Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Pernikahan Yang Belum Selesai

Rania masih terdiam.

Tangannya yang tadi memegang pena perlahan turun ke atas meja.

Untuk beberapa detik, ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas.

Kalimat Brian terus berputar di kepalanya.

'Aku tidak pernah menganggap pernikahan kita selesai.'

Rania akhirnya mengangkat wajah. "Jangan mengatakan hal seperti itu."

Brian tidak menjawab.

"Aku sudah bercerai denganmu," ucap Rania.

"Aku tahu," jawab Brian.

"Dan surat perceraian itu sudah sah," ucap Rania.

"Aku juga tahu," sahut Brian datar.

Rania mengerutkan kening. "Kalau begitu, apa maksudmu?"

Brian menyandarkan punggungnya pada kursi, tatapannya tetap tenang. "Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan."

"Itu bukan urusanku," ucap Rania.

"Benarkah?" Brian mengangkat satu alisnya.

Rania terdiam.

Brian sedikit memiringkan kepalanya. "Kalau memang bukan urusanmu, kenapa tanganmu gemetar?"

Rania spontan menatap jemarinya.

Benar. Tangannya memang sedikit gemetar.

Rania segera mengepalkannya, "aku hanya terkejut."

Brian tersenyum tipis. "Baiklah." Ia tidak membantah, namun justru ketenangan itu membuat Rania semakin kesal.

"Aku datang ke sini untuk membicarakan bisnis, bukan masa lalu." Rania mencoba mencairkan suasana aneh itu.

"Aku juga." Brian menunjuk dokumen di hadapan Rania. "Jadi mari kita bicarakan bisnis."

"Dan jangan mencampurkan urusan pribadi ke dalam perusahaan," ucap Rania.

"Aku tidak akan melakukannya," ucap Brian.

"Benarkah?" Rania menatapnya curiga, ia berharap ucapan Brian itu adalah kebenaran.

"Benar." Brian mengambil pena yang berada di atas meja, lalu mendorong dokumen tersebut ke arahnya.

"Selama kau menjalankan perusahaan ini secara profesional, aku akan menjadi investor yang profesional."

Rania membaca kembali isi kontrak.

Semuanya memang sesuai dengan yang dikatakan Brian.

Tidak ada klausul yang merugikan dirinya.

Tidak ada hak khusus untuk Brian atas kehidupan pribadinya.

Tidak ada syarat untuk kembali menjadi istrinya.

Justru itu yang membuat Rania semakin tidak mengerti.

Brian terdiam, untuk pertama kalinya, ekspresinya sedikit berubah. Ia menatap Rania cukup lama. "Rania, bagi hukum mungkin pernikahan kita sudah selesai, tapi bagiku belum," ucap Brian dalam hatinya.

Rania segera mengalihkan wajah, saat Brian menatapnya, "Jangan membuat semuanya menjadi rumit," ucap Rania memecahkan keheningan.

Brian berdiri.

Rania ikut berdiri, tetapi pria itu tidak mendekatinya.

Brian justru berdiri di sisi meja. "Aku tidak akan memaksamu," ucap Brian

Rania menatapnya.

"Tapi aku juga tidak akan berbohong." Brian meraih tongkat hitamnya. "Aku masih mencintaimu. Rania Almira."

Deg! Rania membeku.

Kali ini Brian tidak tersenyum. Tidak ada permainan di wajahnya. Hanya tatapan serius yang membuat Rania sulit bernapas.

"Aku tahu kau membenciku," Brian berjalan melewati sisi meja. "Aku tahu aku pernah menyakitimu, pernikahan kontrak, lalu aku merendahkan mu." Ia berhenti beberapa langkah dari Rania. "Tapi aku tidak akan berpura-pura bahwa setelah perceraian itu aku berhenti mencintaimu."

Rania menunduk. Air matanya hampir jatuh. Namun ia menahannya. "Aku tidak bisa kembali kepadamu."

Brian mengangguk. "Aku tahu."

"Jadi berhentilah," ucap Rania.

Brian menatapnya. "Aku tidak bisa menjanjikan itu."

Rania mengangkat wajah. "Brian!"

Pria itu justru tersenyum tipis, ia menatap bibir Rania yang semalam memberikan ciuman hangat yang membuat dadanya berdebar hingga detik ini.

"Aku bisa memberimu waktu." Ia berjalan menuju pintu. "Tapi jangan meminta aku menyerah."

Tangannya menyentuh gagang pintu. Sebelum keluar, Brian menoleh. "Dan satu lagi."

Rania diam.

"Mulai hari ini, PT. Herbalife adalah urusan bisnis kita." Tatapannya mengarah tepat ke mata Rania. "Jangan mencampurkan perasaanmu denganku saat kita sedang bekerja."

Rania hampir tertawa karena kesal. "Justru kau yang selalu mencampurkannya."

Brian tersenyum. "Mungkin," jawab Brian datar.

Kemudian pintu terbuka. Brian pergi.

Klik! Pintu kembali tertutup.

Rania masih berdiri di tempatnya, dadanya naik turun, ia menekan telapak tangannya ke dada. "Kenapa..."

Air mata akhirnya jatuh. "Kenapa setelah aku berusaha melupakanmu, kau justru kembali?"

Rania menatap pintu yang sudah tertutup, ia memejamkan matanya, Brian berjalan menggunakan sebuah tongkat, tak berhenti di sana, semua ucapan Brian berputar dalam pikirannya.

Kemudian Rania menghembuskan nafasnya panjangnya.

Sementara dii luar ruangan, Brian berjalan melewati koridor.

Rio sudah menunggu. "Tuan."

Brian berhenti. "Bagaimana?"

Rio menyerahkan tablet. "Kontrak belum ditandatangani."

Brian melirik dokumen tersebut. "Dia akan menandatanganinya."

"Anda yakin?" tanya Rio.

Brian tersenyum. "Dia tidak membutuhkan uangku."

Rio mengernyit. "Lalu?"

"Dia membutuhkan kesempatan." Brian kembali berjalan. "Dan aku memberinya kesempatan untuk membuktikan dirinya."

Rio mengikuti dari belakang. "Tapi Tuan..."

Brian berhenti lagi. "Katakan ada apa?"

"Bagaimana kalau Nyonya tetap menolak?" Brian menatap lurus ke depan.

"Kalau dia menolak..." Senyum tipis muncul di wajahnya, "aku akan mencari cara lain."

Sementara itu, di dalam ruang meeting...

Rania mengusap air matanya. "Sudah cukup."

Rania mengambil ponselnya, ia membuka daftar kontak. Jarinya berhenti di sebuah nama.

Daffa.

Namun sebelum menekan tombol panggil, Rania teringat ucapan Brian.

"Tanpa Daffa."

Rania mengerutkan kening.

Sebuah kecurigaan muncul di benaknya. Apakah Brian sedang mencoba menjauhkan dirinya dari Daffa?

Rania menggigit bibir bawahnya, "aku tidak akan membiarkan kalian mengatur hidupku lagi." Ia kemudian mengambil dokumen investasi tersebut.

Pena berada di tangannya. Rania menatap tanda tangan yang harus ia bubuhkan.

Beberapa detik kemudian...

Srett!!

Tanda tangannya selesai.

Rania menutup dokumen. "Aku akan menerima investasi ini." Tatapannya berubah tegas. "Tapi bukan karena Brian."

Ia menatap nama PT. Herbalife yang tercetak di halaman depan.

"Aku akan membuat perusahaan ini berhasil karena aku sendiri." Rania menatap tandangannnya sendiri. "Aku terpaksa akan memanfaatkan setiap orang yang bisa menguntungkan bagi kehidupan ku."

Namun Rania tidak tahu...

Begitu ia keluar dari ruang meeting perusahaan Brian, beberapa wartawan sudah menunggunya di depan gedung.

Kilatan kamera langsung menyambut langkahnya.

"Nona Rania!"

"Benarkah Anda baru saja menandatangani kerja sama investasi dengan mantan suami Anda?"

"Apakah Tuan Brian Aristama akan kembali menjadi bagian dari kehidupan Anda?"

"Apakah perceraian kalian hanya sementara?"

Rania membeku. Ia bahkan belum sempat menjawab satu pertanyaan pun ketika kamera terus mengarah kepadanya.

Dan pagi itu, satu headline mulai menyebar ke seluruh media.

"BELUM SELESAI? BRIAN ARISTAMA KEMBALI MENJADI INVESTOR MANTAN ISTRINYA!"

Namun bukan hanya nama Rania dan Brian yang terseret.

Beberapa media bahkan mulai mengaitkan nama pria lain.

"DI TENGAH PERCERAIAN, RANIA ALMIRA KINI TERJEPIT DI ANTARA DUA CEO!"

Di tempat lain...

Daffa baru saja membaca berita tersebut melalui layar tabletnya.

Tatapannya membeku.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya.

Kemudian...

Brak! Tablet itu diletakkan keras di atas meja.

"Brian..." Daffa berdiri. "Siapa yang memberinya hak untuk kembali masuk ke kehidupan Rania?" Ia meraih jasnya. "Siapkan mobil."

Asistennya terkejut. "Tuan, Anda mau ke mana?"

Daffa menatap layar ponselnya sekali lagi. Foto Rania yang dikelilingi wartawan terpampang jelas di sana. "Ke perusahaan Brian."

"Sekarang?"

"Sekarang." Daffa berjalan meninggalkan ruangannya tanpa menoleh lagi. Ia tidak peduli dengan rapat yang menunggunya.

Tidak peduli dengan urusan bisnis yang tertunda. Yang ada di pikirannya hanya satu.

Rania Almira.

Sementara di depan gedung perusahaan Brian...

Rania masih dikepung wartawan. Dan tanpa ia sadari, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gedung.

Pintu terbuka. Seorang pria turun dengan langkah tegas.

Daffa Anggara.

Tatapannya langsung tertuju kepada Rania. Namun sebelum Daffa sempat menghampirinya...

Klik!! Pintu gedung di belakang Rania terbuka.

Brian Aristama keluar.

Tongkat hitam berada di tangannya. Tatapan Brian langsung menemukan Rania.

Kemudian...

Tatapan kedua CEO itu bertemu.

Daffa.

Brian.

Dua pria yang sama-sama menginginkan wanita yang sama.

Dan kali ini, mereka berdiri di hadapan puluhan kamera.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!