Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Nyai Ratri

Ratri membalik halaman pertama laporan.

Ia tidak membaca seluruh isinya. Tatapannya berhenti pada tabel suhu, lalu berpindah ke foto livor mortis dan salinan label kantong pakaian.

"Kesimpulan ini tidak hanya lemah," katanya. "Kesimpulan ini dibuat untuk menyesuaikan satu nama."

Ahli forensik di seberangnya langsung membantah. "Itu tuduhan serius."

"Karena kesalahan Anda juga serius."

Ratri menunjuk kolom waktu.

"Suhu inti pertama korban dicatat ketika jenazah tiba di instalasi forensik. Laporan Anda memperlakukannya seolah diukur di lokasi penemuan, dua jam lebih awal. Anda lalu memakai angka suhu ruangan hotel dari arsip cuaca, bukan suhu tempat tubuh ditemukan. Dengan dua data yang waktunya berbeda, Anda tetap menghasilkan waktu kematian sampai ke menit. Itu bukan perhitungan. Itu pemaksaan hasil."

Pria itu membuka mulut, tetapi Ratri sudah memindahkan jarinya.

"Kedua, livor mortis pada foto awal dominan di punggung dan mulai menetap. Tubuh ditemukan tertelungkup. Itu mendukung adanya perubahan posisi sebelum penemuan, tetapi tidak membuktikan siapa yang memindahkan, kapan tepatnya dipindahkan, atau di mana kematian terjadi. Anda mengubah petunjuk umum menjadi tuduhan khusus tanpa satu bukti penghubung."

Ia mengangkat foto pakaian.

"Ketiga, noda kecokelatan yang Anda sebut pola darah baru tidak pernah diuji ulang di laboratorium terakreditasi. Foto ini diambil melalui kantong plastik setelah barang disimpan tiga tahun di rumah pribadi. Perubahan warna, kelembapan, dan kontaminasi tidak dicatat. Nomor segel sekarang juga berbeda dari foto serah terima lama. Benda ini tidak boleh dipakai untuk menarik kesimpulan forensik sebelum asal dan rantai simpannya dibuktikan."

Aula begitu sunyi hingga dengung pendingin udara terdengar.

Ratri menggeser map ke tengah meja.

"Dan ada satu hal paling sederhana."

Ia menunjukkan halaman daftar pustaka.

"Pedoman yang Anda kutip diterbitkan setahun setelah Larasati meninggal. Namun, Anda menulis seolah pedoman ini dipakai dalam pemeriksaan awal tiga tahun lalu. Dua paragraf di laporan baru bahkan disalin tanpa menyebut sumber."

Ganendra mengembuskan napas pelan. Beberapa tamu yang sejak awal merekam menurunkan ponsel untuk membaca layar lebih dekat.

Ahli tersebut meraih map. "Berikan kembali. Anda tidak berhak menyentuh dokumen saya."

Reza maju satu langkah dan menahan map dengan telapak tangan.

"Jangan dipindahkan dulu."

"Anda siapa?"

Reza membuka dompet identitas. "Kombes Pol Reza Pratama. Kami menerima informasi tentang dugaan penggunaan dokumen forensik yang dimanipulasi untuk memengaruhi opini publik dan menekan pihak terkait perkara lama."

Wajah ahli itu berubah.

Priyo turun dari panggung. "Pak Kombes, ini acara keluarga. Laporan tersebut hanya pendapat ahli independen."

"Karena dipresentasikan sebagai bukti ilmiah dan disiarkan kepada publik, kami perlu memastikan asal dokumen, izin akses data perkara, serta apakah ada bagian yang diubah. Tidak ada yang dinyatakan bersalah malam ini. Barang dan pihak terkait akan dimintai klarifikasi sesuai prosedur."

Dua petugas unit identifikasi masuk dari pintu samping membawa kamera dokumentasi dan kantong pengaman. Mereka tidak menyentuh meja sebelum merekam posisi setiap benda.

Ratri menoleh kepada mereka. "Gunakan sarung tangan baru. Pisahkan kantong pakaian dari dokumen. Jangan buka segel di tempat ini."

"Siap, Nyai."

Jawaban spontan salah satu petugas membuat seluruh ruangan membeku.

Reza menatap petugas itu. Pria tersebut segera menunduk, sadar sebutan yang baru saja lolos.

Sekar tertawa hambar. "Nyai? Apa sekarang dia juga dukun?"

Tidak seorang pun ikut tertawa.

Di Jakarta, sebutan Nyai dapat berarti banyak hal. Namun, cara petugas itu mengucapkannya bukan ejekan dan bukan sapaan biasa. Ada hormat yang hampir menyerupai takut.

Seorang tamu berbisik, "Nyai Ratri?"

Nama itu berpindah dari satu mulut ke mulut lain.

Reza berdiri lebih tegak. Ia sempat berkata, "Lapor, Bos..."

Ia berhenti, lalu memperbaiki kalimat di depan semua orang.

"Bu Ratri adalah konsultan forensik yang pernah membantu penanganan sejumlah perkara lintas wilayah. Arahan teknisnya mengenai pengamanan barang harus dipatuhi agar pemeriksaan tidak rusak."

"Konsultan?" tanya Ganendra. "Dia seorang pengacara."

"Dan ahli forensik," jawab Reza. "Keahliannya telah dipakai dalam perkara yang bahkan tidak boleh saya sebutkan di ruangan ini."

Reporter akun gosip mengarahkan kamera kembali kepada Ratri. Jumlah penonton melonjak begitu cepat hingga layar sempat berhenti.

Komentar baru menenggelamkan makian lama.

Dia ahli forensik sungguhan?

Kombes saja menunggu perintahnya.

Siapa sebenarnya Nyai Ratri?

Ganendra menatap Ratri dengan kekaguman terbuka. Ia berasal dari keluarga yang mengenal kekuasaan. Ia tahu bedanya penghormatan karena jabatan dan loyalitas yang dibangun dalam waktu lama. Sikap Reza bukan penghormatan sementara.

Di dekat pintu, Anin baru tiba bersama Mbak Lia. Ia berhenti ketika melihat kakaknya berdiri di bawah cahaya panggung, dikelilingi polisi, kamera, dan orang-orang yang beberapa menit lalu berharap melihatnya jatuh.

Anin akhirnya memahami betapa sedikit yang pernah ia ketahui tentang perempuan yang dibencinya karena hasutan ibunya.

Baskara tidak bergerak dari tempat duduk.

Waskita memberinya bayangan tentang begitu banyak manusia, tetapi tidak pernah memberi satu jawaban pun tentang Ratri. Selama tiga tahun ia mengira cukup mengenal perempuan itu melalui laporan, penjagaan rahasia, dan ikatan sukma yang menyampaikan rasa sakitnya.

Ia salah.

Ratri di panggung lebih terang daripada semua bayangan yang pernah ia lihat. Ketajaman, kendali, dan luka yang disembunyikannya menyatu menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh laporan mana pun.

Kebanggaan memenuhi dada Baskara. Bersamanya datang rasa bersalah yang menusuk. Ketika Ratri membangun dunia ini sendirian, ia hanya hadir sebagai darah tanpa nama, uang anonim, dan penjaga yang tidak terlihat.

Kini ia ingin berdiri di sampingnya dalam cahaya, meski perempuan itu belum mengizinkan.

Sekar merebut mikrofon. "Jangan teralihkan! Apa pun pekerjaannya, dia tetap orang terakhir yang menemui kakak saya. Tiga tahun lalu dia bebas karena punya koneksi seperti ini. Kalian semua melihat sendiri polisi tunduk kepadanya."

Ratri melepaskan sarung tangan kanan, lalu kiri. Ia melipat bagian luar ke dalam agar tidak menyentuh permukaan yang terpapar, kemudian meletakkannya di wadah limbah.

"Tiga tahun lalu saya dibebaskan bukan karena koneksi," katanya. "Saya dibebaskan karena bukti tidak menempatkan saya sebagai pembunuh."

"Bukti yang dibuat orang-orangmu!"

"Catatan suhu dibuat petugas rumah sakit. Rekaman waktu dibuat sistem yang tidak saya miliki. Pemeriksaan biologis tidak menemukan jejak yang menghubungkan saya dengan tindakan mematikan. Pengadilan menilai bukti itu, bukan nama saya."

Sekar turun dari panggung hingga berhadapan langsung dengannya. "Kakak saya tetap mati."

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Ratri kehilangan sedikit ketajamannya.

"Saya tahu."

"Mbak tidak berhak mengucapkan itu seolah ikut kehilangan."

"Saya tidak mengaku memiliki dukamu. Tapi selama tiga tahun, kematiannya juga dipakai untuk menghancurkan hidup saya. Kalau laporan malam ini palsu, seseorang masih ingin kita berdua melihat ke arah yang salah."

Sekar terdiam.

Ratri menatap foto Larasati di layar. Perempuan dalam foto itu muda, hidup, dan sama sekali tidak tahu kematiannya kelak akan menjadi senjata banyak orang.

"Kau bilang ingin keadilan untuk kakakmu," lanjut Ratri. "Kalau begitu, berhenti menerima kesimpulan hanya karena kesimpulan itu menunjuk saya."

Priyo segera menarik Sekar mundur. "Cukup. Acara ini tidak pantas berubah menjadi penyelidikan."

"Anda yang membawa laporan dan barangnya ke panggung," kata Reza. "Sekarang proses verifikasi harus selesai."

Ahli forensik itu mencoba pergi. Seorang petugas menghentikannya dengan sopan dan meminta ia ikut ke ruangan terpisah untuk pencatatan identitas serta klarifikasi awal. Timnya diminta menyerahkan salinan data kerja. Tidak ada borgol, tetapi tidak ada pula kesempatan menghilangkan dokumen.

Suryani mundur sampai punggungnya menyentuh kursi. Kakinya melemah ketika sadar kamera masih menyorot. Perempuan-perempuan yang tadi menghinanya kini berpura-pura sibuk dengan tas dan gelas masing-masing.

Siaran langsung belum berhenti.

Potongan Ratri menjelaskan livor mortis telah beredar di berbagai akun. Judul baru muncul bahkan sebelum acara selesai.

NYAI RATRI BONGKAR AHLI PALSU DI PANGGUNG WIRYAWAN.

RATRI KUSUMA TERNYATA PAKAR FORENSIK.

SIAPA YANG MEMALSU LAPORAN KEMATIAN LARASATI?

Sekar melihat layar ponselnya. Wajahnya benar-benar kehilangan warna. Panggung yang disiapkannya telah berubah menjadi tempat keluarganya sendiri diperiksa di hadapan ribuan orang.

Priyo memberi isyarat agar layar utama dimatikan. Namun, puluhan siaran lain tetap berjalan dari ponsel para tamu. Ia bisa memadamkan panggung, bukan rekaman yang sudah tersebar ke seluruh Jakarta.

Seorang perempuan yang tadi menyebut Ratri pembawa sial mencoba mendekat. "Bu Ratri, ucapan saya sebelumnya hanya karena informasi yang salah."

Ratri melewatinya tanpa menoleh.

Reporter akun gosip berteriak dari belakang rangkaian bunga. "Bu Ratri, apakah Nyai Ratri nama organisasi? Berapa kasus yang pernah Ibu bantu? Apakah keluarga Wiryawan sengaja memalsukan bukti?"

"Tidak ada kesimpulan sebelum pemeriksaan," jawab Ratri. "Jangan ganti satu fitnah dengan fitnah lain."

Kalimat itu masuk ke siaran langsung juga. Bahkan saat menang, ia menolak memakai kemarahan massa sebagai pengganti bukti. Reza memandangnya dengan hormat yang kini dipahami seluruh ruangan, meski asal loyalitas itu tetap menjadi misteri.

Ratri mengambil mantel dari Wira dan memakainya kembali. Ia tidak menatap para tamu yang kini ingin mendekat, meminta kartu nama, atau mengaku sejak awal percaya kepadanya.

Ia hanya memandang Sekar dan Priyo.

"Saya tidak membutuhkan kalian menyukai saya," katanya. "Saya juga tidak akan menghabiskan hidup untuk menjawab setiap fitnah."

Lalu ia menoleh sekali lagi pada foto Larasati.

"Tapi bagaimana Larasati meninggal, saya lebih ingin tahu daripada siapa pun di ruangan ini. Kasus ini akan saya selidiki sampai tuntas."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!