Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

JANGAN PERGI SENDIRIAN

Perjalanan menuju rumah orang tua Nadira berlangsung cukup tenang.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada pembicaraan tentang Bu Ratih ataupun Rani.

Hanya suara radio yang terdengar pelan di dalam mobil.

Nadira sesekali melirik Arga.

Pria itu tampak fokus menyetir.

“Kamu marah?” tanya Nadira tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Karena aku tetap pergi.”

Arga menggeleng.

“Tidak.”

“Benarkah?”

“Benar.”

Arga meliriknya sekilas.

“Aku cuma tidak suka kamu pergi dalam keadaan seperti ini.”

Nadira tersenyum kecil.

“Bukankah kamu yang bilang aku boleh pergi?”

“Boleh.”

“Lalu?”

“Aku juga boleh khawatir.”

Nadira terdiam.

Entah kenapa jawaban itu membuat suasana di dalam mobil terasa sedikit berbeda.

Setelah beberapa menit, Arga kembali bicara.

“Nanti malam kamu mau melakukan sesuatu?”

Nadira langsung menegang.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Arga menoleh.

“Kamu yakin?”

“Iya.”

Arga tidak bertanya lagi.

Namun beberapa saat kemudian ia berkata,

“Kalau kamu memang punya urusan, jangan pergi sendirian.”

Nadira menatapnya.

“Maksudmu?”

“Entahlah.”

Arga kembali fokus ke jalan.

“Aku cuma merasa sejak kejadian gelang itu, ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku.”

Jantung Nadira berdetak lebih cepat.

Ia segera memalingkan wajah ke jendela.

“Aku tidak menyembunyikan apa-apa.”

Arga tersenyum tipis.

“Kalau begitu bagus.”

Mobil kembali hening.

Menjelang sore, mereka tiba di rumah orang tua Nadira.

Ibunya langsung menyambut dengan wajah lega.

“Nadira!”

“Bu.”

Nadira memeluk ibunya.

Arga berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

Ayah Nadira keluar dari ruang tengah dan menatap Arga.

“Kamu tidak ikut menginap?”

Arga tersenyum sopan.

“Kalau diperbolehkan, saya ingin menginap.”

Nadira langsung menoleh.

“Kamu?”

Arga mengangguk santai.

“Kenapa?”

“Aku kira kamu mau pulang.”

“Aku suamimu.”

Arga mengambil koper Nadira.

“Kalau kamu tinggal, aku juga tinggal.”

Nadira menghela napas.

Ibunya justru tersenyum.

“Baguslah. Kalian jangan terlalu sering bertengkar.”

Nadira dan Arga saling pandang.

“Kami tidak bertengkar,” kata Arga.

Nadira langsung menyahut,

“Dia yang sering bikin aku kesal.”

“Lihat, Bu?”

Arga menunjuk Nadira.

“Dia masih marah.”

Nadira mendengus.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ia tertawa kecil.

Malam semakin larut.

Arga sudah tertidur di ruang tamu karena bersikeras memberi Nadira kamar untuk sendiri.

Nadira duduk di tepi tempat tidur sambil menatap jam.

Pukul 21.35.

Tangannya menggenggam ponsel.

Pesan itu kembali terbuka.

Pukul sepuluh. Gudang belakang. Datang sendirian.

Nadira berdiri.

Ia membuka pintu kamar perlahan.

Namun baru dua langkah keluar, suara Arga terdengar dari ruang tamu.

“Mau ke mana?”

Nadira terkejut.

“Kamu belum tidur?”

“Belum.”

Arga bangkit.

“Mau ke mana?”

Nadira berpikir cepat.

“Aku mau ambil udara.”

“Sekarang?”

“Iya.”

Arga menatapnya beberapa detik.

Kemudian mengambil jaketnya.

“Aku ikut.”

“Nggak perlu.”

“Aku tidak bertanya apakah perlu.”

Nadira memutar mata.

“Kamu menyebalkan.”

“Aku tahu.”

Arga berjalan mendekat.

“Tapi malam ini aku ikut.”

Nadira ingin menolak.

Namun tiba-tiba ponselnya bergetar.

Satu pesan baru masuk.

Kalau Arga ikut, jangan datang.

Nadira membeku.

Arga melihat perubahan wajahnya.

“Ada apa?”

Nadira buru-buru mematikan layar.

“Tidak ada.”

Arga menatapnya curiga.

“Nadira.”

“Aku bilang tidak ada.”

Arga tidak memaksa.

Ia hanya mengangguk.

“Baik.”

Lalu ia tersenyum kecil.

“Tapi kalau kamu mau keluar, aku tetap ikut.”

Nadira menatap suaminya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu mana yang lebih membuatnya bingung.

Pesan misterius itu atau sikap Arga yang perlahan berubah.

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!