Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Keyna terus berlari tanpa henti, tak mempedulikan tubuhnya yang sudah lelah dan kakinya yang terasa perih karena luka. Ia terus berusaha mencari pertolongan, berharap ada orang yang bisa ia temukan di tengah hutan ini.
"Keyna!!"
Teriakan itu terdengar dari arah belakang. Keyna yang tadinya berlari ke depan, tiba-tiba berbalik arah, menatap ke sumber suara dengan penuh harap.
"Akhirnya..." Hati Keyna meluap lega saat melihat sosok Bara, Arya, dan beberapa anggota tim yang sedang berkeliling mencari keberadaannya.
"Keyna, ke mana saja kau, Nak? Papa sudah mencarimu ke mana-mana sejak kemarin." Bara segera memeluk putrinya dengan erat, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang dan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
"Papa khawatir sekali, Nak. Apakah tubuhmu terluka? Apakah jantungmu berdebar kencang?" Bara memeriksa setiap bagian tubuh anaknya dengan cemas, memastikan tak ada luka yang serius.
"Tidak ada, Pa," jawab Keyna, berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah. Rasa haru menyelimuti hatinya melihat ayahnya masih begitu menyayanginya seperti dulu.
"Syukurlah," Bara kembali memeluk putrinya dengan napas lega.
"Sudah, ayo kita pulang. Kakak Segar dan Mama pasti sudah sangat khawatir menunggumu di rumah."
Melepaskan pelukannya, Bara mengajak Keyna untuk segera pulang.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Dek!" Arya mengusap rambut adiknya dengan lembut, senyum lega terukir di wajahnya.
"Iya, Kak," Keyna tersenyum tipis, namun seketika wajahnya berubah pucat. Ia seolah teringat seseorang yang masih tertinggal di hutan itu.
"Keira!!" Teriaknya tanpa sadar, matanya menyapu sekeliling berharap melihat sosok sahabatnya.
"Kenapa kau menyebut nama anak itu? Dia tidak pernah peduli padamu. Lebih baik kau lupakan dia, atau Papa akan menghukummu nanti." Wajah Bara berubah dingin, ketidaksukaannya terhadap Keira terlihat jelas. Ada rasa tidak nyaman yang sejak lama ia sembunyikan bahkan sejak kemarin, ia tak pernah melihat Keira sekalipun.
"Tapi.."
Belum sempat Keyna menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit. Jantungnya berdegup kencang luar biasa, membuat kakinya lemas. Tubuhnya terjatuh ke tanah, tangannya mencengkeram dada dengan kuat.
"Keyna!!" Arya dan Bara langsung berlutut di sampingnya, panik melihat keadaan adiknya.
"Sakit, Kak..." Keyna berusaha menahan rasa sakit itu, namun tubuhnya tak lagi kuat menahannya. Kesadarannya perlahan hilang, dan ia pingsan di tempat.
Tanpa berpikir panjang, Bara segera menggendong putrinya dan berlari menuju kendaraan, diikuti oleh Arya yang tak kalah cemas. Sementara itu, para petugas yang merasa ada yang janggal dengan kejadian itu memutuskan untuk melanjutkan pencarian di hutan, berharap menemukan sesuatu yang lain.
"Apakah kau yakin Keyna akan baik-baik saja, Bara?" tanya Gina dengan suara gemetar, kekhawatiran tak hilang dari wajahnya. Ia sendiri kelelahan karena terus mencari anaknya tanpa mempedulikan kesehatannya sendiri.
"Kita hanya bisa berdoa," jawab Bara lemah, tak yakin dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tubuhnya sendiri juga sudah tak kuat lagi, namun ia tak berani menunjukkan kelemahannya.
Beberapa menit berlalu, dokter akhirnya datang menemui mereka.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?!" tanya Bara dengan cemas.
"Kondisinya tidak terlalu serius. Hanya kelelahan yang luar biasa dan jantungnya sempat berdebar tidak beraturan, namun sekarang sudah lebih stabil. Biarkan ia beristirahat di sini selama beberapa hari agar benar-benar pulih," jelas dokter itu dengan tenang.
"Terima kasih, Dok. Bolehkah saya menemuinya?" tanya Bara lega.
"Tentu saja, asalkan jangan terlalu ramai. Pasien butuh ketenangan untuk pulih," jawab dokter sebelum pergi.
Bara dan keluarganya masuk ke ruangan, duduk di samping tempat tidur Keyna yang masih terbaring lemas.
"Kau sudah tenang sekarang, Dek?" tanya Segar lembut, melihat adiknya yang akhirnya terbaring di tempat tidur rumah sakit.
"Iya, Kak..." jawab Keyna pelan, suaranya masih terdengar lemah. Selang oksigen terpasang di hidungnya, membuatnya sedikit kesulitan berbicara.
"Istirahatlah dulu, Nak. Kalian semua juga butuh istirahat. Pulanglah, biar Papa yang menjaganya di sini," kata Bara lembut, menatap istri dan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
Mereka sempat ingin menolak, namun akhirnya mengerti dan pergi meninggalkan ruangan itu.
***
"Siapa sebenarnya anak yang kau bicarakan itu?" tanya seorang suster kepada rekannya, nada bicaranya penuh keraguan.
"Aku juga tidak tahu identitasnya," jawab suster itu pelan.
"Bolehkah aku tahu siapa anak itu?" tanya Bara yang kebetulan lewat di dekat mereka, rasa penasaran menguasai hatinya.
"Ada seorang anak yang dibawa ke ruang gawat darurat sekitar sepuluh menit yang lalu, Tuan. Masalahnya, kami tidak tahu siapa dia dan dari mana asalnya," jawab suster itu berhenti berjalan, menatap Bara dengan tatapan simpati.
"Bolehkah aku tahu ciri-cirinya?" tanya Bara, jantungnya berdebar kencang. Sebuah dugaan muncul di benaknya, entah mengapa, ia merasa itu adalah Keira.
"Anak itu tingginya sekitar 157 cm, tubuhnya kurus. Wajahnya manis, namun ada bekas luka di dahinya. Dia tampak sangat lemah saat dibawa ke sini," jelas suster itu.
Hatinya semakin yakin. Bukan karena penampilan anak itu, melainkan karena bekas luka di dahinya, hanya Keira yang memiliki ciri seperti itu.
"Bolehkah aku menemuinya?" tanya Bara dengan suara bergetar.
"Tentu saja, ikut saya," ajak suster itu, memimpin jalan menuju ruangan anak itu dirawat.
"Siapa nama pasien ini?" tanya dokter bernama Raka sambil melihat berkas di tangannya.
"Ehm..." Bara terdiam sejenak, lalu melangkah maju.
"Saya ayahnya," jawabnya tegas, meski hatinya penuh keraguan.
"Baiklah, saya akan menjelaskan kondisinya," kata dokter itu serius.
"Saat ini pasien sedang dalam keadaan koma."
"Koma?!" Bara terkejut, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.