⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERAMPOK YANG MEMBAWA ANAK-ANAK [POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]
Tiga minggu setelah duel di Lapangan Sembilan Pedang, nama Fang Ye mulai diucapkan di tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah repot mengingatnya.
Ia tidak menyukainya.
Perhatian, dalam pengalamannya yang masih terbatas, jarang datang tanpa membawa sesuatu di belakangnya—dan kali ini, yang datang adalah panggilan dari Elder Wei, disampaikan lewat murid junior yang terengah setelah berlari menyusuri seluruh asrama luar untuk menemukannya.
"Kau dipanggil ke Aula Pedang Tunggal," murid itu berkata. "Sekarang."
"Oh.. Baiklah."
---
Aula Pedang Tunggal jarang digunakan untuk murid luar. Fang Ye baru dua kali menginjakkan kaki di sana sepanjang sepuluh tahun hidupnya di sekte—sekali saat upacara penerimaan, sekali saat pemakaman seorang tetua yang tidak pernah benar-benar ia kenal.
Elder Wei duduk di kursi utama, dan di sampingnya berdiri seorang wanita muda berseragam murid dalam senior, pedang tergantung di pinggangnya dengan gaya yang menandakan ia sudah lama berhenti perlu membuktikan kemampuannya kepada siapa pun.
"Ini Su Yan," Elder Wei berkata, tanpa basa-basi. "Ia akan memimpin rombongan pengawalan gandum musim dingin ke Desa Qingshan minggu ini. Kau akan ikut."
Fang Ye menahan keterkejutannya. Misi pengawalan biasanya diberikan kepada murid dalam, bukan murid luar—apalagi murid luar tanpa she keluarga yang jelas.
"Kenapa aku?"
"Karena aku sudah melihat catatan duelmu," Elder Wei menjawab, matanya menilai, tidak sepenuhnya ramah, tidak sepenuhnya dingin. "Dan karena jalur menuju Qingshan melewati Hutan Kabut Beku, di mana beberapa laporan perampokan terjadi bulan lalu. Aku ingin melihat apakah bakatmu hanya sekedar bertahan di lingkaran duel yang aman, atau tidak."
Di belakang Elder Wei, pintu terbuka, dan seseorang lain melangkah masuk.
Chen Bo.
"Ayahku merekomendasikanku untuk misi ini juga," Chen Bo berkata, senyumnya dingin, ditujukan sepenuhnya kepada Fang Ye. "Kudengar kita akan jadi rekan setim."
---
Hutan Kabut Beku hidup sesuai namanya: kabut tebal menggantung permanen di antara pohon-pohon pinus yang menjulang seperti tulang raksasa, menyaring cahaya matahari menjadi cahaya kelabu yang tidak pernah benar-benar terang, tidak pernah benar-benar gelap.
Rombongan berjalan dalam formasi hati-hati—dua belas orang, enam gerobak gandum, Su Yan memimpin di depan, Fang Ye dan Chen Bo di sisi berlawanan barisan, seolah jarak fisik bisa menyembunyikan ketegangan di antara mereka.
"Kau tahu kenapa ayahku mengirimku ke sini?" Chen Bo bertanya pelan, saat mereka berjalan berdampingan melewati jalur sempit. "Bukan untuk membantumu. Untuk mengawasimu. Elder Wei mempertaruhkan reputasinya dengan membawa murid luar tak dikenal ke misi seperti ini. Kalau kau gagal, itu akan jadi alasan bagus untuk 'meninjau ulang' status khususmu."
"Kalau begitu jangan sampai gagal," Fang Ye menjawab tenang.
Chen Bo mendengus, tapi tidak membalas lagi.
---
Beberapa saat setelah pejalan, mereka mendapat serangan yang datang saat matahari—yang bahkan tidak pernah terlihat jelas di sana—mencapai titik tertingginya.
Bukan didahului teriakan. Didahului keheningan: burung-burung berhenti berkicau, kabut seolah menahan napas, dan tepat sebelum Su Yan sempat berteriak peringatan, panah pertama melesat dari balik pepohonan, menghantam roda gerobak terdepan.
"Formasi pertahanan!" Su Yan berteriak, pedangnya sudah tercabut.
Dua belas bayangan muncul dari kabut di kedua sisi jalur—bukan tentara terlatih, Fang Ye menyadari dalam sepersekian detik, tapi orang-orang dengan senjata seadanya, pakaian compang-camping, gerakan yang lebih putus asa daripada terlatih.
Tapi keputusasaan, ia segera belajar, bisa sama berbahayanya dengan pelatihan, jika cukup nekat.
---
Fang Ye bergerak menghadapi tiga penyerang sekaligus, pedangnya menahan tebasan pertama dengan gerakan minimal, memutar tubuhnya untuk menghindari serangan kedua sambil membalas serangan ketiga dengan pukulan gagang pedang ke perut, bukan tebasan mematikan.
Ia melumpuhkan, bukan membunuh. Kebiasaan itu bukan perintah dari siapa pun—hanya sesuatu yang terasa benar baginya, meski di tengah kekacauan seperti ini, tidak ada waktu untuk memikirkan mengapa.
Chen Bo, di sisi lain, tidak seberuntung itu dalam hal ketenangan. Ia bertarung lebih agresif, satu tebasannya membuka luka dalam di lengan penyerang, yang jatuh mengerang ke tanah.
Su Yan bergerak paling efisien di antara mereka semua, pedangnya seperti tarian yang sudah dilatih ribuan kali, melumpuhkan empat penyerang dalam waktu yang dibutuhkan Fang Ye untuk melumpuhkan satu.
Dalam waktu kurang dari lima menit, pertempuran selesai. Delapan penyerang tergeletak terluka atau menyerah. Empat lainnya melarikan diri ke dalam kabut.
---
Yang membuat Fang Ye berhenti bukan kemenangan itu sendiri.
Yang membuatnya berhenti adalah suara tangisan anak kecil, datang dari balik semak-semak di mana salah satu penyerang yang menyerah—seorang pria kurus dengan mata cekung, mungkin berusia tiga puluhan tapi terlihat seperti lima puluh—jatuh berlutut, tangan terangkat menyerah, tapi matanya tidak menatap pedang Su Yan yang teracung ke arahnya.
Matanya menatap ke arah semak-semak itu.
"Tolong," pria itu berkata, suaranya pecah. "Bukan aku. Lakukan apa pun padaku. Tapi jangan sakiti." Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Su Yan mengisyaratkan salah satu anggota rombongan untuk memeriksa semak-semak itu.
Yang mereka temukan bukan senjata tersembunyi, bukan jebakan kedua.
Lima anak-anak, paling tua mungkin sepuluh tahun, bersembunyi di balik semak yang membeku, wajah mereka pucat karena dingin dan lapar, memeluk satu sama lain dalam diam yang terlalu terlatih untuk usia mereka.
---
"Desa kami dihancurkan tiga bulan lalu," pria itu—namanya, seperti akan mereka ketahui kemudian, adalah Han Lei—berkata, masih berlutut, suaranya bergetar bukan karena takut mati, tapi karena kelelahan yang sudah terlalu lama dipendam. "Bukan bandit dari luar. Pejabat daerah menaikkan pajak tiga kali lipat musim ini, dengan alasan 'pemeliharaan jalur dagang.' Yang tidak bisa membayar diusir dari tanah mereka sendiri. Yang melawan..." Ia tidak melanjutkan. Tidak perlu.
"Kami tidak ingin merampok," ia melanjutkan. "Kami hanya butuh cukup makanan untuk bertahan sampai musim semi. Aku sudah kehilangan istriku musim dingin lalu karena kelaparan. Aku tidak akan kehilangan anak-anak ini juga."
Chen Bo mendengus, tidak terkesan. "Oh cerita yang sengat menyentuh. Tapi hukum yang tertera di sekte jelas: bagi perampok yang menyerang jalur dagang yang dilindungi sekte harus diserahkan untuk diadili. Kau tahu hukumannya."
"Chen Bo benar secara teknis," Su Yan berkata, wajahnya tegang, jelas terbelah antara protokol dan sesuatu yang lebih manusiawi. "Tapi—"
"Tidak ada 'tapi' dalam hukum," Chen Bo memotong. "Kalau kita mulai membuat pengecualian setiap kali ada cerita menyedihkan, tidak akan ada lagi artinya hukum itu sendiri."
---
Fang Ye berdiri diam, menatap Han Lei, menatap anak-anak yang masih gemetar di balik semak, lalu menatap gerobak-gerobak gandum yang seharusnya sampai ke Desa Qingshan.
Kalimat di gerbang sekte muncul di kepalanya, seperti selalu terjadi setiap kali ia menghadapi situasi seperti ini.
Tapi untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak memberinya jawaban yang jelas. Karena benar dan salah, di sini, di hadapannya, tidak berdiri di dua sisi yang berlawanan dengan rapi. Hukum sekte benar bahwa jalur dagang harus dilindungi. Han Lei benar bahwa ia hanya berusaha melindungi anak-anak yang tidak bersalah. Chen Bo benar bahwa pengecualian bisa menghancurkan makna hukum itu sendiri.
Dan tak satu pun dari kebenaran itu membuat lima anak-anak itu berhenti gemetar kedinginan.
"Su Yan-jie," Fang Ye akhirnya berkata, suaranya tenang tapi tegas, "kau yang memimpin misi ini. Keputusan ada di tanganmu. Tapi izinkan aku mengatakan satu hal sebelum kau memutuskan."
Su Yan mengangguk, mengisyaratkannya untuk melanjutkan.
"Hukum sekte melindungi jalur dagang karena jalur dagang memberi makan desa-desa yang bergantung padanya," Fang Ye berkata. "Tujuan hukum itu adalah melindungi kehidupan, bukan menghukum kelaparan. Kalau kita menyerahkan mereka untuk dieksekusi sesuai hukum yang tertera, kita menegakkan aturan sambil mengkhianati alasan aturan itu ada."
"Jadi apa usulmu?" Su Yan bertanya. "Membiarkan mereka pergi begitu saja? Itu juga pelanggaran protokol."
"Tidak membiarkan mereka pergi," Fang Ye berkata. "Membawa mereka ke Qingshan bersama kita. Biarkan mereka memutuskan apakah mereka butuh tangan tambahan untuk bekerja musim semi nanti, dengan imbalan makanan dan tempat tinggal. Laporkan pada Elder Wei bahwa 'perampok' yang kita hadapi adalah pengungsi korban ketidakadilan pajak, dan minta sekte menyelidiki pejabat yang bertanggung jawab—bukan hanya menghukum korbannya."
---
Chen Bo tertawa pendek, tidak percaya. "Kau benar-benar berpikir Elder Wei akan menerima laporan seperti itu?"
"Aku tidak tahu," Fang Ye mengakui. "Tapi aku tahu aku tidak bisa hidup dengan diriku sendiri kalau aku menyerahkan lima anak kelaparan untuk dieksekusi hanya karena itu lebih mudah daripada menjelaskan situasi yang rumit."
Su Yan menatap Fang Ye lama, lalu menatap Han Lei dan anak-anak di belakangnya, lalu akhirnya menghela napas panjang—napas yang terdengar seperti seseorang yang baru saja memutuskan untuk mempertaruhkan sesuatu yang lebih besar daripada yang seharusnya ia pertaruhkan hari ini.
"Kita bawa mereka ke Qingshan," ia memutuskan. "Aku yang akan menjelaskan pada Elder Wei. Tanggung jawab ada di tanganku."
"Kau membuat kesalahan," Chen Bo mendesis.
"Mungkin," Su Yan menjawab. "Tapi aku lebih memilih kesalahan yang bisa kupertanggungjawabkan dengan nurani yang utuh."
---
Chen Bo tidak berbicara lagi sepanjang sisa perjalanan, tapi Fang Ye melihat caranya menatap—menghitung, mengingat, menyimpan sesuatu untuk digunakan nanti, entah dalam laporan pada ayahnya, entah dalam cara lain yang belum Fang Ye pahami.
Malam itu, setelah rombongan berkemah di tepi hutan, Fang Ye duduk sendirian di dekat api unggun kecil, menatap pedangnya yang tersandar di sampingnya.
Ia mengingat kembali kalimat yang selalu ia percaya sejak kecil, dan menyadari, untuk pertama kalinya dengan kejelasan yang tidak bisa lagi ia abaikan, bahwa kalimat itu tidak salah—hanya tidak cukup.
Pedang membedakan benar dan salah.
Tapi dunia, ia mulai sadar, jarang membedakan keduanya sejelas itu untuknya.
Di kejauhan, dalam kegelapan hutan, ia mendengar tawa kecil anak-anak yang untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan merasa cukup aman untuk tertawa, meski hanya sebentar, meski hanya karena kelelahan yang akhirnya menemukan jeda.
Fang Ye tersenyum tipis mendengar itu, dan untuk malam ini, ia memutuskan itu sudah cukup menjadi alasan bahwa keputusannya hari ini benar—terlepas dari apa pun yang akan dikatakan Elder Wei, terlepas dari apa pun yang akan dilaporkan Chen Bo pada ayahnya di rumah.