Indonesia
NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN DUA PULUH

Tim cheerleader SMA Merah Putih segera meninggalkan lapangan dan langsung digantikan oleh tim cheerleader SMAN 1 Bandung. Sambil berjalan kembali ke tribunnya, Rindu beberapa kali menyempatkan diri melihat kearah lelaki bertopi yang masih Rindu pertanyakan siapakah itu. Sempat saat menaiki anak tangga, karena mata Rindu tidak fokus kedepan melainkan kearah tribun penonton, Rindu tergelincir hingga hampir terjatuh, untung saja sesaat akan terjatuh Langit datang diwaktu yang tepat untuk menahan tubuh Rindu. Tanpa sadar tatapan mata Langit dan Rindu terulang kembali , tatapan yang sangat dalam hingga membuat keduanya tak berkedip beberapa saat.

"Hati-hati kalau jalan, ngeliat tuh kedepan, ngeliatin apa sih lu ke tribun penonton?" tanya Langit.

"Hehehe iya makasih ya, untung aja nggak jatoh gue, enggak kok, tadi mau ngeliat ke lapangan gue, bukan ke tribun penonton kok, hehehehe" jawab Rindu.

"oh ya udah, nih minum dulu pasti lu haus abis tampil tadi" balas Langit sambil memberikan sebotol minuman kepada Rindu.

"eh iya, makasih ya Langit" ucap Rindu sambil menerima botol minuman yang diberikan Langit dan langsung meminumnya dengan lahap hingga hampir habis hanya dalam hitungan detik.

"Gue tau kok lu haus, tapi nggak di abisin juga kali, gue kan juga mau minum" ledek Langit sambil memegangi lehernya.

"Eh iya sorry, sampai keasikkan minum gue ,abis lu tau aja sih gue kalau capek paling seger minum infus water gini, seger banget" ucap Rindu sambil menahan tawanya hingga air yang diminumnya keluar kembali dari mulutnya sedikit.

"udah nggak apa-apa Rin, tar gampang gue beli minuman lain diluar aja, abisin aja tanggung itu" ucap Langit.

Rindu melanjutkan meminumnya hingga benar-benar habis air dalam botol tersebut. Setelah habis, Langit meminta botol kosongnya tersebut, Rindu terlihat akan berjalan menuju tempat duduknya, sementara Langit akan menuruni tangga. Melihat hal tersebut membuat Rindu bertanya mau kemana Langit.

"Eh mau kemana lu?" tanya Rindu.

"Mau keluar sebentar, mau beli minuman seger, abisnya minuman gue udah habis duluan, tadi ada yang kejausan gitu" Jawab Langit sambil tertawa kecil menyindir Rindu.

"huh, nyindir gue nih ya" balas Rindu dengan bibir sedikit cemberut.

Melihat reaksi wajah Rindu itu membuat Langit malah jadi tertawa. "Sumpah Rin , jelek banget lu kalau cemberut gitu, kayak ikan maskoki gimana gitu, hilang banget udah cantiknya" sindir Langit sambil tertawa.

"Ih lu mah ngeledek mulu, biarin aja gue kayak maskoki, tapi maskoki yang cantik, ya udah sebagai tanda permintaan maaf gue abisin minuman lu, gimana kalau gue yang beliin minuman buat lu, tapi temenin ya" canda Rindu.

"Hahaha, bilang aja lu masih haus, mau beli minum lagi, tapi nggak mau sendirian, iya kan? Kebaca Rin" ucap Langit.

"Hehehe tau aja lu, ya udah gue ikut" ucap Rindu.

Langit dan Rindu berjalan menuruni anak tangga bersama, pemandangan yang tidak pernah terlihat di Jakarta, dimana mereka tak pernah ada kata akur disaat bertemu satu sama lain, disini mereka terlihat berjalan bersama bahkan sesekali Langgit memegang tangan Rindu. Mereka berjalan menuju pintu keluar GOR, bagaikan sepasang kekasih ,mereka berlari sambil berpegangan tangan. Setelah berlari Rindu terlihat mulai lelah, Langit pun memberikan punggungnya dengan maksud akan menggendong Rindu.

"Capek Rin, sini gue gendong mau nggak?" tanya Langit sambil menawarkan punggungnya kepada Rindu.

Langit segera merendahkan posisinya dengan sedikit berjongkok agar mudah Rindu menaiki punggungnya. Rindu langsung mendekati Langit, sesaat kemudian Rindu memegang pundak Langit, namun bukannya menaiki punggung Langit , Rindu malah mendorong Langit dan langsung berlari meninggalkan Langit.

"Ogah ah gue digendong lu, ntar yang ada gue jatoh, ayo buruan tar kan lu mau bertanding" jawab Rindu sambil tertawa kecil.

"Ah rese lu ya, awas ya lu , jangan lari lu" ucap Langit.

Langit berlari mengejar Rindu yang sudah berada jauh didepannya. Langit akhirnya berhasil mengejar Rindu, Langit langsung menangkap Rindu dan mengelitiki pinggangnya. Rindu terlihat kegelian hingga tanpa disengaja pipi Rindu menyentuh mulut Langit.

"Eh sorry Rin" ucap Langit sambil terlihat takut Rindu akan marah.

Rindu hanya terlihat diam menunduk, Langit merasa bersalah dia takut Rindu akan sangat marah karena dia mencium pipi Rindu walau itu karena tidak sengaja. Rindu masih saja terdiam tak menghiraukan Langit. Berulang kali Langit berusaha meminta maaf kepada Rindu. Hingga akhirnya Langit tanpa sungkan berlutut dihadapan Rindu dan menundukkan kepalanya sambil meminta maaf.

"Nih Rin, gue rela, berlutut didepan lu, sumpah gue nggak ada maksud buat nyium lu, semua nggak sengaja Rin, maksud gue Cuma bercanda aja ngelitikin lu, nggak ada maksud lain" Langit meminta maaf sambil menghadap ke lantai.

Langit sama sekali tak mendengar suara dari Rindu, dalam pikirnya Langit mengira Rindu sangatlah marah. Berulang kali Langit mengucapkan kata "maaf maaf dan maaf" tapi tetap saja tidak terdengar suara dari Rindu. Langit segera mengangkat kepalanya yang semula menatap ke lantai, Langit terkejut begitu dia menatap ketempat dimana tadi Rindu berdiri, sekarang Rindu tidak ada disana. Dari tempat yang cukup jauh di belakang Langit, terdengar suara Rindu.

"Oi ngapain lu, buruan katanya mau beli minum nanti keburu tanding lu, nggak malu lu ngomong sendirian dari tadi disitu, ahhahaha" ledek Rindu dari kejauhan.

"Ah sial, dibikin malu lagi gue didepan umum, awas lu ya, gue kelitikin lagi lu" balas Langit sambil bangkit dari posisinya dan berlari kearah Rindu dan menahan malu karena dari tadi menjadi tontonan umum.

Rindu yang melihat Langit berlari mengejarnya, segera berlari menuju arah toko penjual minuman. Hingga akhirnya Langit berhasil menyusul Rindu dan mereka berlari berdampingan. Bagaikan sepasang kekasih mereka berlari kecil sambil bergandengan tangan seolah tak ingin melepasnya. Akhirnya mereka tiba disebuah toko yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Langit membuka lemari pendingin yang berisi macam-macam minuman.

"Lu minum apa Rin?" tanya Langit.

"Samain aja sama lu" jawab Rindu sambil memilih-milih beberapa makanan ringan disana.

Langit mengambil 2 buah minuman dari dalam lemari pendingin dan langsung menuju Rindu yang berada dibagian makanan-makanan Ringan. Dengan berdiri dsamping Rindu, Langit ikut memilih makanan kecil untuk dirinya. Pedangang tersebut terlihat memasukkan semua makanan yang sudah dipilih mereka berdua kedalam sebuah kantong plastik.

"Jadi berapa pak? Sama minuman itunya 2, oh iya pak plastiknya dipisah ya yang punya saya sama yang punya dia" tanya Rindu kepada pedagang warung.

"Semuanya jadi 68 ribu neng" ucap pedagang sambil memberikan 2 buah kantong plastik kepada Rindu.

Rindu membuka tasnya dan mengeluarkan dompet dari dalam tas tersebut. Sesaat sebelum Rindu mengeluarkan dompetnya, Langit menghentikan Rindu dan langsung menyerahkan selembar uang seratus ribu kepada pedagang.

"Udah gue aja Rin, nggak etis tahu masa iya cewek yang bayarin cowok" kata Langit sambil membayar kepada pedagang.

"Ih jadi nggak enak gue sama lu, kan tadi gue yang abisin minuman lu, sekarang lu yang bayarin gue, nggak enak banget gue jadinya" ucap Rindu.

"Udah nggak apa-apa, kebetulan aja gue bawa uang, nanti aja kalau kebetulan gue lagi nggak megang uang, lu bayarin gue" balas Langit.

"Ya udah lain waktu gue yang traktir lu ya" ucap Rindu.

"Sip, janji ya Rin lu nanti traktir gue" Langit membalas sambil menyodorkan jari kelingking tangan kanannya.

"Iya gue janji" Rindu berjanji sambil mengaitkan jari kelingking tangan kanannya ke jari kelingking Langit.

Ini adalah kali pertama Rindu mengucapkan Janji kepada cowok yang dulu dia bilang cowok super rese, cowok yang dia sangat benci dalam hidupnya. Jangankan untuk berjanji, untuk sekedar menatapnya saja sangat enggan dalam hidupnya. Tapi inilah kehidupan tidak ada yang bisa menduga jangankan yang awalnya saling benci sekarang menjadi dekat, lautan yang semula tenang saja seketika bisa menjadi sebuah gelumbang tsunami maha dasyat, tidak ada yang menduga semua itu.

Langit dabn Rindu bergegas keluar dari toko tersebut takut nanti Langit telat untuk bertanding dalam semifinal. Disaat mereka berjalan, Rindu terlihat mnghentikan langkahnya dan membuka sepatunya. "Kenapa Rin?" tanya Langit.

"nggak tahu nih, perih kaki gue, kayaknya kaki gue lecet deh" jawab Rindu sambil melepaskan sepatu dan kaos kaki kanannya.

Setelah kaos kakinya terlepas, benar saja jari kelingking Rindu merah seperti terluka. Rindu berusaha mengusap lukanya dengan harapan rasa sakitnya hilang. Sambil menahan sakit terlihat beberapa kali Rindu menggigit bibir bawahnya.

"Udah lu duluan aja, lu kan mau bertanding tar gue nyusul" pinta Rindu.

"Ah mana bisa begitu, lu pergi sama gue, balik kesana juga harus sama gue, udah sini lu gue gendong, tenang aja gue kuat kok nggak bakal jatuh, percaya sama gue" ucap Langit sambil jongkok membelakangi Rindu.

"Udah nggak usah Langit, lu kan mau tanding, masa iya lu gendong gue yang ada lu tar capek pas bertanding" sungkan Rindu dengan lembut

"Udah lu tenang aja percaya sama gue, buruan Rindu pegel nih gue jongkok" Langit bersikeras menawari Rindu.

Dengan sedikit sungkan, akhirnya Rindu mau naik kepunggung Langit, sambil membawa 2 buah kantung plastik, Rindu berpegangan pada bahu Langit. Dengan memegang kedua kaki Rindu, Langit segera bangkit dari posisi jongkoknya. Akhirnya dengan Rindu digendong dipunggung Langit, mereka berlari menuju kembali kedalam GOR C-Tra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!