⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YANG MENJAGA KESUNYIAN [FRAGMEN KEENAM: MO WUXIN]
Mo Wuxin kembali ke Sekte Mimpi Melayang lima minggu setelah kunjungan pertamanya, membawa pertanyaan-pertanyaan baru yang tumbuh dari malam-malam ia habiskan mempelajari gulungan tua yang dipinjamkan Xuan Ming padanya.
Ia tidak menemukan sambutan yang sama seperti sebelumnya.
Sekte itu terasa lebih sunyi daripada biasanya—bukan ketenangan meditasi yang biasa mewarnai tempat itu, tapi keheningan yang terasa seperti sesuatu sedang sengaja ditahan, disembunyikan di balik dinding dan wajah-wajah murid yang menghindari tatapannya lebih lama dari yang wajar.
Xuan Ming menerimanya di ruangan yang sama, tapi kitab-kitab kuno yang sebelumnya memenuhi rak-rak di sekelilingnya kini jauh berkurang jumlahnya, beberapa rak kosong dengan bekas debu yang menunjukkan sesuatu baru saja diambil dari sana, bukan dipindahkan dengan perawatan seperti biasanya diperlakukan barang-barang berharga sekte.
"Terjadi sesuatu," Mo Wuxin berkata, bukan pertanyaan.
Xuan Ming menatapnya lama sebelum menjawab, matanya yang biasanya tajam kini tampak lebih lelah, lebih berhati-hati.
"Tiga minggu setelah kepergianmu," ia akhirnya berkata, "beberapa tamu mengunjungi kami. Mereka menyebut diri mereka Penjaga Kesunyian—organisasi yang jarang menunjukkan diri, yang sudah ada sejak sebelum sekte kami berdiri, dengan satu tujuan yang mereka jaga dengan sangat serius: mencegah legenda-legenda tertentu menyebar terlalu luas."
"Legenda Tujuh Nyala," Mo Wuxin berkata pelan.
"Di antara beberapa lainnya," Xuan Ming mengangguk. "Mereka tahu aku menunjukkannya padamu. Aku tidak tahu bagaimana mereka tahu—mungkin mereka mengawasi sekte kami lebih lama daripada yang pernah kusadari."
"Apa yang mereka lakukan padamu?" Mo Wuxin bertanya, rasa bersalah mulai membebani dadanya.
"Mereka tidak melukaiku secara fisik," Xuan Ming berkata, meski nada suaranya menunjukkan sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar ketiadaan luka fisik. "Mereka mengambil semua salinan gulungan yang tersisa di perpustakaan kami—bukan hanya tentang Tujuh Nyala, tapi beberapa catatan lain yang mereka anggap berhubungan. Mereka juga... mencabut hakku untuk mengajar murid tingkat tinggi selama lima tahun ke depan, sebagai peringatan."
Lima tahun. Untuk seseorang yang sudah mengabdikan hampir seluruh hidupnya yang sangat panjang untuk mengajar, itu bukan hukuman kecil.
"Aku minta maaf," Mo Wuxin berkata, suaranya berat. "Kalau aku tidak pernah bertanya—"
"Tidak," Xuan Ming memotong, tegas untuk pertama kalinya sejak Mo Wuxin tiba. "Aku yang memilih menunjukkan gulungan itu padamu, dan sadar akan risikonya. Aku sudah menyimpannya selama enam puluh tahun, menunggu seseorang yang pantas menerimanya. Aku tidak menyesali pilihanku, meski aku tidak menduga konsekuensinya akan datang secepat dan seberat ini."
Sebuah suara baru menyela dari pintu—tenang, tidak terburu-buru, seperti seseorang yang sudah lama terbiasa berbicara dengan otoritas yang tidak perlu ditegaskan lebih keras dari yang diperlukan.
"Kebetulan yang menarik," suara itu berkata. "Subjek yang kami diskusikan baru saja muncul sendiri."
Seorang pria berjubah abu-abu polos, tanpa lambang sekte apa pun yang bisa dikenali, berdiri di ambang pintu—tidak dengan pengawal, tidak dengan senjata terhunus, hanya dengan ketenangan yang entah bagaimana terasa lebih mengancam daripada ancaman terbuka.
"Aku Jing Mo," ia berkata, "perwakilan Penjaga Kesunyian. Aku sudah menduga kau akan kembali ke sini, Soul Wanderer. Rasa ingin tahu jarang berhenti hanya karena diperingatkan sekali."
"Kau tahu namaku," Mo Wuxin berkata, berdiri lebih waspada, meski tidak mengambil posisi menyerang. Ia sudah cukup lama mempelajari jiwa manusia untuk tahu bahwa konfrontasi terbuka jarang menjadi jalan terbaik menghadapi seseorang seperti ini.
"Kami mengetahui banyak hal yang jarang diketahui orang lain," Jing Mo berkata, tidak sombong, hanya menyatakan fakta. "Itu bagian dari tugas kami."
"Tugas apa?" Mo Wuxin bertanya. "Menghukum orang tua yang berbagi pengetahuan dengan tamu yang ia percaya?"
"Tugas mencegah kekacauan yang jauh lebih besar daripada yang tampaknya kau pahami," Jing Mo menjawab, nadanya tetap datar. "Legenda Tujuh Nyala bukan sekadar dongeng tak berbahaya, Soul Wanderer. Sepanjang sejarah, setiap kali legenda itu menyebar cukup luas, muncul orang-orang yang mengklaim diri mereka salah satu dari 'tujuh fragmen'—sebagian karena delusi, sebagian karena ambisi yang sengaja memanfaatkan kepercayaan orang-orang putus asa yang mencari makna kosmis dalam hidup mereka. Kekacauan yang ditimbulkan klaim-klaim palsu semacam itu sudah menghancurkan setidaknya tiga wilayah sepanjang sejarah yang tercatat."
Ini bukan penjelasan yang Mo Wuxin duga akan ia dengar—bukan ancaman kosong, tapi alasan yang, betapapun tidak nyaman untuk diakui, memiliki logika yang sulit ia bantah begitu saja.
"Jadi kalian menghapus pengetahuan tentang sesuatu yang mungkin benar," ia berkata, "untuk mencegah orang lain berbohong tentangnya."
"Kami menyembunyikan pengetahuan yang belum bisa dibedakan kebanyakan orang, antara kebenaran dan penipuan," Jing Mo mengoreksi. "Ada perbedaan penting di sana."
"Apakah kalian tahu jawabannya sendiri?" Mo Wuxin bertanya, lebih tajam daripada yang ia maksudkan. "Apakah legenda ini benar? Apakah kalian tahu di mana sumbernya, atau siapa yang mungkin menjadi bagian darinya?"
Jing Mo diam sesaat, cukup lama untuk membuat Mo Wuxin curiga jawabannya lebih rumit daripada yang bersedia ia ungkapkan.
"Itu bukan informasi yang bisa kubagikan," Jing Mo akhirnya berkata, "kepada seseorang yang belum menunjukkan apakah ia akan menjadi bagian dari masalah, atau bagian dari alasan masalah itu bisa dikendalikan."
"Apa yang kau inginkan dariku?" Mo Wuxin bertanya langsung.
"Aku ingin gulungan yang kau bawa," Jing Mo berkata. "Dan aku ingin janji bahwa kau akan berhenti mencari jawaban tentang legenda ini secara terbuka, dengan cara yang bisa menarik perhatian orang lain."
"Dan kalau aku menolak?"
"Maka aku akan mengambilnya dengan cara lain," Jing Mo berkata, masih dengan nada yang sama tenangnya, meski sesuatu di baliknya menegaskan ia sepenuhnya mampu melakukan apa yang ia katakan. "Aku lebih suka tidak melakukannya dengan cara itu. Kekerasan meninggalkan jejak yang lebih sulit disembunyikan daripada persuasi."
Mo Wuxin menatap Xuan Ming, yang berdiri diam di sudut ruangan, wajahnya sulit dibaca tapi matanya menyampaikan sesuatu—bukan permintaan untuk menyerah, bukan pula dorongan untuk melawan, hanya kepercayaan bahwa keputusan ini sepenuhnya ada di tangan Mo Wuxin sendiri untuk diambil.
Ia bisa menyerahkan gulungan itu. Ia sudah menyalin sebagian isinya ke dalam ingatannya sendiri, meski tidak semuanya—beberapa bagian sudah terlalu rusak untuk dibaca bahkan sebelum ia menerimanya. Menyerahkan salinan fisik tidak sepenuhnya menghapus apa yang sudah ia ketahui.
Tapi berjanji untuk berhenti mencari jawaban—itu jauh lebih sulit ia terima, terutama sekarang setelah ia tahu, dengan kepastian yang tidak lagi bisa ia bantah, bahwa dirinya kemungkinan besar adalah salah satu dari tujuh yang dicari legenda itu.
"Aku akan menyerahkan gulungannya," ia akhirnya berkata, menyerahkan kitab tua itu dari balik jubahnya. "Tapi aku tidak bisa berjanji berhenti mencari jawaban."
Jing Mo menerima gulungan itu, memeriksanya sekilas sebelum menyimpannya ke dalam jubahnya sendiri.
"Aku menduga kau akan berkata begitu," ia berkata, tidak terlihat marah, hanya seperti seseorang yang sudah memperkirakan hasil ini sejak awal. "Aku tidak bisa memaksamu berhenti bertanya di dalam kepalamu sendiri, Soul Wanderer. Yang bisa kupastikan adalah kau berhenti menyebarkannya secara terbuka, mempertaruhkan orang lain seperti yang baru saja terjadi pada tetua tua ini."
Ia menatap Xuan Ming sesaat, kemudian kembali ke Mo Wuxin.
"Kalau kau terus mencari sendirian, secara diam-diam, itu risiko yang kau tanggung sendiri," Jing Mo berkata. "Tapi kalau kau melibatkan orang lain lagi—siapa pun mereka, di mana pun—kami akan tahu, dan konsekuensinya tidak akan seringan yang baru saja diterima sekte ini."
Ia pergi tanpa kata-kata lain, meninggalkan ruangan yang terasa lebih dingin daripada sebelum kedatangannya.
Mo Wuxin berdiri diam sesaat, mencerna ancaman yang baru saja diberikan padanya—bukan ancaman kosong, ia yakin, tapi peringatan nyata dari seseorang yang punya kekuatan dan alasan untuk menepatinya.
"Aku seharusnya tidak pernah membawa gulungan itu kembali kemari," ia akhirnya berkata pada Xuan Ming. "Aku sudah membahayakanmu dua kali sekarang."
"Kau membawanya kemari untuk bertanya lebih banyak, seperti yang kuharapkan kau lakukan," Xuan Ming berkata, suaranya kembali tenang meski matanya masih menyimpan kelelahan yang baru. "Aku tidak menyesali itu, seperti yang sudah kukatakan. Tapi mungkin sudah waktunya kau mencari jawabanmu di tempat lain, jauh dari siapa pun yang bisa ikut menanggung akibatnya bersamamu."
Mo Wuxin meninggalkan Sekte Mimpi Melayang hari itu juga, membawa pengetahuan yang sudah ada di dalam kepalanya, tapi tanpa gulungan fisik, tanpa mentor yang bisa ia kunjungi lagi dengan aman, dan dengan ancaman nyata dari organisasi yang jelas punya kekuatan lebih besar daripada yang bisa ia lawan sendirian.
Ia tidak tahu ke mana harus melangkah selanjutnya. Legenda itu menyebutkan mereka akan saling menemukan karena dunia mempertemukan, bukan karena mencari secara aktif—tapi kata-kata itu terasa jauh lebih sulit dipegang sekarang, mengetahui ada pihak yang secara aktif berusaha mencegah pertemuan itu terjadi.
Ia berjalan menjauh dari sekte yang baru saja membayar harga karena membantunya, membawa pertanyaan yang lebih berat daripada sebelumnya: apakah pencariannya sendiri, sesuatu yang terasa begitu personal dan penting baginya, sepadan dengan risiko yang mungkin harus ditanggung orang lain yang tidak pernah memintanya.
Ia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu saat matahari mulai terbenam di belakangnya.