Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Sarmila Menghilang
Sarmila menunggu dengan perasaan yang campur aduk, tangannya yang ada di atas pangkuan meremas sebagian pakaian. Wanita itu berulang kali melirik pintu yang dia masuki, seolah ada yang berbisik untuk segera pergi.
'Tapi bagaimana kalau ternyata Mas Andre benar-benar ingin membantuku menjadi seorang artis?' batin Sarmila sambil menggigit bibirnya.
Namun, kata hati berlawanan. Sebelum orang yang Andre maksud keluar, akhirnya Sarmila bangkit. Kakinya dengan cepat melangkah untuk meninggalkan tempat tersebut.
'Aku takut tempat ini jauh lebih menyeramkan dari pada yang kemarin.'
Dia berlari sekuat tenaga, bahkan tubuhnya sesekali menabrak orang yang dilewatinya hingga dia menerima protes.
"Maaf, maaf," katanya berulang kali lalu dengan cepat dia berlari kembali. Karena resiko tertangkap masih sangat besar.
Sedangkan di ruangan itu Andre masuk bersama seorang pria berbadan tambun dengan perut yang buncit. Senyumnya terlihat sangat lebar sebelum menyadari bahwa Sarmila telah pergi.
"Pokoknya ini masih sangat fresh!" ujar Andre dengan penuh semangat. Karena setelah menjual Sarmila dia akan mendapatkan uang yang cukup banyak.
"Dia—" Kalimat Andre langsung terpotong, sementara pria tambun tadi terperangah, sebab tidak ada siapa-siapa di sofa yang Andre tunjuk. Sarmila menghilang.
"Mana orangnya?" tanya pria itu.
Andre langsung terlihat panik. "Sebentar, saya cek ke kamar mandi, siapa tahu dia sedang buang air."
Dia langsung mengetuk pintu kamar mandi, tetapi tak ada sahutan atau pun tanda-tanda bahwa Sarmila ada di dalam.
"Sialann, ke mana gadis itu?" umpatnya saat menyadari kalau Sarmila telah kabur.
"Tuan, sepertinya dia keluar. Bagaimana kalau anda minum-minum terlebih dahulu. Saya jamin, dia datang di waktu yang tepat," ujar Andre yang telah kehilangan alat pencetak uangnya.
"Ya sudah, jangan terlalu lama. Moodku bisa hancur," balas pria itu sambil melirik arloji mahal di pergelangan tangannya. Lalu melakukan gerakan mengusir.
Tak buang waktu Andre langsung keluar untuk mencari Sarmila. Sedangkan Sarmila berlari pontang-panting tak tentu arah. Ibu kota terlalu luas untuknya, apalagi dia tidak tahu daerah di sekitar sini sama sekali.
"Aku harus cari pertolongan," gumam Sarmila sambil mencari jalan yang sekiranya dilalui banyak orang. Kakinya sudah tanpa alas, air matanya merembes.
"Bapak, Ibu, Kak Diyah," panggilnya sambil tergugu. Menyadari kebodohannya yang dengan mudah percaya pada pria asing.
****
"Mas, malam ini tidak pergi ke sawah kan?" tanya Diyah sambil menyerahkan satu gelas susu kepada Biyakta yang berkutat di depan laptop.
"Tidak, malam ini aku pastikan tidur tepat waktu, kecuali .... " Ucapan pria itu menggantung, sama seperti gelas susu yang tak diletakkan, juga tidak diminum.
"Kecuali apa?" tanya Diyah dengan satu alis terangkat. Biyakta langsung tersenyum lebar, dia menaruh gelas tadi di atas meja, menarik Diyah untuk duduk di atas pangkuan. Tentu saja wanita itu sedikit terkejut.
"Mengganti yang kemarin," jawab Biyakta tanpa basa-basi. Pipi Diyah langsung merona. Meski mereka sudah berulang kali melakukannya, tetapi entah kenapa dia selalu malu-malu kucing begini saat diajak oleh suaminya.
"Kalau begitu diminum dulu susunya, mumpung masih hangat," ujar Diyah dengan lembut. Namun, Biyakta malah menggeleng.
"Mau susu yang lain," balasnya dengan nakal. Diyah sampai tak bisa berkata-kata, dan pada akhirnya Biyakta yang memulai, dari memagut bibir Diyah hingga mengangkat tubuh istrinya untuk pindah ke atas ranjang.
Bias cinta mereka mengalir begitu saja, tanpa terucap, tetapi selalu dibuktikan dengan tindakan yang nyata. Siluet Biyakta yang bergerak di atas tubuh Diyah sudah cukup membuktikan, bahwa sejak perjodohan itu dia membuka hati sepenuhnya untuk Diyah.
Mereka saling tatap, saling melempar senyuman. Dan memeluk saat pelepasan itu tiba secara bersamaan.
'Aku mencintaimu, Diyah.' Kalimat itu hanya ada di batin Biyakta.
****
Sesuai kesepakatan seharusnya Arumi pergi ke alamat yang dikirimkan Diyah setelah menerima uang. Namun, karena sifat rakusnya, dia justru bersantai saja di rumah, saat ditelepon Diyah dia tinggal berpura-pura tidak menemukan Sarmila. Otak piciknya berkata semua beres!
"Hah, lagi pula nyusahin amat sih si Sarmila ini, kalo nggak tahu Jakarta ya nggak usah ngerantau. Gaya-gayaan segala. Tapi nggak apa-apa deh, karena dia aku jadi dapet uang dari Diyah tanpa susah payah," cerocos Arumi sambil terkekeh. Dia langsung mengotak-atik ponselnya untuk belanja online, padahal hutang di bank harian pun masih menggunung.
Beberapa jam berlalu, Diyah benar-benar menelponnya untuk mengetahui kabar terkini tentang Sarmila. Arumi yang sedang tidur siang pun merasa terganggu.
"Ck, siapa sih yang nelpon?!" decaknya sambil mengangkat benda pipih itu.
"Assalamualaikum, Bu? Gimana ibu udah ke alamat yang aku kirim buat mastiin Sarmila ada di sana?" tanya Diyah to the point. Mendengar suara putrinya, mata Arumi langsung melotot lebar dan akhirnya terduduk .
"Oh iya-iya. Tadi abis nganter Diva ke sekolah, ibu coba ke alamat yang kamu kasih. Sumpah ya Diyah, itu jauh banget. Bensin ibu sampe abis di tengah jalan. Tapi tahu nggak? Sarmila itu nggak ada di sana, mungkin itu alamat palsu, dia bohongin kalian!" jelas Arumi dengan penuh drama untuk meyakinkan Diyah.
Namun, Diyah tak langsung percaya, sebab meski pun Sarmila kerap menentangnya, sang adik tidak mungkin tega membohongi kedua orang tuanya.
"Apa benar yang dikatakan ibu?" tanya Diyah dengan kening yang mengeryit.
"Bener Diyah, ibu udah tanya-tanya orang yang ada di sana, dan jawabannya semua sama!" jawab Arumi dengan tegas.
Bersamaan dengan itu ada yang membuka gerbang kontrakannya. Diva yang telah pulang dari sekolah tak disangka membawa seseorang yang tengah dicari-cari.
"Kakak jangan takut sama ibu, nanti biar aku yang ngomong," ujar Diva yang melihat Sarmila ragu untuk masuk. Dia benar-benar beruntung, karena akhirnya bertemu orang yang dikenalnya setelah melewati malam yang panjang.
"Sudah ya, Diyah, adikmu sudah pulang. Kalo kamu udah dapet alamat yang bener kabarin aja, oh iya tapi uang transport nambah!" pungkas Arumi, yang kemudian langsung memutus sambungan.
Dia membukakan pintu untuk anaknya, dan alangkah terkejutnya saat melihat siapa yang Diva bawa.
"Kamu?"
Sarimi semogah habis ini kamu sadar kalau dyah bukan lah saingan tapi seorang kakak yang benar2 tulus sama adik...drkogah otak mu waras habis ini sarimi