Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 Pesan perpisahan
Clara tertegun. Matanya menatap lekat kertas kusam di tangannya, sebelum bergulir memandang garis rahang tegas Alexio yang berada begitu dekat. Dadanya bergemuruh hebat.
Fakta bahwa pria berkuasa ini benar-benar menyimpan pesan putus asanya di dalam dompet selama lima tahun terasa mustahil, namun nyata adanya.
Panik perlahan menyergap, membayangkan badai apa yang akan menghantam hidupnya setelah ini.
Belum sempat Clara merangkai kata untuk membalas, ponsel di dalam saku jas Alexio bergetar nyaring.
Pria itu menggeram pelan, rahangnya mengeras karena momen interogasinya terinterupsi. Namun, begitu melihat nama yang tertera di layar, Alexio segera menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.
"Ya, Mom!" ucap Alexio datar.
"Xio! Kamu di mana sekarang?!" suara Olivia terdengar menuntut dari seberang telepon.
"Cepat ke sini, Xio. Urusan sistem perusahaan sudah selesai, kan? Segera ke Rumah Sakit sekarang juga! Kakekmu ingin berbicara denganmu, jangan tunggu kakekmu murka!"
Tanpa memberikan Alexio kesempatan untuk menjawab, panggilan ditutup sepihak seperti biasa.
Alexio menghela napas panjang, memasukkan ponselnya kembali ke saku. Tatapan matanya perlahan bergulir menatap Clara yang masih pucat pasi, lalu beralih pada Ken dan Key yang sedang asyik membedah anatomi robot mainan di atas karpet.
Sebuah ide brilian, sekaligus mematikan, terlintas di kepalanya. Bukankah ini kebetulan yang terlalu sempurna? Ia tidak perlu lagi muak mendengar desakan keluarganya tentang pernikahan dan pewaris, sebab jawaban dari semua tuntutan itu kini ada di depan matanya. Darah dagingnya sendiri.
"Kakekku sedang di rawat di rumah sakit," ujar Alexio pelan, namun nadanya memancarkan otoritas tak terbantahkan.
"Kalian semua ikut denganku sekarang. Aku akan meresmikan kehadiranmu dan anak-anak kita di depan keluarga besarku."
"Apa?!" Clara refleks berdiri dari sofa, matanya membelalak horor. "Tidak! Aku tidak bisa ikut!"
Alexio menaikkan sebelah alisnya, aura intimidasinya menguar.
"Alasan?"
"Aku... aku belum siap!" Clara menggeleng cepat, napasnya mulai tak teratur.
"Ini terlalu gila, Tuan Alexio! Aku baru sepuluh menit yang lalu menyadari bahwa bos besar di kantor baruku adalah pria dari malam itu, dan sekarang kamu mau menyeretku ke hadapan keluarga konglomeratmu?! Aku butuh waktu untuk bernapas!"
"Ke fasilitas medis untuk menjenguk Kakek buyut?" celetuk Key tiba-tiba, meletakkan robotnya dan menatap Alexio dengan mata berbinar.
"Menurut literatur psikologi, kehadiran cicit bisa memicu lonjakan hormon endorfin pada pasien dan mempercepat regenerasi sel, lho! Key mau ikut Papa!"
"Ken juga setuju," sahut Ken tak kalah antusias, membenarkan letak kacamata kecilnya.
"Secara moral dan etika, menjenguk kerabat sedarah yang sedang sakit adalah kewajiban absolut. Ken dan Key siap mendampingi Papa!"
Clara menatap kedua anak jeniusnya dengan wajah memelas. "Ken, Key... jangan sekarang, ya? Situasinya sangat kompleks. Mama—"
"Biarkan anak-anak ikut denganku hari ini, Clara," potong Alexio lembut namun final.
Ia bangkit berdiri, menjulang tinggi di hadapan Clara. Alexio menatap mata panik wanita itu. Sebagai pemburu yang handal, ia tahu kapan harus menarik tali jerat dan kapan harus mengulurnya agar mangsanya tidak mati tercekik.
"Aku mengerti kau butuh waktu untuk memproses syok ini. Aku akan memberimu kelonggaran hari ini. Kau boleh pulang dan beristirahat," ucap Alexio seraya mengangkat tangannya, menyelipkan helaian rambut Clara ke belakang telinga wanita itu.
"Tapi biarkan Ken dan Key bersamaku malam ini."
Clara menelan ludah. Pergolakan batin di dadanya terasa menyiksa. Di satu sisi, ia ingin menyembunyikan anak-anaknya. Namun melihat binar bahagia di mata si kembar, yang selama ini begitu mendambakan sosok figur ayah sebagai pelindung. Membuat hati Clara luluh. Ia tak tega merampas kebahagiaan anak-anaknya.
"Baiklah..." bisik Clara dengan suara bergetar. Ia berjongkok, membenarkan kerah kemeja Ken dan mengusap pipi Key lembut. "Kalian ikut Papa hari ini. Tapi ingat, jaga tata krama dan jangan membedah peralatan medis di rumah sakit. Paham?"
"Dimengerti, Mama!" jawab si kembar kompak dengan pose hormat.
Alexio mengulas senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia mengulurkan tangannya, yang langsung digenggam erat oleh tangan-tangan mungil Ken dan Key.
Sebelum melangkah keluar ruang kerja, Alexio menoleh kembali pada Clara.
"Reno akan mengantarmu pulang dengan pengawalan penuh. Jangan berpikir untuk melarikan diri lagi, Clara Jasmine. Karena mulai detik ini, setiap sudut kotamu adalah wilayah kekuasaanku. Kita selesaikan urusan kita esok hari." bisik Alexio posesif, sebelum akhirnya membawa si kembar keluar dari ruangan.
****
****
Setengah jam kemudian, di dalam mobil mewah yang dikemudikan oleh anak buah Reno, Clara duduk di kursi belakang bersama Ketty. Begitu pintu mobil tertutup, pertahanan Clara hancur. Ia menutupi wajahnya dan meluapkan seluruh emosinya.
Ia menceritakan segalanya pada Ketty, mulai dari bukti surat yang disimpan Alexio, hingga keputusan pria itu membawa si kembar ke hadapan keluarga besar Van Der Berg.
"Aku bingung, Ket..." gumam Clara seraya menatap nanar jalanan kota Jakarta dari balik kaca jendela.
"Di satu sisi, beban di pundakku seolah terangkat. Alexio tidak mengusir kami. Dia bahkan langsung menerima Ken dan Key, tanpa menuntut tes DNA biometrik."
Ketty merangkul bahu sahabatnya erat-erat.
"Itu artinya insting keibuanku benar, Ra. Dia pria yang bertanggung jawab. Lagipula, melihat replika sepasang mata abu-abunya pada si kembar, orang buta pun tahu mereka anak kandungnya."
"Tapi aku sangat takut, Ketty..." Suara Clara pecah, air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh berderai.
"Bagaimana kalau keluarga besar konglomerat itu menolakku? Bagaimana kalau mereka memfitnahku sebagai pelacur murahan yang sengaja menjebak pewaris mereka demi menguras harta Van Der Berg?"
Clara meremas ujung kemejanya erat-erat hingga tangannya pucat.
"Dan yang paling membuatku gila... bagaimana kalau mereka menggunakan kekuasaan, uang, dan pengacara terhebat mereka untuk merebut hak asuh Ken dan Key dariku?! Membuang ibunya, dan mengambil anak-anaknya... itu hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang berkuasa, kan?"
"Ssst... tenang, Ra. Jangan memikirkan skenario terburuk dulu," sahut Ketty lembut, menenangkan meski raut wajahnya ikut menegang.
"Kita lihat bagaimana sikap Tuan Alexio nanti. Dia sangat protektif pada si kembar. Dia pasti akan melindungimu juga."
Meski Ketty berusaha menenangkan, pikiran Clara sudah telanjur diselimuti kabut paranoia. Sambil memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar, Clara membayangkan badai apa yang sedang terjadi di ruang perawatan VVIP rumah sakit saat ini, di mana dua malaikat kecilnya tengah dihadapkan pada dinasti keluarga Van Der Berg yang tak tersentuh.
Bersambung ...
asli part ini bacanya seru