Apakah kamu akan mencampakkanku dan kembali bersujud memohon ampun pada Ibu di depan media... atau kamu akan melindungiku dan membiarkan kekaisaranmu hancur bersamaku?"

Raymond menatap jemariku di dadanya, lalu perlahan mengangkat pandangannya menatap mataku.

Pria 35 tahun itu tidak menunjukkan raut marah atau murka.

Sebaliknya, sebuah senyuman dingin yang sangat dominan dan penuh rahasia terukir di sudut bibirnya yang tampan.

Dengan gerakan yang teramat cepat, Raymond meraih bagian belakang leherku, menarikku mendekat hingga bibir kami kembali bertabrakan dalam sebuah ciuman yang singkat namun teramat keras.

"Aku tidak pernah bersujud pada siapa pun, Clarissa... terutama pada ibumu," bisik Raymond parau di depan bibirku, manik mata hazel-nya menyala dengan pendar obesesif yang tak terpadamkan.

"Jika dunia ingin menghancurkan kita karena skandal ini... maka aku akan membeli media itu dan menjadikanmu ratu di atas puing-puing kehancuran mereka."

Badai di Jakarta mungkin baru saja dimulai, namun di dalam vila tersembunyi di Seminyak ini, sang taipan tambang emas telah memilih pihak dalam pertempuran akhir dan ia sepenuhnya berdiri di sisiku untuk meruntuhkan segalanya.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!