Xiao Yi pernah menjadi pembunuh yang ditakuti dunia. Namun sebuah konspirasi merenggut nyawanya.
Ketika membuka mata kembali, ia justru terbangun di Benua Yanlong, dalam tubuh seorang tuan muda lemah yang baru saja dikhianati tunangannya dan dibunuh sepupunya sendiri.
Semua orang menganggapnya sampah.
Mereka tidak tahu bahwa Xiao Yi yang dahulu telah mati.
Kini, di tubuh itu hidup seorang petarung yang terbiasa berjalan di antara darah dan kematian. Lebih mengejutkan lagi, Pedang Bingluan yang ikut menyebabkan kematiannya muncul kembali sebagai Jiwa Bela Diri misterius.
Dengan kehidupan kedua dan kekuatan yang seharusnya tidak dimilikinya, Xiao Yi hanya memiliki satu jawaban bagi mereka yang ingin menginjaknya lagi:
Jika dunia ini menghormati yang kuat, maka ia akan berdiri di puncaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Jangan Sentuh Orangku
Tongkat kayu meluncur keras ke arah Yiyi.
Gadis itu memejamkan mata. Tubuhnya gemetar, tetapi kakinya tetap bertahan di depan ranjang.
Ia tahu dirinya tidak mungkin mengalahkan Xiao Jie maupun Xiao Shi.
Xiao Jie berada di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Empat dengan Jiwa Bela Diri Sulur Api Tingkat Jingga. Sementara Xiao Shi berada di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Tiga dan memiliki Jiwa Bela Diri Serigala Api, juga Tingkat Jingga.
Keduanya adalah kultivator sejati.
Sedangkan Yiyi?
Ia bahkan belum pernah berkultivasi.
Namun gadis itu tetap berdiri di sana.
Buk!
Suara benturan terdengar.
Yiyi menunggu rasa sakit menghantam bahunya, tetapi beberapa detik berlalu tanpa terjadi apa-apa.
Perlahan ia membuka mata.
"Tuan... Muda?"
Xiao Yi telah berdiri di depannya.
Satu tangannya mencengkeram tongkat yang dilemparkan Xiao Jie.
Yiyi terpaku.
Selama bertahun-tahun, setiap kali Xiao Yi ditindas, dialah yang maju melindunginya. Setelah para penindas itu pergi, terkadang justru dirinya yang menjadi sasaran kemarahan Xiao Yi.
Namun hari ini...
Untuk pertama kalinya, Xiao Yi berdiri di depannya.
"Sudah kubilang, ke belakang."
Nada suaranya tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah.
Yiyi menurut dan mundur beberapa langkah.
Xiao Yi melempar tongkat ke lantai.
Tatapannya beralih kepada dua pemuda di depannya.
"Siapa yang memberi kalian hak menyentuh orangku?"
Xiao Jie sempat tertegun sebelum tertawa mengejek.
"Orangmu? Dia itu cuma pelayan!"
Xiao Shi ikut mencibir. "Baru bangun dari koma sudah berani bicara seperti ini. Sepertinya kepalamu memang rusak setelah jatuh dari tebing."
Xiao Yi tidak menjawab.
Bagi mereka, pemuda di depan mereka masih Xiao Yi yang lama.
Seorang pengecut.
Seorang pecundang.
Seseorang yang tidak pernah berani melawan.
Xiao Jie maju selangkah.
"Sepertinya kau perlu diingatkan lagi siapa dirimu."
Cahaya jingga muncul dari tubuhnya.
Sulur merah sepanjang hampir dua meter terbentuk di tangannya. Api menjalar di permukaannya dan mengeluarkan suara berderak.
Jiwa Bela Diri Sulur Api.
Xiao Jie menyeringai.
"Aku akan membuatmu berbaring beberapa hari lagi!"
Tangannya mengayun.
Wus!
Sulur api menyambar wajah Xiao Yi.
"Tuan Muda!" seru Yiyi.
Namun Xiao Yi tidak mundur.
Di kehidupan sebelumnya, ia telah menghadapi petarung terbaik, pembunuh profesional, bahkan musuh bersenjata api.
Serangan Xiao Jie terlalu mudah dibaca.
Saat sulur hampir mengenai wajahnya, Xiao Yi bergeser setengah langkah.
Sabetan itu hanya melewati bahunya.
"Apa?"
Mata Xiao Jie membesar.
Xiao Yi sudah masuk ke dalam jangkauan tubuhnya.
Kedua tangannya berubah seperti cakar.
Bentuk Harimau.
Gerakannya meledak tanpa peringatan.
Tubuh Xiao Jie mendadak menegang. Untuk sesaat, ia merasa bukan sedang menghadapi seorang pemuda lemah, melainkan seekor harimau yang menerkam turun dari gunung.
Bruk!
Xiao Jie dihantam ke lantai.
Sebelum sempat bereaksi, lima jari Xiao Yi sudah mencengkeram tenggorokannya.
Wajah Xiao Jie seketika pucat.
"Kau..."
Ia bahkan tidak memahami bagaimana dirinya bisa kalah.
Alam Penempaan Tubuh Tingkat Empat dikalahkan oleh Alam Penempaan Tubuh Tingkat Satu?
Mustahil!
Namun tekanan pada tenggorokannya nyata.
Xiao Yi hanya perlu mengerahkan sedikit tenaga untuk meremukkan lehernya.
"Xiao Shi!" teriak Xiao Jie panik. "Tolong aku!"
Xiao Shi tersadar.
"Dasar sampah!"
Cahaya jingga meledak dari tubuhnya.
Bayangan seekor serigala yang diselimuti api muncul di belakang punggungnya.
Jiwa Bela Diri Serigala Api.
Meskipun kultivasinya satu tingkat di bawah Xiao Jie, Jiwa Bela Diri Serigala Api memberinya kecepatan serta daya serang yang jauh lebih ganas.
Xiao Shi menerjang.
"Mati kau!"
Sorot mata Xiao Yi berubah dingin.
Mereka benar-benar berniat membunuhnya.
Ia melepaskan Xiao Jie lalu berbalik.
Tubuh Xiao Shi sudah berada beberapa langkah di depannya.
Namun tepat ketika serangan hendak tiba, Xiao Yi menghilang dari pandangannya.
Bukan benar-benar menghilang.
Terlalu cepat.
Bentuk Macan Tutul.
Jika Bentuk Harimau mengandalkan tekanan dan ledakan kekuatan, Bentuk Macan Tutul mengejar satu hal—kecepatan dalam jarak pendek.
Xiao Yi menerobos masuk sebelum Xiao Shi sempat mengubah serangannya.
Sret!
Lima jarinya menyapu dada lawan.
Darah memercik.
"AAARGH!"
Xiao Shi terhuyung mundur sambil memegangi dada.
Empat luka panjang terbuka di sana.
Tidak terlalu dalam untuk membunuhnya.
Tetapi cukup untuk membuat keberaniannya runtuh.
Xiao Yi tidak mengejar.
Tubuh ini terlalu lemah dan masih belum pulih dari luka berat. Menggunakan dua teknik Xingyiquan berturut-turut sudah membuat napasnya sedikit kacau.
Namun ia puas.
Kultivasi memang penting di dunia ini, tetapi pengalaman bertarung tidak bisa diperoleh hanya dengan duduk bermeditasi.
Xingyiquan yang dikuasainya memiliki banyak perubahan, tetapi setelah bertahun-tahun menyempurnakannya, Xiao Yi telah merangkum teknik terbaiknya ke dalam lima bentuk utama.
Harimau.
Macan Tutul.
Ular.
Bangau.
Dan yang terkuat—Naga.
Lima bentuk itu pernah membawanya menuju puncak di kehidupan sebelumnya.
Sekarang, semuanya akan menjadi modalnya untuk menaklukkan dunia baru ini.
"Masih mau lanjut?"
Suara Xiao Yi membuyarkan pikiran keduanya.
Xiao Jie terduduk di lantai.
Xiao Shi menekan luka di dadanya dengan wajah pucat.
Mereka menatap Xiao Yi seperti melihat orang asing.
Pemuda itu masih memiliki wajah yang sama.
Kultivasinya pun jelas hanya Alam Penempaan Tubuh Tingkat Satu.
Tetapi tatapan itu...
Mereka belum pernah melihatnya.
Dingin dan tenang, tanpa sedikit pun kepanikan setelah melukai seseorang.
Seolah-olah darah adalah sesuatu yang biasa baginya.
"Jangan... jangan bunuh kami."
Xiao Jie akhirnya kehilangan keberanian.
Xiao Shi segera mengangguk.
"Kita keluarga, Xiao Yi. Kita semua anggota Klan Xiao."
"Keluarga?"
Xiao Yi tertawa kecil.
"Ketika kalian merampas sumber daya kultivasiku setiap bulan, kenapa tidak ingat kita keluarga?"
Wajah keduanya berubah.
"Itu... itu bukan merampas."
Xiao Jie buru-buru mencari alasan.
"Kami hanya meminjam!"
"Benar!" Xiao Shi langsung menyahut. "Kami meminjamnya."
Xiao Yi mengangguk.
"Bagus."
Keduanya sedikit lega.
Senyum Xiao Yi justru semakin lebar.
"Kalau meminjam, berarti harus dikembalikan."
"...Apa?"
"Sepuluh ribu tael per orang."
Mata Xiao Jie hampir keluar.
"Sepuluh ribu?!"
"Mana mungkin sebanyak itu!"
Xiao Shi sampai lupa pada luka di dadanya.
"Sumber daya yang kami... pinjam setiap bulan bahkan tidak sampai lima puluh tael!"
"Itu pokoknya."
Xiao Yi menatap mereka santai.
"Belum termasuk bunga."
"Bunga?"
"Kalian mengambilnya sejak aku berusia delapan tahun."
Xiao Yi menghitung dengan jari seolah sedang membicarakan perkara biasa.
"Sudah bertahun-tahun. Sepuluh ribu tael masih murah."
Wajah kedua pemuda itu berkedut.
Perampokan yang mereka lakukan bertahun-tahun mendadak berubah menjadi utang berbunga.
"Kami tidak punya uang sebanyak itu!" seru Xiao Jie.
"Oh."
Xiao Yi berdiri.
Niat membunuh kembali memenuhi tatapannya.
"Kalau begitu, bayar dengan nyawa."
"Tunggu!"
Keduanya berteriak hampir bersamaan.
"Kami bayar!"
"Ya! Kami akan membayarnya!"
Xiao Yi tersenyum.
"Bagus."
Ia menoleh.
"Yiyi, ambilkan kertas dan tinta."
Yiyi masih terpaku melihat semua yang terjadi.
"Tuan Muda?"
"Kertas dan tinta."
"Oh! Baik!"
Ia segera berlari mengambilnya.
Tak lama kemudian, dua surat utang berada di tangan Xiao Yi, lengkap dengan nama dan cap jari Xiao Jie serta Xiao Shi.
Xiao Yi memeriksanya dengan puas.
"Ingat. Utang tetap utang."
Ia menatap keduanya.
"Aku tidak peduli kalian mendapat uangnya dari mana. Kalau mencoba mengingkari ini..."
Senyumnya menghilang.
"...lain kali luka kalian tidak akan seringan hari ini."
Xiao Jie dan Xiao Shi tidak berani menjawab.
Mereka segera meninggalkan halaman dengan langkah terburu-buru.
Begitu keduanya menghilang, Yiyi menatap Xiao Yi dengan mata besar.
Seolah baru hari ini ia benar-benar mengenal tuan mudanya.
Namun Xiao Yi tidak menjelaskan apa pun.
Ia menyerahkan surat utang kepada Yiyi.
"Simpan."
"Tuan Muda mau ke mana?"
"Berjalan sebentar."
Xiao Yi meninggalkan kamar.
Ia tidak percaya kedatangan Xiao Jie dan Xiao Shi hanya kebetulan.
Keduanya memang sering menindas pemilik tubuh sebelumnya, tetapi menyerbu kamarnya tepat setelah ia sadar terasa terlalu tepat waktu.
Karena itu, Xiao Yi mengikuti mereka.
Dengan kemampuan menyembunyikan keberadaan yang ditempa selama bertahun-tahun sebagai pembunuh, mengikuti dua pemuda amatir bukan perkara sulit.
Tak lama kemudian, Xiao Jie dan Xiao Shi berhenti di tempat sepi.
Seseorang telah menunggu mereka.
Seorang pemuda tampan berdiri dengan tangan di belakang punggung.
Tatapannya dingin.
Xiao Yi mengenal wajah itu.
Xiao Ruohan.
Orang yang menghancurkan jantung pemilik tubuh ini dan mendorongnya dari tebing.
"Sepupu Ruohan..."
Xiao Jie menundukkan kepala.
"Kami gagal."
Tatapan Xiao Ruohan langsung berubah.
"Apa maksudmu?"
"Xiao Yi... dia berbeda."
Dari tempat persembunyiannya, Xiao Yi memperhatikan ketiganya tanpa suara.
Kini semuanya jelas.
Kedatangan Xiao Jie dan Xiao Shi bukan kebetulan.
Xiao Ruohan masih mengincarnya.
Sudut bibir Xiao Yi perlahan terangkat.
"Aku baru saja hidup kembali, dan kau sudah tidak sabar mengantarkan diri kepadaku."
Tatapannya menjadi dingin.
"Baiklah, Xiao Ruohan."
"Kalau kau masih ingin bermain..."
"Aku akan meladenimu."
......................
Bersambung...