Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan Penculik
Malam hari, setelah selesai melalui kegiatan nya yang melelahkan hari ini, bekerja di kantor dan mengurus ketiga anaknya yang kini telah tidur, Anne membaringkan diri di kasur.
Dia menguap panjang, matanya sudah berat, ketika meraih ponselnya untuk menyeting alarm dia baru menyadari jika pria itu telah mentransfer sebanyak dua puluh juta lagi.
Sontak saja senyum nya mengembang, kelopak matanya menjadi lebih ringan, "aku bisa kaya jika seperti ini terus." gumamnya.
Kemudian dia menekan nomor pria itu ingin meneleponnya untuk mengatakan terimakasih.
Sambungan itu berdering, layar ponselnya sudah dia tempelkan ke telinga.
Namun sampai beberapa saat pria itu tak juga mengangkat nya hingga dering itu terputus.
Tapi tidak lama kemudian muncul sebuah pesan, Anne melihatnya ternyata dari pria itu.
"Jangan telepon aku dahulu, aku sedang melayani pelanggan."
Anne melengkungkan senyumnya, "jika dia telah mengirim uang artinya saat ini sedang melayani pelanggan kedua, wah sangat pekerja keras sekali." batinnya.
Dia lalu mengirim pesan balasan untuknya, "baiklah, aku hanya ingin mengatakan terimakasih atas transferanmu, tetap semangat ya!"
"Ya." balas pria itu.
"Baik-baik di sana, tetap jaga stamina tidak perlu memaksakan diri untuk menerima orderan jika telah lelah. Sebaiknya tidur dan mengistirahatkan badan." balasnya.
Di ujung sana Viktor menyandar di kursi
di depan meja bundar dengan kening berkerut ketika mendapat balasan pesan itu.
Di depannya ada banyak orang yang sedang melakukan meeting dengannya malam ini.
Tapi kegiatan itu terjeda sebentar ketika Viktor menerima pesan itu.
Dia baru saja mengetik untuk membalas
pesan itu tapi sebuah pesan dari Anne muncul lagi.
"Tunggu, kamu jangan baper dulu. Jangan kamu fikir aku perhatian padamu karena aku menyukaimu, tapi ini sebagai bentuk perhatian antara bos dengan bawahan, aku sebagai bos yang menerima setoran darimu tentu saja ingin bawahan ku tetap fit sebab
masih ada hari esok lagi untuk kamu kerja jadi jangan terlalu memforsir diri."
Viktor mendengus membacanya, kilapan di matanya menajam, 'dasar wanita laknat! Ternyata dia berkata seperti ini hanya karena menjadikan ku sapi perah yang selalu diinginkan uangnya. Materialistis.' umpatnya.
Dia pun segera membalas, "tidak usah khawatir aku sudah terbiasa!"
Dia pun segera menyimpan ponselnya dan kembali menatap ke depan untuk melanjutkan meeting itu.
"Kita harus segera merencanakan penangkapan Neir." terang Viktor dalam
misinya malam ini.
Nier adalah mantan karyawan kantor nya yang sudah menghianatinya dengan mengambil data penting perusahaannya.
"Tim pelacakan akan tetap mengawasi pergerakan Nier jadi kita bisa mengeksekusinya besok, tuan." sahut Vin.
Viktor melirik kesana, "jangan sampai dia sudah menjual data penting kita ke perusahaan Ravencroft, karena jika itu terjadi aku pastikan akan membantai seluruh keturunan Ravencroft" geramnya, dia mengepalkan tangannya.
****
Sementara Anne yang mendapatkan balasan itu dari Viktor mendesahkan nafasnya, "dasar, mentang-mentang kamu telah terbiasa kamu jadi tidak memperdulikan tubuh mu sendiri." Gumamnya.
Anne melamun sebentar. Tapi kemudian senyum tipisnya terbit, "sungguh pekerja keras."
Dia lalu membalas pesan pria itu dengan stiker orang menguap, "baiklah semangat, aku akan tidur."
Dia kemudian menutup ponselnya dan meletakkannya di samping bantal ia terbaring lalu ia pun memejamkan matanya.
***
Pagi ini adalah akhir pekan, waktunya bermalas-malasan.
Tapi tidak dengan ketiga kembar itu, mereka telah bangun, bersiap diri dan mengenakan training juga sepatu olahraga.
Anne yang melintas dengan rambut acak-acakan pun kaget, dia berhenti di depan mereka lalu menajamkan pandangannya yang masih kabur.
"Kalian ingin kemana?" tanya nya penasaran.
"Kita akan menemani Marcella lari pagi, dia bilang ingin diet." balas Matteo.
Seketika Anne terkekeh pelan, dia tidak dapat menahan kegemasan anak-anaknya lebih lagi Marcella, sebetulnya ini semua hanya lelucon, ia bahkan lebih senang Marcella memiliki pipi yang chubby.
"Apa mami tidak mengijinkan?" tanya Marcella.
"Mami mengijinkan kok, tapi sepertinya mami harus ikut, olahraga pagi sangat
menyehatkan, tunggu mami berganti pakaian, ya." balasnya.
"Baiklah." ketiga anaknya itu menyahut.
Tidak lama, Anne pun kembali sudah lengkap dengan celana training pendek dan kaus putih, serta topi di kepalanya.
Dia juga tidak lupa memasangkan topi ke tiga kepala anaknya.
"Ayo kita pergi sekarang!" ajak Anne
menggandeng anak-anaknya, kebetulan di dekat tempat tinggal mereka ada taman kota yang ramah untuk olahraga pagi atau sekedar menikmati udara segar, di sana juga ada tempat bermain anak.
Tiba memasuki taman itu ia langsung berjalan belarian kecil sambil mengawasi
anaknya di depannya.
Bibi Nora tidak ikut, dia di rumah karena tulang tuanya membuat dia tak bisa berlari lagi.
"Pelan-pelan saja!" peringatnya pada Marcella yang tampak semangat sekali berlari.
Sungguh anak yang pantang menyerah.
Mereka pun berlari hingga beberapa putaran, setelah itu Anne mengajak anak-anaknya duduk di kursi taman sambil minum air putih.
"Bagaimana apa sudah ingin pulang?"
tanya Anne.
Dan ketiganya serempak menggeleng, "kami ingin bermain di depan mami." Anne melihat ada berbagai wahana bermain di depannya, "baiklah."
Anne mengizinkannya dengan tetap mengawasi mereka, ketiganya berlari ke sana, senyum di bibir gadis itu melengkung, melihat mereka riang adalah puncak kebahagiaannya.
****
Di sebuah gang sempit dengan berbagai mural menghiasi dinding, pria berbadan
tinggi berlari kencang, dia melompati
berbagai sampah barang di sana, menendang tong besar hingga sampahnya berceceran lalu melompati pagar dan tiba di rerumputan sebuah taman.
Di belakangnya, enam orang pria berpakaian hitam mengejarnya.
Beberapa tembakan terlepas tapi pria pertama tadi sangat lincah berlari.
"Jangan sampai kita kehilangan jejaknya,
hubungi yang lain untuk memblok taman." teriak salah satu pria di antara enam orang itu.
"Baik, di mengerti!" balas yang lain lalu
menghubungi rekannya dengan alat komunikasi yang mereka bawa.
Sementara pria pertama tadi berlari
kencang dia adalah Nier, pria itu memasuki karena bermain anak dan bersembunyi di dalam terowongan.
Dari belakang, pria berbaju hitam yang bertugas mengepung taman pun berpencar untuk mencari keberadaan Nier.
Mereka berpatroli dengan senapan angin di depan dada mereka.
Di saat yang sama Marcella dan Marco tengah bermain seluncuran terowongan itu mereka berada di atas untuk bergantian.
"Sekarang gantian aku." kata Marcella.
"Hati-hati awas nanti rok mu tersangkut."
peringat Matteo yang tak ikut bermain dia hanya berdiri mengawasi kedua adiknya itu.
"Baiklah."
Marcella pun duduk di depan seluncuran
itu kakinya sudah terjulur ke dalam dia segera meluncur dengan perasaan girang, ketika hampir tiba di ujung terowongan dia melihat seorang manusia sedang bersembunyi.
Sontak saja dia berteriak karena kaget, begitu juga pria itu.
"Aaa...!"
Pria itu seketika terpental keluar terkena
tendangan Marcella, sedangkan Marcella jatuh menimpuk pria itu.
"Ada penculik!"
Matteo yang melihatnya segera berlari
mendekat.
Dia sudah pasang badan sepertinya benar kata adiknya jika pria itu adalah penculik karena dia telah bersembunyi di tempat main anak-anak.
"Hei kau penculik, beraninya mengganggu adikku, rasakan pukulan ku!" Matteo mengepalkan tangannya lalu menonjok wajah pria itu kuat-kuat, sementara Marco melepas tali sepatunya dan mengikat tangan pria itu, sedangkan Marcella menangis sambil duduk di atas tubuh pria itu.
"Argh! kurang ajar kalian. Pergilah, aku
bukan penculik." desis pria itu menahan sakit pukulan yang di berikan Matteo.
"Jika bukan penculik lalu kenapa kamu
ada disini?" cecar Matteo.
"Justru aku yang sedang di kejar penculik
bocah tengik." balasnya.
"Aku tidak percaya mana ada orang mau
menculik pria jelek sepertimu, kamu pasti berbohong kan!" sahut Marcella dengan suara sesenggukan.
Pria itu mengumpat dalam hati.
Sementara itu Anne yang percaya Matteo
bisa menjaga adik-adiknya pun memilih untuk melakukan peregangan otot di bawah pohon, banyak membawa beban berat telah membuat beberapa sendinya pegal hingga ia merasa lebih baik setelah melakukan ini.
Tidak lama dari arah lain dia mendengar
sebuah suara.
"Bodoh! Hanya menangkap satu orang saja tidak bisa!" umpatnya dalam sebuah
panggilan pada anak buahnya.
"Aku mau kalian harus menangkap Nier
saat ini juga. Tidak ada alasan apapun lagi." lanjutnya.
Ketika itu Anne menoleh menguping apa
yang bosnya itu bicarakan, namun ketika Viktor mengetahui keberadaannya dia pun segera memalingkan wajahnya, aura dan tatapan yang di tampilkan pria itu selalu mampu membuat dia segan hingga tak berani memandangnya.
Viktor berhenti sejenak.
Ketika itu mau tak mau Anne pun menyapa nya, "pagi tuan Viktor?" dia sambil tersenyum kaku.
Pria itu hanya mengerutkan keningnya
melihat yang di lakukan gadis itu lebih lagi pakaian olah raga nya terlalu pendek hingga membuat pahanya terlihat.
"Apa kau melihat ada pria tinggi kurus
lewat sini?" tanya nya.
Anne terhenyak, lalu menggeleng karena
memang tak melihat ciri-ciri orang yang di sebutkan Viktor, selain anak-anak kecil yang bermain dengan ibu mereka.
"Kalau begitu pergilah dari taman ini, aku
akan melakukan sterilisasi." terangnya.
Gerak-geriknya seperti akan menangkap seseorang hingga membuat Anne panik.
"Memang apa yang sudah terjadi tuan?"
"Tidak usah banyak tanya, pergi saja saat
ini, sebentar lagi akan ada bom meledak
disini." terangnya.
Seketika Anne membulatkan matanya.
"Apa? bom!"
"Ya, kamu tidak mau ikut meledak disini kan." kata Viktor menakut-nakuti.
"Tentu saja tidak." dia sangat panik saat
ini, yang tengah ia pikirkan adalah nasib ketiga anaknya.
'Bagaimana ini? Aku harus mencari mereka.' batinnya.
"Baiklah, aku akan segera pergi." Anne pun segera berlari untuk mencari anak-anaknya yang sedang bermain di wahana tadi.
Namun saat itu, Viktor malah mencegahnya, "pintu ada di sebelah sana!" tunjuknya.
Anne melongo, dia lupa jika kini yang orang lain tahu statusnya adalah gadis, tapi bagaimana dengan nasib tiga anaknya yang menggemaskan itu dia tak boleh egois.
Ketika tengah sibuk memikirkan mereka, Viktor mendorongnya ke arah pintu keluar, "cepat! menunggu apa lagi?" serunya.
Akhirnya mau tak mau Anne pun keluar, dia juga melihat orang-orang berhamburan keluar, hingga di sepanjang jalan ia pun menangis tak karuan, "Marcella, Marco, Matteo, mami berharap ada orang baik yang menyelamatkan kalian. Maafkan mami, mami memang mami paling buruk di dunia."
"Ini semua gara-gara bos sialan itu! Awas
saja!" lanjutnya menggerutu.
Melihat Anne yang baru pergi setelah ia
Dipaksa Viktor pun mengumpat. "Dasar wanita bodoh!" dia pun lalu berbalik dan pergi mencari anak buahnya.
Tidak lama dia menemukan jejak anak
buahnya sedang berlari ke suatu tempat.
Dia pun mengikutinya.
Tidak lama setelah itu dia melihat Nier
terperangkap di tengah-tengah anak kecil.
Marcella menangis sambil menduduki Nier, Marco menggelitiki tubuhnya dan Matteo berdiri dengan gaya orang dewasa di sampingnya.
"Sudah. sudah. kita tidak bisa terus main
hakim sendiri. Hukuman ini sudah cukup, dia tidak mungkin bisa kabur lagi, jadi kita harus segera melapor polisi." kata Matteo.
Marco lalu berhenti, Nier tampak lemas
sekali, wajahnya pucat karena terus di gelitiki oleh Marco.
"Kakak, benar, aku akan pergi mencari
telepon umum sekarang." sahut Marco.
Matteo mengangguk lantas menenangkan Marcella, "sudah berhentilah menangis, dia tidak akan menculik kita."
Tidak lama segerombolan orang berpakaian hitam pun mendekat.
"Itu dia Nier!" teriak salah satu di antara mereka.
Viktor yang mendengar pun langsung berlari kesana.
Sontak saja Marcella langsung membangkitkan tubuhnya ke arah dua kakaknya.
Dia menatap takut wajah Viktor, pria itu terlihat dominan memiliki aura yang menikam dan tak memiliki kelembutan.
Di saat yang sama Viktor pun menatap
wajah imut Marcella, Marco dan Matteo, ketiga anak itu terlihat mirip dan menggemaskan, tanpa ia sadari ketiganya adalah orang yang berperan untuk menangkap Nier.
Mereka bahkan lebih baik dari pada anak buah miliknya yang tidak becus.
"Apakah paman juga penculik?" tanya
Marcella waspada sambil mengeratkan tangannya pada Matteo juga Marco, sedangkan kedua kakaknya ini sudah pasang badan untuk adiknya.
"Siapa yang kau panggil paman?" Viktor
memicing.
Saat itu Marcella menekuk wajahnya dengan ekspresi ketakutan, dia meringsut ke arah Matteo meminta perlindungan.
Wajah Viktor terlihat begitu menyeramkan, ekspresinya sangat kaku dan tatapannya dingin.
Wajar dengan begitu dia terlihat menyeramkan bahkan dari penculik yang asli.