Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelang Pelindung

Sudah sebulan, Aku sibuk dengan perkerjaan....

Setelah makan malam akan beristirahat.

"Minggu depan pamanmu akan datang" ucap Ibu.

"Kita harus berkumpul di rumah kakek" sambungnya.

"Baiklah... Akhir pekan ini kita bersih-bersih" ucapku.

**

Gadis mungil itu rambutnya panjang sebahu.

"Dokterrrrr... " dia berlari ke arahku.

hampir saja, tidak kukenali.

"Ini Karen, dokter ingat? " ucapnya dia memegang boneka beruang coklat, wajahnya sangat senang.

kutatap dia lalu membungkuk.

"Hei... Jangan ganggu dokter Maya..." kata ibunya berkata dan terhenti, berdiri di sisinya.

Aku menggeleng "tidak apa-apa, tidak menggangu" ucapku yang berjongkok di hadapan Karen.

Ku elus wajahnya yang mulus.

"Dia sehat. Hasil pemeriksaan darahnya normal" kata Ibunya, tidak menyembunyikan rasa bahagia.

Aku tersenyum.

"Aku sudah sehat dokter" kata Karen.

Ku pegang kedua tangannya.

"Iya, tapi tetap kontrol lagi kalau ada keluhan ya" kataku lalu menyentuh hidungnya.

"Baik dokter.. " angguknya sambil memeluk boneka beruang coklatnya.

Karen menatap tanganku dan menyentuh gelangku dengan satu jari tangan kanannya.

"Cantik" ucapnya.

Aku hanya bisa tersenyum.

Mereka pamit, di lorong rumah sakit aku menatap kepergian mereka sekeluarga, sangat bahagia.

Karen berubah drastis bobot berat badannya bertambah dia tidak pucat lagi, wajahnya segar.

Dan paling penting tidak ada tanda-tanda penyakit kanker darah di tubuhnya.

Namun yang menyakitkan sekarang Nyeri bahu ku bertambah besar hingga ke punggung.

**

Selesai makan malam, kumatikan lampu kamar. Kusimpan buku tua di dalam lemari pakaian.

kuambil tas selempang kain berwarna putih.Didalamnya kuisi senter, pisau bedah, plastik, botol kecil, obat luka dan perban, pakaian ganti.

Malam ini aku siap untuk pergi, mungkin akan kembali lebih cepat atau malah terlambat.

Kulentikan jari kubaca mantra...

Membentuk lingkaran...

**

"Akhirnya kamu datang juga, pencuri tetaplah pencuri" ucap swanzi ketika aku berdiri di sisi sumur dekat kediamannya.

Aku sudah mengambil satu botol air sumur dan memasukan ke tasku.

"Pengawal tangkap dia! " perintahnya.

"Aku tamu Raja, aku datang mengunjungi Raja" ucapku beralasan.

Pengawal menjadi bingung.

Seorang perwira datang, di belakangnya Raja Yuko bersama Dayang dan Putri Rena berdiri di belakangnya.

Mereka memandangi baju anehku di dunia mereka, celana panjang dan kaos putih serta outer kotak-kotak tampak berbeda dengan jubah di Dunia mereka.

"Ada apa ribut-ribut" kata Raja Yuko.

Pengawal yang menodongkan pedang di sekelilingku menurunkan pedangnya.

"Mayanza..

Apa yang kau lakukan disini" katanya.

"Aku kembali... karena ini" kataku langsung membuka sisi kaos oblongku menunjukan luka.

Semua pengawal menoleh buang muka.

Raja Yuko tertawa terbahak-bahak sementara Putri Rena menatapku dan menunduk.

" Sungguh wanita yang tidak sopan" kata Swanzi.

"Kau obati ulahmu" kataku melangkah mendekat pada Swanzi.

Swanzi tersenyum sinis.

"Kau tabib yang hebat tentu saja kau bisa menyembuhkannya sendiri" katanya dengan tatapan meremehkan.

"Sudahlah...

kita terlalu lama diluar, udara malam ini terlali dingin.

Karena tamuku datang, bawa dia ke istana" ucap Raja Yuko lalu melangkah di depan di ikuti oleh rombongan.

Aku masih menatap Swanzi dengan penuh amarah, aku merasakan kekuatannya.

setidaknya sebulan aku sudah selesai membaca buku tua.

Seluruh tulisan itu mampu kuhapal semua tanpa satupun yang ketinggalan.

"Kau ikut aku dulu" tangan Putri Rena menarikku mengikuti dia.

Aku menurut saja karena aku tau Putri Rena pasti tidak sejahat dua orang yang selalu mencelakaiku sebelumnya.

**

Di istana, di kediaman Putri Rena.

"Pakaian apa ini? " kata Putri Rena menyentuh bajuku.

Berjalan memutar mengelilingiku keheranan.

Dayang datang, aku diminta mengganti pakaianku di sekat tempat berganti pakaian.

Aku terpaksa mengganti pakaian dengan jubah emas yang diberikan.

Jubah lama yang pernahku pakai.

"Ini pakaian di duniaku" kataku.

"Bahumu.... Ya Ampun... " Putri Rena mendekat bahuku yang menghitam.

"Kekuatan Jahat!! " katanya.

"Kamu tau? Siapa yang melakukan ini putri" kataku. Walaupun aku yakin ini pasti perbuatan Swanzi perempuan yang mencurigakan itu.

"Tidak.. Kudengar, beberapa pejabat istana juga pernah terluka seperti ini" dia menunduk.

"Jadi kamu kembali untuk ini" tanyanya.

Aku selesai memakai jubahku.

"Tentu saja, dan untuk gelangku pemberianmu ini" kutunjukan gelang putih yang melingkar mengikat tanganku sebulan ini.

"Aku tidak pernah memberimu gelang itu, Yuko yang memberikannya" Kata Putri Rena.

**

"Kenapa terlambat" kata Raja Yuko

"Hamba yang meminta Mayanza mengikuti Hamba berganti pakaian" kata Putri Rena menunduk.

"Berapa lama kau akan tinggal disini" tanya Raja Yuko yang duduk di singgasananya.

"Tidak lama, aku hanya ingin menyembuhkan lukaku dan kembali ke asalku" ucapku.

"Seenaknya datang dan pergi" ucapnya.

menertawakan dan menatap sinis penuh kebencian karena aku datang dan pergi ke wilayahnya.

Putri Rena berpamitan mundur kembali ke kediamannya.

Aula itu sekarang hanya ada Aku, Raja Yuko dan Swanzi yang selalu berdiri di samping Raja Yuko.

Tubuhnya mengeluarkan Aura yang susah aku jelaskan.

"Di perbatasan banyak yang terluka, hamba tidak bisa menyembuhkan mereka sendirian wabah semakin meluas" ucapnya melaporkan kepada Raja Yuko.

"Kau harus tinggal disini lebih lama" kata Raja Yuko menatapku.

"Aku akan membantu kalian, dengan syarat aku harus membereskan urusanku dulu di duniaku" kataku berjanji.

"Bagaimana aku percaya" kata Raja Yuko.

"Bukankah aku tidak pernah berbohong, tapi kalian yang selalu membohongiku" kataku.

Raja Yuko menatapku.

"Mana mungkin aku bisa menjadi tabib disini kalau aku terluka kataku" menatapnya tajam.

"Luka begitu saja kamu tidak mampu menyembuhkan dirimu sendiri" kata Swanzi.

"Mana kekuatan yang kau miliki, bukannya kamu memiliki kekuatan Ayahku" sambungnya lagi.

Raja Yuko menatapnya "Lancang sekali kau Swanzi" kata Raja Yuko.

Swanzi menunduk gemetar "Ampuni hamba paduka... "

"Pergilah ke tempatmu" kata Raja Yuko.

Swanzi pamit meninggalkan ruangan, matanya menatapku dengan tidak senang, aku bisa merasakannya.

**

"Setelah urusanmu selesai segeralah kembali" kata Raja Yuko padaku.

Aku meninggalkannya sendiri tanpa berpamitan atau berbalik, aku ingin segera mengambil tasku dan kembali ke kamar.

Kuganti pakaian jubahku.

Kuperiksa kembali isi tas, masih utuh, botol air sumur suci.

Kutarik nafas panjang...

Pintu kamar diketuk, kukira dayang.

"Kau akan kembali" ternyata Putri Rena

"Ini sudah malam putri, aku akan kembali setelah urusanku selesai" ucapku

"Jangan tidak menepati janji" tatapnya.

"Tentu saja" jawabku.

"Ternyata ramalan itu benar, akan datang seorang wanita dari negeri jauh memiliki kekuatan yang sangat kuat. Menyelamatkan negeri kami" katanya.

"Siapa yang bilang begitu?" kataku

"Raja Yuko Tujuh, Ayahku... Sebelum Kakakku diangkat menjadi Raja" katanya.

"Lalu apa yang terjadi dengan negeri ini"

"Negeri ini selalu berperang dengan kekuatan gaib, diluar istana sana ada wabah yang belum ada obatnya.Setelah Tabib Zhi menghilang, hanya Swanzi yang tersisa namun dia bukan orang yang terpilih"

"Terpilih? "

"Ah, Aku banyak bicara" kata Putri Rena.

Aku menghalangi langkahnya ke pintu.

"Tenang saja, Kakakku baik. Dia melindungimu, kalau tidak kamu sudah mati dari dulu, gelang itu memiliki kekuatan sebagai gelang pelindung, seharusnya memiliki gelang itu berarti kau akan menjadi Permaisuri Raja" katanya menatapku tersenyum menatap gelang yang aku kenakan.

Aku memandang gelang yang melingkar di tanganku, Lalu berbalik sebentar, "Hormat untuk kakak Ipar" katanya tingkahnya seperti mengejek menutup mulutnya dengan tangan.

Membuatku keheranan medadak sekali.

Kakak Ipar???

"Kau harus berhati-hati dengan Swanzi, dua punya kekuatan jahat, jiwanya sudah diambil mantra hitam, dia melakukan itu agar bisa menyembuhkan orang lain, seharusnya dia adalah wanita yang baik" katanya lagi.

Lalu Putri Rena meninggalkanku bersama dayang-dayang ke kediamannya dengan membawa lentera kayu berbentuk ukiran-ukiran bunga teratai.

Aku berjanji dalam hati, akan kembali.

Untuk menolong rakyat yang sakit.

Akan kukembalikan gelang ini.

**

Aku tiba di kamar Ibu, di kediaman Kakek, berantakan.

aku menarik nafas membersihkan memasukan sampah-sampah yang ada. Kubungkus pakaian Paman, besok akan kucuci.

"Klek.. " kubuka pintu pelan.

Aku terkejut.

Siapa yang berdiri tepat dihadapanku.

"Bibi Sarah" Bibi di depan pintu.

"Nona Mayanza!! Kapan nona datang" katanya.

"Aku mendengar suara di atas, aku kira pencuri"

Aku gugup, kenapa kata-kata pencuri jadi sering terdengar akhir-akhir ini.

"emmmm... " aku tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi.

"Aku mengerti" katanya lalu masuk tanpa banyak tanya dia membersihkan kamar menatap kamar yang kotor behamburan sprei penuh tanah, peralatan makan yang bau di meja dan bantal yang terbelah.

Aku ikut membantu.

"Nona pulang saja, tidak ada yang akan bertanya, sisanya akan aku urus" katanya.

"Tapi bi... " kataku

"Aku tau... " kata bibi mengenggam tanganku.

Kami turun ke bawah dia menyerahkan kunci mobil kakek.

"Nona pulang saja, akan kubersihkan kamar ini"

"Baju Tuan Andrew akan kucuci" katanya mengambil baju paman yang sudah ku plastik.

"Bibi... Apa yang bibi tau?"

tanyaku.

"Kakekmu sering melakukan ini, tiba-tiba datang dan pergi menjadi aneh" kata bibi memandangku.

"Pulanglah.. " katanya

Dia meminta ku.

"Bibi bisa antar aku pulang? Nanti ibu curiga" kataku.

**

Di perjalanan Bibi Sarah bercerita kalau Kakek dulu sering mengurung diri di kamar sejak Nenek meninggal.

Sering kali ada keanehan, beberapa orang tamu datang dan pergi tidak di kenal ke kediaman kakek.

Kadang kakek muncul pagi hari dari gudang.

Padahal tidak pernah keluar kamar.

Pantas saja kakek selalu mempercayakan sampai akhir hidupnya Kediamannya di urus oleh Bibi Sarah.

Bibi Sarah memegang rahasia.

**

Aku dikamar berbaring tubuhku sakit sekali..

terpaksa aku bangun, mengambil teratai emas di dalam freezer kulkas kecilku di kamar, kuracik dengan air suci kuoles luka yang menghitam di bahu dan punggungku.

Cahaya emas membentuk huruf-huruf kuno masuk ke lapisan kulitku.

Aku menjerit kesakitan... Mengigit handuk yang sudah kusiapkan agar tidak bersuara.

Berkeringat, kulitku menjadi merah, warna hitam berangsur-angsur hilang.

seperti asap hitam keluar dari tubuhku, asap itu kemudian keluar melalui lubang angin dengan cepat terbawa angin.

Lalu aku dengar teriakan histeris dari lantai bawah...ada barang pecah..

"Prang!!! "

Aku berlari dan terkejut!!

"Ibu, ada apa?! "

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!