Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.
Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!
"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"
Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 18: Damai yang Kembali dan Janji di Bawah Langit
Hari-hari setelah kemenangan itu terasa seperti mimpi yang indah. Kabar tentang pengkhianatan Paman Gerald dan bagaimana kami berhasil menyelamatkan perusahaan menyebar luas, namun tidak ada lagi rasa cemas atau takut di antara kami—yang ada justru rasa syukur dan kedamaian yang mendalam. Sekolah kembali berjalan seperti biasa, namun ada sesuatu yang berbeda di udara: beban berat yang selama ini kupikul di pundakku akhirnya hilang sepenuhnya. Aku tidak lagi hidup dalam ketakutan akan akhir cerita yang tragis, karena aku sadar—aku sudah mengubah takdir itu sendiri.
Pagi itu, langit biru bersih tanpa satu pun awan. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga melati yang tumbuh di taman sekolah. Saat bel istirahat berbunyi, Ethan menungguku di bangku kayu favorit kami, membawa dua gelas teh susu hangat yang ia beli sendiri di kantin. Begitu melihatku, ia tersenyum—senyum yang selalu mampu membuat jantungku berdegup kencang.
"Kau terlambat tiga menit," katanya lembut, namun nada bicaranya penuh kasih sayang, bukan teguran. "Aku mulai berpikir kau mungkin kabur meninggalkanku."
"Ke mana aku bisa pergi kalau sudah ada yang menungguku setiap hari?" jawabku sambil duduk di sebelahnya, menerima gelas teh susu yang terasa hangat di tanganku. "Lagipula tadi aku menemui Elena sebentar. Dia sedang menyusun laporan untuk OSIS."
Ethan menatapku lekat-lekat, matanya memancarkan kehangatan yang tak pernah pudar. "Kau tahu, Lily? Saat semua hal buruk terjadi minggu lalu, saat perusahaan keluargamu terancam… aku sadar satu hal. Aku tidak sanggup kehilanganmu. Bukan hanya sebagai teman, tapi sebagai separuh dari hidupku."
Wajahku memerah perlahan, dan aku menunduk malu, namun tanganku perlahan meraih tangannya di atas meja kayu. "Aku juga takut, Ethan. Takut semuanya hancur sebelum kita sempat bahagia. Tapi saat kau dan Mark berdiri di sisiku… aku tahu aku tidak sendirian. Dan itu membuatku merasa bisa menghadapi apa pun."
"Kau tidak akan pernah sendirian lagi," ucapnya tegas, lalu ia mengangkat tanganku dan mengecup punggung tanganku dengan lembut dan penuh hormat. "Aku berjanji. Apa pun yang terjadi di masa depan, aku akan selalu ada di sebelahmu. Melalui hujan maupun cerah, melalui bahaya maupun kedamaian. Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu lagi."
Janji itu terdengar begitu sederhana, namun di telingaku, itu adalah janji terindah yang pernah ku dengar. Di bawah langit yang cerah itu, di tempat di mana kami pertama kali berbagi kue dan percakapan, aku merasakan kebahagiaan yang utuh.
Sore harinya, Mark dan Elena bergabung dengan kami untuk berjalan-jalan di taman kota. Angin sore berhembus sejuk, dan kami berempat berjalan berdampingan, tertawa dan bercerita tanpa beban. Mark terlihat jauh lebih tenang dan bahagia dari sebelumnya. Ia tidak lagi terlihat seperti seseorang yang kehilangan sesuatu—melainkan seseorang yang menemukan kedamaian dalam hatinya sendiri.
"Kau tahu," ucap Mark tiba-tiba saat kami duduk di rumput hijau di bawah pohon besar, "sejak kejadian itu, aku sadar bahwa takdir itu memang sudah tertulis. Bukan untuk membatasi kita, tapi untuk menuntun kita ke tempat yang seharusnya kita tuju. Dan bagiku, tempat itu ada di sini—bersama kalian, sebagai teman terbaik kalian."
Elena tersenyum di sampingnya, lalu menatapku dengan mata berbinar. "Dan siapa tahu, mungkin suatu hari nanti ada orang yang ditakdirkan untuk Mark juga. Sama seperti Ethan untukmu."
Malam itu, saat pulang ke rumah, aku berdiri di depan jendela kamarku, menatap bulan purnama yang bersinar terang di langit gelap. Aku teringat hari-hari pertama saat aku masuk ke dunia ini—ketakutan, kebingungan, dan rasa asing yang menyelimuti hatiku. Namun sekarang, semuanya berbeda. Aku punya keluarga yang menyayangiku, teman-teman yang setia, dan seseorang yang mencintaiku dengan tulus. Aku bukan lagi sekadar pembaca yang tahu akhir cerita. Aku adalah penulisnya sekarang. Dan aku akan menulis cerita yang penuh kebahagiaan, kebaikan, dan cinta.