Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Suasana perpustakaan di Fakultas Hukum siang ini dengan udara panas, sekaligus kesibukkan.
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela kayu, yang nampak menerangi deretan rak buku tua---yang terbuat dari kayu jati.
Rak buku tua yang terbuat dari kayu jati itu, nampak berjejer rapi di latar belakang.
Beberapa mahasiswa yang rata-rata dari wilayah pedalaman Indonesia, terlihat sangat tekun dengan kesibukkan masing-masing di meja kayu yang panjang.
Di salah satu meja yang paling depan, ada sebuah kehangatan yang begitu terasa di antara orang-orang yang sedang berdiskusi.
Asri duduk bersama seorang mahasiswi asal papua---Lena.
Wanita ini----Asri mengenakan kemeja warna abu-abu di padukan celana jeans warna biru, penampilannya memancarkan kesan intelektual.
Tangannya memegang sebuah dengan buku tebal yang terbuka, sementara pandangannya nampak teduh.
Laptop di hadapan mereka, laptop itu sebagai sumber pengetahuan agar bisa mencari informasi yang mereka butuhkan.
Lena seorang mahasiswi asal Papua---Wamena.
Tubuhnya mengenakan hoddie rajut tebal warna biru dongker, terlihat tulisan "UNIVERSITY" di bagian dada sebagai anak rantau yang memiliki komunitas.
Bawahnya mengenakan celana jeans yang senada, kulitnya hitam eksotis dengan rambutnya yang keriting legam.
Jemarinya Lena menunjuk ke arah layar laptop, mencoba memahami penjelasan yang di berikan oleh Asri.
Asri membatu Lena belajar bukan lagi sekedar formalitas belaka, mahasiswi asal Papua yang datang jauh untuk menuntut ilmu di tanah Jawa telah menjelma menjadi salah satu sahabat dekat dalam hidupnya.
Siang ini Asri dengan sabar mengajarkan banyak hal kepada Lena, termasuk soal sejarah, tata bahasa, hingga cara beradaptasi di kehidupan kota besar yang sering kali terasa asing.
Tak heran gadis timur ini kadang mendapatkan tindak rasisme, saat itu Asri mendekatinya dan berusaha membuatnya jangan berkecil hati.
Persahabatan mereka tumbuh sebelum berada di ruang kelas ini, persahabatan mereka lahir dari sebuah momen penuh keberanian di masa lalu---Bagi Asri yang berani membela Lena saat mendapatkan tindak rasisme.
Asri masih mengingat semuanya, saat di koridor kampus---meskipun usia mereka sama, namun Lena sangat menghormati Asri selayaknya seorang guru.
Lena banyak mendapatkan pelajaran hidup selain akademis dari Asri, tentang bagaimana menghadapi dunia luar dengan rasa tegar dan kepala yang tegak.
Jadi tak heran jika Lena menaruh rasa hormat yang luar biasa besar kepada sahabatnya itu, bukan sekedar sahabat---bagi Lena, Asri adalah seorang guru yang luar biasa.
Asri juga menjadi lentera yang membantu Lena untuk melangkah membantunya beradaptasi di kehidupan pulau Jawa, sungguh Asri yang sangat tak tega saat melihat Rasisme menimpa orang-orang seperti Lena.
Apalagi Papua juga bagian Indonesia, karena Asri dulu pernah jadi korban bullying---menurut Asri---Lena ini cantik, hanya saja pemikiran yang rasis itu pendek.
Kecantikan harus kulit putih, padahal banyak aktris dan supermodel dunia kulitnya hitam.
"Kamu manggil aku Asri aja, ngapain manggil aku guru?" tanya Asri dengan mengerutkan keningnya, dan suasana nampak canggung.
"Trada papa, sa manggil ko guru. Karena ko banyak ajarkan sa soal banyak hal," jawabnya.
Asri yang canggung hanya tersenyum manis, dan menghela napas.
"Guru untuk bagian teori ini rasanya agak sulit," kata Lena dengan logat khasnya.
Asri tersenyum manis, berusaha membantu Lena melihat beberapa buku referensinya di hadapan mereka.
"Coba pelan-pelan saja, Lena kamu bisa baca ini dari bab pendahulunya. Untuk Teori dari Arnold J. Toynbee dan bisa uraikan satu per satu paragrafnya," jelas Asri kepada sahabatnya.
Lena menatap Asri dengan mata yang berbinar penuh rasa terima kasih, sungguh Lena melakukan perjalanan jauh dari tanah kelahirannya di Papua---kini menjadi lebih ringan dan semangat dengan keberadaan Asri---sebagai sahabat sekaligus gurunya.
Tak berapa lama, Lena menutup layar laptopnya menatap Asri dengan raut wajah yang tulus.
"Kakak tahu? Saya selalu ingat kebaikan Kak Asri. Bahkan, saya juga mendoakan Kakak waktu di gereja hari Minggu kemarin," ujar Lena dengan suara bergetar pelan karena haru.
"Saya minta Tuhan selalu jaga Kak Asri, di berikan kemudahan dalam hidup," lanjutnya.
"Amin," jawab Asri lembut, meski keduanya berbeda keyakinan---tapi keduanya saling toleransi satu sama lain.
Dada Asri seketika berdesir hangat, karena ada rasa bahagia---di tengah dunia yang penuh kepalsuan dan persaingan ketat.
Asri sangat beruntung setelah kematian kedua orangtuanya, wanita itu mendapatkan orang-orang yang tulus---Putri sang sepupu, lalu Lena sang sahabat.
"Terima kasih banyak ya, Lena... Doa kamu itu sangat berarti buat saya," jawab Asri tulus, menggenggam lembut tangan sahabatnya.
Hari ini, selain agenda kampus tempat Lena belajar---Asri harus menyelesaikan tugasnya sebagai pembicara dalam sebuah acara webinar akademik nasional yang di selenggarakan oleh pihak universitas.
Webinar tersebut membahas mengenai pelestarian situs cagar budaya nasional, sebuah topik yang memang menjadi keahlian utama Asri sebagai peneliti muda.
Asri melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Sudah saatnya ia bergegas menuju gedung rektorat bagian barat.
"Lena, sepertinya kita harus sudahi dulu belajarnya untuk hari ini. Aku ada janji penting dengan Profesor Ali Farisi di ruang kerjanya," kata Asri sambil merapikan alat tulisnya ke dalam tas.
Mendengar nama tokoh besar itu, mata Lena sedikit melebar.
"Profesor Ali Farisi? Arkeolog senior yang sering menulis buku tentang sejarah maritim itu, Kak?" tanya Lena menelan salivanya.
"Iya, betul," jawab Asri.
"Kami mau mendiskusikan rencana penelitian lanjutan mengenai sejarah dan peninggalan purbakala yang ada di salah satu pulau terpencil di Indonesia. Riset ini sangat penting untuk mengungkap jalur perdagangan kuno yang selama ini belum banyak tertulis di buku sejarah resmi kita."
"Luar biasa sekali... Semoga diskusinya lancar ya, Guru. Saya tunggu cerita seru berikutnya dari Guru!" ungkap Lena dengan kagum.
Asri tersenyum menepuk pundak Lena, dengan hangat berdiri dari bangku kayu jati tersebut.
Kakinya lalu meninggalkan perpustakaan dari fakultas hukum, menuju fakultas sejarah---pikiran Asri melayang kepada diskusi ilmiah dengan profesor Ali seraya kakinya sambil berjalan di koridor.
*
*
*
*