Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.Welcome,istana dingin
Malam itu, Aira hampir tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Ia menghabiskan sisa malamnya di samping ranjang sang ibu, menggenggam erat tangan rapuh itu sambil mendengarkan deru napasnya yang lambat. Tepat pukul dua dini hari, ponsel murah Aira bergetar singkat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal menyalakan layar ponselnya yang retak di sudut:
Pesan resmi dari Rumah Sakit Medika Prima: Pembayaran deposit sebesar Rp2.000.000.000,00 atas nama pasien Ny. Wahyuni telah diterima secara penuh dari Danuartha Corp. Seluruh fasilitas perawatan VIP dan tim dokter spesialis telah diaktifkan.
Aira memejamkan mata rapat-rapat saat air mata kelegaannya menetes. Arka memegang ucapannya. Pria itu benar-benar menepati janjinya dalam hitungan jam. Setidaknya, pengorbanan Aira malam ini tidak sia-sia. Ibunya akan selamat, dan itu sudah lebih dari cukup untuk memberi Aira keberanian menghadapi apa pun yang menunggunya di depan sana.
Pagi harinya, tepat pukul delapan kurang lima menit, sebuah mobil sedan hitam meluncur mulus dan berhenti di depan pagar paviliun belakang.
Raymond, asisten pribadi Arka yang mengenakan setelan jas rapi, turun dan membungkuk sopan kepada Aira yang berdiri memeluk sebuah koper tua berwarna biru kusam—satu-satunya barang yang ia bawa dari hidup lamanya.
"Selamat pagi, Nyonya Aira. Saya Raymond. Pak Arka meminta saya untuk menjemput Anda dan memastikan proses kepindahan ibu Anda ke Rumah Sakit Medika Prima berjalan lancar," ujar Raymond dengan nada profesional namun sangat sopan.
"Terima kasih, Mas Raymond. Bisakah saya menemani Mama ke rumah sakit dulu sebelum ke rumah Pak Arka?" tanya Aira cemas.
"Tidak perlu khawatir, Nyonya. Ambulans VIP beserta tim medis khusus sudah mengawal kepindahan ibu Anda pagi ini. Pak Arka sudah mengatur agar ibu Anda mendapatkan penanganan terbaik. Tugas Anda sekarang adalah ikut bersama saya menuju kediaman utama," jawab Raymond tenang.
Aira menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, menatap bangunan paviliun kumuh yang telah menyimpan begitu banyak jerit tangis dan rasa sakitnya selama lima tahun terakhir.
Tanpa pamit kepada Hendra atau Lina—yang bahkan tidak sudi keluar kamar untuk melepasnya—Aira melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu.
Perjalanan menempuh waktu sekitar empat puluh lima menit menuju kawasan perumahan paling elit di pinggiran kota. Mobil berhenti di depan gerbang besi tempa menjulang tinggi yang terbuka secara otomatis. Ketika mobil melaju melewati jalan setapak beraspal mulus yang diapit pepohonan rimbun, mata Aira membelalak.
Di ujung jalan itu, berdiri kokoh sebuah kediaman bergaya arsitektur modern minimalis dengan dominasi warna abu-abu, kaca besar, dan aksen kayu mahal. Rumah itu bukan sekadar besar, melainkan megah bak istana tersembunyi. Namun, alih-alih terasa hangat, bangunan itu memancarkan aura dingin, sepi, dan terlalu kaku.
"Kita sudah sampai, Nyonya," ucap Raymond seraya membukakan pintu untuk Aira.
Aira melangkah keluar dengan canggung, memegangi tali tas sandangnya erat-erat. Seorang wanita paruh baya berseragam pelayan yang rapi mendekatinya dengan senyum hangat—senyum tulus pertama yang Aira lihat sejak kemarin.
"Selamat datang, Nyonya Aira. Saya Bi Inah, kepala rumah tangga di sini. Mari, saya antarkan masuk," sambut Bi Inah ramah.
"Ah... panggil Aira saja, Bi. Jangan panggil Nyonya, saya tidak terbiasa," bisik Aira canggung.
Bi Inah terkekeh pelan, matanya menatap Aira dengan rasa iba sekaligus kagum pada kepolosan gadis muda itu. "Aduh, mana boleh begitu, Nyonya. Den Arka bisa marah besar kalau dengar. Mari masuk, Den Arka dan Mas Elano sudah menunggu di ruang keluarga."
Aira melangkah masuk menyusuri lorong berlantai marmer putih yang begitu bersih hingga ia bisa melihat bayangan wajahnya sendiri.
Langit-langit rumah itu sangat tinggi, membuat suara langkah kakinya memantul pelan. Tidak ada hiasan warna-warni atau foto keluarga yang hangat, hanya ada beberapa lukisan abstrak bernilai tinggi yang tergantung di dinding.
Saat memasuki ruang keluarga yang luas, pemandangan unik langsung menyapa mata Aira.
Di atas sofa kulit hitam yang sangat besar, Arka Danuartha duduk memangku laptopnya.
Pria itu sudah mengenakan pakaian santai rumah—kaos polos berwarna abu-abu tua dan celana kain—namun aura tegas dan tampannya sama sekali tidak berkurang. Di lantai berkarpet tebal tepat di depan sofa, Elano sedang duduk bersila di antara tumpukan balok lego yang berantakan.
"Papa! Ini baloknya nggak bisa nempel! Katanya lego mahal, masa jelek sih?!" protes Elano dengan wajah cemberut, mencoba memaksa dua balok plastik berukuran beda untuk menyatu.
"Sisi baloknya berbeda, Elano. Pakai otakmu, jangan pakai otot," sahut Arka datar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Ih Papa! Elano kan baru empat tahun, belum punya otak gede kaya Papa!" seru Elano dengan kepolosan tanpa dosa yang luar biasa.
Pfft!
Aira refleks menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Bau canggung yang menyelimutinya seketika buyar oleh kepolosan anak kecil itu.
Bagaimana bisa seorang anak balita mendebat ayahnya yang merupakan pengusaha terpandang dengan alasan "belum punya otak gede"?
Suara tawa kecil Aira yang tertahan ternyata terdengar oleh Arka. Pria itu menghentikan jarinya di atas keyboard, lalu mendongak. Matanya yang tajam langsung bertubrukan dengan mata Aira yang masih berbinar menahan tawa.
Arka menutup laptopnya dengan gerakan perlahan. "Sudah sampai?"
"I-iya, Pak Arka," jawab Aira mendadak kaku kembali.
"Tante cantik!" Elano yang menyadari kehadiran Aira langsung melupakan legonya.
Bocah kecil itu bangkit berdiri dan berlari kecil menghampiri Aira. Tanpa ragu, tangan mungilnya langsung menggamit ujung kaus Aira. "Tante beneran datang! Kata Papa, Tante mau tinggal di sini buat main sama Elano!"
Aira berlutut di hadapan Elano agar tingginya sejajar dengan bocah itu. Senyum tulus mengembang di wajah Aira, rasa hangat menyeruak di dadanya saat melihat mata bulat Elano yang berbinar jernih. "Halo Elano. Iya, Tante bakal tinggal di sini. Elano lagi bikin apa tadi?"
"Bikin rumah buat naga! Tapi Papaku galak, nggak mau bantu!" adu Elano polos sambil melirik sinis ke arah ayahnya.
Arka memijit pangkal hidungnya pelan, menghela napas panjang melihat kelakuan putranya. "Elano, masuk ke kamarmu dulu dengan Bi Inah. Papa mau bicara dengan Tante Aira."
"Nggak mau! Elano mau sama Tante cantik!" rengek Elano sambil memeluk leher Aira erat-erat. Bau harum bedak bayi bercampur aroma vanila dari tubuh bocah itu membuat hati Aira yang rapuh mendadak merasa terlindungi.
"Elano. Hitungan ketiga," ujar Arka dengan nada suara bertambah berat dan rendah.
"Satu... dua..."
Belum sempat Arka mengucapkan angka tiga, Elano sudah melepas pelukannya dari Aira dengan wajah cemberut maksimal.
"Iya, iya! Papa pelit! Ayo Bi Inah, kita main di kamar aja daripada liat muka Papa yang kaya kanebo kering!" seru Elano sambil menghentakkan kakinya melangkah pergi bersama Bi Inah yang menahan tawa sampai bahunya berguncang.
Aira berdiri kembali, menggigit bibirnya pelan agar tidak tertawa melihat drama ayah dan anak di hadapannya.
Setelah ruang keluarga kembali hening, Arka berdiri dari sofa. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Aira harus mendongak untuk menatapnya. Pria berusia 39 tahun itu berjalan mendekati Aira, mengikis jarak di antara mereka hingga Aira bisa menghirup aroma maskulin khas woody dan citrus yang menyeruak dari tubuh Arka.
"Duduk," perintah Arka singkat sambil menunjuk sofa.
Aira menurut dan duduk di ujung sofa dengan posisi sangat tegap, sementara Arka duduk di sofa tunggal di seberangnya.
"Raymond sudah mengurus kepindahan ibumu. Dia berada di ruang VIP Rumah Sakit Medika Prima sekarang, ditangani langsung oleh Dr. Kusuma, spesialis saraf terbaik di kota ini," Arka membuka percakapan dengan nada bisnisnya yang khas.
"Terima kasih banyak, Pak Arka. Saya... saya betul-betul tidak tahu harus berterima kasih seperti apa," ujar Aira tulus, matanya berkaca-kaca.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini transaksi bisnis. Kamu memberikan apa yang saya butuhkan, dan saya membayar harganya," potong Arka dingin tanpa riak emosi. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, menatap Aira dengan intensitas yang membuat gadis itu salah tingkah.
"Ada beberapa hal penting yang perlu kamu pahami selama tinggal di rumah ini," lanjut Arka.
"Pertama, kamarmu berada di lantai dua, tepat di sebelah kamar Elano. Ada pintu penghubung di antara kamar kalian agar kamu bisa mengeceknya jika dia terbangun di malam hari."
Aira mengangguk cepat. "Baik, Pak."
"Kedua, kamar pribadi saya berada di ujung koridor lantai dua. Area itu terlarang untuk kamu masuki tanpa izin saya. Paham?"
"Paham, Pak."
"Ketiga..." Arka jeda sejenak, matanya menatap tajam langsung ke dalam iris mata Aira.
"Pernikahan resmi kita secara hukum dan agama akan dilaksanakan lusa secara tertutup di rumah ini. Hanya ada penghulu, saksi, dan kita. Tidak ada pesta, tidak ada media, dan tidak ada keluarga dari pihakmu yang diundang."
Aira tertegun sejenak. "Termasuk... Ayah saya?"
Arka terkehdih pelan, sebuah senyum sinis yang sangat tipis terukir di bibirnya. "Kamu pikir saya akan membiarkan pria yang menjual anak kandungnya sendiri dan wanita serakah itu menginjakkan kaki di rumah saya lagi? Saya sudah memberi mereka 'uang lelah' secukupnya agar tidak mengganggumu atau mencari keberadaan ibumu lagi selama tiga tahun ke depan."
Kata-kata Arka menusuk, namun Aira tidak bisa membantahnya karena itu adalah kebenaran yang nyata. Ayahnya memang telah menjualnya, dan Lina memang wanita serakah. Ada rasa lega yang amat besar saat tahu Arka telah memasang benteng agar keluarga beracun itu tidak bisa menyentuhnya lagi.
"Terima kasih, Pak... untuk yang satu itu," bisik Aira pelan, menundukkan kepalanya.
Arka memperhatikan raut wajah gadis 19 tahun di hadapannya. Ada kepedihan mendalam yang tersembunyi di balik matanya, namun gadis ini tidak meratap atau mengasihani dirinya sendiri. Ada keteguhan langka yang membuat Arka diam-diam menghormatinya.
"Satu hal lagi," tambah Arka seraya bangkit berdiri.
"Panggil saya Arka jika kita hanya berdua atau di depan Elano. Jangan panggil 'Pak', kamu bukan karyawan saya."
"Tapi... umur kita beda jauh, Pak—maksud saya, Arka," protes Aira canggung. Rasanya sangat aneh memanggil pria berusia 39 tahun yang sangat berkuasa ini hanya dengan namanya.
Arka menghentikan langkahnya, menoleh sedikit ke arah Aira dengan alis terangkat. "Kamu lebih suka memanggil saya 'Mas'?"
Wajah Aira seketika merona merah padam sampai ke ujung telinga. Mitos bahwa Arka Danuartha adalah pria dingin tanpa perasaan mendadak buyar, digantikan oleh fakta bahwa pria tua ini ternyata sangat lihai membuat jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur.
"B-bukan begitu! Maksud saya... Arka saja sudah cukup!" jawab Aira gagap, memalingkan wajahnya yang terasa panas membakar.
Arka tidak membalas lagi, namun ada kilat geli yang sangat tipis menghiasi sudut matanya saat ia berjalan meninggalkan ruang keluarga, meninggalkan Aira yang masih memegangi pipinya yang merona merah sendirian di tengah ruangan megah yang dingin itu.
_Bersambung