ZONA DEWASA‼️Harap bijak dalam memilih bacaan!!
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Dimas mengerutkan kening, samar-samar mendengar kata yang baru saja diucapkan Moreno.
"Hah? Apaan, Ren? Lo ngomong apa tadi?"
Moreno yang tersadar langsung mematikan ekspresi kagum di wajahnya, berusaha tetap tenang agar tak ketahuan habis memuji Luna.
"Enggak. Gue gak ngomong apa-apa."
"Serius lo? Gue yakin banget tadi dengar lo nyeletuk sesuatu," desak Dimas curiga.
"Lo salah dengar. Mending periksain telinga lo, mungkin lo lagi halusinasi," sahut Moreno santai, meski sepasang matanya sama sekali tak bergeser dari sosok Luna hingga gadis itu akhirnya menghilang di balik pilar gedung fakultas.
Dimas tersenyum meledek, tahu betul sahabatnya ini sedang menutup-nutupi sesuatu.
"Bohong banget lo. Lo pasti baru aja memuji kecantikan si Luna, kan? Buktinya tuh mata lo kagak merem-merem merhatiin dia dari tadi!"
Merasa gengsi dan terpojok, Moreno mendengus kasar. "Berisik lo," cetusnya dingin.
Ia langsung mengangkat rokok di jemarinya, menyesap sisa batangan itu dalam-dalam hingga tandas sebelum mematikannya keras-keras di sudut kursi.
Dimas yang melihat kepanikan terselubung Moreno itu hanya bisa tersenyum geli, makin yakin kalau sahabatnya ini sudah beneran kepincut sama Luna.
Moreno celingukan di balik kemudi mobil mewahnya, menatap tak sabar ke arah pintu keluar gedung fakultas.
Sudah setengah jam ia duduk diam di parkiran, diliputi perasaan asing yang membuat dadanya terus berdesir tak karuan. Entah kenapa, menunggu Luna kali ini mendadak bikin jantungnya sedikit berdebar.
Moreno mengelus dadanya, bergumam bingung pada dirinya sendiri. "
"Ada apa sama jantung gue hari ini? Jangan-jangan gue terkena gejala stroke ringan?!
Pria itu menggeleng cepat.
"Yang benar aja! Masa masih muda gini gue udah mau kena stroke sih?!
Tepat saat itu, mata abu-abunya menangkap sosok Luna dari kejauhan. Gadis itu berjalan melangkah mendekati area parkiran. Melihat kehadiran Luna, perasaan "berdebar" di dalam dadanya semakin meningkat.
Moreno makin panik dalam hati.
"Wah, beneran gak beres nih gue. Habis ini gue harus periksa ke dokter!
Namun, makin dekat jarak Luna menuju mobilnya, refleks tubuh Moreno justru berkata lain. Tanpa sadar, bibirnya langsung menyunggingkan senyuman, tangannya bergerak cepat merapikan kerah kemeja yang ia kenakan, lalu menyisir helai rambut pirangnya menggunakan jemari.
Brak.
Luna masuk dan menutup pintu mobil dengan terburu-buru, mengembuskan napas lega karena merasa aman dari penglihatan mahasiswa lain. Begitu menoleh ke samping, Luna dibuat tertegun.
Moreno menyambutnya dengan senyuman paling manis yang pernah gadis itu lihat sepanjang mengenal Moreno.
"Kita langsung pulang sekarang, atau lo mau pergi ke suatu tempat dulu?" tanya Moreno lembut.
Luna mengerjap beberapa kali, terpaku keheranan menatap perubahan drastis pria di depannya.
"Ada apa sama bule tantrum hari ini? Kesambet setan apa coba, kok mendadak manis begini?! batin Luna diliputi prasangka.
Luna menaikkan sebelah alisnya, menatap Moreno curiga. "Lo... lagi ngajak gue jalan, Ren?"
Moreno buru-buru memalingkan wajahnya sedikit.
"Enggak! Lo jangan salah paham ya! Gue cuma gak mau lo merasa bosan gara-gara terkurung terus di apartemen. Lagipula, sebagai atasan yang baik, gue kan harus memperhatikan kesejahteraan bawahan gue juga."
"Oh... jadi ceritanya Pak Bos hari ini lagi berbaik hati nih sama gue?" goda Luna seraya bersedekap dada, terkekeh kecil melihat usaha Moreno menutupi rasa canggungnya.
Moreno mendengus pelan, berusaha mengembalikan raut wajah sok berkuasanya.
"Bisa dibilang gitu. Jadi, sebutin aja lo mau pergi ke mana hari ini? Dengan senang hati gue bakal nemenin lo."
Mendengar tawaran itu, ingatan Luna seketika melayang pada undangan pesta ulang tahun ibunya Adrian lusa nanti. Mengingat ia sudah lama tidak membeli pakaian baru—sekaligus butuh gaun formal untuk menghadiri pesta tersebut—ini adalah kesempatan yang tepat.
"Kalau gitu kita ke mal aja, gimana? Ada barang yang mau gue beli," ujar Luna.
"Oke, ke mal," jawab Moreno singkat tanpa banyak tanya.
Pria itu langsung menginjak pedal gas, memutar kemudi dan membawa mobil mewahnya melaju mulus keluar dari area parkir kampus menuju pusat perbelanjaan.
Setibanya di pusat perbelanjaan, Luna melangkah mantap menuju sebuah butik pakaian wanita langganannya. Moreno berjalan mengekor di belakang dengan sepasang mata yang mengamati sekeliling penuh rasa ingin tahu.
"Ngapain kita masuk ke sini, Lun?" tanya Moreno penasaran sewaktu mereka melewati pintu kaca butik.
Luna menoleh sekilas lalu menjawab asal,
"Ya tentu saja mau beli baju. Memangnya ke butik mau beli seblak?!"
Moreno tak marah, justru tersenyum tipis. Wajah sewot Luna di matanya malah terlihat menggemaskan.
"Kenapa gak bilang dari dulu kalau lo mau beli baju?" ujar Moreno seraya menyodorkan kartu kreditnya dari dalam dompet.
"Lo bebas pilih apa aja yang lo suka hari ini. Gue yang bayar."
Luna memutar matanya malas, menepis pelan tangan Moreno yang memegang kartu.
"Meskipun status gue sekarang cuma jadi babu lo, gue masih punya uang sendiri ya! Enggak usah sok kaya deh."
"Lah, gue emang kaya?" balas Moreno santai tanpa rasa dosa.
"Terserah lo deh, Ren!"
Perdebatan kecil itu terus berlanjut di sela-sela Luna yang sibuk memilah-milah gaun di rak pajangan. Mata Luna terus menyisir deretan gaun malam yang tampak elegan, mencari model yang pas untuk dipakainya nanti—
Luna menarik sebuah gaun malam berwarna emerald blue dari rak pajangan. Gaun itu bermodel press body yang memperlihatkan lekuk tubuh dengan potongan bahu dan dada atas yang cukup terbuka. Dengan wajah berseri, Luna menunjukkannya ke arah Moreno.
"Ren, menurut lo gue cocok gak pakai gaun yang ini?" tanya Luna polos.
Seketika Moreno melotot lebar. Sorot matanya berubah tajam, disusul nada suara yang mendadak ketus.
"Enggak! Memangnya lo mau pakai gaun terbuka kayak gitu ke mana, hah?! Mau pamer tubuh lo ke siapa?!"
Luna memutar matanya, tak mau kalah.
"Ya nanti kalau ada acara formal! Lagian di acara-acara begitu kan memang banyak yang pakai model begini!"
"Gak boleh!" potong Moreno tegas tanpa kompromi. Namun sadar reaksi posesifnya terlalu vulgar, pria itu cepat-cepat meralat perkataannya dengan dehaman singkat.
"Maksud gue... gaun itu gak cocok buat lo. Terlalu jelek."
Luna mendesah dalam hati. "Astaga, tingkat keposesifan bule tantrum ini beneran udah di level maksimal! batinnya pasrah.
Demi menjaga perdamaian dunia dan menghindari drama panjang di tengah butik, Luna memilih mengalah.
"Iya, iya, gue cuma bercanda kali," sungutnya.
Luna mengembalikan gaun biru itu, lalu berjalan menyusuri rak lain hingga jemarinya menangkap sebuah gaun berwarna soft peach. Gaun bermodel A-line tanpa lengan itu terlihat begitu anggun, sederhana, namun tetap elegan tanpa potongan yang terlalu terbuka.
Luna berbalik dan menunjukkan gaun tersebut.
"Kalau yang ini... gimana?"
Moreno meneliti gaun itu dari atas ke bawah beberapa detik. Garis-garis ketegangan di wajahnya perlahan memudar.
"Nah, kalau yang ini baru pas buat lo," ujarnya dengan nada memuaskan.
Luna tersenyum tipis, mengangguk lega. "Oke, gue ambil yang ini."
Setelah mendapatkan gaun yang pas, mereka berdua akhirnya sepakat untuk langsung pulang.
Namun, sebelum benar-benar keluar dari mal, Luna sempat mampir ke sebuah gerai es krim untuk membeli rasa favoritnya.
Kini, di dalam mobil, sementara Moreno sibuk menyalakan mesin dan memanaskan kendaraan, Luna justru tampak asyik melahap es krim di tangannya. Pipi gadis itu mengembung kecil setiap kali mengecap rasa manis dingin tersebut.
Melihat pemandangan itu, Moreno terkekeh.
Luna menoleh, menghentikan suapannya dengan dahi berkerut bingung.
"Kenapa lo ketawa-ketawa gitu ngeliat gue?"
"Lo tuh lucu ya," sahut Moreno santai, menatapnya dengan binar mata jahil.
"Lucu gimana maksud lo?"
"Makan es krim aja kayak anak kecil. Sampai berlepotan gitu," goda Moreno.
Luna refleks membelalakkan mata, jarinya menepuk-nepuk area sekitar mulutnya. "Hah?! Mana? Di mana?!"
"Sebentar," bisik Moreno rendah.
Tanpa membuang waktu, pria itu memajukan tubuhnya mendekati Luna. Tangan kirinya terulur naik, menahan lembut dagu Luna agar gadis itu terkunci dan menatap lurus ke dalam iris matanya.
Moreno menyunggingkan senyum tipis yang manis. Lalu, tanpa peringatan sedikit pun, Moreno menundukkan wajahnya dan langsung menjilat sisa es krim yang menempel di sudut bibir Luna.
Cup.
Sentuhan basah dan hangat di sudut bibirnya itu seketika membuat Luna membeku kaku di tempat. Napasnya tertahan, sementara seluruh aliran darahnya terasa merambat naik memenuhi pipinya hingga terasa panas.