Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Kring kring kring.

Suara alarm dari ponsel retak milik Akbar berbunyi nyaring memecah keheningan pagi.

Sinar matahari pagi Jakarta menembus masuk dari celah gorden kamar hotel bintang tiga tempat Akbar menginap semalam.

Setelah acara lelang gila itu selesai, Clara memang memesankan kamar hotel yang nyaman untuk Akbar beristirahat sebelum pulang.

Akbar membuka matanya perlahan dan langsung meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi.

Tulang-tulangnya berbunyi pelan namun tubuhnya terasa sangat bugar dan penuh energi baru.

"Selamat pagi dunia yang indah," sapa Akbar sambil tersenyum lebar menatap langit-langit kamar hotelnya.

"Uang dua miliar di rekening ternyata benar-benar membuat kualitas tidur menjadi jauh lebih nyenyak."

Akbar beranjak dari kasur empuknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

Air dingin membasuh wajahnya, membuat pikirannya langsung jernih dan fokus pada rencana hari ini.

"Sistem, kau sudah bangun belum pagi ini?" panggil Akbar di dalam hatinya sambil mengelap wajah pakai handuk.

[Sistem Dewa Hoki tidak pernah tidur dan selalu siap melayani Tuan setiap saat.]

"Bagus sekali, semalam kau bilang Toko Sistem Kelas Perak sudah terbuka bebas untukku kan?" tanya Akbar antusias.

[Benar Tuan, Toko Sistem Kelas Perak kini sudah bisa diakses sepenuhnya.]

[Apakah Tuan ingin membuka panel toko tersebut sekarang juga?]

"Buka sekarang juga, mari kita lihat barang mewah apa saja yang bisa kubeli dengan seratus lima puluh poin ini."

Ding.

Sebuah layar holografik biru yang jauh lebih besar dan terang muncul di depan wajah Akbar.

Desain toko kelas perak ini terlihat jauh lebih mewah dengan ornamen warna putih keperakan di pinggir layarnya.

Akbar mulai menggulir layar itu ke bawah membaca satu per satu item yang ditawarkan.

Harganya memang jauh lebih mahal, rata-rata dimulai dari angka seratus poin hoki ke atas.

Namun fungsi dari barang-barang tersebut benar-benar membuat akal sehat manusia normal tidak berguna.

Ada pil penyembuh penyakit mematikan, jimat pengubah cuaca skala kecil, hingga radar pencari tambang emas.

"Barang-barangnya gila semua, tapi poinku sekarang cuma cukup untuk membeli barang paling murah di sini," keluh Akbar pelan.

Mata tajam Akbar akhirnya tertuju pada sebuah item berbentuk cincin perak polos seharga seratus poin hoki.

"Sistem, tolong bacakan detail kegunaan barang yang bernama Cincin Negosiasi Mutlak ini," perintah Akbar penasaran.

[Cincin Negosiasi Mutlak. Harga: 100 Poin Hoki.]

[Fungsi: Memancarkan gelombang aura karisma dan dominasi yang sangat kuat saat Tuan sedang melakukan tawar-menawar.]

[Efek: Lawan bicara akan secara tidak sadar merasa sangat segan, tunduk, dan menyetujui semua harga yang Tuan ajukan tanpa banyak protes.]

[Durasi: Item permanen, namun fitur dominasi hanya bisa diaktifkan satu kali dalam sehari selama tiga puluh menit.]

Akbar sontak menepuk kedua tangannya dengan sangat gembira membaca fungsi ajaib dari cincin perak tersebut.

"Ini barang yang sangat sempurna untuk rencanaku memborong tanah di kampung hari ini," tawa Akbar puas.

"Sistem, beli Cincin Negosiasi Mutlak itu sekarang juga."

[Transaksi berhasil diproses. 100 Poin Hoki telah dipotong dari saldo Tuan.]

[Item Cincin Negosiasi Mutlak telah dimasukkan ke dalam inventaris spasial Tuan.]

"Sisa poinku sekarang tinggal lima puluh, lebih baik aku tabung saja dulu untuk keperluan darurat nanti."

Akbar segera memerintahkan sistem untuk mengeluarkan cincin tersebut dari inventarisnya.

Wush.

Sebuah cincin perak polos bersinar redup muncul di telapak tangan kanannya.

Akbar langsung memakai cincin itu di jari telunjuk kanannya, ukurannya langsung mengecil menyesuaikan jari Akbar dengan pas.

"Ayo kita pulang ke kampung dan mulai permainan monopoli dunia nyata ini," gumam Akbar menyeringai dingin.

Akbar segera membereskan barang bawaannya yang tidak seberapa dan turun ke lobi untuk mengembalikan kunci kamar.

Setelah berpamitan singkat dengan Clara lewat pesan WhatsApp, Akbar langsung memacu motor Scoopy hitamnya meninggalkan kota Jakarta.

Brummm.

Mesin motor matic itu menderu halus membelah jalanan pantura yang cukup padat oleh truk besar.

Perjalanan dari Jakarta menuju kampung halamannya di daerah pedesaan memakan waktu sekitar tiga jam lebih karena macet.

Angin panas jalan raya menerpa wajah Akbar, namun atribut fisiknya yang sudah meningkat membuat dia sama sekali tidak merasa lelah.

Menjelang pukul dua belas siang, gapura bata merah bertuliskan Selamat Datang di Desa Sukamaju akhirnya terlihat di depan mata.

Akbar sedikit mengurangi kecepatan motornya saat memasuki jalanan aspal kampung yang mulai banyak lubangnya.

Suasana kampung siang itu terlihat cukup ramai, banyak warga yang berkumpul di teras rumah dan warung.

Topik pembicaraan mereka tentu saja masih seputar penangkapan dramatis Kepala Desa Wanto dan Bendahara Parmin kemarin pagi.

Cittt.

Akbar mengerem motornya tepat di depan halaman Warung Nasi Bu Tejo yang letaknya bersebelahan dengan balai desa.

Warung itu tampak penuh sesak oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang makan siang sambil bergosip ria.

Di pojok meja, terlihat Pak RT Budi sedang duduk murung mengaduk-aduk kopi hitamnya dengan lesu.

Akbar melepas helmnya dan berjalan santai mendekati warung tersebut dengan senyum misterius di bibirnya.

"Siang semuanya, kelihatannya warung ini makin ramai saja setelah kades kita masuk penjara," sapa Akbar dengan suara lantang memecah gosip warga.

Semua mata di dalam warung langsung menoleh ke arah Akbar secara bersamaan.

Beberapa warga terlihat salah tingkah dan buru-buru menundukkan kepala mereka karena takut kualat.

Kejadian cairan busuk Dion yang berbalik arah masih sangat melekat kuat di ingatan mereka semua.

Namun tentu saja masih ada orang-orang berwajah tebal yang tidak peduli dan tetap bersikap sinis.

"Ngapain kamu ke sini lagi Akbar? Mau pamer motor barumu lagi ke orang-orang miskin seperti kami?" sindir Bu Tejo dari balik etalase lauknya.

"Iya tuh, mentang-mentang baru menang undian motor sudah berani gaya-gayaan menyapa orang tua pakai nada tinggi," timpal Pak RT Budi ikut memanaskan suasana.

Akbar sama sekali tidak terpancing emosi mendengar sindiran murahan dari dua orang tua di depannya ini.

Dia malah berjalan mendekat dan menarik kursi plastik kosong tepat di depan meja Pak RT Budi.

Brak.

Akbar duduk dengan gaya sangat arogan menyilangkan sebelah kakinya.

"Saya datang ke sini bukan mau pamer motor Bu Tejo, saya mampir karena ada urusan bisnis yang sangat penting," jawab Akbar tenang.

"Urusan bisnis apanya? Kamu mau nawarin rongsokan botol bekas lagi ke tukang loak di belakang balai desa?" ejek Bu Tejo tertawa sumbang.

"Saya dengar dari obrolan warung tadi, tanah kosong di sebelah warung ibu ini dan tanah warung ini mau dijual cepat ya?" tembak Akbar langsung ke intinya.

Mata Bu Tejo dan Pak RT Budi langsung terbelalak kaget mendengar Akbar mengetahui informasi rahasia tersebut.

Tanah itu memang milik keluarga Pak RT Budi yang disewakan pada Bu Tejo bertahun-tahun.

Karena Pak Wanto ditangkap, Pak RT Budi ketakutan setengah mati kalau dia juga akan diselidiki polisi soal aliran dana desa.

Makanya Pak RT Budi berniat menjual tanah warung itu secepat mungkin untuk biaya kabur ke luar kota.

"Kamu tahu dari mana urusan tanah itu Akbar? Itu urusan orang dewasa, anak kecil tidak usah ikut campur," tegur Pak RT Budi dengan nada panik.

"Saya tidak perlu repot-repot cari tahu, berita di kampung ini kan menyebarnya lebih cepat dari angin," balas Akbar santai.

Akbar menatap langsung ke mata Pak RT Budi dengan sorot mata setajam pisau bedah.

"Saya yang akan membeli tanah warung ini beserta lahan kosong di sebelahnya secara lunas hari ini juga," umum Akbar dengan suara sangat jelas.

Hening.

Suasana warung makan itu mendadak sunyi senyap bagaikan kuburan di tengah malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!