Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Hari-hari berlalu dan rumah besar Wijaya semakin terasa seperti medan perang. Ancaman demi ancaman datang silih berganti, membuat semua orang tegang dan waspada. Namun di tengah semua kekacauan itu, perubahan paling drastis terjadi pada Adeline. Gadis kecil yang dulunya selalu tersenyum dan penuh tawa, kini menjadi pendiam dan murung.

Elena mulai memperhatikan perubahan pada putrinya. Adeline tidak lagi berlari di halaman belakang atau menggambar dengan semangat seperti dulu. Dia lebih sering duduk diam di sudut ruangan, memeluk boneka beruangnya dengan tatapan kosong. Senyum manis yang biasanya menghiasi wajahnya, kini hampir tidak pernah terlihat.

"Sayang, ada apa?" tanya Elena suatu sore ketika menemukan Adeline duduk sendirian di kamarnya. "Ibu melihat kamu tidak seperti biasanya akhir-akhir ini. Apakah ada sesuatu yang membuatmu sedih?"

Adeline menatap ibunya dengan mata lelah. "Aku capek, Bu. Aku mendengar terlalu banyak. Semua orang di rumah ini takut dan marah. Suara hati mereka begitu keras sehingga aku tidak bisa beristirahat. Aku mendengar kebencian yang mereka sembunyikan, ketakutan yang mereka tidak mau tunjukkan. Semua itu memenuhi kepalaku setiap saat."

Elena memeluk putrinya erat. "Ibu mengerti, Sayang. Tapi kamu juga harus ingat bahwa kamu masih anak kecil. Kamu berhak merasa bahagia dan bermain seperti anak-anak lainnya. Kamu tidak harus terus menerus mendengar semua kesedihan orang lain."

Adeline menggeleng pelan. "Tapi jika aku berhenti mendengar, siapa yang akan melindungi keluarga kita? Siapa yang akan tahu kalau ada orang jahat yang ingin menyakiti Ayah?"

Elena merasakan dadanya sesak mendengar kata-kata putrinya. Adeline telah memikul beban yang terlalu berat untuk anak seusianya. Dia telah mengorbankan masa kecilnya demi melindungi keluarganya.

Malam itu, Elena memanggil Clara untuk datang ke rumah. Psikolog anak itu tiba dengan senyum ramah dan membawa beberapa buku bergambar yang bisa menghibur Adeline. Clara duduk di samping Adeline di kamar gadis kecil itu dan berbicara dengan suara lembut.

"Adeline, aku dengar kamu merasa lelah akhir-akhir ini," kata Clara. "Bisakah kamu ceritakan apa yang kamu rasakan?"

Adeline menundukkan kepalanya. "Aku mendengar suara-suara jahat setiap hari, Bu Clara. Aku mendengar orang-orang takut dan marah. Aku mendengar kebencian yang mereka sembunyikan. Dan semua itu membuatku sedih. Aku tidak bisa berhenti mendengar, tapi aku juga tidak mau mendengar semuanya."

Clara mengangguk dengan pengertian. "Kamu tahu, Adeline, kemampuanmu adalah anugerah. Tapi seperti semua anugerah, ia perlu digunakan dengan bijak. Kamu tidak harus mendengar semuanya setiap saat. Kamu boleh memilih untuk tidak mendengarkan beberapa suara yang terlalu berat untukmu."

"Apa aku bisa melakukan itu?" tanya Adeline dengan mata penuh harap.

Clara tersenyum. "Tentu saja. Ingat teknik yang sudah aku ajarkan padamu? Kamu bisa membayangkan tembok di sekitarmu untuk memblokir suara-suara yang terlalu keras. Kamu juga bisa memilih untuk hanya mendengarkan suara-suara yang penting. Dan yang terpenting, kamu harus ingat bahwa kamu berhak merasa bahagia. Kamu tidak harus menanggung semua kesedihan orang lain."

Adeline mendengarkan dengan saksama. Untuk pertama kalinya, dia merasa ada harapan. "Jadi aku tidak harus selalu sedih?"

Clara menggeleng. "Kamu tidak harus selalu sedih, Adeline. Kamu boleh tertawa, kamu boleh bermain, kamu boleh merasa bahagia. Itu adalah hakmu sebagai anak kecil. Dan percayalah, keluargamu juga ingin melihatmu bahagia. Mereka tidak ingin kamu terus menderita demi mereka."

Adeline memikirkan kata-kata Clara. Dia ingat bagaimana ayahnya selalu tersenyum padanya, bagaimana ibunya selalu memeluknya, bagaimana kakeknya selalu melindunginya. Mereka semua menginginkan kebahagiaannya. Dan dia telah mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi melindungi mereka.

"Aku akan mencoba, Bu Clara," kata Adeline pelan. "Aku akan mencoba untuk bahagia lagi."

Clara memeluk gadis kecil itu dengan hangat. "Itu sudah cukup, Adeline. Itu sudah sangat berani."

Malam itu, ketika semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga, Adeline duduk di pangkuan ayahnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, senyum kecil mulai muncul di wajahnya.

"Ayah," kata Adeline pelan. "Adeline minta maaf karena membuat Ayah khawatir. Adeline akan mencoba untuk bahagia lagi."

Adrian memeluk putrinya erat, air mata mengalir di pipinya. "Kamu tidak perlu minta maaf, Sayang. Ayah hanya ingin kamu bahagia. Ayah tidak mau kamu terus menderita karena kemampuanmu."

Elena dan Nathan juga mendekati mereka, bergabung dalam pelukan keluarga yang hangat. William tersenyum dari kursinya, melihat cucunya yang mulai menunjukkan tanda-tanda keceriaan lagi.

Malam itu, ketika Adeline berbaring di tempat tidurnya, dia mencoba teknik yang diajarkan Clara. Dia membayangkan sebuah tembok di sekitarnya, melindunginya dari suara-suara yang terlalu keras. Dia membayangkan dirinya berada di taman yang indah, dikelilingi oleh bunga-bunga dan kupu-kupu. Dan perlahan, suara-suara jahat di kepalanya mulai mereda.

Adeline tersenyum dalam gelap. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasakan kedamaian. Dia tahu bahwa kemampuan Heart Listening-nya akan selalu menjadi bagian dari dirinya. Tetapi dia juga tahu bahwa dia tidak harus membiarkannya menghancurkan kebahagiaannya.

"Aku akan baik-baik saja," bisik Adeline pada boneka beruangnya. "Aku akan terus melindungi keluargaku, tapi aku juga akan bahagia. Karena itulah yang mereka inginkan untukku."

Di luar jendela, bintang-bintang bersinar terang. Rumah besar Wijaya terasa sedikit lebih hangat. Dan di dalam kamarnya, seorang gadis kecil yang hampir kehilangan senyumnya, perlahan mulai menemukannya kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!