Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendaratan di Kota Mode
"Kain sutra termahal dan minyak wangi terbaik dari daratan Eropa tidak akan pernah sanggup menutupi pancaran kulit yang sehat dan dirawat dengan penuh ketulusan."
"Samson! Lu jangan berdiri dekat pintu pesawat jet pribadi begini sambil kibas-kibas syal! Angin dingin Paris ini bisa bikin otot leher lu tegang!" tegur Bang Jarot seraya merapatkan mantel hitam mewahnya.
Pesawat jet pribadi berstempel emas L’Amour Paris mendarat dengan sangat mulus di landasan pacu Bandara Le Bourget, Paris. Udara sore musim gugur benua Eropa terasa cukup menusuk tulang, tetapi pemandangan menakjubkan dari arsitektur klasik kota mode terpampang indah di bawah langit jingga.
Dari tangga utama pesawat, Samson melangkah turun dengan keanggunan yang tiada tandingannya. Pemuda berbadan tegap setinggi 178 sentimeter itu tampil sangat memukau mengenakan mantel panjang warna soft pink, dipadukan dengan celana bahan berpotongan presisi, serta bando pita merah muda yang berkilau di bawah sorotan matahari sore.
"Aduh Bang Jarot sayang, tenang dong!" sahut Samson riang seraya memoleskan lip balm aroma stoberi ke bibirnya. "Samson ini harus selalu tampil stunning sejak pijakan kaki pertama! Warga Paris harus tahu kalau utusan dari Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra itu punya aura glowing kelas internasional!"
Di belakang Samson, Papi Joko dan Mami melangkah berdampingan. Mami tampil percaya diri mengenakan perpaduan mantel hangat dengan daster batik motif Parang keemasan, sementara Papi Joko mengenakan jas hitam klasik lengkap dengan apron soft pink legendaris yang terlipat rapi di tangannya.
"Papi... udara di sini beda banget ya sama Pasar Subuh," bisik Mami seraya mengamati sekeliling landasan. "Tapi daster Mami tetep terasa hangat dan nyaman dipakai!"
Papi Joko tersenyum lembut seraya merangkul pinggang Mami. "Daster Mami itu karya seni tradisional. Di kota ini, karya seni tinggi sangat dihargai, Mami."
Kenanga melangkah cepat di barisan paling belakang, membawa koper tebal anti-benturan berisi sampel utama Serum Royal Wijayakusuma. Matanya yang tajam mengamati tiga unit mobil hitam mewah yang sudah berjejer rapi di pelataran parkir khusus VIP.
Di depan rombongan mobil tersebut, berdiri seorang pria paruh baya berambut klimis dengan kumis tipis berpotongan rapi. Pria itu mengenakan setelan tuxedo pengantin mode bernilai ratusan ribu Euro. Ia adalah Jean-Luc, Direktur Artistik utama dari Paris Fashion & Beauty Week.
Jean-Luc melangkah mendekati Samson dan Papi Joko. Ia melepas sarung tangan kulitnya, lalu menundukkan badan dengan gaya khas bangsawan Prancis.
"Selamat datang di Paris, Monsieur Joko, Monsieur Samson," sapa Jean-Luc dalam bahasa Inggris beraksen Prancis yang sangat kental. "Suatu kehormatan besar bagi panggung L'Amour Paris bisa menyambut sang juara dunia dari Asia Tenggara."
Namun, di balik keramahan sikapnya, mata Jean-Luc mengamati penampilan Samson, Mami yang berdaster batik, serta Bang Jarot yang berbadan tegap dengan tatapan penuh penilaian yang dingin dan agak meremehkan.
"Tapi harus saya ingatkan..." lanjut Jean-Luc seraya menyunggingkan senyum tipis. "Panggung Paris Fashion Week adalah puncak tertinggi industri estetika dan busana di bumi ini. Penonton kami adalah para desainer paling kritikal di benua Eropa. Ramuan tradisional Anda mungkin berhasil menaklukkan panggung pameran teknis di Tokyo, tetapi di Paris, Anda butuh rasa seni yang tinggi dan keanggunan sejati."
Bang Jarot yang mengerti nada bicara meremehkan itu langsung menggeser posisinya, membusungkan dadanya yang bidang di depan Jean-Luc. "Hei, Pak Tua Kumis Tipis! Lu jangan memandang sebelah mata ya! Produk dari Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra ini kagak cuma bikin mulus, tapi punya jiwa kebudayaan yang lebih kuat dari parfum lu!"
Jean-Luc terkejut, refleks melangkah mundur satu tapak melihat perawakan garang Bang Jarot.
Samson dengan santai menahan bahu tegap Bang Jarot dengan jemari lentiknya. Samson melangkah maju tepat di hadapan Jean-Luc. Tubuh bidang 178 sentimeter nya berdiri tegap sempurna, memancarkan aura percaya diri yang sangat kuat namun tetap anggun.
Samson mengedipkan mata centil dan polos, berusaha memasang raut muka paling menggemaskan yang ia miliki. "Aduh Monsieur Jean-Luc yang tampan tapi agak kaku..." gumam Samson dengan suara meliuk mewahnya yang memikat. "Rasa seni sejati itu lahir dari ketulusan dan perawatan kulit yang mendalam, bukan cuma dari lapisan bedak tebal atau gaun mahal! Monsieur kagak usah khawatir... Samson dan seluruh tim Perkasa Putra siap bikin seluruh supermodel dan desainer di panggung Paris terpana sama keajaiban glowing alami Indonesia!"
Jean-Luc tertegun mematung. Karisma unik yang dipancarkan oleh Samson—perpaduan antara postur tegap yang gagah dengan kelembutan gaya yang sangat memikat—membuat sang Direktur Artistik kehilangan kata-kata untuk membantah.
Satu jam kemudian, rombongan mobil hitam Perkasa Putra meluncur membelah jalanan utama Kota Paris. Di balik kaca jendela mobil, Mami tak henti-hentinya berseru kagum melihat kemegahan menara Eiffel yang terpancar terang oleh ribuan lampu hias di malam hari.
"Papi! Lihat tuh! Menaranya persis banget kayak yang di daster Mami!" seru Mami gembira seraya menunjuk ke arah luar.
Papi Joko tertawa hangat seraya mengelus tangan Mami. "Iya, Mami. Nanti kita ambil foto paling bagus di bawah menara itu buat dipajang di dinding bengkel kita."
Mobil itu akhirnya berhenti di depan Grand Palais, gedung konvensi kubah kaca paling megah di jantung Kota Paris yang menjadi lokasi penyelenggaraan Paris Fashion & Beauty Week.
Di dalam auditorium utama gedung, puluhan supermodel internasional berbalut gaun-gaun rancangan desainer ternama tampak sibuk melakukan latihan di atas panggung catwalk. Namun, suasana di belakang panggung tampak sangat kacau. Beberapa model berteriak panik karena kulit wajah mereka mengalami ruam merah dan kering akibat penggunaan kosmetik sintetis berlebih selama pekan mode.
"Mon Dieu! Bagaimana bisa wajah model utama kita kemerahan seperti ini lima jam sebelum acara pembukaan?!" jerit seorang desainer ternama dalam bahasa Prancis seraya memegangi kepalanya. Ketegangan di belakang panggung itu mendadak terhenti saat pintu aula belakang terbuka lebar.
Samson melangkah masuk dengan gaya anggun mewahnya, membusungkan dada bidangnya, didampingi oleh Papi Joko yang membawa tas racikan herbal, Kenanga yang sigap menjaga koper utama, serta Bang Jarot yang mengawal di belakang.
Samson mengamati wajah para supermodel yang sedang mengalami masalah kulit tersebut. Senyum percaya diri mengembang di bibirnya.
"Tenang semuanya..." teriak Samson ramah seraya membuka botol kaca ungu Serum Royal Wijayakusuma. "Tim Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra sudah tiba! Saatnya kita selesaikan masalah pori-pori kalian dengan sentuhan keajaiban glowing dari Indonesia!"
Perjuangan besar menaklukkan panggung mode tertinggi di dunia kini resmi memasuki babak paling krusial!