Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Pagi yang Gaduh
Matahari bahkan belum sepenuhnya meninggi, tetapi halaman rumah Diyah kembali kedatangan tamu. Arumi turun dari motor sambil membawa tas kecil di tangannya.
Pagi itu dia berniat untuk berpamitan pada putrinya sebelum kembali ke kota.
"Assalamu'alaikum," ucapnya sambil menyelonong masuk. Rumah ini, rumah yang masih sangat jelas tata letaknya diingatan Arumi.
Jaya yang sedang mengopi di ruang tamu segera menyambutnya.
"Wa'alaikumussalam."
"Diyah mana?" tanya Arumi sambil celingukan.
"Masih istirahat," jawab Jaya singkat.
"Bangunkan!" Arumi langsung memberi perintah, tapi Jaya justru menggelengkan kepala.
"Semalam Diyah capek sekali. Biar dia istirahat dulu."
Bersamaan dengan itu Nuni juga keluar dari dapur untuk mengantar pisang goreng.
"Duduk dulu, Rum, sambil sarapan. Nanti sebentar lagi juga Diyah bangun," kata wanita paruh baya itu dengan ramah. Namun, Arumi tak menggubris, karena dia enggan berlama-lama di rumah ini.
"Aku cuma sebentar!" Tatapannya kini memandang lurus pada Jaya. Dan pria itu hanya diam, sambil duduk kembali seolah tak menganggap kehadiran mantan istrinya.
Sontak Arumi mulai kesal.
"Aku ini ibunya, apa sekarang aku harus minta izin dulu kalau mau bertemu anakku sendiri?"
Jaya menarik napas panjang. Dari dulu meladeni Arumi benar-benar menguras energi.
"Bukan begitu maksudku."
"Terus apa?" Suara Arumi meninggi, membuat Nuni ketar-ketir dan Jaya segera menyuruhnya pergi. "Kamu melarang aku bertemu Diyah?"
"Kamu harusnya ngerti Diyah itu kecapekan."
"Jangan mengajari aku soal anak!"
Perdebatan mereka semakin keras dan memanas. Bahkan suara-suara itu terdengar hingga ke dalam kamar, dan membuat Diyah yang masih tertidur perlahan membuka mata.
"Suara siapa itu?" gumamnya dengan parau.
Dia segera bangkit dari ranjang, dan begitu melihat ibunya berdiri di ruang tamu, Diyah sedikit terkejut.
"Ibu?"
Arumi langsung menoleh.
"Diyah."
Jaya menghembuskan napas kasar dan memilih untuk menyingkir. Suasana pun menjadi sedikit lebih tenang. Diyah menghampiri dan menyalami ibunya.
"Ibu sudah mau pulang?" tanyanya sambil mengucek mata.
"Iya, Ibu udah janjian sama travel katanya nanti sore dijemput."
"Ya sudah nanti hati-hati di jalan ya, Bu."
Arumi mengangguk pelan, lalu kembali bicara. "Oh iya, Diyah. Kamu ada oleh-oleh nggak buat Ibu?"
Diyah berkedip bingung.
"Oleh-oleh?"
"Iya, untuk dibawa ke kota. Boleh makanan, atau buah, atau apa saja deh," papar Arumi tanpa rasa canggung, bahkan matanya menelisik sebagian bingkisan hantaran yang ditaruh di ruang tamu. "Pasti adikmu senang." Lanjutnya.
Diyah memaksakan senyum.
"Baik, Bu, nanti biar aku bungkuskan."
Arumi menatap pintu yang masuk ke dapur, memastikan Jaya maupun Nuni tidak keluar.
"Kalau ada rezeki lebih, boleh juga sedikit uang pegangan. Ibu kan jauh," katanya dengan wajah memelas.
"Tapi bukannya kemarin aku—"
"Hanya cukup buat ongkos, Diyah, soalnya Damar minta uang ke Ibu, katanya sih dihitung hutang," potong Arumi sebelum Diyah selesai bicara.
Diyah menghela napas, bukan karena keberatan, tetapi dia merasa bahwa setiap pertemuan dengan ibunya selalu berakhir dengan permintaan.
"Ini buat Ibu."
Tiba-tiba seseorang dari balik tubuh Diyah memberikan beberapa lembar uang. Tentu saja hal tersebut membuat Diyah terkejut.
"Mas Biya?"
Arumi menerimanya sambil tersenyum lebar dan mata yang berbinar-binar.
"Wah terima kasih banyak, kamu memang mantu yang baik," pujinya. Biyakta ikut tersenyum, tapi tatapannya ke arah Diyah, seolah mengatakan bahwa dia tidak keberatan sama sekali melakukan itu semua.
"Kalau begitu Ibu pulang dulu ya. Kalian yang akur terus," lanjut Arumi, kemudian memeluk Diyah sebentar. "Kamu juga harus nurut sama suamimu ya, Diyah."
Diyah hanya mengangguk. Meski pelukan itu singkat, dia tetap membalasnya. Dalam hati dia masih berharap suatu hari nanti bisa merasakan kasih sayang ibunya tanpa syarat apa pun.
Setelah melepas kepergian Arumi, tiba-tiba Biyakta mematung di depan pintu, seperti seseorang yang sedang mendengarkan secara seksama.
"Kenapa, Mas?" tanya Diyah yang hendak masuk.
"Suara apa itu?"
Tit ... Tit ... Tit ....
Biyakta menatap pada meteran listrik yang berbunyi lengkap dengan lampu merah yang berkedip-kedip.
"Oh itu, pulsanya habis," jawab Diyah.
"Memangnya bisa habis?" tanya Biyakta dengan polos. Karena ini untuk pertama kalinya dia melihat pemandangan ajaib itu.
Diyah menahan senyum.
"Ya bisalah, Mas, nanti aku minta Bapak isi," jawab Diyah yang sudah berteman baik dengan bunyi-bunyi seperti itu.
"Tapi nggak meledak 'kan? Soalnya kayak bunyi bom, di rumah nggak pernah ada begini-begini," balas Biyakta yang membuat Diyah tak bisa lagi menahan tawa.
"Aduh, Mas, Mas, ada-ada aja," kekeh Diyah.
Melihat itu, Biyakta hanya mengernyitkan dahinya. Padahal dia sedang serius, tapi Diyah malah bercanda.
****
Di rumah besar Juragan Marta. Laksmi sedang duduk di meja makan bersama Januar yang sedang menyantap sarapannya. Sedangkan Juragan Marta sendiri masih betah di dalam kamar.
"Bagaimana pesta pernikahan Biyakta kemarin? Meriah sekali kan?" tanya Laksmi membuka obrolan.
"Yah, baguslah," jawab Januar sambil mengunyah. Karena tidak dipungkiri tamu undangan benar-benar meledak hari itu.
Laksmi tersenyum tipis.
"Terlalu bagus malah."
Mendengar itu, Januar pun mengernyit.
"Maksud Bude?"
"Kamu lihat sendiri, kan? Hampir seluruh desa datang, hantarannya mewah, mahar juga besar," papar Laksmi dengan ekspresi yang penuh dengan antusias.
Januar hanya mengangguk. Laksmi lalu menatap keponakannya lebih lekat. "Bude jadi penasaran."
"Penasaran apa?" tanya Januar, makin dibuat tak mengerti dengan teka-teki yang dimaksud budenya.
"Nanti kalau kamu menikah ...." Dia berhenti sejenak. Tatapannya berubah sedikit mengejek.
"..., apakah ayahmu akan mengadakan pesta semewah itu juga?"
Januar tertawa kecil. Baginya hal-hal seperti itu tidak terlalu penting. Mau meriah atau tidak, tujuannya sama, menikah secara sah agama dan negara.
"Lagi pula aku belum kepikiran menikah," cetus Januar.
"Tapi tetap saja, Janu, bukankah semua anak ingin diperlakukan sama?" ujar Laksmi.
Kalimat itu membuat Januar mulai berpikir. Dan Laksmi melanjutkan dengan suara yang pelan namun penuh dengan tekanan.
"Belum lagi soal warisan."
"Apa hubungannya?"
Kerutan di dahi Januar terlihat lebih jelas, dan dia tetap memilih untuk mendengarkan ocehan wanita itu.
"Biyakta itu anak sulung, sudah dipercaya mengurus usaha. Kalau semua harta nanti lebih banyak jatuh ke tangan Biyakta, kamu bagaimana?" jelas Laksmi, perlahan menyalakan api di antara dua saudara itu.
Januar langsung menggeleng.
"Mas Biyakta bukan orang seperti itu!"
"Kamu terlalu polos, Janu."
"Bude ...."
"Bude hanya mengingatkan."
Laksmi lantas berdiri. Dia sudah selesai dengan misinya. "Pikirkan saja sendiri."
Kemudian dia meninggalkan meja makan. Meninggalkan Januar yang tetap duduk diam.
Untuk pertama kalinya, benih keraguan mulai tumbuh di dalam pikirannya.
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh