Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reaksi yang tak terduga
Malam itu, Baska datang menemui Zia di sebuah kedai kopi dekat rumahnya, memenuhi permintaan gadis tersebut untuk bertemu setelah menerima pesan yang terdengar cukup mendesak. Sepanjang perjalanan menuju lokasi tersebut, berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya, mempertanyakan apa gerangan yang membuat Zia terdengar begitu serius melalui pesan singkatnya tersebut.
"Zia, ada apa? Kamu kedengeran serius banget tadi," tanya Baska begitu duduk di hadapan Zia yang sudah menunggu dengan wajah yang masih menunjukkan sedikit kegelisahan.
Zia menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kejadian yang baru saja dia alami tersebut. "Mas, tadi siang Ali dateng ke Sport Padel. Dia booking lapangan buat main sore ini."
Mendengar kabar tersebut, ekspresi wajah Baska langsung berubah, campuran antara keterkejutan dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keterkejutan biasa. "Beneran? Terus, kalian ngomong apa aja?"
"Dia cuma minta maaf soal yang dulu, terus nanya apa boleh ngobrol sama aku. Tapi aku bilang aku udah punya pacar, jadi aku nggak mau bikin salah paham," jelas Zia dengan hati-hati, mencoba menjelaskan seluruh detail kejadian tersebut secara transparan kepada Baska.
Baska terdiam cukup lama, mencerna informasi tersebut dengan berbagai perasaan yang mulai bergejolak dalam dirinya. "Terus, gimana perasaan kamu waktu ketemu dia lagi?"
Pertanyaan tersebut membuat Zia sedikit terkejut, tidak menyangka Baska akan langsung menanyakan hal sepersonal itu. "Aku kaget banget, Mas. Tapi aku nggak punya perasaan apa-apa lagi ke dia, sumpah."
"Kamu yakin?" tanya Baska lagi, nada suaranya mulai menunjukkan sedikit keraguan yang tidak bisa sepenuhnya dia sembunyikan, sebuah keraguan yang lahir dari ketidakamanan yang baru pertama kali dia rasakan sejak menjalin hubungan dengan Zia tersebut.
"Mas, kenapa kamu jadi kayak nggak percaya gitu sama aku?" tanya Zia dengan nada sedikit terluka, merasakan ketidaknyamanan mendengar keraguan yang tersirat dari pertanyaan Baska tersebut.
Baska menghela napas panjang, menyadari bahwa reaksinya mungkin terlalu berlebihan, namun tetap tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan kekhawatiran yang mulai menggerogoti pikirannya tersebut. "Bukan gitu, Zia. Aku cuma... aku takut aja, kalau ternyata kamu masih punya perasaan yang belum sepenuhnya hilang buat dia."
"Mas, aku udah bilang berkali-kali, aku cuma sayang sama kamu sekarang. Kenapa susah banget sih dipercaya?" jawab Zia dengan nada yang mulai sedikit emosional, merasa frustrasi dengan situasi yang tiba-tiba menjadi begitu rumit tersebut.
Percakapan tersebut, yang awalnya dimaksudkan untuk menjaga keterbukaan dan kejujuran dalam hubungan mereka, justru berkembang menjadi perdebatan kecil yang penuh ketegangan, sebuah situasi yang belum pernah mereka alami sebelumnya sepanjang perjalanan hubungan mereka yang selama ini berjalan begitu harmonis. Baska, yang menyadari suasana mulai memanas, mencoba menenangkan diri dan mengambil pendekatan yang lebih bijaksana.
"Maaf, Zia. Aku nggak bermaksud nggak percaya sama kamu. Cuma ini emang situasi baru buat aku, jadi aku masih belajar gimana caranya nyikapin dengan tenang," ujar Baska dengan nada yang lebih lembut, mencoba memperbaiki suasana yang sempat memanas tersebut.
Zia, yang juga menyadari bahwa emosinya sempat sedikit terbawa suasana, ikut melunak mendengar permintaan maaf tersebut. "Aku ngerti kok, Mas. Ini juga baru buat aku. Tapi tolong percaya sama aku ya, aku nggak akan pernah ngkhianatin kamu."
Malam itu, meski berhasil mencapai sedikit pemahaman bersama, kekhawatiran yang tersisa di hati Baska tidak sepenuhnya hilang, sebuah benih ketidakamanan yang, jika tidak ditangani dengan baik, berpotensi tumbuh menjadi masalah yang jauh lebih besar bagi hubungan mereka di masa depan, terutama mengingat kemungkinan besar bahwa Ali akan terus muncul dalam kehidupan mereka mengingat statusnya sebagai pelanggan baru di tempat kerja Zia tersebut.
Sebelum berpisah malam itu, Baska mengantar Zia pulang seperti biasa, namun suasana di antara mereka terasa sedikit berbeda dari biasanya, sebuah kecanggungan tipis yang belum pernah mereka rasakan sepanjang perjalanan hubungan mereka. "Zia, maaf ya soal tadi. Aku janji bakal coba lebih percaya dan nggak overthinking lagi," ujar Baska sebelum Zia turun dari motornya.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku juga ngerti kok perasaan kamu. Yang penting kita komunikasiin terus ya, jangan sampai ada yang dipendem," jawab Zia dengan senyum tipis, mencoba meyakinkan bahwa hubungan mereka masih baik-baik saja meski baru saja melewati ujian kecil tersebut.
Baska mengangguk, mengecup pelan kening Zia sebagai tanda perdamaian sebelum akhirnya berpamitan pulang. Namun sepanjang perjalanan menuju rumahnya sendiri, pikirannya masih dipenuhi berbagai bayangan mengenai sosok Ali yang kini telah kembali hadir dalam kehidupan kekasihnya tersebut, sebuah kekhawatiran yang, meski dia coba tekan sekuat tenaga, terus menghantui benaknya hingga larut malam itu.