Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Cemburu Yang Tak Beralasan
Berkas dokumen mendarat kencang di atas meja kayu mahoni, memutus hening di ruangan kerja CEO yang terasa makin menyempit.
Aku baru saja melangkah melewati pintu ganda ketika suara bantingan itu menggema. Napasku masih sedikit memburu akibat langkah setengah berlari dari kedai kopi di lantai bawah.
[Sisa Waktu Pencapaian Target: 00:02 Detik.]
Aku berhasil tiba di hadapan meja Sakti tepat waktu. Namun, ketepatan waktu itu tampaknya sama sekali tidak meredakan ketegangan yang mendidih di udara.
Sakti berdiri di balik mejanya. Ia telah melepas jas kerjanya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung kasar hingga sebatas siku. Urat-urat di lengannya menonjol, menandakan betapa kuat ia menahan emosi.
"Apakah makan siang Anda menyenangkan, Tera?" suara Sakti mengalun sangat rendah. Nada sarkasme yang pekat menetes dari setiap suku katanya.
Aku berdiri tegap dengan tangan bertaut di depan perut. "Hanya makan siang singkat selama dua belas menit, Pak. Saya langsung kembali ke meja saat Anda memanggil."
"Dua belas menit," ulang Sakti perlahan. Ia melangkah keluar dari balik mejanya, bergerak mendekatiku dengan postur mengancam layaknya predator yang sedang mengukur mangsanya.
"Dua belas menit adalah waktu yang lebih dari cukup bagi seorang kompetitor busuk untuk mencuri aset berharga dari perusahaan ini."
Aku mempertahankan kontak mataku dengannya. "Pak Hamdan kebetulan sedang berada di kedai yang sama. Itu hanya sapaan kebetulan. Tidak ada pembicaraan terkait aset atau data rahasia Vanguard Corp."
Sakti menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di depanku.
Tinggi tubuhnya membuatku harus mendongak. Matanya yang tajam di balik kacamata perak itu menatapku seolah ingin menguliti seluruh kebohonganku.
[Memindai Subjek Utama: Sakti.]
[Status Emosi: Agresif, Posesif, Gelisah.]
[Tingkat Kecemburuan Subjek: 78% dan Terus Meningkat.]
Rentetan teks hijau menyala di retinaku. Sistem A.U.R.A memberikan laporan emosional yang membuatku nyaris tidak bisa menahan reaksi wajahku.
Kecemburuan.
Pria sedingin es dan searogan Sakti sedang dilanda kecemburuan tingkat tinggi hanya karena aku meminum secangkir air es di meja yang sama dengan Hamdan.
Aku harus menggigit dinding bagian dalam pipiku kuat-kuat agar tidak mengukir senyum meremehkan di wajahku.
"Sapaan kebetulan?" Sakti mendengus sinis. "Seorang CEO Apex Dynamics tidak pernah melakukan apa pun secara kebetulan. Pria itu sudah mengincarmu sejak ia melihatmu mempermalukan Bernard tadi malam."
"Jika memang begitu, itu bukan urusan saya, Pak," balasku lugas. "Fokus saya hanya pada pekerjaan di perusahaan ini."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Sakti maju satu langkah lagi, mengikis habis jarak di antara kami.
Ujung sepatu pantofelnya kini nyaris menyentuh sepatuku. Ia mengurungku dengan tubuh besarnya, membuatku secara refleks memundurkan punggung hingga membentur pinggiran meja kaca di belakangku.
"Kamu terlalu naif, Tera," desis Sakti. Ia menumpukan kedua tangannya di pinggiran meja, mengunci pergerakanku di sisi kanan dan kiri.
Aura dominasinya terasa sangat menyesakkan.
"Pria seperti Hamdan tidak akan berhenti hanya dengan sapaan singkat," lanjut Sakti. "Dia akan menawarkan posisi, dia akan menawarkan fasilitas mewah. Dia akan menggunakan segala cara untuk menarikmu keluar dari gedung ini."
"Apakah Anda sedang meragukan loyalitas saya terhadap Vanguard Corp?" tanyaku tajam, tidak terima dituduh mudah dibeli.
"Saya tidak meragukan loyalitasmu," potong Sakti cepat.
Matanya menatap langsung ke dalam mataku. Ada badai emosi yang sangat asing bergulung di dalam tatapan gelap itu. Sesuatu yang jauh lebih personal daripada sekadar urusan kontrak kerja.
"Lalu apa masalahnya?" pancingku, menolak untuk menundukkan wajah. "Mengapa Anda harus semarah ini hanya karena saya berbicara dengan pria lain di luar jam kerja saya?"
Rahang Sakti mengeras.
[Pemindaian Mikro Ekspresi: Subjek kehilangan kontrol pertahanan logika.]
[Lonjakan Adrenalin Subjek: 92%.]
Sakti menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajahku.
Napasnya yang hangat menyapu permukaan kulit wajahku. Aku bisa melihat dengan sangat jelas setiap helai bulu matanya dari jarak sedekat ini. Jantungku yang tadinya tenang perlahan mulai kehilangan ritmenya, berpacu liar memompa darah ke seluruh tubuhku.
Sistem tidak perlu memberitahuku apa yang sedang terjadi. Sentuhan fisik dan kedekatan ekstrem ini sudah cukup membuat insting manusianya mengambil alih.
Tangan kanan Sakti terlepas dari meja. Jemarinya yang panjang dan kokoh terangkat, menyentuh sisi wajahku dengan kelembutan yang sangat kontradiktif dengan kemarahan di matanya.
Ibu jarinya mengusap rahangku pelan, memicu aliran listrik statis yang membuat sekujur tubuhku meremang.
Ia menatap bibirku sesaat sebelum kembali mengunci mataku.
"Karena aku tidak suka milikku disentuh oleh orang lain," bisik Sakti tajam, suaranya parau dan bergetar karena emosi yang tertahan.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Udara di dalam ruangan itu terasa berhenti mengalir.
Kata 'milikku' berdengung keras di dalam telingaku, mengacaukan seluruh sistem logika di otakku.
Aku bukan barang inventaris perusahaan. Aku bukan aset yang terikat dalam portofolio sahamnya. Aku hanyalah seorang asisten.
Namun, cara pria ini menatapku, cara ia menyentuhku... ia sedang mengklaimku secara absolut di luar batas profesionalisme.
[Peringatan Inang. Detak Jantung Inang Meningkat 40%. Kadar Dopamin Melonjak Drastis.]
Aku mengabaikan rentetan teks peringatan hijau yang muncul menutupi wajah Sakti.
Aku mengangkat tanganku, mencengkeram pergelangan tangannya yang masih berada di wajahku. Aku bermaksud menyingkirkannya, menolak takluk pada intimidasi maskulin yang ia lemparkan.
"Saya bukan milik siapa pun, Pak Sakti," ucapku dengan suara yang jauh lebih bergetar dari yang kuharapkan. "Saya bekerja untuk Anda. Itu saja."
Sakti tidak memindahkan tangannya. Ia justru memutar pergelangan tangannya dan menggenggam telapak tanganku dengan sangat erat.
Ia menarik tubuhnya perlahan, melepaskan kungkungannya dariku, namun tidak melepaskan genggaman tangannya di jemariku.
Matanya masih mengunci mataku dengan dominasi posesif yang tak terbantahkan.
"Kita lihat saja nanti, Tera," ancam Sakti dengan nada rendah. Ia melepaskan tanganku dengan perlahan, membiarkan kehangatan sentuhannya membekas di kulitku.
Sakti berbalik membelakangiku dan berjalan kembali menuju kursinya.
"Susun ulang laporan pertemuan dewan semalam," perintahnya dingin, mengembalikan topeng CEO kerasnya seolah interaksi intens barusan tidak pernah terjadi. "Aku ingin draf finalnya berada di mejaku sebelum matahari terbenam."
Aku menarik napas panjang, berusaha menstabilkan gemuruh di dadaku.
"Baik, Pak," jawabku pelan.
Aku segera memutar tubuh dan bergegas keluar dari ruangan itu.
Tepat sebelum pintu ganda tertutup, aku melirik ke belakang. Sakti tidak sedang melihat layar komputernya. Ia masih menatap lurus ke arah pintu keluar, menatapku dengan sorot mata yang menyembunyikan badai tak terucapkan.
[Tingkat Kecemburuan Subjek: Masih Berada di Angka 78%.]
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?