Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memilih Pergi

“Lima tahun… kurasa sudah lebih dari cukup aku menopang keluarga ini. Sekarang, aku juga ingin bernapas dengan bebas,” ucap Haselyn lirih sambil menatap Ayah Mahendra.

Tatapannya tampak tegar, tetapi di balik ketenangan itu, hatinya bergetar. Ada rasa tidak tega yang terus menggerogoti, seolah berusaha menariknya kembali pada pengorbanan yang selama ini ia jalani. Namun, kali ini ia memilih menguatkan dirinya sendiri.

Haselyn tidak ingin lagi dimanfaatkan. Ia lelah menjadi orang yang selalu mengalah, selalu memberi, dan selalu mengorbankan kebahagiaannya demi orang-orang yang tidak pernah benar-benar menghargai keberadaannya. Luka demi luka, hinaan demi hinaan, telah ia telan selama bertahun-tahun. Dan untuk pertama kalinya, ia memutuskan bahwa dirinya juga pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

“Dan untuk Ayah…” Haselyn menoleh ke arah pria yang telah membesarkannya. Tatapannya dipenuhi kelelahan, tetapi juga keteguhan yang tidak lagi bisa digoyahkan.

“Aku akan menyerahkan rumah ini untuk Ayah. Aku juga akan tetap mengirim uang setiap bulan. Mbok Inah tetap bekerja di sini untuk membantu merawat Ayah dan mengurus semua kebutuhan Ayah.”

Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa berat, seolah ada bagian dari dirinya yang perlahan terlepas. Namun, keputusan itu telah ia pikirkan berkali-kali.

“Aku akan tetap bertanggung jawab menafkahi Ayah, karena Ayah adalah ayah kandungku. Menjaga Ayah adalah kewajibanku. Hanya saja… kali ini aku tidak bisa merawat Ayah secara langsung.”

Haselyn menarik napas panjang. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena ia tahu bahwa kepedulian tidak selalu berarti harus mengorbankan dirinya sendiri. Ia tetap akan memastikan Ayahnya hidup dengan layak di masa tua, semua kebutuhan terpenuhi, dan ada orang yang mendampingi setiap hari. Baginya, tanggung jawab tidak harus selalu diwujudkan dengan tinggal di sisi seseorang. Terkadang, mencintai juga berarti menjaga dari kejauhan tanpa kembali tenggelam dalam luka yang sama.

“Dan untuk Kak Nisrina…” Haselyn mengalihkan pandangannya ke arah sang kakak. Tatapannya tidak lagi dipenuhi amarah, melainkan kekecewaan yang telah berubah menjadi kelelahan.

“Mulai hari ini, Kakak bukan lagi tanggung jawabku. Kakak sudah memiliki suami, dan itu adalah pilihan yang Kakak ambil sendiri.”

Haselyn berhenti sejenak, memberi jeda pada kata-katanya yang terasa semakin berat.

“Aku sudah berkali-kali menasihati Kakak. Aku juga sudah menjelaskan alasanku dengan logis, kenapa aku meminta Kakak menjauh dari pria itu. Semua yang kukatakan bukan karena aku ingin mengatur hidup Kakak, tetapi karena aku ingin melindungi Kakak.”

Senyum tipis yang pahit terukir di sudut bibirnya.

“Tapi Kakak tetap memilih bertahan. Kakak mempertahankan pria itu, meski sudah mengetahui semua alasan yang kusampaikan. Jadi, apa pun yang terjadi setelah ini, itu adalah konsekuensi dari pilihan Kakak sendiri.”

Haselyn menundukkan pandangannya sesaat. Bukan karena ia membenci Nisrina, melainkan karena ia akhirnya menyadari bahwa tidak semua orang bisa diselamatkan, terutama mereka yang menolak ditolong. Dan ia tidak bisa terus memikul beban dari keputusan yang bukan miliknya.

Faeyza dan Ayah Mahendra menatap Haselyn dengan sorot mata yang tajam. Keduanya tampak sama-sama terkejut, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

“Apa maksudmu Nisrina sudah punya suami?” bentak Ayah Mahendra dengan wajah memerah.

Satu kata itu 'suami' menghantamnya seperti petir di siang bolong. Dadanya bergemuruh, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Sejak kapan putri sulungnya menikah? Mengapa ia tidak pernah mengetahui hal sebesar itu? Bagaimana mungkin semua itu terjadi tanpa sepengetahuannya?

“Benar, Yah. Sejak kapan Nisrina menikah?” Faeyza ikut bersuara, menatap Haselyn dengan tatapan penuh kebingungan.

Ia sulit mempercayai ucapan adiknya. Sepengetahuannya, Nisrina belum pernah menjalin hubungan serius dengan siapa pun. Bahkan, selama ini Nisrina tidak pernah membawa seorang pria ke hadapan keluarga.

Ruangan itu mendadak dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Semua mata tertuju pada Haselyn, menunggu penjelasan yang mungkin akan mengubah banyak hal di keluarga mereka.

“Silakan tanya sendiri pada anak kesayangan Ayah,” ucap Haselyn dengan suara tenang, tetapi ketegasan dalam setiap katanya terasa seperti pisau yang mengiris.

“Aku sudah menasihatinya. Aku sudah memperingatkannya berkali-kali, tapi dia tidak pernah mau mendengarkanku.”

Haselyn menatap Ayah Mahendra tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.

“Bukankah selama ini kalian selalu menganggap aku kurang ajar? Selalu merasa aku yang berlebihan, aku yang suka ikut campur, dan aku yang ingin mengatur hidup orang lain?” senyumnya tipis, tetapi sama sekali tidak mengandung kehangatan. “Kalau begitu, mulai sekarang urus sendiri anak kesayangan keluarga Arfasya.”

Ia menarik napas panjang, seolah sedang melepaskan beban yang selama bertahun-tahun menekan dadanya.

“Aku, Haselyn Arfasya, tidak akan ikut campur lagi dalam urusan kalian. Apa pun itu.”

Suasana ruangan semakin mencekam.

“Satu-satunya tanggung jawabku sekarang hanyalah memastikan kebutuhan harian Ayah terpenuhi. Tidak lebih, dan tidak kurang.”

Kalimat terakhir itu meluncur dengan mantap. Untuk pertama kalinya, Haselyn menetapkan batas yang tidak lagi bisa dinegosiasikan oleh siapa pun.

“Mario!” panggil Haselyn dengan suara lantang, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berlari menuruni tangga. Mario Arfasya, putra semata wayangnya, segera muncul dengan napas yang sedikit memburu. Sejak tadi ia memang berada di kamar lantai atas atas permintaan Haselyn.

“Ada apa, Ma?” tanyanya cemas, berusaha mengatur napas setelah berlari secepat mungkin.

Haselyn menatap putranya dengan sorot mata yang lembut, namun penuh ketegasan.

“Kita pulang ke rumah kita sekarang.”

Tanpa menunggu tanggapan, Haselyn menggenggam tangan Mario erat-erat. Jemarinya terasa hangat, seolah ingin meyakinkan putranya bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama.

“Ayo, kita ke kamar. Kita berkemas.”

Mario mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah ibunya menuju kamar. Di balik langkah mereka, suasana rumah itu terasa semakin asing, seakan tempat yang selama ini disebut keluarga bukan lagi tempat untuk mereka pulang.

Mario menahan tangan Haselyn, membuat langkah wanita itu terhenti.

“Pulang?” ulang Mario dengan wajah penuh kebingungan. “Bukannya kita sudah di rumah, Ma?”

Haselyn menatap putranya sejenak. Ada sesak yang memenuhi dadanya, tetapi ia tidak membiarkan air matanya jatuh di hadapan Mario.

“Rumah ini sudah Mama berikan kepada Kakekmu,” ucapnya pelan. “Jadi, mulai hari ini, ini bukan rumah kita lagi. Ayo, kita berkemas.”

Ia kembali menggandeng tangan Mario dan mengajaknya menaiki tangga menuju kamar mereka yang ada di lantai atas.

Tak butuh waktu lama. Haselyn hanya membawa barang-barang yang benar-benar penting. Ia tidak mengambil banyak hal, meski hampir setiap sudut kamar itu menyimpan kenangan hidupnya.

Setelah semua selesai, Haselyn menggenggam tangan Mario dan melangkah keluar dari rumah itu.

Rumah masa kecilnya.

Rumah yang pernah menjadi tempat ia tumbuh, menangis, bermimpi, lalu ia bangun kembali dengan hasil kerja keras dan keringatnya sendiri.

Kini ia meninggalkannya.

Bukan karena ia tidak mampu mempertahankannya, melainkan karena ia tidak ingin keluarganya kehilangan tempat berteduh. Kemarahannya tidak pernah membuatnya tega melihat Ayahnya hidup terlantar. Maka, ia memilih pergi, membawa luka yang tak terlihat, dan meninggalkan rumah yang selama ini menjadi bagian dari dirinya.

Setiap langkah menjauh dari rumah itu terasa seperti melepaskan sepotong hatinya sendiri. Namun, kali ini Haselyn tahu, ada perpisahan yang harus dilakukan agar ia bisa menyelamatkan sisa dirinya yang selama ini terus terluka.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!