"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TELEPON DARI TETUA
"Haidar tidak tahu saja kalau aku bisa saja menyuruh Papi untuk datang ke sana. Aku yakin Papi tidak akan mengampuninya atas perlakuannya padaku!" ucap Soraya seraya menekan tombol pada ponselnya, bersiap menelpon sang ayah yang juga merupakan tetua bos mafia yang amat disegani.
Sinta terbelalak kaget, lalu senyum penuh kemenangan perlahan terukir di bibirnya yang bergincu merah. Ia hampir lupa bahwa Soraya bukan sekadar adik Haidar, melainkan putri kesayangan dari Pak Dion—mantan bos besar mafia sekaligus tetua yang sangat dipatuhi di dunia bawah tanah.
"Benar, Soraya! Papi-mu pasti tidak akan tinggal diam melihat putrinya diperlakukan seperti binatang oleh kakaknya sendiri!" kompor Sinta, makin memanaskan suasana.
Dengan tangan yang gemetar menahan amarah, Soraya menempelkan ponsel jadul yang baru ia beli ke telinganya. Suara nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara berat dan serak yang amat berwibawa di ujung telepon.
"Halo, Soraya? Ada apa, Nak? Kenapa kau menggunakan nomor asing?" tanya Pak Dion dari seberang sana, nadanya serta-merta melunak begitu menyadari suara putri tunggalnya.
"Papi..." tangis Soraya pecah seketika, sengaja membesarkan isakannya agar terdengar begitu teraniaya. "Tolong Soraya, Papi... Kak Haidar benar-benar sudah gila! Dia mengusirku dari mansion, membuangku ke tempat kumuh, bahkan tega menyuruh pengawalnya main fisik padaku!"
Di seberang telepon, hening sejenak. Namun, keheningan itu justru menebarkan aura bahaya yang sangat menakutkan. Suara helaan napas Pak Dion terdengar berat dan dipenuhi kemurkaan yang tertahan.
"Apa katamu?!" suara Pak Dion menggelegar, membuat Sinta yang berada di samping Soraya ikut terlonjak kaget. "Haidar berani menyentuhmu dan membuangmu?! Hanya karena wanita asing itu?!"
"Iya, Papi! Dia lebih membela jalang itu daripada darah dagingnya sendiri!" adu Soraya dengan nada merajok. "Besok mereka bahkan mau menikah tanpa persetujuan Papi!"
"Kurang ajar!" umpat Pak Dion keras, terdengar suara gedoran meja yang nyaring dari ruang kerjanya di luar negeri. "Dia pikir setelah menjadi pemimpin clan, dia bisa bertindak sesuka hatinya?! Soraya, kirimkan lokasimu sekarang. Papi dan para tetua akan terbang kembali malam ini juga. Jangan biarkan pernikahan haram itu terjadi!"
Sambungan telepon terputus. Soraya menurunkan ponselnya, lalu menatap Sinta dengan cengkeraman dendam yang makin kuat.
"Kau dengar itu, Sinta?" desis Soraya dengan senyum picik. "Papi dan para tetua clan akan turun tangan. Kita lihat saja, apa Kak Haidar masih bisa bertindak sok berkuasa di hadapan orang yang membesarkannya!"
Di ruang kerjanya yang megah, Pak Dion meletakkan gagang telepon setelah mengakhiri panggilan dari Soraya. Meski amarahnya sempat meluap mendengar rintihan putri bungsunya, sebagai mantan bos besar yang telah berpuluh-puluh tahun memimpin clannya, Dion bukanlah pria yang mudah terprovokasi. Ia sangat mengenal tabiat Soraya—anaknya itu memang manja, dramatis, dan kerap bertindak ceroboh tanpa memikirkan konsekuensi.
Haidar adalah putra kebanggaannya, sosok yang ia pilih sendiri untuk memegang kendali puncak karena sifatnya yang dingin, rasional, dan tak pernah bertindak tanpa alasan yang jelas. Dion tahu pasti, Haidar tidak akan membuang adiknya sendiri tanpa adanya kesalahan fatal.
Sebelum mengambil langkah ekstrem atau mengerahkan para tetua, Dion memutar nomor pribadi Haidar.
Di mansion, Haidar yang baru saja kembali ke lantai atas melihat layar ponselnya menyala. Nama sang ayah tertera di sana. Dengan tenang namun waspada, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Ya, Papi," sapa Haidar datar.
"Haidar," suara Dion terdengar berat dan penuh wibawa dari seberang sana. "Soraya baru saja menelponku sambil menangis histeris. Dia mengaku kau mengusirnya, membuangnya ke tempat kumuh, dan membiarkan pengawalmu melukainya. Aku tahu Soraya anak yang ceroboh dan sering membuat ulah, tapi aku ingin mendengar kebenaran langsung dari mulutmu sebelum aku mengambil tindakan."
Haidar menarik napas dalam, matanya menyipit tajam. Kilatan emosi dingin terpancar dari sorot matanya saat mengingat penderitaan Elara dan calon buah hatinya yang gugur.
"Soraya tidak hanya ceroboh kali ini, Papi. Dia sudah melampaui batas," ucap Haidar dengan nada sedingin es. "Dia bersama Sinta menyusup ke mansionku. Soraya secara fisik menyerang Elara—calon istriku—hingga menyebabkan Elara mengalami keguguran dan kami kehilangan calon cucu Papi."
Hening seketika di ujung telepon. Helaan napas Dion tertahan.
"Aku tidak membunuhnya hanya karena mengingat dia adalah adikku dan darah daging Papi," lanjut Haidar dengan ketegasan mutlak. "Mengusirnya adalah hukuman terringan yang bisa kuberikan. Jika Papi ingin membela tindakannya yang telah membunuh calon penerusku, silakan datang. Tapi keputusanku tidak akan pernah berubah."
Dion terdiam cukup lama, memproses kenyataan pahit bahwa kecerobohan putrinya telah berujung pada tumpahnya darah keturunannya sendiri. Rasa amarah sang tetua kini perlahan beralih pada kekecewaan mendalam atas tindakan tak berotak putri bungsunya itu.