`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16_Pengagum dari Australia
...BAB 16_Pengagum dari Australia...
Lea memoleskan lip balm tipis di bibirnya seraya menatap pantulan dirinya di cermin toilet wanita. Senyum tipis mengulas di sudut bibirnya yang merah alami. `Liam` berhasil dijinakkan dengan sempurna dari jarak jauh hanya dengan beberapa kalimat manipulatif nan manis, sementara `Teo` di luar sana baru saja membuat seluruh sekolah gempar karena pasrah pasang badan membela 'Alia' di hadapan `Sheila` dan geng perundungnya.
Semuanya berjalan persis di atas papan catur yang ia rancang. Pria-pria kaya itu berpikir mereka sedang melindungi seorang gadis polos yang membutuhkan bantuan, padahal kenyataannya dialah sang ratu yang mengendalikan setiap bidak tanpa pernah tersentuh.
Lea merapikan sedikit kerah blazer seragam Ozawa School yang melekat di tubuhnya, memastikan penampilannya tampak sempurna sebelum melangkah keluar dari toilet wanita. Koridor lantai dua terasa agak lengang karena sebagian besar murid sudah masuk ke kelas masing-masing, takut berurusan dengan suasana hati Teo Ozawa yang sedang amat buruk setelah insiden tamparan tadi.
Namun, begitu Lea mengayunkan langkahnya keluar dari toilet, pergerakannya mendadak terhenti. Ponsel berenkripsi khusus yang tersembunyi di saku dalam blazer seragamnya bergetar halus secara berulang.
Lea mengeluarkannya dengan tenang. Sebuah nama yang sangat familiar—dan sudah pasti sedang berada dalam tingkat kepanikan tinggi—berkedip-kedip terang di layar sentuh ponselnya: `Ethan`.
Di saat yang bersamaan, sosok tinggi tegap Teo Ozawa yang berdiri bersandar di dinding koridor sepi tak jauh dari pintu toilet mendadak menegakkan tubuhnya. Pria itu menyilangkan tangan di dada, wajah tampannya terlihat begitu kaku dengan rahang yang mengeras rapat. Mata tajam Teo langsung mengunci pergerakan Lea—dan secara tak sengaja, pandangannya merosot turun melirik perangkat pintar yang sedang dipegang oleh jemari lentik gadis itu.
Teo menyipitkan matanya rapat-rapat, mengamati detail fisik ponsel tersebut dari jarak beberapa meter.
`Ponsel keluaran terbaru dengan edisi khusus titanium yang harganya mencapai ratusan juta rupiah?` batin Teo heran seraya merasakan hawa dingin merambat di tengkuknya. `Alia kan cuma murid beasiswa miskin yang rumahnya saja di kontrakan kumuh Palmerah! Dari mana gadis miskin seperti dia bisa punya uang buat beli ponsel super mewah seperti itu?! Jangan-jangan... rumor yang dibicarakan Sheila dan anak-anak lain itu benar? Dia benar-benar menjual tubuhnya pada pria-pria kaya demi uang?! Kemarin pria bernama Julian yang ngirim Alphard... sekarang siapa lagi ini?!`
Urat-urat halus di leher Teo mengencang hebat saat matanya yang jeli menangkap sekilas nama `Ethan` yang tertera jelas di layar ponsel mahal milik Lea sebelum gadis itu menggeser tombol hijau.
Rasa cemburu gila, amarah yang menumpuk, dan gengsi tinggi mendadak bergejolak hebat di dalam dada sang tiran sekolah. Teo mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih.
Lea yang sangat sadar bahwa Teo sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya dari samping hanya menyunggingkan senyum licik yang amat tersembunyi. Tanpa rasa ragu atau canggung sedikit pun, Lea mengangkat telepon itu dan menempelkannya tepat di telinga kanannya.
`"Ethan,"` sapa Lea.
Di ujung telepon jauh di Melbourne, suara khas Ethan—putra tunggal konglomerat perhiasan dan armada transportasi ternama di Australia—yang biasanya terdengar kasual, santai, dan dominan, kini meledak penuh kepanikan bercampur rasa lega yang luar biasa.
`"Astaga, sayang! Kamu ke mana saja?! Kenapa nomor kamu sulit sekali dihubungi?!"` cecar Ethan dengan nada suara bergetar dan napas terengah-engah dari seberang benua. `"Aku datang ke sekolahmu di Melbourne tapi kata pihak sekolah kamu sudah tidak masuk selama lima hari! Aku datang ke apartemenmu juga kamu tidak ada! Bahkan penjaga bangunan bilang kamu tidak pulang-pulang! Sebenarnya kamu di mana?! Kamu benar-benar membuat aku gila karena mengkhawatirkan keselamatanmu, Lea!"`
Teo yang berdiri hanya berjarak dua langkah dari Lea mematung kaku. Rahangnya mengeras begitu rapat hingga giginya bergemelutuk.
`Kontras nada bicara Lea benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dalam hitungan detik!` Saat bicara atau memerintah Teo, nada suara gadis itu selalu sangat dingin, kejam, penuh sarkasme, dan sarat akan dominasi mutlak yang membuat Teo tak berdaya. Namun, begitu menjawab panggilan dari pria bernama Ethan ini, nada suara Lea mendadak berubah menjadi sangat lembut, hangat, manis, dan begitu memikat.
`Kenapa nada bicaranya beda sekali?! Kenapa saat bicara sama pria itu dia bisa bersuara selembut dan semanis itu, sementara padaku dia selalu menatapku seolah aku ini cuma sampah?!` batin Teo membakar dirinya sendiri oleh gelombang cemburu gila yang sangat tidak rasional.
Lea mengumbar senyum tipis yang amat menawan, merendahkan intonasi suaranya dengan nada paling menenangkan untuk memanjakan telinga Ethan yang sedang dilanda ketakutan di Australia.
`"Sayang, maaf,"` bisik Lea penuh kehangatan yang diproduksi secara sempurna, menyembunyikan kenyataan bahwa ia kini sedang berada di Indonesia menjalankan peran ganda sebagai Alia. `"Aku tidak bisa cerita banyak sekarang karena ada urusan mendadak yang harus kuselesaikan, tapi aku baik-baik saja kok. Kamu tidak perlu khawatir berlebihan ya... Nanti malam aku telepon kamu lagi."`
`"Tapi Lea, kamu ada di mana sekarang? Boleh aku suruh jet pribadi perusahaanku untuk—"`
`"Nanti malam ya, Ethan sayang,"` potong Lea halus namun tegas, memberikan kepastian yang manis sebelum pria itu bertindak makin jauh. `"Aku tutup dulu ya. I love you."`
`Tut.`
Sambungan telepon internasional itu terputus seketika. Lea mematikan layar ponsel mewahnya, lalu menyimpannya kembali ke dalam saku blazer seragamnya dengan gerakan yang amat anggun dan tenang.
Atmosfer di koridor sepi SMA elit Ozawa School itu mendadak berubah menjadi amat hening, pekat, dan membeku menekan. Bahkan udara di sekitar mereka seolah menyusut tajam akibat aura membunuh yang terpancar dari tubuh Teo.
Teo melangkah maju dengan cepat, memotong jarak di antara mereka hingga posisi tubuhnya yang tinggi tegap mendesak Lea. Jarak mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja, sampai-sampai hembusan napas Teo yang memburu terasa mengenai dahi Lea. Wajah tampan tiran sekolah itu memerah padam, matanya menyala membara oleh perpaduan amarah, rasa kecewa, kekalahan ego, dan cemburu gila yang tak tertahankan.
Tangannya yang mengepal kaku tampak gemetar di udara, menahan dorongan emosi gila yang hampir meluap keluar dari batas kendalinya.
`"Siapa lagi Ethan, Alia?!"` desis Teo dengan suara berat dan parau yang bergetar hebat di udara koridor. `"Kemarin Julian yang ngirim mobil Alphard ke sekolah... sekarang pria bernama Ethan yang manggil kamu 'sayang' di telepon?! Apa kamu benar-benar menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang?!"`
Lea tidak menunjukkan rasa takut atau gugup sedikit pun menghadapi intimidasi fisik dari sang tiran. Ia justru mendongak secara perlahan, menatap lurus ke dalam iris mata Teo yang bergejolak hebat dengan pandangan tenang, jernih, dan penuh superioritas.
Sudut bibir Lea terangkat sedikit, menyunggingkan senyum tipis paling memikat sekaligus mengejek tepat di depan wajah Teo.
`"Sejak kapan kamu peduli halal dan haram, Teo?"` bisik Lea dengan intonasi suara yang begitu tenang namun menancap sangat dalam dan tajam seperti sembilu di ulu hati Teo. `"Lagi pula ini bukan urusanmu. Kamu hanya pelayanku, bukan pacarku."`
`Degh!`
Perkataan tajam nan dingin itu menghantam dada Teo seperti pukulan godam yang telak. Teo membeku seketika di tempatnya. Hatinya yang arogan mendadak berdenyut nyeri secara asing, sementara tenggorokannya terasa tersumbat kaku.
Kata 'pelayan' yang diucapkan Lea secara gamblang di depan wajahnya menyadarkan Teo secara brutal dan menyakitkan. Tidak peduli seberapa kaya keluarganya, tidak peduli seberapa berkuasanya dia di sekolah elit ini, di hadapan gadis ini statusnya tidak lebih dari seorang suruhan yang kalah taruhan. Ia sama sekali tidak punya hak hukum, hak emosional, maupun hak moral untuk cemburu, melarang, apalagi mengatur hidup Alia.
`Teeet!`
Bel keras tanda mulainya jam pelajaran pertama bergema nyaring menembus kesunyian koridor sekolah, memecahkan ketegangan tak kasat mata yang membungkus mereka berdua.
Lea membalikkan badannya dengan sangat anggun, membelakangi Teo yang masih berdiri mematung menahan syok dan gelombang emosi asing yang menghancurkan seluruh dinding egonya dari dalam. Rambut panjang Lea mengibas pelan, meninggalkan aroma wangi mewahnya yang tertinggal di udara.
`"Ayo cepat bawakan tasku ke kelas,"` perintah Lea santai tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun. `"Bel masuk sudah berbunyi, Tuan Pelayan."`