Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Tiga Tahun di Balik Pintu Tertutup
Hari itu tiba. Hari di mana seluruh akademik akan menutup pintu rapat-rapat. Sesuai peraturan yang berlaku, selama tiga tahun ke depan, akademik ini akan mengadakan pembelajaran ilmu pengetahuan dan latihan kekuatan secara tertutup. Tidak ada satu pun murid yang boleh keluar, dan tidak ada keluarga yang boleh berkunjung. Tiga tahun penuh perpisahan, tiga tahun tanpa bertemu dengan orang-orang yang dicintai.
Angel berdiri di depan gerbang besar yang tampak begitu megah namun juga terasa dingin. Di sampingnya berdiri Rebeca dan Kael — ibunya dan pamannya. Wajah mereka tampak penuh kerinduan sekaligus berat hati untuk melepaskan, namun mereka tahu inilah jalan yang harus ditempuh Angel untuk tumbuh menjadi lebih kuat.
"Ibu... Paman..." suara Angel bergetar menahan tangis. "Jaga kesehatan kalian baik-baik. Tiga tahun ini aku tidak akan bisa menemui kalian, tapi aku akan selalu mengingat kalian di dalam hatiku."
Rebeca memeluk putrinya erat-erat, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. "Kamu juga harus kuat, Angel. Belajarlah dengan rajin. Kami akan selalu menunggumu di sini."
Kael tersenyum lembut, menepuk bahu Angel. "Jangan pernah merasa sendirian. Ingatlah, keluarga selalu ada di hatimu."
Angel menarik napas dalam, hendak mengucapkan kata perpisahan terakhirnya. Namun tiba-tiba...
"Angel!"
Suara itu terdengar jelas memanggil namanya. Angel menoleh ke belakang dengan terkejut, dan wajahnya seketika berubah cerah. Di sana, berdiri Rey bersama ibunya.
"Rey!" seru Angel.
Mereka pun saling menyapa, dan kedua orang tua mereka ikut bertegur sapa dengan hangat. Saat tiba waktunya, Rebeca, Kael, serta ibu Rey perlahan melangkah mundur, meninggalkan mereka berdua di depan gerbang akademik. Tiga tahun perpisahan pun dimulai.
Angel dan Rey saling berpandangan, lalu tersenyum saling menguatkan. Mereka berbalik dan melangkah masuk melewati gerbang besar itu. Di hadapan mereka menjulang bangunan akademik yang begitu megah, menara-menaranya menjulang tinggi ke langit, dinding-dindingnya terbuat dari batu yang berkilauan memantulkan cahaya matahari. Keagungan tempat ini membuat mereka berdua terdiam sejenak, terpesona sekaligus kagum.
Saat berjalan menuju asrama, Angel tiba-tiba berhenti dan menatap Rey.
"Rey... apa yang akan kamu lakukan setelah tiga tahun ini selesai?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.
Rey melangkah pelan di sampingnya, menatap ke depan dengan sorot mata yang teguh.
"Aku akan hidup di jalanku sendiri," jawabnya mantap. "Aku akan menggapai impianku, menjadi seseorang yang kuat dan dihormati."
Lalu Rey menoleh balik ke arah Angel. "Dan kamu, Angel? Apa rencanamu?"
Angel tersenyum lembut namun penuh tekad. "Aku juga sama. Aku ingin melindungi orang-orangku. Aku ingin menjadikan mereka bukan sekadar teman, melainkan orang-orang yang paling berharga di hidupku. Bukan sekadar teman biasa — aku ingin mereka menjadi bagian dari hidupku, dan semoga kita semua bisa berjuang bersama selamanya."
Tiga tahun pun berlalu. Selama masa itu, keduanya berjuang dengan segenap kemampuan mereka, berlatih siang dan malam demi impian yang mereka janjikan satu sama lain.
Rey memilih jalan sebagai seorang Pembunuh Bayangan. Ia melatih kecepatannya hingga melampaui batas kemampuan manusia biasa. Di tangannya, ia hanya memegang sebilah belati — pisau yang pendek, kecil, dan tampak tidak berdaya di mata orang lain. Banyak murid bahkan pengawas yang meremehkan senjatanya, menganggap benda sekecil itu tidak mungkin mampu mengalahkan siapa pun.
Namun mereka salah besar.
Di setiap latihan dan ujian, Rey membuktikan bahwa kehebatan tidak terletak pada ukuran senjata. Gerakannya begitu cepat, begitu samar, hingga para pengawas dan pelatih pun sering kali tidak mampu melihat pergerakannya. Belati kecil di tangannya berkilat secepat kilat, menyambar dengan presisi yang luar biasa. Bahkan ketika ia berhadapan dengan pengawas yang menguasai sihir dahsyat, atau pengawas lain yang mengayunkan pedang raksasa yang lebar dan berat, Rey tetap menang. Dengan kecepatannya yang tak terkejar dan belati kecilnya yang tajam, ia mampu mengalahkan mereka satu per satu — membuktikan bahwa senjata sekecil apa pun bisa menjadi senjata paling mematikan di tangan yang tepat.
Sedangkan Angel... hal itu sangat berbeda. Ia masih belum bisa mencapai impiannya. Sejak kecil, tidak ada satu pun yang mengajarinya cara berlatih. Memegang pedang saja ia merasa canggung dan tidak tahu bagaimana melakukannya dengan benar, apalagi menggunakan sihir — seakan kekuatan itu enggan menyapa dirinya. Para pengawas penilai maupun pelatih pun tampak bingung menghadapi Angel. Mereka sudah mencoba segala cara untuk mengajarinya, namun tidak ada satu pun yang berhasil.
Sore itu, Angel duduk sendirian di sudut halaman yang sepi, menatap ke depan dengan tatapan kehampaan dan keputusasaan. Rasanya semakin jauh dari apa yang ingin ia capai.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar mendekat. Angel mendongak dan melihat Rey berdiri di hadapannya.
"Rey..." gumamnya pelan.
Tanpa banyak bicara, Rey tiba-tiba berkata dengan tegas, "Angel, ayo berduel di sini."
Angel menggeleng pelan, segera menolak. "Tidak... aku tidak bisa, Rey. Kau tahu aku tidak mampu melakukannya."
Namun Rey tidak menunggu persetujuannya. Tanpa peringatan, ia tiba-tiba menyerang.
Angel terkejut setengah mati, segera melompat mundur menghindar. "Kenapa kau menyerangku?! Aku sudah menolaknya!"
Rey tidak menjawab, serangannya terus datang tanpa henti. Tidak ada pilihan lain — Angel mau tidak mau harus ikut berduel juga.
Duel itu berlangsung lama, jauh lebih lama dari yang dibayangkan. Rey terus menekan dengan kecepatannya yang luar biasa, belatinya menyambar dari segala arah. Hingga suatu saat, Rey mengayunkan belatinya dengan penuh kekuatan, hampir saja menebas ke arah kepala Angel...
Pada saat itu juga, sesuatu yang luar biasa terjadi. Angel bergerak — bukan dengan gerakan yang kaku dan lambat seperti biasanya, melainkan dengan kecepatan yang tak terbayangkan, secepat kilat menyamping menghindar. Dan sebelum Rey sempat menyadari apa yang terjadi, Angel langsung menyerang balik dengan kekuatan sihir yang memancar dari tubuhnya — cahaya berwarna hitam pekat yang memancarkan aura dahsyat yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.
Rey terpaku di tempat, matanya terbelalak tak percaya. Gerakan Angel tadi... cara dia menghindar dan menyerang balik... itu sama sekali tidak seperti gerakan murid pada umumnya. Itu adalah gerakan yang penuh kekuatan, kecepatan, dan ketepatan yang melampaui imajinasi.
Namun seketika itu juga, tubuh Angel lemas seketika dan ia jatuh pingsan di tanah. Rey segera berlari menghampiri dan memeluk tubuh Angel, lalu menggendongnya menuju tempat pemulihan dengan wajah penuh kekhawatiran.
Namun ternyata, Rey bukanlah satu-satunya saksi dari peristiwa itu. Dari kejauhan, di balik bayangan pepohonan dan pilar-pilar halaman akademik, berdiri beberapa sosok yang diam memantau. Mereka adalah murid-murid yang dilatih secara langsung oleh Ellion — orang-orang yang ditugaskan untuk mengawasi Angel secara diam-diam. Mereka melihat semuanya. Gerakan luar biasa itu, serta kekuatan sihir hitam pekat yang baru saja dipancarkan oleh Angel, semuanya telah terekam jelas di mata mereka.