Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 - perasaan yang lebih

Rizki berdiri tegak sambil tersenyum ramah menyambut tamu penting di hadapannya.

"Bagaimana menurut Bapak? Apakah Bapak suka dengan konsep acara kali ini?"

"Saya sangat puas, Pak Rizki. Acaranya luar biasa, saya suka sekali. Kontrak kerja sama kita lanjutkan ya," ucap Tuan Hans hangat sambil menjabat tangan Rizki.

"Terima kasih banyak sudah bergabung bersama Rizki Group, perusahaan EO kami," jawab Rizki tulus.

"Acara ini hebat sekali, penyelenggaraannya sangat rapi. Saya senang bekerja sama dengan perusahaan Bapak," tambah Tuan Hans.

"Kami akan selalu berusaha memberikan yang terbaik, Pak. Terima kasih atas kepercayaan yang Bapak berikan," ucap Rizki sopan.

"Tentu saja. Perusahaan Bapak memang layak dipercaya."

 

Rizki memang sosok yang luar biasa. Sebagai CEO perusahaan Event Organizer yang kini sudah dikenal luas, banyak tokoh penting bermitra dengannya. Padahal ia merintis semuanya dari nol — tanpa bantuan siapa pun. Dulu perusahaan keluarganya bangkrut, tapi Rizki tidak menyerah. Ia bangkit sendiri, membangun bisnisnya dari bawah hingga berdiri kokoh seperti sekarang.

Ia menjadi teladan bagi seluruh karyawannya: kesuksesan sejati lahir dari kerja keras, ketekunan, dan mimpi yang diperjuangkan sendiri.

Hana berdiri di samping Rizki, senyum bangga terukir di wajahnya.

"Mari, Tuan Hans, kita berkeliling melihat pamerannya ya," ajak Hana ramah.

"Baik, silakan. Saya sekalian ingin melihat lebih dekat juga," jawab Tuan Hans.

Mereka pun berjalan berkeliling menikmati pameran. Sementara itu, Rizki dan asistennya berdiri di sudut ruangan, dan pandangannya tiba-tiba terhenti — di sana, tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada Indah bersama Daffa.

Senyum di wajah Rizki perlahan memudar saat melihat mereka. Tatapannya berubah tajam, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Indah ada di sini... ternyata dia juga suka pameran seperti ini. Dan dia datang bersama pria itu lagi. Mereka terlihat cukup dekat ya. Ternyata... begitulah keadaannya sekarang," batinnya terasa perih, menahan rasa cemburu yang tiba-tiba muncul.

Indah tiba-tiba merasa gelisah. Dia sadar sejak tadi Rizki terus memperhatikannya dari kejauhan.

"Kenapa dia menatap ke arahku terus sih? Tatapannya tajam banget, bikin nggak nyaman..." gumamnya dalam hati.

Ia mencoba menenangkan diri, lalu menggeleng pelan.

"Ah, biarin aja. Dia juga punya mata, bebas mau lihat ke mana. Aku yang terlalu berlebihan, mungkin cuma perasaanku saja. Dia kan nggak mungkin memperhatikanku secara khusus. Jangan geer dulu, Indah," pikirnya, mencoba menepis harapan yang sempat muncul sejenak.

"Daffa, lihat ke sebelah sana! Ada karya yang bagus banget!" seru Indah bersemangat.

Daffa tersenyum lembut lalu menggandeng tangan Indah menuju ke arah sana. Tanpa mereka sadari, jalan yang mereka ambil justru membawa mereka tepat berpapasan dengan Rizki.

Jarak di antara mereka begitu dekat, namun saat mata bertemu mata... tidak ada satu pun yang menyapa. Mereka hanya saling memandang sekilas, lalu berlalu begitu saja seakan tak saling kenal.

Rizki berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung Indah yang berjalan pergi dengan tangan yang masih tergenggam erat di tangan pria lain. Sesak terasa di dadanya. Ia tidak sanggup lagi berdiri di sana, melihat pemandangan yang makin melukai hatinya. Tanpa menunggu lebih lama, ia berbalik dan meninggalkan acara itu.

Rizki berjalan terburu-buru menjauh, pikirannya terus berkecamuk.

"Aku ini kenapa sih? Kenapa rasanya begitu tidak suka melihat Indah dipegang pria lain? Padahal aku bukan siapa-siapanya. Aku bukan siapa-siapanya..."

Ia menelan rasa getir di tenggorokannya. Kata-kata itu begitu mudah diucapkan, tapi nyatanya hatinya menolak untuk menerima.

"Tapi kenapa rasanya sesak sekali? Mungkin karena dulu aku pernah kehilangan kesempatan. Atau mungkin... sampai saat ini aku belum benar-benar rela melepaskannya."

Indah menoleh sekilas ke belakang, menyadari sosok itu sudah tidak ada di sana.

"Dia orangnya sibuk sekali ya. Baru saja aku lihat, sekarang sudah tidak ada di tempat lagi," gumamnya pelan, mencoba terdengar biasa saja, meski ada rasa hampa yang sekejap muncul lalu pergi.

Daffa tiba-tiba membuka obrolan dengan nada sedikit gugup.

"Dah... lu suka cowok yang seperti apa?"

"Hah? Lu nanya tipe gue?" Indah kaget seketika.

"Iya, suka cowok seperti apa?" ulang Daffa sambil berusaha terlihat santai.

"Hmm... gue suka cowok yang mandiri dan bertanggung jawab sih," jawab Indah sambil berpikir sejenak.

"Kalo menurut lu... gue gimana?"

Indah terdiam seketika. Wajahnya terasa panas. Pembicaraan apa ini sih? Kenapa Daffa tiba-tiba bertanya seserius ini? Dia jadi kaku dan tak tahu harus menjawab apa.

Melihat reaksi Indah, Daffa langsung terkekeh pelan. "Bercanda, Indah. Gak usah dipikirin ya."

"Yeh... lagi-lagi bercanda. Tiba-tiba nanya begitu, gue jadi kaget tau!" Indah menghela napas lega sambil mencubit pelan lengan Daffa, meski ada sedikit rasa kecewa yang tersembunyi di dalam hatinya.

Daffa tersenyum tipis, namun hatinya terasa sedikit berat.

"Sepertinya... dia belum siap ya kalau gue tanya hal seperti itu. Kalau saja gue terus, takutnya dia malah menjauh. gue belum siap mendengar jawaban yang tidak gue harapkan. Makanya gue selalu mengalihkan pembicaraan duluan, sebelum gue mendengar kata yang akan membuatku hancur," pikirnya dalam hati.

Ia menatap punggung Indah yang berjalan di depannya dengan lembut.

"Tak apa... gue bisa menunggu. Selama dia masih ada di sampingku, gue rela menunggu sampai dia benar-benar siap. Bahkan kalau selamanya hanya seperti ini, gue tetap bersyukur. Asal dia tidak pergi dariku."

Indah berjalan sambil sesekali melirik Daffa di sampingnya, geleng-geleng kepala kecil.

"Lagi-lagi dia jadi aneh deh. Bisa-bisanya tiba-tiba nanya begitu ke gue," gumamnya pelan sambil tersenyum bingung.

"Mungkin memang sifatnya aja yang tiba-tiba ya? Atau dia cuma iseng? Tapi kalau cuma iseng... kenapa tatapannya terlihat begitu serius saat menanyakannya tadi?" pikirnya bingung, tapi kemudian memilih mengabaikannya.

"Ah, sudahlah. Mungkin memang aku saja yang terlalu bawa perasaan. Dia itu kan Daffa, sahabatku sejak lama. Tidak mungkin kan dia punya perasaan lebih?"

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!