Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Wisuda & Perpisahan Sementara

Hari itu akhirnya datang. Langit cerah banget, matahari hangat menyinari halaman kampus yang penuh orang. Seragam toga hitam bergelombang di mana-mana, suara tawa, teriakan, bunyi kamera — semuanya bercampur jadi satu.

Gue berdiri di depan cermin, rapikan kerah baju di balik toga. Tangan gue sedikit gemetar. Empat tahun. Ribuan hari. Dan sekarang sampai di sini.

Ketukan di pintu. "Mir? Siap?"

Farhan berdiri di sana, juga pakai toga, senyumnya bersinar banget. Di dadanya terpasang lencana wisudawan terbaik — dia dapet penghargaan itu kemarin.

"Keren banget," kata gue tulus.

"Lo juga." Dia tatap gue dari atas sampai bawah. "Paling cantik hari ini. Beneran."

Di lapangan upacara, kursi rapi berderet. Kita duduk berdampingan, bahu saling bersentuhan, sambil mendengarkan nama satu per satu dipanggil ke atas panggung. Tepuk tangan riuh, air mata haru, pelukan lepas — semuanya terasa begitu nyata.

Saat nama gue dipanggil, gue melangkah naik. Di bawah, di barisan depan, Ibu melambaikan tangan sambil menangis bahagia. Di sebelahnya, Bu Sari, Bapak, Ibu angkat, semuanya tersenyum bangga. Dan di ujung barisan, Dimas berdiri tegak, angkat jempol tinggi-tinggi.

Saat turun panggung, Farhan sudah menunggu di tangga. Dia ulurkan tangan, bantu gue turun. "Selamat, wisudawati."

"Selamat juga, wisudawan terbaik."

Siang itu foto-foto tak henti-henti. Berdua, bertiga, sama keluarga, sama teman-teman yang masih sempat. Pelukan panjang, pesan singkat, janji jangan lupa kabarin.

"Jangan hilang ya," kata Lina sambil peluk gue erat. "Walau kota beda."

"Gak akan. Janji."

Sore tiba, orang-orang perlahan pulang. Lapangan makin sepi. Kita berdua duduk di bangku taman, tempat yang sama seperti dulu. Matahari mulai turun, warna keemasan menyelimuti segalanya.

"Sudah sampai ya," kata gue pelan, tatap selembar ijazah di tangan.

"Iya. Sampai." Farhan senyum, tapi matanya sedih. "Dan sekarang... harus pisah."

Benar. Farhan diterima kerja di kota sebelah — peluang bagus, kesempatan langka, persis yang dia impikan. Sedangkan gue harus pulang ke kota asal dulu, urus urusan keluarga, baru menyusul. Tiga bulan. Katanya cuma tiga bulan. Tapi rasanya seperti tahun.

"Jangan sedih ya," kata dia pelan, pegang tangan gue di atas bangku. "Bukan selamanya. Cuma sebentar."

"Tiga bulan lama tau, Han."

"Gue tau. Kita buat hitungan hari ya. Tiap hari lewat, tandain kalender. Biar tau — makin dekat."

Malam perpisahan di rumah Bu Sari. Makan besar, tapi suasananya berat. Ibu angkat pegang tangan gue lama sekali sebelum pulang. "Jaga dirimu baik-baik ya, Amira. Farhan di sana, Amira di sini. Sama-sama kuat."

"Siap, Bu."

Pagi keberangkatan. Stasiun penuh pelukan dan air mata. Kita berdiri di peron, kereta Farhan akan berangkat sepuluh menit lagi. Gue yang pulang sore nanti.

"Jangan lupa sarapan," pesan gue. "Jangan begadang terus. Kalau sakit langsung ke dokter, jangan ditahan."

"Siap. Lo juga." Dia usap rambut gue pelan. "Jangan lupa minum air putih. Jangan pikir berat sendirian. Telepon gue kapan pun, walau larut."

Kereta masuk perlahan. Penumpang mulai naik. Dia belum bergerak.

"Naik sana, Han. Nanti ketinggalan."

Dia peluk gue erat sekali, seakan tak mau lepaskan. "Tiga bulan, Mir. Hanya tiga bulan. Lalu kita ketemu lagi di kota baru. Mulai semuanya bareng."

"Janji?"

"Janji. Di hari ke sembilan puluh, gue jemput lo di stasiun. Pasti."

Dia naik kereta, melambai dari jendela. Kereta perlahan bergerak, makin lama makin jauh, sampai akhirnya hilang dari pandangan. Gue berdiri sendirian di peron, tangan masih terangkat, dada kosong berat banget.

Sore itu gue juga berangkat pulang. Kereta melaju pelan meninggalkan kota yang jadi saksi tumbuh kita berdua. Jendela terbuka, angin berhembus masuk, membawa bau kenangan.

Di buku catatan, gue tulis:

"Wisuda bukan akhir. Ini awal perpisahan pertama yang sungguh-sungguh. Dulu kita beda kampus, tapi satu kota. Sekarang beda kota, beda jarak, beda waktu. Tapi satu hal gue yakin — arah kita tetap sama."

"Tiga bulan. Sembilan puluh hari. Bukan lama. Tapi cukup buat ngetes: apakah cinta kita kuat walau tak bertatap muka?"

HP berbunyi, pesan dari Farhan:

"Sudah sampai. Kamar kecil, rapi. Langit di sini sama kayak di sana. Bulan purnama. Kita lihat bulan yang sama ya tiap malam. Biar kerasa dekat."

Gue senyum, balas:

"Iya. Bulan yang sama. Sembilan puluh hari. Ingat janji."

"Ingat. Jangan pernah lupa."

Pesan lain masuk, dari Dimas:

"Selamat wisuda kalian! Awal baru ya. Jarak sementara, masa depan selamanya. Semangat!"

Gue tarik napas dalam, tatap keluar jendela. Kota baru menanti, masa depan belum terlihat jelas. Tapi satu hal pasti — kita bukan berpisah untuk menjauh. Kita berpisah untuk berkumpul lagi, lebih kuat, lebih siap, lebih utuh.

Tiga bulan. Sembilan puluh hari. Hitung mundur dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!