Indonesia
NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

Saat Bagas menyalakan layar ponselnya untuk menyimpan kontak tersebut, sebuah foto wallpaper tidak sengaja terpampang jelas di hadapan Rania.

Rania tertegun. Matanya melebar melihat potret seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang sedang tersenyum ke arah kamera. Bocah itu memiliki guratan wajah yang sangat tegas, hidung mancung, dan bentuk mata yang sangat mirip dengan pria di hadapannya.

Karena didorong rasa penasaran yang besar, Rania memberanikan diri untuk bertanya.

“Maaf, Mas... kalau boleh tahu, dia siapa? Wajahnya mirip sekali denganmu.”

Bagas melirik layar ponselnya, lalu seulas senyum tulus yang sangat langka terukir di bibirnya.

“Oh, dia Elang. Putra semata wayangku.”

Rania mengangguk. Ternyata Bagas sudah menikah dan memiliki anak. Jelas saja Bagas sudah berkeluarga. Dulu saat masih remaja pun Bagas adalah idola di sekolah, dia tampan, cerdas dan lahir dari keluarga kaya raya. Pasti banyak wanita yang mengantre untuk mengejarnya.

Setelah menyelesaikan obrolan mengenai protokol medis dan sepakat untuk bertemu kembali tiga hari lagi, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan.

Saat melangkah menyusuri koridor rumah sakit, kecanggungan di antara mereka perlahan mencair. Bagas melontarkan sebuah lelucon kecil tentang masa lalu mereka dulu, membuat Rania spontan tertawa lepas.

Senyum manis dan sisa tawa Rania merekah begitu indah pagi itu, sebuah pemandangan yang sudah sangat lama hilang dari wajahnya. Namun, tawa Rania mendadak terkunci di tenggorokan saat matanya menangkap siluet tiga orang di ujung lorong poli anak.

“Mas Harsa?” lirihnya.

Harsa berdiri di sana. Pria itu sedang menggendong Gavin yang nampak lemas, dengan Wulan yang berdiri sangat mepet di sampingnya, memegangi tas perlengkapan anak. Mereka bertiga baru saja keluar dari apotek dan berniat menuju lobi.

Tatapan mata Harsa seketika menggelap bagai badai saat melihat Rania bisa tertawa begitu lepas dan bahagia bersama pria asing berjas dokter di hadapannya. Tanpa memedulikan tatapan heran dari para perawat yang berlalu-lalang, Harsa melangkah lebar dengan rahang mengeras ekstrem.

“Wulan, bawa Gavin ke mobil!” Harsa langsung menurunkan Gavin dan menyerahkannya pada Wulan.

“E-eh, Mas Harsa? Ada apa—”

“Masuk ke mobil, Wulan! Sekarang!” bentak Harsa tanpa menoleh.

Wulan yang ketakutan langsung mengangguk, buru-buru membawa Gavin pergi setengah berlari menuju lobi luar.

Setelah Wulan menjauh, Harsa langsung maju dan mencengkeram kasar pergelangan tangan Rania, menarik tubuh wanita itu hingga menabrak dada bidangnya. Cengkeramannya begitu kuat hingga membuat Rania memekik kesakitan.

“Mas Harsa! Lepas! Sakit!” jerit Rania, mencoba memberontak.

“Ayo pulang!” desis Harsa tajam, sepasang matanya menatap Rania dan Bagas bergantian dengan kilat kemarahan yang teramat pekat.

Ego seorang Harsa benar-benar terbakar melihat istrinya tersenyum untuk pria lain.

“Aku nggak mau pulang! Aku nggak mau satu mobil dengan wanita itu!” jerit Rania dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

Ia berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman kokoh Harsa. Tapi, semakin keras Rania memberontak, semakin kuat pula jemari Harsa mengunci pergelangan tangannya hingga kulit Rania memerah.

“Kenapa, Rania?! Kenapa kamu menolak pulang?!” bentakan Harsa membuat beberapa suster dan pengunjung rumah sakit menoleh kaget. Tatapan matanya menghunus tajam, beralih pada Bagas yang berdiri di samping istrinya. “Karena kamu mau tetap di sini bersama pria ini, hah?! Siapa dia?!”

“Lepas, Mas! Kamu benar-benar keterlaluan!” Rania meringis menahan sakit di pergelangan tangannya.

Harsa tidak memedulikan rintihan istrinya. Ia menarik paksa tubuh Rania untuk melangkah bersamanya menuju pintu lobi.

Melihat tindakan semena-mena itu terjadi di depan matanya, Bagas tidak bisa tinggal diam. Wajah dingin dokter spesialis itu mendadak berubah mengeras. Tanpa peringatan, Bagas melangkah maju, mencengkeram bahu Harsa dan memutar tubuh pria itu dengan paksa.

Bugh!

Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang kokoh Harsa, membuat cengkeraman tangan Harsa pada Rania terlepas seketika. Harsa terhuyung mundur dua langkah, mengusap sudut bibirnya yang mendadak terasa asin oleh darah.

“Jaga sikap anda!” desis Bagas langsung menggeser tubuhnya, berdiri di depan Rania untuk membentengi wanita itu dari Harsa. “Tidak sepantasnya seorang pria berbuat kasar dan menggunakan kekerasan fisik pada seorang wanita di tempat umum, apalagi ini rumah sakit!”

Harsa menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Bagas dengan napas yang memburu.

“Heh, Dokter sialan! Jangan ikut campur dan urus saja pasienmu Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu hanyalah orang asing di sini! Dia istriku, dan apa yang aku lakukan padanya adalah urusan rumah tanggaku!”

“Saya tidak peduli siapa anda bagi Rania. Tetapi selama Rania berada di bawah pengawasan saya sebagai dokternya, saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Termasuk suaminya sendiri," balas Bagas dengan tenang namun mematikan.

“Brengsek, kau—”

“Papa Harsa! Ayo pulang! Gavin pusing, Pa... Hwaaa...”

Teriakan melengking dari arah pintu lobi seketika memutus ketegangan yang nyaris berujung pada perkelahian hebat itu. Gavin berdiri di sana, menangis sesenggukan sembari memegangi kepala kecilnya, didampingi oleh Wulan yang memasang wajah cemas bercampur panik di sampingnya.

Rania yang mendengar panggilan akrab itu kembali menggema di indra pendengarannya seketika tertegun. Sebuah senyuman kecut yang teramat getir terukir di bibirnya yang pucat.

Dada Rania terasa begitu sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Kenyataan kembali menamparnya dengan begitu keras. Pria di hadapannya ini memang tidak akan pernah bisa menjadi miliknya seutuhnya. Perhatian, waktu, bahkan panggilan papa pun sudah sah menjadi milik anak lain.

Rania menarik lalu menatap Harsa dengan pandangan mata yang kosong dan mati rasa.

“Pulanglah, Mas. Anak kesayanganmu sedang memanggilmu. Dia lebih membutuhkanmu sekarang.” ucapan Rania membuat Harsa terdiam seketika.

“Rania, dengarkan aku dulu—”

“Pulang, Mas! Urus anak dan wanita itu!” potong Rania tajam, matanya menatap lurus ke arah Wulan yang juga sedang memandangnya dari kejauhan. “Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama.”

Harsa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih ekstrem. Urat di leher dan pelipisnya menonjol akibat pergulatan batin yang hebat antara ego, rasa bersalah, dan kecemburuan yang belum tuntas.

“Baiklah, aku akan pulang karena Gavin sedang sakit. Tapi ingat Rania... aku menunggu penjelasanmu di rumah malam ini! Kita perlu bicara!”

Setelah melayangkan kalimat itu, Harsa membalikkan tubuhnya dengan kasar. Ia melangkah lebar menghampiri Wulan, lalu langsung menggendong Gavin ke dalam pelukannya dan berjalan cepat menuju mobil yang sudah menunggu di lobi, meninggalkan area rumah sakit tanpa menoleh lagi ke belakang.

Begitu mobil hitam Harsa menghilang dari pandangan, Rania mendadak merasa seluruh persendian tubuhnya melorot lemas. Ia nyaris tumbang ke lantai semen jika saja tangan kekar Bagas tidak sigap menahan kedua bahunya dengan lembut.

“Rania, kamu tidak apa-apa?”tanya Bagas dengan gurat cemas di wajahnya.

Rania memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan setitik air mata duka mengalir perlahan melewati pipinya. Rasa sakit yang menderanya saat melihat Harsa pergi bersama Wulan tadi benar-benar menghancurkan sisa-sisa harapan yang ia miliki untuk pernikahan mereka.

Ia sudah lelah menjadi yang kedua. Ia sudah lelah mengemis perhatian yang tak pernah ada. Dan di atas segalanya, ia ingin tetap bertahan hidup dari penyakit mematikan ini demi dirinya sendiri.

Rania membuka matanya, menatap Bagas dengan tatapan mata yang kini dipenuhi binar tekad yang bulat.

“Aku tidak apa-apa, Mas Bagas. Aku sudah siap. Mari kita jadwalkan sesi kemo pertamaku secepatnya. Aku sudah memutuskan untuk berpisah dan melepaskan pria itu sepenuhnya dari hidupku!”

1
Dini
bener" ceritamu menguras emosi pembaca thor'semangat thor 👍 💪
Senja: Hehe makasih kk
total 1 replies
Dini
ini gambaran d dunia nyata pun pelakor lbh unggul 😄
Dini
bagus rania aku setuju👍👍 udah fisik sakit bathin jg sakit'mending lepas salah satu fokus buat ksehatan
Dini
baru baca udh ikut ngaheng ni otak'lanjut thor 👍🤣
Ika Yanti Unyil
seneng banget ketika rania bisa hidup dan bahagia bersama dokter jo.apalagi dikasih anak kembar sepasang.setelah mendapatkan perlakuan yg menyakitkan pada rumah tangga sebelumnya.awal2 membaca bener2 bikin nyesek.rania wanita kuat.
terus semangat berkarya thor ❤️🥰❤️🥰
hariyoo: mampir kk hehe ke chat story aku dong jadilah pembacaku kak /Frown/
total 1 replies
enungdedy
maaf..bukan nya dibab2 sbelumnya ktanya usaha harsa disokong sm keluarga rania krn papa rania melihat harsa punya potensi makanya keluarga rania mau membantu usaha harsa
koq skg critanya mlah beda
Lesmana
berkat elu , nenek tua 😤😤 emosi dah gw
Ernawati
aku bacanya jam 02:13 tgl 20 Agustus 3026
Wahyu Arfyanti
papa rania beraeti founder ya,kan pemilik,..klo ceo bukan pemilik.klo ga salah ya.🙏
oss
Kan udah pernah ketemu mamanya di toko perhiasan, masa si wulan lupa
Nur Aulia
peran utamanya terlalu lemah lembut
Senja: Sesuai tema kakak, yg bada ada KETIKA ISTRI PENDIAMKU BERUBAH BAR BAR
total 1 replies
Gembul Mbulz
gimana seh... Bagas kan eng dokter hebat kangker🤨😒🤨😒
Erna Fkpg
bagus Rania jangan jd sosok yg lemah jadilah sosok wanita yg kuat dan td mudah ditindas
Gembul Mbulz
wis.... meninggoy si Gavin.😕😕
Gembul Mbulz
sepertinya itu Wulan dan Gavin,yg secara gak mau hidup miskin. 🤣🤭
Rini Marwanti manurung
saya sh tim yg ngikutin apa kata author aja.. menikmati semua karya para author.. gk pake ekspektasi2an..😊
Senja: heheh makasih kk
total 1 replies
Dewa Nara
jangan lupa posis mereka difoto ya Rania
Dewa Nara
rasain tuh Wulan, kamu terlalu lancang dan berani
Dewa Nara
katanya Harsa peka, kalau Harsa memang peka, jauh2 hari harusnya sudah tau Rania sakit
Dewa Nara
semangat, Rania 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!